Pagi berikutnya, Len menemukan dirinya memegang ember ketika Nana mengatakan bahwa pengambilan gambar akan segera dimulai.
Ia memandang ember.
Lalu kamera.
Kemudian Karina.
"Dok, saya kira bagian saya membantu pemeriksaan."
"Ini juga membantu."
"Tapi saya sudah merapikan rambut."
Karina menatap rambut Len yang memang tampak lebih patuh daripada biasanya.
"Rambutmu tidak ikut masuk ember."
Lilis tertawa dari belakang kamera.
Bu Mawar yang sejak pagi tampak tegang akhirnya ikut tersenyum.
Pengambilan gambar di shelter telah disesuaikan dengan rutinitas yang biasa berlangsung. Mereka datang dengan jumlah orang seperlunya, dan bagian yang mudah membuat hewan gelisah tidak dipenuhi kerumunan.
Tidak ada sambutan panjang.
Tidak ada seluruh penghuni shelter dikumpulkan supaya terlihat meriah.
Pekerjaan memang sudah menunggu bahkan sebelum kamera dinyalakan.
Len mengangkat ember.
"Kalau begitu ambil dari sisi yang membuat saya kelihatan tinggi."
Karina menggeleng.
"Kameranya bukan alat sulap."
***
Bagian pertama ternyata harus diulang karena Karina salah menyebut urutan kegiatan.
Ia berhenti sendiri.
"Maaf. Sekali lagi."
Nana mengangguk.
Len memandangnya dengan senyum yang terlalu lebar.
Karina menunjuk.
"Jangan."
"Saya belum bilang apa-apa, Dok."
"Wajahmu sudah membuat komentar."
Bu Mawar tertawa.
Ketegangan perlahan berkurang setelah semua menyadari bahwa kesalahan kecil tidak membuat kegiatan berantakan.
Namun, ketika seorang pemilik hewan yang datang menanyakan bantuan pemeriksaan melihat kamera, Karina langsung menghentikan pembicaraan di depan lensa.
Ia mendengarkan keperluan orang itu terlebih dahulu.
Tidak semua orang yang datang sedang siap dijadikan bagian dari acara.
Lilis memberi tanda kepada kamerawan untuk beralih.
Mereka melanjutkan merekam pekerjaan lain sementara Karina membantu menjelaskan pengaturan yang tersedia.
Waktu pengambilan gambar menjadi lebih panjang daripada perkiraan.
Tidak ada yang memaksa pasien menunggu demi kalimat pembuka yang terdengar sempurna.
***
Bu Mawar mendapat giliran berbicara ketika kegiatan sedikit lebih tenang.
Pada percobaan pertama, suaranya terlalu pelan.
Pada percobaan kedua, ia berhenti karena lupa apa yang ingin dijelaskan.
Karina duduk di sampingnya.
"Anggap sedang bercerita kepada saya, Bu."
"Tapi kameranya melihat."
Len yang sedang lewat menoleh.
"Kalau saya pura-pura jadi kamera, Ibu lebih takut atau tidak?"
Bu Mawar tertawa.
"Lebih takut. Kamu bisa ikut menjawab."
Lilis membiarkan tawa itu selesai sebelum memberi tanda untuk mulai lagi.
Kali ini Bu Mawar tidak mencoba menyusun kalimat yang indah.
Ia bercerita tentang kebutuhan sehari-hari.
Tentang hewan tua yang masih perlu diberi makan meskipun jarang menarik perhatian calon pengadopsi.
Tentang orang-orang yang bekerja sejak pagi.
Tentang bantuan kecil yang datang teratur dan membuat mereka dapat merencanakan minggu berikutnya.
Suaranya sempat bergetar.
Namun, ia tidak berhenti.
Karina mendengarkan tanpa mengambil alih.
***
Di klinik, Ditya dan Reina menangani pekerjaan selama Karina berada di shelter.
Mereka bergerak dengan kebiasaan lama yang belum sepenuhnya hilang. Reina mengetahui kapan Ditya akan meminta alat tertentu, sementara Ditya masih ingat cara perempuan itu menata catatan.
Kemudahan tersebut terasa menyenangkan sekaligus berbahaya.
Karena ingatan kadang membuat masa lalu terlihat lebih sederhana daripada kenyataannya.
Saat istirahat, ponsel Reina berbunyi.
Ia meminta izin menjawab dan berjalan beberapa langkah.
Ditya tidak berniat mendengarkan.
Namun, ia mendengar kata mengenai keluarga yang akan bertemu untuk membicarakan persiapan pernikahan.
Tangannya berhenti di atas cangkir.
Reina kembali beberapa menit kemudian.
"Aku perlu menukar jadwal satu sore minggu depan," katanya.
Ditya mengangguk.
"Bisa kita lihat."
"Ada urusan keluarga."
"Iya."
Reina menatapnya sebentar.
Ditya membuka jadwal tanpa meminta penjelasan yang sebenarnya sudah dapat dipahaminya.
Tidak semua hal yang pernah dekat masih menjadi tempatnya bertanya.
***
"Kalau tidak memungkinkan, aku bisa cari pengaturan lain," kata Reina.
"Belum dilihat sudah menyerah."
Ditya menggeser layar.
Mereka memeriksa pembagian pekerjaan dan menemukan pilihan yang tidak meninggalkan klinik kekurangan orang.
Reina mengucapkan terima kasih.
Ditya mengangguk.
Setelah itu, ia berdiri untuk mengambil air.
Di pantry, ia mengembuskan napas panjang.
Ia tidak ingin kembali menjadi orang yang membuat Reina harus menebak isi kepalanya.
Kalau ada sesuatu dari masa lalu yang masih mengganggu, ia perlu menghadapinya sendiri terlebih dahulu.
Bukan menaruhnya di meja kerja dan berharap perempuan itu membereskan.
Ketika kembali, Reina sudah menerima pasien berikutnya.
Ditya membantu seperti biasa.
Untuk hari itu, bekerja dengan baik merupakan keputusan yang cukup.
***
Di shelter, pengambilan gambar Rin dilakukan dari jarak yang telah disepakati.
Tidak ada orang baru mendekat hanya untuk mendapatkan reaksi.
Karina menjelaskan riwayatnya secukupnya, kemudian menunjukkan bagaimana pegawai menjaga rutinitas yang membuat anjing kecil itu lebih tenang.
Rin sempat menoleh ke arah kamera.
Seluruh orang menahan gerakan.
Lalu ia kembali memperhatikan orang yang dikenalnya.
Nana berbisik bahwa gambar tersebut sudah cukup.
Karina mengangguk lega.
Mereka tidak memperoleh adegan anjing berlari memeluk penyelamat.
Tidak ada perubahan besar dalam beberapa menit.
Hanya seekor hewan yang tidak lagi merasa perlu mundur lebih jauh.
Bagi orang yang telah menemaninya sejak awal, itu tetap berarti.
Bu Mawar berdiri di samping Karina.
"Semoga penonton mengerti."
"Kalau belum, kita jelaskan."
Perempuan itu tersenyum.
Kali ini senyumnya tidak lagi terlihat seperti permintaan maaf karena shelter miliknya belum sempurna.
***
Menjelang selesai, Len diminta menjelaskan pekerjaan yang dilakukannya.
Ia langsung berdiri terlalu tegak.
Karina menahan tawa.
Nana mengajukan pertanyaan sederhana mengenai alasan dirinya ikut membantu.
Len berpikir sebentar.
"Awalnya ikut dokter Karina. Lama-lama saya ingin datang sendiri juga."
"Bagian yang paling sulit?"
Len melirik ember.
Semua tertawa sebelum ia menjawab.
"Bukan mengangkat itu," katanya cepat. "Yang sulit kalau merasa sudah berusaha, tapi hasilnya belum kelihatan."
Karina berhenti tersenyum.
Len melanjutkan dengan suara lebih tenang.
"Tapi kalau tidak datang lagi, pekerjaannya tetap harus dilakukan orang lain. Jadi saya belajar tidak menunggu semangat dulu."
Bu Mawar menunduk sebentar.
Lilis memberi tanda agar kamera tetap berjalan.
Len tampak tidak menyadari bahwa kalimatnya telah membuat beberapa orang diam.
Ia hanya menggaruk tengkuk setelah selesai.
"Jawaban saya terlalu panjang?"
Karina menggeleng.
"Pas."
***
Sebelum pulang, mereka membantu merapikan tempat.
Nana dan Lilis tidak langsung pergi begitu alat selesai dikemas. Keduanya ikut memindahkan beberapa barang ke tempat semula.
Langit mulai gelap meskipun waktu belum terlalu sore.
Bu Mawar memandang ke atas.
"Sepertinya hujan besar."
Karina memeriksa barang yang akan dibawa, lalu memastikan tidak ada pekerjaan penting yang tertinggal.
Di dalam kendaraan, Len akhirnya bersandar dengan lega.
"Saya lebih capek bicara ke kamera daripada kerja."
"Besok tidak ada kamera."
"Syukurlah."
"Tetap ada ember."
Len menoleh dengan wajah pasrah.
Karina tertawa.
Perjalanan kembali berlangsung lebih lambat karena hujan mulai turun. Ketika sampai di klinik, Ditya menyambut dengan pertanyaan mengenai kegiatan.
Karina menceritakan bagian Len diwawancarai.
Kakaknya langsung meminta ditunjukkan hasilnya.
"Belum disunting, Mas."
"Mas hanya mau memastikan rambutnya masuk."
Len menghela napas.
Ternyata bekerja bersama dua saudara berarti tidak pernah kekurangan orang yang siap mengejek.
***
Malam mulai turun ketika hujan semakin deras.
Karina masih menyelesaikan catatan di klinik sebelum pulang. Len membantu merapikan barang yang dibawa dari shelter, sementara Ditya sedang memeriksa sesuatu di lantai atas.
Telepon berbunyi.
Karina mengangkatnya.
Suara Bu Mawar terdengar terburu-buru.
Sebagian atap di salah satu area shelter bocor lebih parah daripada perkiraan. Mereka sedang memindahkan hewan dan barang, tetapi seorang pegawai menemukan salah satu anjing tampak sangat lemah.
Karina langsung menegakkan punggung.
Ia mengajukan beberapa pertanyaan untuk memahami keadaan dan meminta agar anjing tersebut dibawa untuk diperiksa.
Bu Mawar menjelaskan bahwa kendaraan yang biasa membantu sedang tidak berada di tempat.
Karina memandang hujan di luar.
Len sudah berhenti merapikan tas.
"Ada apa, Dok?"
Karina menutup panggilan setelah menyepakati langkah berikutnya.
Ia mengambil kunci mobil.
Pengambilan gambar telah selesai.
Pekerjaan mereka ternyata belum.