Hari-hari pertama setelah tindakan tidak bergerak secepat keinginan keluarga.
Bagas belajar menahan diri ketika tidak memperoleh perubahan yang dapat diceritakan dengan kalimat besar.
Ada penilaian yang terus dilakukan.
Ada pengaturan yang menyesuaikan keadaan Ica.
Ada waktu ketika ia hanya dapat menerima penjelasan, mengangguk, dan menunggu kabar berikutnya.
Agus datang sesuai pembagian yang mereka bicarakan.
Andre juga berusaha mengikuti pengaturan, meskipun sesekali masih membawa barang yang tidak diperlukan.
Pada suatu pagi, ia datang dengan kantong cukup besar.
Bagas memandangnya.
"Apa itu, Yah?"
"Untuk Ica nanti."
Agus membuka sedikit.
Boneka kambing.
Ia menutup kantong kembali.
"Ayah sedang membangun peternakan kedua?"
Andre merebut kantong dengan wajah tersinggung.
"Ini tidak perlu pakan."
Bagas tertawa untuk pertama kalinya sejak pagi.
Boneka tersebut belum langsung diberikan kepada Ica.
Namun, Andre tetap menyimpannya seolah telah melakukan pembelian paling masuk akal di dunia.
***
Ketika Ica mulai dapat berinteraksi lebih jelas sesuai perkembangannya, Bagas harus menahan keinginan mengajaknya berbicara terlalu lama.
Ia ingin mendengar banyak hal.
Apakah putrinya mengenali semua orang.
Apakah ada yang ingin diceritakan.
Apakah ia masih mengingat gambar Awan.
Tetapi Ica cepat lelah.
Bagas belajar menerima jawaban pendek tanpa menganggapnya kurang.
Suatu kali, anak itu hanya menggerakkan bibir untuk memanggil.
"Papa."
Bagas langsung mendekat.
"Iya, Sayang."
Ica memejamkan mata lagi setelah mengetahui ayahnya berada di dekat.
Tidak ada percakapan panjang.
Tidak ada lelucon.
Namun, ketika Bagas menceritakannya kepada Agus, wajahnya tampak seperti baru menerima kabar paling berharga.
Agus mendengarkan tanpa mengatakan bahwa putrinya hanya memanggil satu kata.
Ia mengerti.
Ada hari ketika satu kata cukup untuk membuat seseorang bertahan sampai malam.
***
Di klinik, kehidupan tetap berjalan dengan segala keributannya.
Pasien dari shelter menunjukkan perkembangan yang memungkinkan rencana perawatan berikutnya dibicarakan dengan lebih tenang. Bu Mawar datang mendengarkan penjelasan dan menanyakan hal-hal yang perlu disiapkan.
Karina tidak membiarkannya membawa pulang hanya karena atap shelter sudah mulai diperbaiki.
Keadaan pasien tetap menjadi pertimbangan utama.
Bu Mawar mengangguk.
"Saya mengikuti penjelasan dokter."
Len membantu mencatat barang yang masih diperlukan di shelter.
Setelah urusan selesai, ia mengeluarkan map plastiknya sendiri.
Karina langsung mengenali wajah itu.
"Wajah pendaftaran."
Len tertawa.
"Saya sudah melengkapi yang kemarin kurang, Dok."
"Bagus."
"Jadwalnya juga sudah lebih jelas."
Ditya dipanggil untuk melihat bersama.
Mereka menyesuaikan pembagian pekerjaan, mencari bagian yang dapat digeser, dan menandai waktu ketika Len perlu belajar.
Tidak ada tepuk tangan meriah.
Hanya jadwal baru dan beberapa tugas yang harus dibagi ulang.
Namun, Len memandang kertas itu seperti sedang melihat pintu rumah yang akhirnya terbuka.
***
"Saya akan tetap menyelesaikan pekerjaan," katanya.
Karina mengangguk.
"Dan belajar."
"Iya."
"Kalau sulit, bilang sebelum semuanya berantakan."
Len tersenyum malu.
Ditya menambahkan bahwa meminta bantuan tidak sama dengan menyerahkan seluruh tanggung jawab.
Len mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
Setelah ia kembali bekerja, Karina memandang kakaknya.
"Mas tidak keberatan jadwal berubah?"
"Kalau keberatan, tadi mas bilang."
Karina mengangguk.
Ditya menyandarkan tubuh pada meja.
"Kita dulu bisa sekolah karena banyak orang menyesuaikan hidup untuk membantu. Sekarang giliran kita sedikit repot."
Karina menatapnya.
Kakaknya mendadak terdengar terlalu bijaksana.
Ditya melihat perubahan wajah itu.
"Apa?"
"Tidak apa-apa."
"Jangan terharu. Nanti mas minta dibelikan makan."
Karina langsung memutar mata.
Syukurlah.
Mas Ditya belum berubah menjadi orang lain.
***
Sore harinya, Karina berbicara dengan papa mengenai laporan penelitian yang masih dibacanya.
Percakapan tersebut berlangsung lebih ringan daripada malam ketika mereka membahas pilihan pendidikan.
Karina menanyakan bagian yang tidak dipahami.
Papa menjelaskan, lalu beberapa kali berhenti agar tidak berubah menjadi kuliah panjang.
Di belakangnya, mama terdengar mengingatkan.
"Anaknya masih harus bekerja."
Papa mendengus.
"Ini dia yang bertanya."
Karina tertawa.
Setelah pembahasan selesai, papa menanyakan kabar Ica.
Karina menyampaikan sebatas kabar yang diterimanya dari keluarga.
"Semoga pemulihannya berjalan baik," kata papa.
Karina mengangguk.
Ia kemudian terdiam cukup lama sampai papa bertanya apakah masih ada sesuatu.
"Pa."
"Iya?"
"Waktu itu, bukan cuma karena aku menyukai dia."
Papa tidak langsung menjawab.
Mereka tidak perlu mengulang seluruh pertengkaran untuk mengetahui masa lalu yang dimaksud.
"Papa mendengar," katanya akhirnya.
Karina menarik napas.
***
"Aku merasa dia menganggapku pintar," lanjutnya. "Waktu orang lain masih melihatku seperti anak kecil."
Papa menunduk sedikit.
Karina memandang meja.
"Mungkin itu yang membuatku terlalu percaya."
Di seberang, tidak ada kalimat bahwa dirinya seharusnya lebih berhati-hati.
Papa membiarkannya menyelesaikan.
"Belakangan aku sadar, dia suka kalau aku setuju. Kalau pendapatku berbeda, aku dianggap belum mengerti."
Karina tertawa kecil, tanpa kegembiraan.
"Dulu aku pikir itu karena dia lebih tahu."
Papa mengangguk perlahan.
"Dan sekarang?"
"Sekarang aku ingin boleh berbeda tanpa dibuat merasa bodoh."
"Keinginan yang wajar."
Karina memejamkan mata sebentar.
Ia tidak menceritakan Agus.
Tidak menghubungkan setiap laki-laki dengan luka yang sama.
Namun, percakapan tersebut membuatnya memahami mengapa tuduhan di pet shop terasa begitu menusuk.
Bukan hanya karena salah.
Karena sekali lagi, penjelasannya dianggap tidak perlu didengar.
***
Malam itu, Andre duduk bersama Bagas setelah pulang bergantian dari rumah sakit.
Mereka membicarakan beberapa keperluan Ica, lalu percakapan beralih kepada orang-orang yang telah membantu.
Nama Karina disebut.
Andre tampak hendak mengatakan sesuatu.
Bagas langsung memandangnya.
"Ayah."
Andre mengernyit.
"Belum bicara."
"Wajah Ayah sudah."
Laki-laki itu mendengus.
Di keluarga tersebut, rupanya wajah semua orang lebih cepat bekerja daripada mulutnya.
Bagas meletakkan gelas.
"Jangan mulai lagi soal calon istri."
Andre terdiam, kemudian mengangguk kecil.
"Ayah tahu."
"Dokter Karina membantu Ica. Jangan dibuat seperti dia sedang mengikuti penilaian menjadi anggota keluarga."
Andre menatap putranya.
Kalimat tersebut tidak disampaikan dengan marah.
Justru karena tenang, ia lebih sulit mengabaikannya.
"Ayah hanya suka melihat orang baik dekat dengan kalian."
"Aku juga. Tapi dekat itu tidak selalu harus dijadikan rencana Ayah."
Andre menghela napas.
"Baik."
***
Bagas tidak menambahkan ceramah.
Ia mengetahui ayahnya sedang belajar menahan kebiasaan yang telah dipelihara bertahun-tahun.
Sebelum percakapan berakhir, Andre bertanya lebih pelan.
"Kamu sendiri tidak ingin punya teman hidup lagi?"
Bagas memandang gelasnya.
"Ingin atau tidak, aku belum siap menjawabnya sekarang."
Andre mengangguk.
Kali ini ia tidak menyebut nama siapa pun.
Tidak menjadikan Ica alasan untuk mencari pengganti mama.
Bagas tampak lebih lega.
Di ambang pintu, Agus yang baru datang memilih memberi salam sebelum masuk lebih jauh.
Ia tidak mendengar seluruh percakapan.
Namun, ia menangkap cukup banyak untuk memahami bahwa hidup kakaknya juga sering dipenuhi harapan orang lain yang belum tentu dapat dipenuhi.
Agus duduk dan menanyakan kabar Ica.
Percakapan kembali kepada hal yang mereka ketahui.
Satu tahap demi satu tahap.
***
Beberapa hari setelah tindakan, Bagas mengirim pesan suara pendek kepada Karina.
Kali ini suara Ica terdengar di dalamnya, pelan dan singkat.
"Bu dokter, bukunya masih ada."
Karina sedang menunggu Len selesai merapikan alat ketika pesan itu diputar.
Ia langsung diam.
Len menoleh.
Karina memperdengarkannya sekali lagi.
Keduanya tersenyum.
Tidak ada cerita panjang mengenai kesembuhan.
Tidak ada pernyataan bahwa Ica sudah dapat melakukan semua yang diinginkan.
Hanya kabar mengenai sebuah buku.
Karina membalas melalui Bagas.
"Saya senang mendengarnya. Ica istirahat dulu. Cerita hewannya masih banyak."
Setelah pesan terkirim, ia menyimpan ponsel.
Di luar, seorang pemilik pasien memanggil dengan wajah bingung karena tali anjingnya terlilit kaki kursi.
Karina berdiri.
Hidup kembali meminta perhatiannya.
Namun, kali ini langkahnya terasa lebih ringan.
Ada seorang anak yang masih mengingat bukunya.
Untuk hari itu, kabar tersebut sudah cukup besar.