Andre akhirnya membawa boneka kambing setelah memastikan barang tersebut dapat diberikan sesuai pengaturan.
Ia masuk dengan wajah seorang ayah yang yakin telah menemukan jawaban untuk semua masalah.
Ica langsung melihat kantongnya.
"Itu apa?"
Andre mengeluarkan boneka dengan gerakan lambat.
Agus yang sedang duduk di dekat jendela memandang Bagas.
Bagas hanya mengangkat bahu.
Perjuangan melawan boneka telah selesai.
Ica tersenyum.
"Rambo kecil."
"Betul," kata Andre bangga.
Anak itu memperhatikan wajah boneka.
"Tapi yang ini tidak gemuk."
Agus menutup mulut.
Andre langsung membetulkan posisi boneka.
"Ini masih muda."
Ica mengangguk, menerima penjelasan tersebut tanpa menuntut bukti.
Agus memalingkan wajah agar tidak tertawa terlalu keras.
Di keluarganya, bahkan boneka kambing memiliki riwayat pertumbuhan yang harus dibela.
Namun, melihat Ica tersenyum membuat perdebatan kecil itu terasa layak.
***
Karina datang pada waktu yang telah disepakati dengan membawa foto Lou yang diperoleh setelah meminta izin Bu Mawar.
Ia tidak mencetak banyak.
Hanya beberapa gambar yang dapat dilihat tanpa membuat Ica terlalu lelah.
Anak itu menunjuk tas.
"Ada anjingnya?"
"Fotonya."
"Oh."
Karina duduk dan memperlihatkan satu per satu.
Lou sedang berjalan.
Lou duduk di tempat teduh.
Lou memandang Len yang membawa tas.
Pada foto terakhir, Len terlihat seperti tertangkap melakukan sesuatu.
Ica tertawa kecil.
"Dia tahu ada makanan."
"Katanya begitu," jawab Karina.
Agus melirik gambar.
"Saya mulai percaya kepada Lou."
Karina menoleh.
"Len akan sedih kehilangan pembela."
"Dia masih punya dokter."
"Saya juga mulai ragu."
Bagas tertawa.
Percakapan ringan itu berlangsung beberapa menit sebelum Karina menutup foto dan memberi Ica kesempatan beristirahat.
Anak itu masih memegang boneka kambing.
Di dekatnya, Andre tampak sangat puas.
***
Ketika Ica mulai mengantuk, orang-orang mengurangi suara.
Karina berpamitan dan Bagas mengucapkan terima kasih.
Agus kebetulan hendak mengambil sesuatu di bawah. Ia bertanya apakah Karina keberatan berjalan bersama sampai lift.
Pertanyaan itu membuat gadis tersebut menoleh.
"Tidak."
Mereka berjalan tanpa buru-buru.
Agus tidak mencoba membuat setiap detik berisi percakapan.
Karina justru lebih dahulu bertanya mengenai pekerjaan televisinya.
"Masih lancar?"
"Sejauh ini."
"Penontonnya masih banyak bertanya?"
"Banyak."
"Berarti Anda tidak kekurangan orang yang ingin tahu urusan Anda."
Agus menatapnya, lalu tertawa kecil.
"Sekarang saya mencoba membedakan yang memang perlu dijawab."
Karina mengangguk.
Jawaban tersebut membuatnya teringat surel Damar.
Tidak semua orang yang meminta percakapan otomatis berhak memperoleh seluruh waktu dan penjelasannya.
Mereka berhenti di depan lift.
Agus menekan tombol, kemudian mundur sedikit memberi ruang.
Hal kecil yang dahulu mungkin tidak akan diperhatikan Karina.
Sekarang justru terasa jelas.
***
"Dokter Karina."
Karina menoleh.
"Kalau saya bertanya sesuatu yang terlalu pribadi, Anda boleh tidak menjawab."
Gadis itu mengangkat alis.
"Kalimat pembukanya membuat saya ingin langsung tidak menjawab."
Agus tersenyum.
"Adil."
"Apa?"
"Belakangan Anda terlihat sedang memikirkan sesuatu."
Karina menatap pintu lift.
Pertanyaan itu tidak disampaikan dengan nada menuntut.
Namun, ia tetap belum tahu apakah ingin menjelaskan.
Agus menambahkan sebelum keheningan terasa berat.
"Tidak harus diceritakan."
Karina mengangguk.
"Ada urusan lama."
"Baik."
Hanya itu.
Tidak ada pertanyaan mengenai siapa.
Tidak ada usaha menebak dari perubahan wajah.
Karina meliriknya.
"Anda tidak penasaran?"
"Penasaran."
"Terus?"
"Saya bisa tetap penasaran tanpa mendapat jawaban sekarang."
Karina terdiam.
Pintu lift terbuka.
Ia masuk dengan pikiran yang tiba-tiba lebih ramai daripada sebelumnya.
***
Di lantai bawah, mereka berpisah setelah saling berpamitan.
Agus tidak menawarkan mengantar ketika Karina telah mengatakan membawa kendaraan.
Ia berjalan ke tempat yang ditujunya.
Karina memperhatikan sekilas, lalu keluar.
Di mobil, ia duduk beberapa saat sebelum menyalakan mesin.
Urusan lama.
Dua kata itu terasa aman ketika diucapkan.
Tidak terlalu banyak.
Tidak pula berpura-pura tidak ada.
Agus menerimanya.
Karina tidak ingin membandingkan setiap gerakan laki-laki itu dengan Damar.
Itu tidak adil bagi siapa pun.
Namun, ia tidak dapat mengabaikan rasa lega ketika seseorang tidak menganggap diamnya sebagai tantangan yang harus dikalahkan.
Ia menyalakan mesin.
Perasaan tersebut belum perlu diberi nama.
Untuk saat ini, cukup diketahui bahwa percakapan singkat tadi tidak meninggalkan kelelahan.
***
Sore harinya, Karina akhirnya memutuskan akan bertemu Damar.
Keputusan itu tidak datang karena pesan yang mendesak.
Damar justru belum mengirim tambahan setelah surel terakhir.
Karina ingin mendengar penjelasannya secara langsung dan mengatakan beberapa hal dengan suaranya sendiri.
Ia tidak menganggap pertemuan tersebut sebagai kewajiban memaafkan.
Tidak pula sebagai kesempatan menghidupkan hubungan lama.
Ia hanya ingin memastikan bahwa jika percakapan itu terjadi, dirinya datang karena memilih.
Karina menulis balasan.
Ia menawarkan waktu pada sore dua hari berikutnya, di tempat umum yang dikenalnya, setelah pekerjaan selesai. Waktunya tidak lama.
Damar menyetujui.
Tidak ada keberatan mengenai lokasi.
Tidak ada permintaan agar mereka bertemu lebih pribadi.
Karina membaca jawabannya, lalu menutup percakapan.
Kini ada hari dan tempat.
Keputusan tersebut membuat jantungnya berdebar.
Namun, debar itu tidak berarti dirinya harus mundur atau maju lebih jauh.
Ia hanya perlu menyiapkan apa yang memang ingin dikatakan.
***
Ditya menerima kabar tersebut ketika sedang memeriksa barang yang akan dibawa dalam perjalanan.
Tangannya berhenti di atas koper.
"Kamu yakin?"
Karina mengangguk.
"Aku ingin bicara. Sekali ini dengan jelas."
Ditya duduk di tepi tempat tidur.
Ia tampak menahan kebiasaan untuk segera menawarkan diri menunggu di meja sebelah.
Karina melihatnya.
"Mas tidak perlu duduk menyamar dengan koran."
Ditya mendengus.
"Mas belum bilang."
"Wajah mas sudah memakai kacamata hitam."
Ia terpaksa tertawa.
Namun, sesaat kemudian wajahnya kembali serius.
"Kabari kalau selesai."
"Iya."
"Kalau berubah pikiran sebelum hari itu, juga tidak apa-apa."
Karina mengangguk.
"Aku tahu."
Ditya tidak mengatakan bahwa dirinya akan kecewa jika Karina memaafkan.
Tidak pula menganggap pertemuan itu bukti adiknya belum belajar.
Ia hanya membantu memastikan keputusan tetap menjadi milik Karina.
***
Bi Murni mengetahui rencana itu ketika Karina menjelaskan mengapa waktu pulangnya nanti mungkin sedikit berbeda.
Perempuan tersebut langsung berhenti melipat kain.
"Orang yang dulu?"
Karina mengangguk.
Bi Murni mengembuskan napas panjang.
"Non ingin ketemu?"
"Iya, Bi. Untuk bicara."
Perempuan itu memandangnya dengan teliti.
Kemudian mengangguk.
"Pakai baju yang nyaman."
Karina terkejut.
"Bibi tidak mau ceramah?"
"Mau. Tapi mas Ditya pasti sudah mengambil jatah."
Karina tertawa.
Bi Murni kembali melipat.
"Jangan memilih baju sampai merasa harus menjadi orang lain supaya dia menyesal."
Senyum Karina perlahan menghilang.
Nasihat itu mengenai sesuatu yang bahkan belum berani diakuinya sendiri.
Sebagian kecil dirinya memang ingin datang dengan penampilan yang membuat Damar terdiam.
Ingin terlihat berhasil.
Ingin membuktikan.
Bi Murni menatapnya lagi.
"Non sudah punya hidup. Tidak perlu dibawa seperti piala."
***
Malam itu Karina membuka lemari.
Ia melihat beberapa pakaian, lalu menutupnya kembali.
Masih ada dua hari.
Ia tidak perlu mengubah pertemuan tersebut menjadi pertunjukan.
Di meja, ponselnya menerima pesan dari Bagas.
Ica menyukai foto Lou. Bagas menyampaikan terima kasih dan mengatakan bahwa anak itu sudah beristirahat.
Karina membalas singkat.
Setelah itu, ia menuliskan beberapa hal di kertas.
Bukan daftar kesalahan Damar yang harus dibacakan satu per satu.
Hanya kalimat yang ingin dipastikan tidak hilang ketika dirinya gugup.
Aku punya keinginan sendiri.
Pendapat berbeda tidak membuatku bodoh.
Aku tidak datang untuk melanjutkan hubungan.
Karina memandang ketiga kalimat tersebut.
Kemudian melipat kertas dan menyimpannya.
Dahulu ia selalu mempersiapkan diri untuk mendengar apa yang ingin dikatakan Damar.
Kali ini, ia juga mempersiapkan diri agar suaranya sendiri mendapat tempat.