Karina tidak membuka surel itu lagi malam tersebut.
Ia duduk bersama Ditya sampai bi Murni keluar dan menanyakan mengapa mereka belum tidur. Kakaknya menjawab bahwa mereka sedang membicarakan pekerjaan.
Karina menoleh.
Ditya mengangkat bahu sedikit.
Ia tidak berbohong sepenuhnya. Menentukan apa yang harus dilakukan terhadap masa lalu memang terasa seperti pekerjaan tambahan.
Bi Murni memandang keduanya dengan curiga.
"Kalau pekerjaan sampai membuat wajah begitu, besok saja dilanjutkan."
Karina mengangguk.
Setelah perempuan itu kembali ke kamarnya, Ditya berdiri mengambil gelas.
"Mas tidak akan menelepon dia."
Karina mendongak.
"Aku belum meminta."
"Mas tahu. Mas mengatakan sebelum kamu perlu meminta."
Karina terdiam beberapa saat.
Kemudian ia mengangguk lagi.
"Terima kasih."
Ditya menyentuh puncak kepalanya sekilas sebelum berjalan ke dapur.
Tidak ada janji bahwa semuanya akan baik.
Namun, malam itu Karina tidak harus menjaga dua hal sekaligus: perasaannya sendiri dan kemungkinan kakaknya membuat pertengkaran baru.
***
Pagi berikutnya, pekerjaan memberinya alasan untuk tidak terus memikirkan Damar.
Seorang pemilik kucing datang membawa pertanyaan yang ditulis di kedua sisi kertas. Karina membaca sampai selesai, sementara kucing yang menjadi pusat kekhawatiran justru lebih tertarik menggigit sudut tempat bawaannya.
Len mencoba membantu tanpa membuatnya semakin gelisah.
Dari ruangan sebelah, Ditya terdengar menjelaskan sesuatu kepada pemilik anjing.
Klinik hidup dengan suara yang dikenalnya.
Karina menyukai keadaan itu.
Ada pertanyaan yang jelas.
Ada hal yang perlu diperiksa.
Ada keputusan yang dibuat setelah melihat keadaan, bukan setelah menebak maksud orang.
Ia bekerja sampai waktu istirahat.
Baru ketika duduk dan membuka bekal, nama Damar kembali muncul di kepalanya.
Len memperhatikan sendok yang berhenti di tangan.
"Dok, makanannya kurang enak?"
Karina langsung menoleh.
"Jangan sampai bi Murni mendengar pertanyaan itu."
Len tertawa.
Ancaman terhadap reputasi masakan bi Murni berhasil membuatnya makan beberapa suap lagi.
***
Setelah istirahat, Karina membuka surel tersebut.
Kalimatnya masih sama.
Ucapan selamat.
Pengakuan bahwa mereka sudah lama tidak bertemu.
Permintaan untuk berbicara.
Tidak ada satu bagian pun yang memerlukan jawaban mendadak.
Karina meletakkan ponsel dan memikirkan apa yang sebenarnya ingin diketahuinya.
Apakah Damar hendak meminta maaf?
Apakah hanya ingin menyapa?
Atau menganggap dirinya masih bisa datang dengan cara lama dan memperoleh perhatian tanpa perlu menjelaskan apa pun?
Karina tidak akan menemukan jawaban dengan membaca kalimat yang sama berulang kali.
Ia akhirnya mengetik.
"Terima kasih. Ada hal apa yang ingin kamu bicarakan?"
Ia membaca ulang sebelum mengirim.
Tidak dingin berlebihan.
Tidak ramah untuk menyenangkan.
Hanya pertanyaan.
Setelah pesan terkirim, Karina kembali bekerja.
Ia tidak harus duduk menjaga layar seperti dulu.
Kalau Damar memiliki sesuatu yang perlu disampaikan, laki-laki itu dapat menuliskannya dengan jelas.
***
Di rumah keluarga Tjokro, Andre sedang memandang Agus dengan perhatian yang membuat putranya kehilangan kenyamanan saat sarapan.
Agus meletakkan sendok.
"Ada apa, Yah?"
"Tidak ada."
"Sejak tadi Ayah melihat."
Andre meminum air.
"Teleponmu sepi."
Agus menatap ponsel di meja.
"Memang."
"Biasanya pagi-pagi sudah ada yang menelepon."
Agus menghela napas pelan.
Ia tahu percakapan ini akhirnya akan terjadi.
"Hubunganku dengan Tasya dan Irene sudah selesai."
Sendok Andre berhenti.
"Keduanya?"
Agus mengangguk.
Ayahnya memandangnya cukup lama.
"Ayah perlu bertanya kenapa?"
"Aku tidak jujur kepada mereka."
Andre meletakkan sendok.
Kali ini wajahnya tidak menunjukkan kesiapan untuk menggoda.
Agus menjelaskan inti persoalan tanpa menceritakan kemarahan kedua perempuan itu sebagai sesuatu yang berlebihan.
Andre mendengarkan sampai selesai.
Lalu ia mengusap wajah.
"Jangan bangga hanya karena sekarang mengaku."
Agus menunduk.
"Aku tahu."
***
"Ayah pernah marah karena kamu tidak memperkenalkan mereka," lanjut Andre. "Ternyata yang lebih penting, kamu sendiri belum memperlakukan mereka dengan benar."
Agus menerima kalimat itu.
Tidak nyaman.
Tetapi tidak salah.
"Aku sedang membereskan barang yang perlu dikembalikan. Pengaturannya lewat pesan."
Andre mengangguk.
"Jangan membuat alasan untuk bertemu lagi kalau mereka tidak mau."
"Tidak."
Percakapan berhenti sebentar ketika pegawai datang menanyakan keperluan rumah.
Setelah mereka kembali berdua, Andre memandang putranya.
"Ini bukan berarti Ayah akan segera mencarikan pengganti."
Agus mendongak.
"Ayah benar-benar bisa menahan diri?"
Andre langsung mendengus.
"Jangan menguji."
Agus tertawa kecil.
Ayahnya kembali makan.
Namun, beberapa saat kemudian ia menambahkan dengan suara lebih pelan.
"Belajar hidup benar dulu. Orang yang datang nanti tidak seharusnya dipakai untuk membersihkan kekacauanmu."
Agus mengangguk.
Pagi itu, nasihat Andre tidak terdengar seperti pukulan.
Lebih seperti seseorang yang akhirnya menunjuk pekerjaan yang selama ini dihindarinya.
***
Di rumah sakit, Ica sedang memandangi buku ketika Agus datang.
Kondisinya masih membutuhkan pengaturan istirahat dan pengawasan, tetapi pada waktu tertentu ia dapat menikmati percakapan singkat.
Agus duduk setelah menyapa Bagas.
"Halaman apa hari ini?"
Ica menunjuk kambing.
Agus menahan senyum.
"Kakek sudah memengaruhi pilihan bacaanmu."
"Ini yang ganteng."
Agus memandang gambar tersebut.
"Kambingnya?"
Ica mengangguk.
"Om juga ganteng," katanya setelah berpikir sebentar.
Agus langsung menegakkan punggung.
Bagas menutup mata.
"Tolong jangan diberi tambahan semangat."
Ica tertawa kecil.
Agus menunjuk gambar.
"Baik. Hari ini kita beri kesempatan kambing."
Ia membaca beberapa kalimat, kemudian berhenti ketika Ica tampak mulai lelah.
Anak itu tidak memprotes panjang.
Bagas membantu menyimpan buku.
Agus tetap duduk, menemani tanpa merasa perlu membuat suasana terus ramai.
Ia mulai memahami bahwa hadir tidak selalu berarti harus berbicara.
***
Balasan Damar datang ketika Karina hampir selesai bekerja.
Laki-laki itu menulis bahwa melihat Karina di televisi membuatnya teringat banyak hal. Ia ingin meminta maaf atas beberapa ucapan dahulu dan berharap dapat berbicara langsung.
Karina membaca perlahan.
Beberapa ucapan.
Dua kata itu terasa terlalu kecil untuk menampung hal yang masih diingatnya.
Namun, ia juga tidak ingin mengubah satu frasa menjadi bukti bahwa seluruh maksud Damar pasti buruk.
Karina menyimpan ponsel.
Ditya yang sedang menutup catatan melihat gerakannya.
"Dibalas?"
Karina mengangguk.
"Mau minta maaf. Katanya lebih baik langsung."
"Kamu pikir lebih baik langsung?"
Karina memandang kakaknya.
Pertanyaan itu membuatnya berhenti memikirkan apa yang diinginkan Damar.
"Aku belum tahu."
Ditya mengangguk.
"Kalau begitu pikirkan bagian itu dulu."
Ia tidak menambahkan bahwa bertemu merupakan kesalahan.
Tidak pula menyuruh Karina membuktikan sudah dewasa dengan datang.
Pilihan itu tetap berada di tangan adiknya.
***
Malamnya, Karina membuka sebuah kotak kecil yang jarang disentuh.
Tidak ada surat cinta yang terikat pita.
Sebagian besar isinya hanya kertas lama, kartu, dan benda yang pernah terasa penting sebelum tertimbun kesibukan.
Ia menemukan catatan rencana belajar yang dibuat bertahun-tahun lalu.
Tulisan tangannya lebih kecil.
Beberapa bagian penuh coretan.
Karina membacanya dengan dada terasa aneh.
Ada keinginan yang memang berasal dari dirinya sendiri.
Ada pula kalimat yang jelas ditulis setelah mendengar pendapat Damar.
Dahulu keduanya bercampur sampai sulit dibedakan.
Sekarang ia dapat melihatnya dengan lebih tenang.
Ia tidak bodoh karena pernah percaya.
Tetapi kepercayaan itu memang pernah membuatnya menyerahkan terlalu banyak ruang.
Karina menutup kotak.
Ia tidak membuang seluruh isinya malam tersebut.
Tidak perlu melakukan sesuatu yang dramatis untuk membuktikan telah berubah.
***
Sebelum tidur, ia membalas Damar.
"Aku perlu waktu memikirkan apakah ingin bertemu. Kalau ada yang ingin kamu sampaikan, kamu boleh menuliskannya dulu."
Pesan dikirim.
Karina meletakkan ponsel di meja, lalu mematikan lampu utama.
Beberapa saat kemudian layar menyala.
Damar menjawab bahwa ia memahami.
Karina membaca sekilas tanpa melanjutkan.
Di luar kamar, Ditya terdengar mengeluh karena makanan yang dicarinya sudah tidak ada.
Bi Murni menyuruhnya berhenti makan sebelum tidur.
Karina tersenyum dalam gelap.
Rumah tetap berjalan.
Pasien besok tetap menunggu.
Len masih harus menyiapkan keperluan belajarnya.
Dan seorang anak di rumah sakit sedang perlahan memperoleh kembali hari-harinya.
Satu pesan dari masa lalu tidak harus menjadi pusat seluruh hidupnya.
Untuk pertama kalinya sejak nama Damar muncul, Karina tertidur tanpa terus memeriksa layar.