Ditya turun ketika Karina sedang memasukkan barang ke tas.
"Mau ke mana?"
"Shelter. Ada yang perlu dibawa kemari."
Karina menjelaskan panggilan Bu Mawar.
Kakaknya memandang hujan, lalu memeriksa keadaan klinik.
Masih ada pasien yang harus diselesaikan. Reina juga belum dapat meninggalkan pekerjaannya.
"Mas tetap di sini," katanya. "Kamu dan Len jemput. Kabari setelah tahu keadaan di sana."
Karina mengangguk.
Tidak ada perdebatan mengenai siapa yang paling berani menembus hujan.
Mereka hanya membagi pekerjaan.
Len mengambil jas hujan dan membantu menyiapkan ruang kendaraan agar sesuai untuk membawa pasien.
Karina menghubungi Bu Mawar sekali lagi sebelum berangkat.
Ia tidak ingin tiba dengan gambaran yang sudah berubah.
Setelah memperoleh kabar terbaru, mereka berangkat perlahan.
Air memukul kaca dengan suara rapat.
Jarak yang biasanya terasa dekat mendadak memerlukan perhatian lebih besar.
***
Di rumah keluarga Tjokro, Andre sedang berbicara dengan salah satu pegawainya ketika kabar mengenai hujan dan beberapa jalan yang sulit dilewati masuk.
Agus baru pulang dari rumah sakit.
Ia meletakkan tas, kemudian melihat ayahnya memeriksa sesuatu di ponsel.
"Ada apa?"
Andre menjelaskan bahwa seorang kenalannya meneruskan permintaan bantuan dari shelter. Mereka membutuhkan kendaraan untuk memindahkan beberapa barang dan hewan dari bagian yang bocor.
Agus menatap layar.
Nama tempat itu dikenalnya dari cerita Karina dan Len.
Ia tidak langsung mengambil kunci.
Sebaliknya, ia bertanya kepada Andre siapa yang sedang mengatur bantuan.
"Ayah menghubungi nomor yang dibagikan dulu."
Andre memandangnya.
"Kamu mau membantu?"
"Kalau memang diperlukan."
"Ada pekerjaan?"
"Sudah selesai. Bagas juga tahu aku pulang."
Andre mengangguk.
Ia menghubungi nomor tersebut, memperkenalkan diri, lalu menanyakan kebutuhan yang sebenarnya.
Agus menunggu sampai pembicaraan selesai.
Kali ini ia tidak ingin muncul dengan niat baik yang hanya ditentukan oleh kepalanya sendiri.
***
Karina tiba di shelter ketika beberapa pegawai sedang memindahkan barang dari lantai yang basah.
Bu Mawar membawa mereka ke tempat anjing yang perlu diperiksa.
Karina berjongkok dan segera memusatkan perhatian.
Len membantu sesuai arahannya.
Mereka tidak menghabiskan waktu membahas atap atau kamera yang baru pergi beberapa jam sebelumnya.
Setelah pemeriksaan awal, Karina memutuskan membawa pasien ke klinik untuk penilaian lebih lanjut.
Bu Mawar mengangguk cepat.
"Saya ikut."
"Baik. Barang lain bagaimana?"
"Masih dipindahkan. Ada bantuan kendaraan yang sedang menuju kemari."
Karina menoleh.
"Dari siapa?"
"Pak Andre. Katanya putranya datang bersama pegawai."
Tangan Karina berhenti sesaat.
Bu Mawar memperhatikan.
"Dokter kenal?"
"Kenal."
Karina kembali merapikan barang.
Ia tidak bertanya lebih jauh karena pasien di hadapannya tidak dapat menunggu dirinya mengurus perasaan.
Namun, ketika mendengar kendaraan tiba beberapa menit kemudian, bahunya tetap menegang.
***
Agus turun dengan pakaian biasa dan jaket yang segera basah di bagian bahu.
Ia tidak langsung mendekati Karina.
Bu Mawar menyambut dan menunjukkan bagian pekerjaan yang membutuhkan bantuan.
Agus mendengarkan.
Pegawai yang datang bersamanya mulai mengangkat wadah serta barang yang telah dipisahkan oleh staf shelter.
Karina melihat sekilas dari pintu.
Tidak ada kamera.
Tidak ada ponsel yang diarahkan untuk mengambil gambar.
Agus hanya bertanya barang mana yang harus dipindahkan lebih dahulu dan tempat aman untuk meletakkannya.
Bu Mawar menjelaskan bahwa pasien akan dibawa Karina.
Agus mengangguk.
"Saya urus yang di sini."
Kalimat tersebut membuat Karina menatapnya sebentar.
Ia tidak menawarkan diri memegang hewan yang belum dipahaminya.
Tidak menghalangi pekerjaan dengan pertanyaan yang sebenarnya dapat ditunda.
Len memanggil dari dekat kendaraan.
Karina kembali bergerak.
Mereka harus segera berangkat.
***
Saat Karina berjalan menuju mobil, ujung tasnya tersangkut pada gagang pintu.
Ia berhenti mendadak.
Agus yang berada tidak jauh menoleh.
"Boleh saya bantu?"
Karina melihat bagian yang tersangkut.
"Pegang pintunya saja."
Agus melakukannya.
Karina membebaskan tali tas, lalu mengangguk singkat.
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Hujan membuat beberapa helai rambut menempel di pipinya. Ia hendak menyibakkannya ketika Len meminta bantuan memastikan barang sudah lengkap.
Karina kembali menoleh.
Agus tetap memegang pintu sampai mereka selesai lewat.
Tidak ada komentar mengenai rambut.
Tidak ada lelucon yang memaksanya membalas ketika pikirannya sedang berada pada pasien.
Setelah semua siap, Karina masuk ke kendaraan bersama Bu Mawar dan Len.
Agus mundur memberi ruang.
Mereka pergi tanpa percakapan lain.
Namun, selama beberapa menit pertama perjalanan, Karina menyadari sesuatu.
Kehadiran laki-laki itu tadi tidak membuat pekerjaannya lebih sulit.
***
Di klinik, Ditya telah menyiapkan tempat pemeriksaan.
Karina menyerahkan informasi yang diperoleh dan membantu penanganan berikutnya. Bu Mawar menunggu dengan wajah lelah, sementara Len mengurus barang basah agar tidak mengganggu ruangan.
Tidak ada keputusan besar yang diumumkan sebelum pemeriksaan selesai.
Ditya menjelaskan bahwa pasien perlu mendapat perawatan dan pengawasan lebih lanjut di klinik.
Bu Mawar mengangguk.
"Saya boleh menunggu sebentar?"
"Boleh."
Karina mengambil air untuknya.
Perempuan itu menerimanya dengan kedua tangan.
"Tadi pagi saya masih bicara di depan kamera bahwa pekerjaan harus terus berjalan."
Karina duduk sebentar.
"Sekarang memang sedang berjalan, Bu."
Bu Mawar tertawa kecil, tetapi matanya merah.
"Saya hanya tidak menyangka secepat ini diuji."
Karina tidak mengatakan bahwa semuanya pasti segera baik.
Ia menjelaskan apa yang sudah dilakukan dan apa yang masih perlu diamati.
Bu Mawar mendengarkan sampai napasnya lebih teratur.
***
Kabar dari shelter datang tidak lama kemudian.
Bagian yang perlu dikosongkan telah selesai ditangani. Hewan dipindahkan ke area yang lebih kering, dan barang penting sudah diamankan.
Perbaikan atap akan diatur setelah keadaan memungkinkan.
Bu Mawar mengembuskan napas panjang.
Ia menghubungi pegawainya untuk memastikan pembagian tugas malam itu.
Karina kembali membantu Ditya sampai keadaan pasien cukup tertata.
Ketika akhirnya keluar dari ruang perawatan, ia melihat Agus berdiri di dekat pintu depan bersama pegawai yang tadi membantunya.
Len sedang menerima sebuah tas.
"Ada yang tertinggal di shelter, Dok."
Karina mengenali tas perlengkapannya.
Agus menjelaskan singkat.
"Bu Mawar bilang bisa dititipkan ke sini."
Karina mengangguk.
"Terima kasih."
Agus tidak bertanya apakah dirinya boleh masuk menemui pasien.
Ia hanya memastikan tas sudah diterima, kemudian berpamitan.
Ditya muncul sebelum laki-laki itu berbalik.
"Bajumu basah."
Agus melihat lengan jaketnya.
"Sedikit."
Ditya mengangkat alis.
"Itu definisi yang optimistis."
***
Len membawa handuk kecil yang biasa disediakan untuk staf.
Agus menerimanya setelah Ditya mempersilakan menunggu hujan sedikit mereda.
Karina menatap kakaknya.
Ditya membalas pandangan itu dengan tenang.
Ia tidak sedang menjodohkan siapa pun.
Ia hanya melihat orang yang baru membantu bekerja dalam hujan.
Agus duduk di kursi dekat pintu dan mengeringkan tangan.
Tidak ada yang membicarakan perselisihan lama.
Bu Mawar keluar untuk mengucapkan terima kasih langsung. Agus menyampaikan bahwa Andre yang lebih dahulu menerima kabar dan membantu mengatur.
Ia tidak mengambil seluruh pujian.
Karina memperhatikan dari meja.
Beberapa hari sebelumnya, ia mungkin akan mencurigai setiap gerakan.
Malam itu, ia memilih melihat apa yang benar-benar terjadi.
Laki-laki tersebut datang setelah diminta.
Mengerjakan bagian yang diperlukan.
Lalu bersiap pergi ketika tugas selesai.
Sesederhana itu.
Dan justru karena sederhana, Karina tidak perlu bersusah payah mencari maksud di baliknya.
***
Sebelum pulang, Agus mengembalikan handuk kepada Len.
"Nanti saya bawa untuk dicuci?"
Len menggeleng.
"Di sini saja, Dok."
Karina berjalan mendekat.
"Terima kasih sudah membantu Bu Mawar."
Agus menatapnya.
"Sama-sama."
"Dan sudah bertanya lebih dahulu."
Ada jeda kecil sebelum laki-laki itu mengangguk.
"Saya sedang belajar."
Karina tidak tersenyum lebar.
Namun, wajahnya tidak lagi tertutup seperti saat mereka bertemu di pet shop.
"Jangan berhenti setelah satu malam."
Agus menerima kalimat tersebut tanpa tersinggung.
"Iya."
Ia berpamitan kepada semuanya, lalu pergi bersama pegawai yang mengantarnya.
Karina memperhatikan kendaraan itu keluar dari halaman.
Ditya berdiri di sampingnya.
"Bagaimana?"
Karina menoleh.
"Pasiennya masih perlu diawasi."
"Mas bertanya hujan."
Karina menyipit.
Ditya tertawa pelan.
Untuk pertama kalinya, Karina tidak langsung membantah sesuatu yang bahkan belum dituduhkan.
Ia hanya kembali masuk.
Masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum malam berakhir.