Pagi setelah hujan, Karina datang lebih awal untuk melihat perkembangan pasien dari shelter.
Catatan pengawasan malam telah tersedia.
Ia membacanya bersama Ditya sebelum menghubungi Bu Mawar. Keadaannya masih memerlukan perhatian, tetapi beberapa hal yang mereka amati memberi alasan untuk meneruskan perawatan dengan lebih tenang.
Karina menyampaikan kabar tanpa menambahkan kepastian yang belum ada.
Bu Mawar mengucapkan terima kasih berkali-kali.
Di belakang suara perempuan itu terdengar kesibukan shelter.
Pekerjaan telah dimulai lagi.
Atap belum selesai diperbaiki. Barang yang basah belum seluruhnya kering. Namun, orang-orang tetap datang membawa ember dan pakan.
Karina menutup panggilan.
Len meletakkan minuman di meja.
"Bu Mawar bagaimana?"
"Sudah mulai mengatur perbaikan."
Len mengangguk.
Wajahnya tampak lelah, tetapi matanya lebih cerah ketika menunjukkan pesan dari tempat belajar.
Ada pengaturan waktu yang mungkin sesuai dengan pekerjaannya.
Karina tersenyum.
Satu malam yang sulit ternyata tidak menghentikan seluruh rencana baik.
***
Hari itu merupakan sehari sebelum rencana tindakan Ica.
Agus telah menyesuaikan pekerjaan dan memberi tahu orang yang perlu mengetahui jadwalnya. Ia tidak menganggap kehadiran di rumah sakit dapat dilakukan hanya dengan meninggalkan pesan mendadak.
Bagas memperhatikan ketika adiknya datang membawa barang yang telah diminta.
"Sudah selesai semua?"
"Untuk hari ini sudah."
"Besok?"
"Sudah diatur."
Bagas mengangguk.
Ia tidak memberikan pujian panjang, tetapi bahunya terlihat sedikit lebih ringan.
Ica sedang berbicara dengan Mommy melalui panggilan video. Andre memegang perangkat dengan sudut yang berubah-ubah setiap kali dirinya ikut melihat layar.
"Kakek, wajah Ica jadi hilang."
Andre segera membetulkan posisi.
Mommy tertawa dari seberang.
"Jangan semua diambil alih, Andre."
"Saya hanya membantu."
"Yang terlihat dari tadi kopiah."
Agus menutup mulut.
Bagas akhirnya tertawa.
Di tengah penantian, keluhan mengenai sudut kamera terasa seperti hadiah kecil.
***
Mommy meminta Ica memperlihatkan gambar Awan.
Anak itu mengangkat kertas dengan bangga.
Di samping hamster, kini ada beberapa bentuk manusia. Salah satunya memiliki rambut sangat besar.
"Itu siapa?" tanya Mommy.
"Bu dokter hewan."
Agus menunduk untuk melihat.
Bagas memejamkan mata sebentar.
Rambut Karina dalam gambar tampak seperti pohon yang baru diterpa angin.
"Bagus," kata Mommy dengan suara yang sedikit bergetar karena menahan tawa.
Ica menunjuk gambar lain.
"Ini Om."
Agus melihat sosok dengan kaki panjang dan kepala kecil.
Andre langsung berkomentar.
"Mirip."
"Ayah."
"Apa? Ica pintar menggambar."
Anak itu tertawa senang karena mengira seluruh orang sedang memuji.
Agus memilih tidak mempertahankan harga diri di hadapan seniman berusia lima tahun.
Ia hanya bertanya apakah gambar tersebut boleh disimpan setelah Ica tidak membutuhkannya.
Ica menggeleng tegas.
"Masih mau Ica kasih lihat."
Agus menyerah.
Bahkan gambar berkepala kecil itu belum menjadi miliknya.
***
Setelah panggilan selesai, Jo datang untuk melihat keadaan Ica dan menyelesaikan pembicaraan yang diperlukan bersama keluarga.
Anak itu memperhatikan cincin di tangan dokter tersebut ketika ia duduk.
"Om dokter masih pakai cincin."
Jo melihat jarinya sendiri.
"Iya."
"Orangnya jauh?"
Bagas hendak mengalihkan pertanyaan.
Jo memberi tanda kecil bahwa tidak apa-apa.
"Orang yang memberi cincin ini sudah meninggal."
Ica terdiam.
Ia memandang ayahnya sesaat.
Sejak kecil, ia mendengar bahwa mamanya juga sudah meninggal, meskipun pengertian mengenai kehilangan berubah setiap kali dirinya bertambah besar.
"Om dokter masih ingat?"
"Masih."
"Kalau tidak pakai cincin, lupa?"
Jo tersenyum tipis.
"Tidak. Ingatan tidak hanya tinggal di benda."
Ica memikirkan jawaban itu.
Lalu ia memegang ujung gambar di pangkuannya.
"Kalau gambar Ica rusak, Papa tetap ingat?"
Bagas langsung mendekat.
"Tentu."
Anak itu mengangguk, seolah satu persoalan besar baru memperoleh tempat.
***
Jo tidak memperpanjang cerita mengenai dirinya.
Ia kembali memberi perhatian kepada Ica dan hal-hal yang perlu diketahui keluarga.
Agus mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
Namun, pertanyaan kecil tadi menetap di kepalanya.
Ia telah mengenal Jo sejak lama. Mengetahui sebagian kesedihan sahabatnya, tetapi sering menganggap orang yang tetap bekerja dengan baik pasti sudah berhasil menaruh semua luka di belakang.
Ternyata ada orang yang membawa kehilangan sambil tetap membantu orang lain.
Tanpa menjadikannya alasan untuk memperlakukan dunia seenaknya.
Setelah pembicaraan selesai, Agus berjalan bersama Jo ke luar.
"Terima kasih tadi," katanya.
"Untuk apa?"
"Menjawab Ica."
Jo mengangguk.
"Dia sedang mencoba memahami banyak hal."
Agus menatap cincin itu sebentar.
"Kamu baik-baik saja?"
Jo tersenyum kecil.
"Hari ini, iya."
Jawaban tersebut tidak sempurna.
Agus justru mempercayainya.
Ia tidak menepuk bahu Jo sambil menyuruh segera mencari pengganti.
Ia hanya berjalan di sampingnya sampai arah mereka berbeda.
***
Karina datang pada waktu kunjungan yang telah dibicarakan dengan Bagas.
Ia tidak berlama-lama karena mengetahui keluarga memerlukan istirahat.
Ica langsung memperlihatkan gambar baru.
Karina menatap sosok berambut besar.
"Ini saya?"
Anak itu mengangguk bangga.
Agus memalingkan muka.
Karina menangkap gerakan tersebut.
"Lucu?"
Agus segera menggeleng.
"Sangat mirip."
Bagas batuk kecil.
Karina menatap kedua saudara itu bergantian.
Ica tertawa tanpa mengetahui mengapa orang dewasa di sekitarnya mendadak terlihat mencurigakan.
Karina memilih duduk dan memuji bagian warna.
Ia tidak akan berdebat mengenai rambut dengan anak yang sedang berusaha menunjukkan kasih sayang.
Namun, ketika Agus lewat untuk mengambil gelas, ia sempat berbisik.
"Kepala Anda kecil sekali."
Agus melihat gambar dirinya.
"Iya. Saya sudah menerima."
Karina terpaksa menahan senyum.
Ada sesuatu yang berbeda ketika laki-laki itu tidak lagi selalu berusaha memenangkan kalimat terakhir.
***
Ica menanyakan keadaan hamster melalui cerita Bagas dan pengasuhnya.
Karina mendengarkan, lalu membicarakan hal-hal ringan yang dapat membuat anak itu tetap merasa terhubung dengan rumah.
Tidak ada janji bahwa semua akan langsung kembali seperti biasa.
Mereka hanya membicarakan siapa yang membantu merawat dan bagaimana Ica dapat menerima kabar.
Setelah beberapa menit, anak itu memegang tangan Karina.
"Besok bu dokter kerja?"
"Iya."
"Ica juga ada urusan."
Karina merasakan jemari kecil itu menggenggam lebih erat.
"Iya. Ica ditemani Papa dan dokter-dokter di sini."
Anak itu mengangguk.
"Kalau sudah boleh, nanti cerita lagi?"
"Boleh. Lewat Papa dulu, ya."
Ica tampak puas.
Karina tidak mengatakan akan menunggu di depan ruangan sepanjang hari.
Ia memberikan janji yang dapat diatur dan dijaga.
Ketika berpamitan, ia menahan keinginan memeluk terlalu lama.
Kunjungan ini untuk Ica.
Bukan untuk menenangkan ketakutannya sendiri.
***
Di luar, Agus menyampaikan kabar singkat mengenai bantuan shelter.
Andre telah memastikan Bu Mawar mendapatkan kontak orang yang dapat memeriksa kerusakan atap. Pengaturannya tetap dilakukan langsung oleh pengelola shelter.
Karina mengangguk.
"Bu Mawar sudah cerita."
"Baik."
Ada keheningan yang kali ini tidak terasa bermusuhan.
Karina memandang pintu ruangan Ica.
"Anda juga harus istirahat."
Agus menoleh.
"Saya?"
"Besok keluarga Anda membutuhkan orang yang bisa berpikir. Bukan orang yang hanya berdiri karena gengsi mengaku lelah."
Agus hampir tertawa.
Cara Karina menunjukkan perhatian rupanya tetap menyerupai teguran.
"Saya akan pulang setelah bergantian dengan Mas Bagas."
Karina mengangguk.
"Bagus."
Ia membetulkan tas dan hendak pergi.
Agus tidak meminta percakapan diperpanjang.
Namun, sebelum Karina melangkah lebih jauh, ia berkata pelan.
"Terima kasih sudah datang untuk Ica."
Karina menoleh sekali.
"Sama-sama."
Kali ini, senyumnya terlihat.
Kecil.
Tetapi tidak dibuat-buat.
***
Malam itu, Bagas membantu Ica menyimpan buku dan gambar.
Anak itu ingin memastikan semua berada di tempat yang dapat ditemukan kembali.
Bagas mengikuti permintaannya satu per satu.
Buku di dalam tas.
Gambar dalam map.
Pensil warna ditutup rapat.
Hal-hal sederhana tersebut membuat tangannya memiliki pekerjaan ketika pikirannya terus melompat kepada hari berikutnya.
Setelah Ica beristirahat, Andre duduk di sampingnya.
Agus masih berada beberapa langkah dari pintu, menyelesaikan pesan kepada orang yang telah membantunya mengatur pekerjaan.
Tidak ada yang berbicara cukup lama.
Kemudian Bagas berkata pelan.
"Aku takut."
Andre menoleh.
Putra sulungnya tidak sedang meminta penjelasan.
Tidak sedang menanyakan peluang atau jadwal.
Ia hanya akhirnya mengatakan kalimat yang sejak pagi ditahan.
Andre meletakkan tangan di bahunya.
Agus menyimpan ponsel dan mendekat.
Untuk beberapa saat, mereka bertiga duduk tanpa berusaha menjadi orang yang paling kuat.
Besok, akan ada pintu yang hanya dapat mereka tunggu dari luar.
Malam ini, mereka masih dapat memastikan tidak seorang pun harus menunggu sendirian.