Menunggu ternyata dapat membuat orang lelah tanpa banyak bergerak.
Agus merasakannya ketika berdiri untuk meluruskan kaki.
Punggungnya pegal. Matanya panas. Ia bahkan sempat lupa bahwa beberapa saat sebelumnya sudah meminum air.
Andre masih duduk dengan kedua tangan bertaut.
Bagas menatap pintu yang sama.
Agus memandang kedua orang itu, lalu berjalan mengambil air lagi.
Ia tidak bertanya apakah mereka menginginkan sesuatu.
Beberapa kebutuhan terlalu kecil untuk dijadikan pertanyaan berulang.
Cukup disiapkan.
Ketika kembali, Bagas sedang berbicara dengan Mommy melalui pesan suara singkat. Ia menyampaikan bahwa proses masih berlangsung dan keluarga belum menerima kabar berikutnya.
Suaranya terdengar jauh lebih tenang daripada wajahnya.
Agus duduk.
Ia baru memahami betapa banyak tenaga yang diperlukan seseorang untuk terdengar baik-baik saja demi orang lain yang sedang berada jauh.
***
Di klinik, Karina menyelesaikan pemeriksaan terakhir sebelum jeda.
Ditya melihatnya mencuci tangan lebih lama daripada biasanya.
"Belum ada kabar?"
Karina menggeleng.
"Masih berlangsung."
Ditya mengangguk.
Ia tidak mengatakan bahwa Karina terlalu memikirkan keluarga orang.
Sejak kecil, adiknya memang sulit berpura-pura tidak peduli setelah mengenal seseorang.
Kadang hal itu membuatnya lelah.
Kadang justru membuatnya tetap datang ke tempat yang dihindari orang lain.
"Makan dulu," kata Ditya.
"Nanti."
"Kalau semua yang menunggu kabar memilih tidak makan, dapur bi Murni bisa tersinggung."
Karina menoleh.
Kakaknya menyodorkan kotak makanan yang dibawa dari rumah.
"Ia sudah mengirim pesan. Tanya apakah kamu makan atau hanya marah-marah."
Karina menerima kotak tersebut dengan wajah kesal.
"Aku tidak marah."
"Bagus. Berarti tinggal makan."
Ia duduk.
Ditya ikut makan di seberang tanpa menambahkan nasihat lagi.
***
Di rumah sakit, pintu akhirnya terbuka ketika Agus sedang membantu Andre mencari pesan yang tertimbun di layar.
Bagas lebih dahulu berdiri.
Gerakannya begitu cepat sampai kursinya bergeser.
Agus langsung menoleh.
Jo muncul dengan wajah lelah, tetapi langkahnya tenang.
Bagas mendekat beberapa langkah.
"Dok?"
Jo meminta mereka duduk agar dapat mendengarkan penjelasan dengan baik.
Permintaan itu membuat dada Bagas mengencang.
Agus berdiri di sampingnya sampai kakaknya kembali duduk.
Jo lalu menyampaikan bahwa tindakan telah selesai dan pemasangan alat yang direncanakan telah dilakukan.
Ica sedang mendapat penanganan dan pengawasan lanjutan sesuai kebutuhannya.
Bagas tidak langsung bereaksi.
Seolah pikirannya memerlukan waktu untuk memahami bahwa kalimat pertama sudah melewati bagian yang paling ditakutkan.
"Sudah selesai?" tanyanya.
Jo mengangguk.
"Tindakannya sudah selesai."
Andre menutup wajah dengan kedua tangan.
***
Kelegaan datang, tetapi tidak menghapus seluruh kekhawatiran.
Jo menjelaskan bahwa masa setelah tindakan tetap penting. Tim masih harus mengamati respons Ica dan menilai perkembangannya.
Ia tidak menyebut semuanya telah berakhir.
Bagas mendengarkan sambil sesekali mengulang hal yang ingin dipastikannya.
Agus mengajukan pertanyaan setelah kakaknya selesai.
Tidak banyak.
Hanya bagian yang membantu mereka memahami apa yang dapat dilakukan keluarga sekarang.
Andre akhirnya menurunkan tangan.
"Kapan kami boleh melihat?"
Jo menjelaskan pengaturan yang akan diberitahukan setelah keadaan memungkinkan.
Andre mengangguk berkali-kali.
Laki-laki yang biasanya memiliki banyak komentar itu tampak kehilangan sebagian besar kata.
Jo memberi mereka waktu sebelum berpamitan kembali menjalankan pekerjaannya.
Bagas berdiri.
"Terima kasih."
Suaranya pecah.
Jo menatapnya dengan lembut.
"Sama-sama. Kita lanjutkan satu tahap dulu."
Bagas mengangguk.
Ia tidak berusaha mengatakan kalimat lain.
***
Setelah Jo pergi, Bagas duduk kembali.
Kedua tangannya gemetar.
Agus langsung mendekat.
"Mas?"
Bagas menggeleng, tetapi air matanya sudah jatuh.
Ia menunduk dan menutup wajah.
Tidak ada suara keras.
Hanya napas yang berkali-kali tersendat setelah ditahan sejak pagi.
Andre meletakkan tangan di punggung putra sulungnya.
Agus duduk di sisi lain.
Mereka tidak menyuruhnya berhenti.
Tidak mengatakan bahwa seorang ayah harus kuat.
Bagas telah cukup lama menjadi kuat sampai lupa bahwa dirinya boleh merasa lega dengan cara yang berantakan.
Agus mengambil tisu.
Kakaknya menerimanya tanpa mengangkat kepala.
Beberapa menit kemudian, Bagas akhirnya menarik napas lebih panjang.
"Maaf."
Andre langsung menggeleng.
"Tidak usah minta maaf."
Agus menyodorkan air.
Bagas meminumnya sedikit.
Untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa udara benar-benar masuk ke paru-parunya.
***
Kabar kepada Mommy disampaikan setelah mereka dapat berbicara lebih teratur.
Perempuan itu menangis di layar.
Andre mencoba menjelaskan sambil beberapa kali mengusap matanya sendiri.
Akibatnya, sebagian kalimat harus diulang oleh Agus.
Mommy tertawa kecil di antara air mata ketika melihat suaminya kehilangan urutan.
"Pelan-pelan."
Andre mendengus.
"Saya juga sedang berusaha."
Bagas menambahkan penjelasan mengenai pengawasan berikutnya.
Ia tidak ingin keluarga yang jauh mengira Ica sudah dapat langsung diajak berbicara atau pulang.
Mommy mengangguk.
Mereka sepakat terus berbagi kabar sesuai perkembangan.
Setelah panggilan selesai, Bagas membuka percakapan dengan Karina.
Pesannya singkat.
Tindakan Ica sudah selesai. Sekarang masih dalam pengawasan. Terima kasih sudah ikut mendoakan.
Ia mengirim, kemudian menyimpan ponsel.
Belum semua orang perlu diberi cerita panjang.
Beberapa orang hanya perlu mengetahui bahwa penantian mereka telah mencapai tahap berikutnya.
***
Karina membaca pesan itu ketika sedang berdiri di dekat meja obat.
Ia berhenti.
Len yang berada di sampingnya langsung menoleh.
"Dok?"
Karina mengembuskan napas panjang.
"Sudah selesai."
Wajah Len berubah.
"Alhamdulillah."
Karina mengangguk.
Ia membalas Bagas dengan ucapan syukur dan harapan agar pengawasan berikutnya berjalan baik.
Tidak meminta foto.
Tidak menanyakan kapan dirinya dapat berkunjung.
Keluarga itu baru saja melewati hari yang panjang.
Karina lalu mengirim kabar kepada Ditya dan bi Murni karena keduanya juga menunggu.
Balasan bi Murni datang hampir seketika.
Syukur. Non sudah makan?
Karina memandang layar.
Perempuan itu benar-benar tidak akan membiarkan satu persoalan besar menghapus pemeriksaan terhadap isi perutnya.
Ia mengirim foto kotak makanan yang sudah kosong.
Baru setelah itu bi Murni membalas dengan doa yang lebih panjang.
Karina tersenyum sambil mengusap sudut matanya.
***
Kesempatan melihat Ica datang setelah keluarga memperoleh penjelasan mengenai pengaturannya.
Bagas masuk pada waktu yang diperbolehkan.
Ia telah mempersiapkan diri, tetapi tetap berhenti sesaat ketika melihat putrinya.
Ada begitu banyak hal di sekeliling tempat tidur.
Begitu banyak tanda bahwa tubuh kecil itu baru melewati sesuatu yang besar.
Bagas mendekat setelah diarahkan.
Ia tidak menyentuh apa pun yang tidak dipahaminya.
Tidak mencoba membangunkan Ica hanya karena dirinya ingin mendengar suara.
Ia berdiri dan memandangi wajah putrinya.
"Papa di sini," katanya pelan.
Tidak ada jawaban yang dapat langsung menenangkan seluruh kerinduan.
Namun, Bagas tetap berbicara sebentar.
Tentang buku yang disimpan.
Tentang gambar yang tidak tertinggal.
Tentang kakek dan om yang menunggu.
Hal-hal sederhana yang telah dijanjikannya.
Kemudian ia diam, membiarkan tim melanjutkan pekerjaan tanpa gangguan.
***
Ketika keluar, wajah Bagas kembali basah.
Agus tidak bertanya terlalu cepat.
Ia menunggu sampai kakaknya duduk.
"Kecil sekali," kata Bagas akhirnya.
Agus mengangguk pelan.
Ia memahami bahwa yang dimaksud bukan sesuatu yang baru diketahui.
Ica memang selalu kecil.
Namun, ada keadaan yang membuat kenyataan itu terasa menghantam untuk pertama kali.
Bagas memandang tangannya.
"Aku ingin mengambil semua yang berat dari dia."
Andre menatap putranya.
"Kalau bisa, Ayah juga ingin mengambil yang berat dari kamu."
Bagas mengangkat wajah.
Keduanya terdiam.
Agus duduk di antara dua generasi yang sama-sama ingin melindungi dan sama-sama harus menerima keterbatasan.
Tidak ada jawaban yang membuat semuanya ringan.
Tetapi kalimat Andre membuat Bagas menggeser kursi lebih dekat.
Untuk malam itu, mereka tidak perlu berpura-pura mampu melakukan sesuatu yang mustahil.
***
Menjelang malam, Agus memastikan Bagas memiliki makanan dan keperluan yang cukup sebelum mengantar Andre pulang untuk beristirahat.
Ayahnya sempat menolak.
Bagas yang akhirnya meminta.
"Ayah istirahat. Besok kita bergantian."
Andre memandangnya cukup lama, kemudian mengangguk.
Di perjalanan, ia lebih banyak diam.
Agus tidak menyalakan musik.
Ketika kendaraan berhenti di lampu merah, Andre berbicara.
"Gus."
"Iya?"
"Terima kasih."
Agus menoleh sebentar.
"Ayah sudah bilang."
"Yang ini untuk hari ini."
Agus kembali memandang jalan.
Tenggorokannya terasa penuh.
Ia hanya mengangguk.
Di rumah sakit, Bagas menerima kabar berikutnya dari tim sesuai perkembangan.
Ia mendengarkan, mengajukan pertanyaan seperlunya, lalu kembali duduk.
Hari yang ditakutkannya telah lewat.
Penantian belum selesai.
Namun, sekarang ia menunggu putrinya melewati tahap pemulihan.
Dan buku hewan itu masih tersimpan rapi di dalam tas.