Bagas tidak yakin dirinya benar-benar tidur.
Ia ingat memejamkan mata setelah Andre memintanya bersandar. Ia juga ingat suara langkah di lorong, pengasuh Ica merapikan barang, dan Agus mengatakan bahwa dirinya akan kembali sebelum persiapan pagi dimulai.
Ketika membuka mata, cahaya di balik jendela sudah berubah.
Hari yang ditunggu akhirnya datang.
Tidak ada suara keras yang mengumumkannya.
Hanya petugas yang masuk, sapaan pelan, dan gerakan orang-orang yang mulai menjalankan pekerjaan.
Bagas langsung berdiri.
Punggungnya terasa kaku, tetapi ia hampir tidak memperhatikannya.
Ica masih memegang ujung selimut ketika melihat papa mendekat.
"Sudah pagi?"
"Sudah, Sayang."
Anak itu memandang wajahnya beberapa saat.
"Hari ini?"
Bagas mengangguk.
Ia tidak ingin berpura-pura tidak memahami pertanyaan itu.
"Hari ini."
Ica mengulurkan tangan.
Bagas menggenggamnya sebelum ada kalimat lain yang sempat keluar.
***
Agus tiba ketika Andre sedang menerima panggilan dari Mommy.
Ayahnya berbicara dengan suara pelan, tetapi wajahnya terlalu serius untuk menyembunyikan perasaan.
Agus meletakkan barang yang dibawa dan menyapa Bagas.
"Sudah makan?"
Bagas menggeleng.
"Aku bawa sesuatu. Nanti kalau ada waktu."
Ia tidak memaksa kakaknya makan saat itu juga.
Hanya memastikan bahwa ketika kesempatan datang, Bagas tidak perlu meninggalkan tempat untuk mencari.
Andre menyerahkan perangkat kepada Bagas setelah menjelaskan bahwa Mommy ingin berbicara sebentar.
Wajah perempuan itu muncul dengan mata yang tampak kurang tidur.
Bagas tersenyum tipis.
"Mommy belum istirahat?"
"Sebentar lagi."
Keduanya mengetahui bahwa jawaban tersebut belum tentu benar.
Mommy meminta melihat Ica.
Anak itu menyapa dengan suara lebih kecil daripada biasanya.
Tidak ada gurauan mengenai kamera pagi itu.
Namun, sebelum panggilan berakhir, Mommy mengingatkan Andre agar tidak lupa makan juga.
Ica menoleh kepada kakeknya.
"Kakek dengar?"
Andre mengangguk cepat.
"Dengar."
Anak itu tampak sedikit puas.
Setidaknya masih ada orang dewasa yang dapat diaturnya.
***
Jo datang bersama tim yang akan melanjutkan persiapan.
Ia menyapa Ica terlebih dahulu, lalu berbicara dengan Bagas mengenai hal-hal yang perlu dipastikan.
Bagas mendengarkan dengan perhatian penuh.
Ada beberapa pertanyaan yang sebenarnya sudah pernah diajukan. Jo tetap menjawab tanpa menunjukkan kejengkelan.
Agus berdiri di dekat kakaknya.
Ia tidak mengambil alih percakapan hanya karena dirinya dokter.
Ica adalah putri Bagas.
Keputusan dan penjelasan harus tetap sampai kepada ayahnya dengan jelas.
Setelah urusan tersebut selesai, Jo kembali mendekati anak itu.
"Bukunya sudah disimpan?"
Ica mengangguk.
"Papa yang simpan."
"Bagus."
"Om dokter nanti ada?"
"Ada. Bersama tim yang membantu kamu."
Ica melihat tangan Jo, kemudian wajahnya.
"Kalau takut, Ica bilang?"
"Iya."
Anak itu mengangguk lagi.
Bagas merasa genggaman putrinya mengencang.
Ia membungkuk sedikit.
"Papa di sini."
Kalimat itu hanya berlaku untuk saat tersebut.
Tetapi ia mengatakannya dengan seluruh perhatian yang dimiliki.
***
Ketika waktunya berpindah tempat, Andre mendadak menjadi sangat sibuk.
Ia memeriksa barang yang sebenarnya tidak perlu dibawa.
Menanyakan sesuatu kepada Agus yang jawabannya sudah disampaikan.
Lalu membetulkan kopiah sampai miring ke arah lain.
Agus memegang siku ayahnya dengan lembut.
"Ayah."
Andre menoleh.
"Pelan-pelan."
Laki-laki itu hendak membantah, tetapi akhirnya menarik napas panjang.
"Iya."
Ica memperhatikan mereka.
"Kakek jangan hilang."
Andre langsung mendekat.
"Tidak. Kakek menunggu."
"Jangan pulang lihat Rambo dulu."
Dalam keadaan lain, kalimat itu pasti membuat seluruh keluarga tertawa keras.
Pagi tersebut, tawa mereka hanya muncul sebentar.
Namun, tetap ada.
Agus melihat Bagas mengusap mata dengan gerakan cepat.
Tidak seorang pun mengomentarinya.
Mereka mengikuti petugas sampai batas yang diperbolehkan.
Bagas tetap memegang tangan Ica selama masih bisa.
***
Perpisahan itu berlangsung lebih singkat daripada yang dibayangkan Bagas.
Ia memiliki begitu banyak kalimat di kepala.
Pesan.
Doa.
Janji.
Namun, ketika benar-benar berdiri di hadapan putrinya, yang keluar hanya suara pelan.
"Papa tunggu, ya."
Ica mengangguk.
Anak itu tidak tersenyum lebar.
Ia juga tidak mendadak menjadi sosok pemberani yang tidak membutuhkan siapa pun.
Matanya mencari wajah papa sekali lagi.
Bagas menahannya dalam pandangan selama mungkin.
Lalu pintu tertutup.
Agus berdiri di sebelah kakaknya.
Andre berada sedikit di belakang.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang bergerak.
Bagas masih mengangkat tangan, seolah jemari kecil itu belum sepenuhnya terlepas.
Agus menyentuh bahunya.
"Mas."
Bagas menurunkan tangan perlahan.
Ia menatap pintu.
Sekarang mereka benar-benar harus menunggu.
Tidak ada pekerjaan yang dapat dilakukannya di dalam.
Penerimaan terhadap kenyataan itu ternyata lebih sulit daripada seluruh persiapan sebelumnya.
***
Di klinik, Karina mengetahui bahwa persiapan sudah dimulai melalui pesan singkat Bagas sebelum ia masuk bekerja.
Ia membalas bahwa dirinya mendoakan kelancaran.
Setelah itu, ponsel diletakkan.
Pasien pertama telah datang.
Seekor kucing menolak keluar dari tempat bawaannya dengan keteguhan yang mengingatkan Karina pada Ditya ketika diminta mengakui telah menghabiskan makanan.
Pemiliknya meminta maaf berkali-kali.
"Tidak apa-apa," kata Karina. "Kita beri waktu sebentar."
Ia berjongkok dan memperhatikan.
Pikirannya sempat melompat kepada Ica.
Anak kecil yang juga sedang menghadapi tempat dan kegiatan yang membuatnya takut.
Karina menarik napas, lalu kembali memusatkan perhatian.
Pasien di hadapannya berhak memperoleh dirinya secara utuh.
Bukan dokter yang separuh pikirannya tertinggal di rumah sakit.
Len membantu dengan tenang.
Namun, ketika mereka selesai, ia bertanya pelan.
"Sudah ada kabar?"
Karina menggeleng.
"Masih menunggu."
Len mengangguk.
Mereka kembali bekerja.
***
Di ruang tunggu, Andre membuka ponsel hampir setiap beberapa menit.
Bukan karena ada pesan baru.
Ia hanya tampak tidak tahu harus melakukan apa dengan tangannya.
Agus mengambil air dan menyerahkannya.
"Minum dulu, Yah."
Andre menerima.
Bagas duduk di kursi paling dekat dengan arah pintu.
Makanan yang dibawa Agus masih belum dibuka.
Agus duduk di sampingnya.
"Sedikit saja, Mas."
Bagas memandang kotak tersebut.
"Aku tidak lapar."
"Aku tahu. Tapi ini akan panjang."
Kakaknya diam beberapa saat.
Kemudian mengambil kotak itu.
Agus tidak menatap sampai Bagas merasa sedang diawasi.
Ia membuka makanannya sendiri dan mulai makan perlahan.
Andre mengikuti setelah melihat kedua putranya.
Tidak ada selera makan yang tiba-tiba kembali.
Mereka hanya melakukan sesuatu yang diperlukan agar tubuh dapat mengikuti hari yang sulit.
Setelah beberapa suap, Bagas meletakkan sendok.
Agus tidak memaksa lebih jauh.
Untuk sementara, itu cukup.
***
Waktu bergerak dengan cara yang aneh.
Jam di dinding tetap berjalan.
Orang lain datang dan pergi.
Ada keluarga yang menerima kabar, ada yang berbicara melalui telepon, ada yang tertidur dengan posisi tidak nyaman.
Namun, bagi Bagas, pagi seolah menolak berakhir.
Ia sempat membuka berkas pekerjaan di ponsel, lalu menutupnya tanpa membaca satu kalimat pun.
Agus melihat.
"Kalau perlu membalas urusan kantor, aku tetap di sini."
Bagas menggeleng.
"Sudah diatur."
Ia memandang adiknya.
"Kamu?"
"Sudah."
Tidak ada panggilan dari perempuan yang menanyakan mengapa dirinya belum datang.
Tidak ada rencana makan malam yang disembunyikan.
Agus menyadari betapa sering hidupnya terasa sibuk karena dirinya sendiri membiarkan terlalu banyak orang menunggu penjelasan.
Hari itu ia hanya menunggu satu kabar.
Dan tidak ingin berada di tempat lain.
***
Menjelang tengah hari, petugas datang menyampaikan pembaruan sesuai informasi yang dapat diberikan.
Proses masih berlangsung.
Keluarga akan kembali diberi kabar ketika ada perkembangan berikutnya.
Bagas mengajukan satu pertanyaan, lalu mengangguk setelah mendapat jawaban.
Tidak ada pengumuman keberhasilan.
Tidak pula kabar yang mengharuskan mereka mengambil keputusan baru saat itu.
Hanya penantian yang berlanjut.
Andre mengusap wajah setelah petugas pergi.
Agus menatap ayahnya.
"Mau istirahat sebentar?"
Andre menggeleng.
"Nanti."
Bagas menyandarkan kepala pada dinding.
Di dalam tas, buku hewan Ica terletak bersama map gambarnya.
Ia membuka tas dan menyentuh ujung buku itu.
Kemudian menutupnya kembali.
Tidak ada yang dapat dilakukan buku tersebut untuk membantu tindakan di balik pintu.
Tetapi Bagas ingin memastikan benda itu tetap ada ketika putrinya meminta lagi.
Di sampingnya, Agus dan Andre tidak pergi.
Mereka membiarkan jam berjalan, satu menit demi satu menit.