Bagas menerima penjelasan mengenai rencana perpindahan tempat perawatan Ica dengan perasaan yang sulit disembunyikan.
Tim menilai bahwa perkembangannya memungkinkan pengaturan pengawasan berikutnya dilakukan di ruang yang sesuai dengan kebutuhan saat ini.
Bagas mendengarkan sampai selesai sebelum bertanya.
Ia telah belajar bahwa kabar baik tetap perlu dipahami dengan utuh.
Perpindahan bukan berarti Ica dapat langsung pulang.
Bukan pula tanda bahwa semua kebutuhan perawatan sudah selesai.
Namun, tetap merupakan perkembangan yang mereka syukuri.
Agus datang tidak lama kemudian dan membantu menyiapkan barang sesuai arahan.
Andre bertanya melalui telepon apakah boneka kambing sudah boleh dibawa.
Agus memejamkan mata sebentar.
"Ayah, kita pastikan barang yang dibutuhkan dulu."
"Boneka juga kebutuhan."
"Untuk siapa?"
Andre diam.
Agus dapat membayangkan wajah ayahnya yang tersinggung di seberang.
Bagas tertawa pelan ketika mendengar.
Untuk pertama kalinya, urusan memindahkan barang tidak terasa seperti tanda keadaan memburuk.
***
Ica memperhatikan ruangan barunya dengan rasa ingin tahu yang masih dibatasi lelah.
Bagas menunjukkan tempat buku disimpan.
Pengasuh menata keperluan pribadi.
Agus berdiri agak jauh agar tidak membuat ruangan terlalu penuh.
Anak itu menunjuk jendela.
"Di sini ada langit."
Bagas menoleh.
"Iya."
"Awan yang itu besar."
Agus mengikuti arah jarinya.
Awan di luar tentu tidak mengetahui bahwa namanya kini juga dimiliki seekor hamster.
Namun, Ica tampak puas melihatnya.
Bagas duduk di samping putrinya.
Mereka tidak langsung membuka semua permainan.
Tidak mencoba mengisi hari dengan kegiatan karena merasa sudah memperoleh ruangan yang lebih tenang.
Ica melihat jendela beberapa saat, lalu memejamkan mata.
Agus mengecilkan suara ketika berbicara.
Bagas mengangguk.
Kebahagiaan mereka hari itu harus mengikuti tenaga anak yang sedang pulih.
***
Karina mengetahui perkembangan tersebut pada waktu istirahat.
Ia membalas Bagas dengan ucapan syukur, lalu menyampaikan kabar kepada Len.
Pemuda itu tersenyum lebar.
"Berarti sudah lebih enak melihat langit."
Karina mengangguk.
"Begitu katanya."
Len memandang jendela klinik.
Di luar, langit tertutup sebagian oleh bangunan dan kabel.
Namun, ia tetap melihat ke atas beberapa detik.
Karina memperhatikan sambil tersenyum kecil.
"Ada apa?"
"Tidak, Dok. Kadang saya lewat saja."
Karina memahami.
Banyak hal baru terasa berharga setelah seseorang lain menunggu cukup lama untuk melihatnya.
Ponsel Len berbunyi.
Informasi mengenai kegiatan belajarnya.
Wajahnya langsung berubah serius.
Karina menunjuk layar.
"Jangan hanya dibaca. Catat waktunya."
Len mengangguk cepat.
Harapan membutuhkan banyak hal kecil agar tidak terus tinggal sebagai harapan.
Salah satunya kalender yang benar-benar dipakai.
***
Pada sore yang sama, Lilis menghubungi Karina mengenai beberapa tanggapan terhadap tayangan shelter.
Ada penonton yang ingin membantu.
Ada pula yang bertanya mengenai pekerjaan sehari-hari dan bagaimana mengetahui kebutuhan yang benar.
Karina mengarahkan urusan bantuan kepada pengelola shelter agar penjelasannya tetap sesuai keadaan.
Ia tidak ingin menjadi tempat semua uang dan keputusan berkumpul hanya karena wajahnya muncul di televisi.
Lilis mengerti.
Mereka membicarakan kemungkinan menjawab beberapa pertanyaan umum pada tayangan berikutnya.
Tidak harus kembali ke shelter.
Karina dapat menjelaskan dari tempat praktik dengan contoh yang tidak membuka urusan pasien tertentu.
Setelah panggilan selesai, Ditya mendekat.
"Pekerjaanmu bertambah."
Karina mengangguk.
"Masih bisa diatur."
"Pastikan benar-benar diatur."
Karina memandangnya.
"Aku tidak akan menjawab semua orang tengah malam."
Ditya tersenyum.
"Bagus. Mas sudah mau menulis kalimat itu di pintu."
***
Agus menemui Jo setelah selesai bekerja.
Mereka berbicara singkat mengenai Ica, lalu berpindah ke ruang istirahat ketika keduanya memiliki beberapa menit.
Jo duduk dengan wajah lelah.
Agus meletakkan minuman di depannya.
"Belum dibuka."
Jo mengangguk.
"Terima kasih."
Beberapa saat mereka diam.
Kemudian Agus berkata bahwa hubungannya dengan Irene dan Tasya telah selesai.
Jo menatapnya.
"Sudah bicara jelas?"
"Sudah."
"Keduanya tahu keadaan yang sebenarnya?"
Agus mengangguk.
Jo tidak bertepuk tangan.
Namun, ia juga tidak mengulang seluruh kesalahan yang sudah diakui.
"Jalani akibatnya dengan baik," katanya.
"Iya."
Agus memandang botol di tangannya.
"Aku baru sadar aku sering merasa jadi orang baik hanya karena membayar sesuatu."
Jo tersenyum tipis.
"Membayar tagihan memang berguna."
Agus menoleh.
"Tapi tidak membeli hak untuk tidak jujur," lanjut Jo.
Agus tertawa pendek.
Tentu saja kalimat itu belum selesai.
***
Pembicaraan beralih kepada hal lain setelahnya.
Pekerjaan.
Jadwal.
Seorang teman lama yang mengirim kabar.
Agus menikmati beberapa menit ketika dirinya tidak harus terlihat menarik bagi siapa pun.
Ia boleh duduk dengan wajah lelah.
Boleh mengakui tidak memahami sesuatu.
Jo juga tidak sedang memberikan pertolongan sambil menghitung pujian yang akan diterima.
Mungkin persahabatan mereka bertahan karena alasan itu, meskipun Agus terlalu sering menyadarinya terlambat.
Saat hendak pergi, Jo bertanya mengenai Karina.
"Kalian sudah bisa bicara baik?"
Agus mengangguk.
"Secukupnya."
"Bagus."
Agus menatap sahabatnya sebentar.
Ia hampir bertanya apakah Jo juga tertarik kepada gadis itu.
Pertanyaan tersebut berhenti sebelum keluar.
Ia tidak memiliki hak menempatkan Karina sebagai sesuatu yang perlu diperiksa siapa peminatnya.
Agus mengalihkan pandangan.
Jo tampak menyadari ada kalimat yang ditahan, tetapi tidak memaksa.
Kadang kemajuan memang berbentuk pertanyaan yang akhirnya tidak diajukan.
***
Di rumah, Karina menerima surel Damar yang lebih panjang.
Ia membacanya setelah mandi, dengan pintu kamar terbuka dan suara Ditya terdengar dari bawah.
Damar menulis bahwa dirinya menyadari pernah terlalu keras menilai pilihan Karina. Ia mengaku saat itu merasa lebih mengetahui dunia pekerjaan dan tidak memberi ruang bagi pendapat yang berbeda.
Karina berhenti pada bagian tersebut.
Setidaknya kali ini ada sesuatu yang lebih jelas daripada beberapa ucapan.
Namun, paragraf berikutnya membuat dahinya berkerut.
Damar menulis bahwa mereka sama-sama masih terlalu emosional dahulu.
Karina meletakkan tablet.
Ia tidak menyukai cara kalimat itu segera membagi beban setelah sebuah pengakuan.
Mungkin dirinya memang pernah menangis.
Pernah marah.
Pernah berkata sesuatu yang tidak rapi.
Tetapi itu tidak membuat semua yang terjadi otomatis memiliki berat yang sama.
Karina membaca ulang dengan lebih tenang.
Ia ingin menilai isi pesan tersebut, bukan hanya reaksi pertama tubuhnya.
***
Ditya mengetuk pintu yang terbuka.
"Masuk?"
Karina mengangguk.
Ia tidak langsung menunjukkan surel.
Hanya mengatakan bahwa Damar telah menjelaskan lebih banyak.
Ditya duduk di kursi lain.
"Bagaimana perasaanmu?"
"Campur."
"Bagian yang paling mengganggu?"
Karina memandang layar.
"Dia minta maaf, lalu bilang kami sama-sama emosional."
Ditya mengangguk perlahan.
"Menurutmu benar?"
"Aku memang emosional."
"Itu tidak menjawab seluruh pertanyaan."
Karina menatap kakaknya.
Ditya tidak menjelaskan lebih jauh.
Ia memberi waktu sampai Karina akhirnya berkata bahwa kemarahannya dulu muncul setelah berkali-kali dianggap tidak memahami hidupnya sendiri.
"Aku tidak ingin berpura-pura aku selalu benar," katanya.
"Tidak perlu."
"Tapi aku juga tidak ingin menerima semua kesalahan hanya supaya percakapan selesai."
Ditya mengangguk.
"Nah. Itu yang bisa kamu pegang."
Karina menghela napas.
Ada hal-hal yang menjadi lebih mudah ketika tidak harus dipikirkan sendirian.
***
Malam itu ia tidak membalas Damar.
Ia justru membuka pesan Bagas yang baru masuk.
Ica meminta foto Lou untuk dilihat lain waktu, jika Bu Mawar berkenan.
Karina tersenyum.
Ia akan menanyakan terlebih dahulu dan mengirim melalui Bagas.
Tidak semua permintaan sulit dijawab.
Di ruang bawah, bi Murni memanggil makan.
Karina turun membawa gelas kosong.
Ditya sudah duduk, tetapi kali ini tidak mengambil makanan sebelum semua tersedia.
Karina mengangkat alis.
"Ada apa dengan mas?"
"Mas sedang sopan."
"Biasanya ada maunya."
Ditya menunjuk piring.
"Mau makan."
Bi Murni mendesah melihat keduanya mulai lagi.
Namun, Karina duduk dengan bahu lebih ringan.
Damar masih berada di kotak masuk.
Ia belum mengetahui apakah ingin bertemu.
Tetapi pertanyaan itu tidak lagi menelan seluruh malam.
Ada nasi hangat.
Ada kakak yang menyebalkan.
Dan ada kehidupan sekarang yang tidak perlu diletakkan di bawah bayangan seseorang dari dulu.