Kabar berikutnya datang ketika Bagas sedang membantu Ica merapikan gambar.
Jo meminta waktu untuk berbicara dengan keluarga.
Bagas langsung menghubungi Agus dan Andre. Setelah memastikan waktunya sesuai, mereka berkumpul untuk mendengarkan penjelasan bersama.
Kali ini ada perkembangan yang lebih konkret.
Tim telah menyelesaikan bagian persiapan yang diperlukan untuk menetapkan rencana tindakan tiga hari lagi, dengan penilaian keadaan Ica tetap dilakukan sampai waktunya tiba.
Bagas mengulang hari yang disebut.
Jo mengangguk.
"Untuk saat ini, itulah rencananya."
Andre meremas kopiah di pangkuan.
Agus menatap catatan yang dibawa.
Tanggal yang selama ini hanya menjadi ruang kosong akhirnya memiliki isi.
Anehnya, bukan hanya kelegaan yang datang.
Ketakutan ikut memperoleh bentuk.
Tiga hari.
Cukup dekat untuk dihitung.
Cukup lama untuk membuat malam terasa panjang.
***
Jo memberi kesempatan mereka bertanya.
Bagas menanyakan hal yang berhubungan dengan pendampingan Ica. Agus memastikan pengaturan waktu dan orang yang dapat dihubungi keluarga. Andre lebih banyak diam sampai Jo menoleh kepadanya.
"Pak Andre?"
Laki-laki itu berdeham.
"Ica nanti tahu harus bagaimana?"
"Kami akan membantu menjelaskan dengan cara yang sesuai untuknya."
Andre mengangguk.
"Jangan sampai dia merasa kami menyembunyikan semuanya."
Bagas menatap ayahnya.
Ucapan itu sederhana, tetapi membuatnya memikirkan berapa sering dirinya menjawab pertanyaan putrinya dengan kalimat, nanti juga baik.
Kadang karena ingin menenangkan.
Kadang karena dirinya sendiri tidak sanggup mengatakan bahwa ia juga takut.
Jo mengangguk pelan.
"Kita bisa menjelaskan secukupnya dan tetap memberi ruang kalau dia ingin bertanya."
Agus mencatat kalimat tersebut.
Bukan karena sulit diingat.
Karena ia merasa keluarganya perlu membacanya lagi.
***
Ica mengetahui ada pembicaraan penting bahkan sebelum Bagas duduk di sampingnya.
Anak itu memperhatikan wajah papa, kakek, dan pamannya bergantian.
"Kenapa semuanya diam?"
Andre membuka mulut.
Bagas lebih dahulu memegang tangan kecil putrinya.
"Kita sedang menyiapkan perawatan berikutnya."
"Yang alat baru?"
Bagas mengangguk.
Ica menatap Jo.
Dokter itu menarik kursi agar tidak berbicara sambil menjulang di atasnya.
Ia menjelaskan secara sederhana apa yang sedang disiapkan, siapa yang akan membantu, dan bahwa Ica boleh bertanya jika ada bagian yang membuatnya khawatir.
Anak itu mendengarkan tanpa memotong.
Kemudian pertanyaan pertamanya keluar.
"Papa ikut?"
Bagas meremas tangannya pelan.
"Papa menemani sampai bagian yang diperbolehkan. Setelah itu Papa tetap menunggu."
"Kalau Ica bangun?"
"Papa akan ada saat sudah boleh menemani lagi."
Ica menunduk.
Jo tidak buru-buru mengisi keheningan.
***
"Kalau takut boleh?" tanya anak itu.
Andre memalingkan wajah.
Agus menatap lantai sesaat.
Bagas menjawab lebih dahulu.
"Boleh."
"Papa takut juga?"
Pertanyaan tersebut membuat ruangan terasa sunyi.
Bagas ingin mengatakan tidak.
Ia ingin menjadi ayah yang selalu kuat, yang membuat putrinya yakin bahwa tidak ada sesuatu pun yang perlu dicemaskan.
Tetapi Ica sedang memandangnya dengan sungguh-sungguh.
"Papa khawatir karena Papa sayang Ica," katanya akhirnya. "Tapi kita tidak sendirian. Ada dokter dan semua yang membantu."
Ica melihat Jo.
Dokter itu mengangguk.
"Kamu tidak harus pura-pura berani terus."
Anak itu menggigit bibir sebentar, lalu mengulurkan tangan yang lain kepada pamannya.
Agus segera mendekat.
"Om jangan pergi jauh."
Agus menelan ludah.
"Om akan mengatur pekerjaan supaya bisa menemani."
Ia tidak mengatakan akan berada di setiap tempat.
Ia mengatakan bagian yang dapat dijaganya.
Ica menerima jawaban tersebut dengan anggukan kecil.
***
Menjelang sore, Bagas mengirim kabar kepada Karina.
Ia tidak meminta kunjungan.
Hanya memberi tahu bahwa persiapan telah mendapat rencana waktu dan Ica masih sering membuka buku pemberiannya.
Karina membaca pesan itu saat istirahat.
Ia memandang kalender di meja.
Tiga hari lagi.
Len melihat wajahnya berubah.
"Ica, Dok?"
Karina mengangguk.
"Sudah ada rencana tindakan."
Len terdiam.
Anak yang dikenalnya melalui hamster itu terasa terlalu kecil untuk menghadapi penantian sebesar ini.
"Dokter mau menjenguk?"
"Kalau waktunya memungkinkan dan keluarganya setuju."
Karina membalas Bagas dengan menanyakan kapan kunjungan singkat tidak mengganggu istirahat.
Setelah memperoleh jawaban, ia mengatur pekerjaan bersama Ditya.
Kakaknya mendengarkan tanpa kembali menanyakan apakah Agus berada di sana.
Mungkin karena kali ini Karina tidak membutuhkan pengingat.
Ia sudah tahu ke mana dirinya pergi dan untuk siapa.
***
Karina datang tanpa membawa banyak barang.
Ica tampak senang melihatnya, tetapi tidak seramai kunjungan pertama. Gadis kecil itu sedang memegang gambar hamster dengan ujung kertas yang mulai terlipat.
Karina duduk setelah menyapa Bagas.
"Awan masih jadi putih?"
Ica mengangguk.
"Langitnya biru. Kata Papa."
"Pilihan bagus."
Anak itu memperlihatkan bagian lain.
Ada Rambo yang ukurannya hampir sebesar rumah.
Karina menahan senyum.
"Ini Rambo?"
"Iya."
"Sepertinya Kakek akan suka."
Ica tersenyum sedikit.
Mereka membicarakan gambar sampai anak itu tiba-tiba bertanya.
"Kalau hewan takut, bu dokter tahu?"
Karina tidak langsung menjawab.
"Kadang bisa terlihat dari gerakannya. Kadang kami harus memperhatikan lebih lama."
"Terus?"
"Kami mencoba membuatnya lebih nyaman dan tidak terburu-buru."
Ica memandangi kertas.
"Kalau Ica diam, nanti orang tahu Ica takut?"
Dada Karina terasa sesak.
***
"Kalau bisa, bilang kepada Papa atau dokter yang merawat," jawabnya lembut. "Supaya mereka tidak perlu menebak."
Ica menoleh kepada Bagas.
Ayahnya mendekat.
"Kamu boleh bilang kapan saja."
Anak itu mengangguk.
Karina tidak mengalihkan pembicaraan dengan menyuruhnya menjadi anak hebat.
Ia membiarkan Ica menyandarkan diri dan memegang gambar tanpa harus terus tersenyum untuk tamu.
Beberapa saat kemudian, Agus datang membawa keperluan Bagas.
Ia menyapa Karina dengan sopan, lalu meletakkan barang di tempat yang ditunjukkan.
Ica memanggilnya.
"Om, kalau Rambo takut juga diam?"
Agus memandang gambar kambing.
"Kalau Rambo, biasanya Om yang takut Kakek marah."
Ica tertawa kecil.
Bagas menutup mata sambil tersenyum.
Karina tidak dapat menahan tawanya.
Agus menoleh sebentar, tetapi tidak memperpanjang tatapan.
Ia kembali mendengarkan pertanyaan Ica.
Kali ini leluconnya tidak mengambil ruang dari anak yang sedang membutuhkan perhatian.
***
Kunjungan berakhir ketika Ica mulai lelah.
Karina merapikan buku dan berpamitan.
Bagas tetap bersama putrinya, sementara Agus kebetulan hendak mengambil sesuatu di luar.
Mereka berjalan beberapa langkah dalam keheningan.
Di dekat persimpangan lorong, Agus berhenti.
"Lift di sebelah kiri."
Karina meliriknya.
"Saya ingat."
Agus mengangguk.
"Baik."
Karina berjalan dua langkah, kemudian berhenti.
Ia melihat papan petunjuk.
Ternyata lift berada di arah yang berbeda dari ingatannya.
Agus tidak tertawa.
Namun, usaha laki-laki itu menahan sudut bibir justru membuat Karina menyipit.
"Jangan komentar."
"Saya belum bicara."
"Wajah Anda sudah."
Agus langsung menatap papan petunjuk dengan sangat serius.
Karina berbalik ke arah yang benar.
Untuk pertama kalinya, percakapan singkat mereka berakhir tanpa salah satu merasa harus mempertahankan diri.
Itu belum berarti dekat.
Tetapi lorong rumah sakit tidak terasa seberat sebelumnya.
***
Malamnya, Andre duduk sendirian setelah berbicara dengan Mommy.
Ia telah menyampaikan rencana tiga hari lagi. Istrinya meminta terus diberi kabar dan akan menyesuaikan waktu agar dapat berbicara dengan Ica sebelum tindakan.
Andre memandang foto keluarga.
Ada masa ketika ia mengira masalah terbesar dalam hidup adalah membayar sekolah dan memastikan semua anak mendapat kesempatan.
Ternyata setelah anak-anak besar, kekhawatiran hanya berganti pakaian.
Agus masuk dengan langkah pelan.
"Ayah belum tidur?"
"Belum."
Ia duduk tanpa menunggu diminta.
Andre tidak menyuruhnya pergi.
Beberapa menit berlalu sebelum sang ayah berbicara.
"Tadi Ica bertanya kalau takut boleh."
Agus mengangguk.
"Ayah dengar."
Andre memandang tangannya sendiri.
"Ternyata orang tua juga perlu ditanya begitu."
Agus tidak memiliki jawaban yang dapat menghilangkan ketakutan itu.
Ia hanya tetap duduk.
Malam tersebut, Andre tidak memerlukan anak yang pandai berbicara.
Ia memerlukan anak yang tidak buru-buru meninggalkan kursi di sebelahnya.