Rambo datang ke klinik dengan sikap yang membuat Andre yakin kambing itu mulai bosan diperlakukan seperti pasien.
"Dia ingin ke mana-mana," keluhnya.
Ditya memandang Rambo, kemudian Andre.
"Bapak yang ingin mengajaknya ke mana-mana atau dia?"
Andre terdiam.
Agus berdiri di samping ayahnya sambil membawa berkas.
Karina menahan senyum.
Mereka memulai pemeriksaan tanpa memperpanjang gurauan. Perkembangan Rambo dinilai kembali, lalu pengaturan aktivitas dibicarakan berdasarkan keadaan yang terlihat.
Andre mendengarkan.
Sesekali ia bertanya apakah sesuatu sudah boleh dilakukan.
Karina menjawab satu per satu.
Tidak ada izin untuk langsung kembali bermain kasar hanya karena kambing itu tampak lebih bersemangat.
Agus membantu memastikan catatan tidak tertinggal.
Ketika Andre hendak menambahkan pertanyaan yang sama untuk ketiga kalinya, ia menunjuk kertas.
"Sudah di sini, Yah."
Andre membaca.
"Oh."
Ditya menunduk untuk menyembunyikan senyum.
Ternyata berkas masih memiliki kegunaan meskipun pasiennya tidak bisa membaca.
***
Setelah pemeriksaan selesai, Andre pergi menyelesaikan administrasi bersama pegawai.
Agus tetap berdiri di tempat yang tidak menghalangi.
Karina sedang merapikan meja ketika ia berbicara.
"Saya melihat tayangan shelter."
Karina menoleh.
"Oh."
"Penjelasannya bagus."
"Terima kasih."
Agus tampak hendak melanjutkan, lalu memilih kalimat lebih sederhana.
"Bagian pekerjaan sehari-harinya membuat saya mengerti lebih banyak."
Karina memandangnya sebentar.
Ia dapat membedakan pujian yang hanya ingin memperoleh senyum dengan komentar yang benar-benar memiliki isi.
"Bu Mawar yang paling tahu pekerjaannya," katanya.
"Iya. Saya juga melihat bagian beliau."
Ada jeda kecil.
Agus tidak langsung mengubahnya menjadi undangan pribadi.
Karina justru menanyakan Ica.
Laki-laki itu menjawab mengenai perkembangan terakhir secukupnya.
Gadis itu mengangguk lega.
"Semoga terus membaik."
"Amin."
Percakapan selesai dengan tenang.
Tidak panjang.
Namun, untuk pertama kalinya mereka membicarakan sesuatu selain kesalahan Agus atau kebutuhan pasien yang sedang berada di hadapan mereka.
***
Ditya muncul membawa dua gelas minuman.
Ia menyerahkan satu kepada Karina, lalu baru menyadari Agus masih berdiri.
"Anda mau air?"
"Terima kasih. Tidak usah repot."
"Air tidak terlalu merepotkan."
Ditya memanggil Len untuk mengambil satu lagi.
Karina memandang kakaknya.
Laki-laki itu membalas dengan wajah seolah tidak melakukan sesuatu yang aneh.
Ia memang tidak sedang mengatur pertemuan.
Namun, sikap Agus beberapa waktu terakhir membuatnya tidak lagi merasa perlu memasang diri seperti pintu pagar setiap kali orang itu hadir.
Mereka berbicara sebentar mengenai shelter dan keadaan Rambo.
Agus mendengarkan ketika Ditya menjelaskan bahwa pekerjaan klinik tetap perlu disesuaikan selama dirinya menyelesaikan urusan sebelum keberangkatan.
"Ke luar negeri?" tanya Agus.
Ditya mengangguk.
"Menyusul orang tua."
Karina mengaduk minumannya meskipun tidak ada yang perlu diaduk.
Gerakan itu tidak luput dari perhatian kakaknya.
Ia tidak mengomentari.
***
Setelah keluarga Tjokro pergi, Karina meletakkan gelas.
"Jadi tanggalnya sudah hampir pasti?"
Ditya mengangguk.
"Sudah ada pilihan yang masuk akal. Mas tinggal menyelesaikan beberapa hal."
Karina memandang daftar pekerjaan di meja.
Klinik pernah berjalan tanpa kakaknya selama dua tahun.
Seharusnya ia tidak bereaksi seperti akan ditinggalkan seorang diri di hutan.
Namun, rumah terasa berbeda sejak Ditya kembali.
Ada orang yang menghabiskan makanan.
Mengomentari rambut.
Membuat bi Murni memasak lebih banyak sambil mengeluh.
Hal-hal menyebalkan yang ternyata mudah dirindukan bahkan sebelum benar-benar hilang.
"Jangan lupa bilang Reina," kata Karina.
"Sudah dibicarakan."
"Oh."
Ditya menatapnya.
"Kamu juga harus bilang kalau ada bagian pekerjaan yang perlu bantuan tambahan."
"Aku tahu."
"Jangan semua ditahan sampai mas sudah di bandara."
Karina menghela napas.
"Iya, Mas."
Ditya mengusap kepalanya sekilas.
Kali ini Karina tidak menepis.
Hanya mengeluh setelah rambutnya kembali berantakan.
***
Pembicaraan Ditya dengan Reina berlangsung pada jeda pekerjaan berikutnya.
Mereka duduk dengan jadwal terbuka.
Sebagian besar percakapan membahas pasien, staf, dan hal-hal yang harus dipastikan sebelum ia pergi.
Setelah semuanya cukup jelas, Reina menutup catatan.
"Semoga urusanmu lancar."
"Terima kasih."
Ditya memandang perempuan itu beberapa saat.
Ia masih mengenali begitu banyak hal.
Cara Reina meletakkan pena.
Cara ia menekan ujung halaman agar tidak melipat.
Kebiasaan kecil yang dahulu terasa seperti bagian hidupnya sendiri.
Namun, mengenali tidak berarti memiliki.
"Persiapan pernikahanmu juga semoga lancar," katanya.
Reina terdiam sesaat.
Lalu tersenyum tipis.
"Terima kasih."
Tidak ada pembicaraan panjang mengenai siapa yang paling terluka dahulu.
Mereka belum tentu membutuhkan seluruh jawaban di ruangan kerja.
Ditya hanya ingin memastikan dirinya tidak pergi sambil meninggalkan kalimat penting dalam bentuk sikap dingin.
Reina tampak memahami.
Keduanya kembali berdiri ketika pasien berikutnya datang.
***
Sore harinya, Karina berbicara dengan Bagas melalui pesan.
Ica memiliki hari yang cukup tenang. Anak itu belum dapat beraktivitas seperti yang diinginkannya, tetapi sudah mulai menunjukkan rasa bosan.
Karina tersenyum membaca bagian tersebut.
Rasa bosan bukan alasan untuk melupakan pengawasan.
Namun, bagi keluarga yang berhari-hari menunggu suara kecil, keluhan sederhana tetap dapat terasa melegakan.
Bagas bertanya apakah nanti ada waktu untuk mengirim cerita singkat mengenai hewan melalui pesan suara.
Karina menyanggupi setelah pekerjaan selesai.
Ia tidak memilih cerita panjang.
Hanya tentang Lou yang selalu mengetahui siapa membawa tas makanan, bahkan ketika orang tersebut bersikeras tasnya kosong.
Len memprotes ketika mendengar dirinya dijadikan bagian cerita.
"Saya seperti dituduh terus, Dok."
"Karena Lou punya bukti."
"Buktinya hidung."
"Itu bukti yang kuat untuk dia."
Len tertawa.
Karina merekam ulang karena suara tawanya sendiri masuk terlalu keras.
***
Agus mendengar pesan itu ketika sedang bersama Bagas.
Ica tersenyum kecil pada bagian Len.
Lalu meminta agar pesan diputar sekali lagi.
Bagas memenuhi sebelum mengingatkan bahwa setelah itu ia perlu beristirahat.
Agus duduk dan mendengarkan suara Karina dari perangkat.
Nada bicaranya berbeda ketika menjelaskan sesuatu kepada anak.
Masih ringan.
Masih sedikit menggoda.
Namun, ada kesabaran yang dahulu tidak pernah ia beri kesempatan untuk dikenali.
Ia tidak mengatakan apa-apa kepada Bagas.
Kakaknya tetap melihat.
"Kamu tersenyum sendiri."
Agus langsung menatapnya.
"Ceritanya lucu."
"Mas tidak bilang tidak."
Agus mengembuskan napas.
Bagas tidak memperpanjang godaan.
Setelah Ica beristirahat, ia hanya berkata pelan.
"Kalau suatu hari kamu ingin dekat dengan seseorang, pastikan kamu tertarik mengenalnya. Bukan sekadar ingin dia menyukai kamu."
Agus terdiam.
Kalimat tersebut membuatnya memikirkan banyak hubungan yang pernah dijalani.
Terlalu banyak perhatian yang sebenarnya berputar kembali kepada dirinya sendiri.
***
Malamnya, Karina membuka surel untuk mencari informasi yang pernah dikirim papa.
Ia perlu membandingkan satu istilah dengan penjelasan yang baru diterimanya.
Di meja terdapat catatan pekerjaan, gelas air, dan sebungkus makanan yang sengaja disembunyikan dari Ditya.
Bi Murni mengetuk pintu.
"Non, mas Ditya tanya makanan yang tadi di dapur."
"Tidak tahu."
Bi Murni memandang bungkus di meja.
Karina mengikuti arah pandang itu.
Keduanya diam.
Lalu bi Murni menggeleng sambil tertawa.
"Bibi bilang tidak lihat."
"Terima kasih, Bi."
"Besok gantian belikan."
Karina mengangguk cepat.
Setelah pintu tertutup, ia kembali menatap layar.
Ada pesan baru di antara surel pekerjaan.
Nama pengirimnya membuat tangannya berhenti.
Ia tidak membukanya selama beberapa detik.
Nama itu pernah begitu mudah ditemukan di kepalanya.
Lalu bertahun-tahun sengaja tidak disebut.
Damar.
***
Karina merasakan sesuatu yang dingin bergerak di perut.
Bukan karena pesan tersebut panjang.
Justru karena terlalu biasa.
Damar menulis bahwa ia melihat acara Karina. Mengucapkan selamat atas pekerjaan yang kini terlihat lebih luas. Kemudian menanyakan apakah mereka dapat berbicara setelah lama tidak bertemu.
Tidak ada penjelasan mengapa sekarang.
Tidak ada pengakuan mengenai bagaimana percakapan terakhir mereka dahulu berakhir.
Hanya salam yang seolah jarak bertahun-tahun dapat dilipat menjadi beberapa kalimat.
Karina membaca sekali.
Kemudian sekali lagi.
Wajahnya sendiri terpantul samar pada layar.
Ia teringat percakapan dengan papa.
Tentang merasa dianggap pintar selama dirinya setuju.
Tentang keinginan yang perlahan kehilangan bentuk karena terlalu sering mengikuti pendapat orang yang disukai.
Damar tidak sedang berdiri di kamarnya.
Tidak sedang memintanya mengambil keputusan saat itu juga.
Namun, Karina tetap merasa tubuhnya bersiap menghadapi percakapan lama.
***
Ia menutup surel tanpa membalas.
Beberapa menit kemudian, Karina turun.
Ditya masih duduk di ruang tengah.
Kakaknya menoleh dan langsung berhenti mencari sesuatu di ponsel ketika melihat wajahnya.
"Ada apa?"
Karina duduk di seberang.
Ia tidak ingin kembali menyimpan masalah sampai orang lain hanya melihat ledakannya.
"Damar mengirim surel."
Nama itu membuat Ditya diam.
Cukup lama.
"Kapan?"
"Baru."
"Apa katanya?"
"Melihat acara. Ingin bicara."
Ditya menarik napas, tetapi tidak langsung memberi larangan.
Karina memperhatikan perubahan kecil tersebut.
Kakaknya tampak sedang menahan beberapa kalimat yang dahulu pasti keluar lebih cepat.
Akhirnya ia bertanya.
"Kamu ingin membalas?"
Karina memandang tangannya sendiri.
Belum ada jawaban.
Tetapi pertanyaan itu membuatnya kembali merasa berada di ruang tengah rumahnya sekarang.
Bukan menjadi gadis yang menunggu semua orang memutuskan untuknya.
"Belum tahu," katanya.
Ditya mengangguk.
"Kalau begitu tidak perlu malam ini."
Karina bersandar perlahan.
Surel itu masih ada.
Masa lalu belum pergi hanya karena layarnya ditutup.
Namun, untuk pertama kalinya, Karina tahu bahwa dirinya boleh menentukan kapan pintu itu dibuka—atau tetap dibiarkan tertutup.