Agus tidak langsung tidur setelah sampai di rumah.
Pesan Irene masih terbuka di layar. Waktu dan tempat pertemuan telah disepakati, tetapi ia tetap membacanya seperti ada kemungkinan kalimat tersebut berubah menjadi sesuatu yang lebih mudah dihadapi.
Dari luar kamar terdengar langkah Andre.
Pintu diketuk dua kali.
"Belum tidur?"
"Belum, Yah."
Andre membuka pintu sedikit.
"Besok kamu ke rumah sakit pagi?"
"Iya."
"Titip barang untuk Ica. Sudah Ayah letakkan di bawah."
Agus mengangguk.
Ayahnya tidak langsung pergi.
"Kamu kelihatan capek."
"Sedikit."
"Tidur. Wajahmu yang dibanggakan itu bisa kusut."
Agus tertawa pendek.
Andre menutup pintu sebelum putranya sempat menjawab.
Tidak ada percakapan panjang. Namun, setelah beberapa hari yang penuh teguran, perhatian kecil itu membuat kamar terasa tidak terlalu sepi.
Agus meletakkan ponsel.
Besok ia masih harus bekerja.
Dan setelah pekerjaan selesai, ia harus berhenti memperlakukan kejujuran seperti sesuatu yang dapat terus dijadwalkan ulang.
***
Pagi harinya, ia mengantar titipan Andre sebelum memulai kegiatan.
Ica sedang bersama Bagas dan pengasuhnya. Anak itu langsung tertarik pada kantong yang dibawa Agus.
"Dari Kakek?"
"Iya."
"Rambo ikut?"
Agus memandang kantong di tangannya.
"Kalau Rambo muat di sini, Om juga bingung."
Ica tertawa.
Bagas mengambil barang tersebut dan memeriksa isinya. Ada keperluan yang memang diminta, ditambah satu benda kecil bergambar kambing yang jelas dipilih Andre sendiri.
Agus mengangkat alis.
"Ayah tidak bisa menahan diri."
"Setidaknya tidak membawa kambing sungguhan," jawab Bagas.
Mereka tertawa pelan.
Setelah memastikan tidak ada keperluan lain, Agus berpamitan untuk bekerja. Ia menyampaikan perkiraan waktu kembali dan meminta Bagas mengabari jika ada perubahan penting.
Bagas mengangguk.
Agus baru mencapai pintu ketika kakaknya memanggil.
"Pertemuanmu nanti malam?"
"Masih jadi."
"Jangan menghilang."
Agus memahami bahwa yang dimaksud bukan urusan rumah sakit.
"Iya."
***
Di klinik, Karina menerima balasan papa mengenai laporan yang dikirimnya.
Papa mengenali pekerjaan tersebut.
Penjelasannya tidak panjang, tetapi jauh lebih rinci daripada cerita keluarga yang biasa dikirim. Ia menerangkan bagian yang pernah ditanganinya dan bagaimana pekerjaan berbagai bidang saling berkaitan.
Karina membacanya sambil menunggu waktu istirahat selesai.
Ada beberapa istilah yang ingin ditanyakan lagi.
Untuk pertama kalinya, ia membuat daftar pertanyaan tanpa merasa sedang mencari bukti bahwa papa pernah salah.
Ditya lewat dan melihat layar.
"Sudah dibalas?"
Karina mengangguk.
"Papa ternyata kalau ditanya serius bisa menulis panjang."
"Selama ini kamu membalas foto penelitian dengan stiker."
"Itu stiker yang sopan."
"Yang kelincinya tidur?"
Karina menatap kakaknya.
Ditya tertawa sebelum sempat dilempar tisu.
Namun, setelah kakaknya pergi, Karina kembali membaca.
Ia masih menyimpan kesedihan mengenai keputusan masa lalu.
Tetapi sekarang ada hal lain yang ikut tumbuh.
Rasa ingin tahu.
***
Irene datang terlambat beberapa menit karena pekerjaan.
Agus tidak mengeluh.
Ia berdiri ketika perempuan itu mendekat, tetapi Irene langsung duduk setelah memberi salam singkat.
"Kamu membuatku penasaran seharian."
"Maaf."
"Jangan mulai dengan itu dulu. Pesanmu seperti orang mau mengumumkan kabar buruk."
Agus memandangnya.
Irene berhenti membuka menu.
"Oh."
Keheningan kecil jatuh.
Agus menarik napas.
"Aku perlu jujur tentang hubungan kita."
Perempuan itu meletakkan menu di meja.
"Silakan."
Agus menjelaskan tanpa menyalahkan kesibukan, keluarga, atau jarak. Ia mengakui bahwa selama masih menjalani hubungan dengan Irene, dirinya juga dekat dengan Tasya dan membiarkan keduanya menerima gambaran yang tidak utuh.
Wajah Irene perlahan mengeras.
Ia tidak menyela sampai Agus selesai.
Lalu ia bertanya dengan suara sangat tenang.
"Berapa lama?"
Agus menjawab.
Tidak memperpendek.
Tidak mengubah kedekatan yang pernah dinikmatinya menjadi sekadar pertemanan.
***
Irene menyandarkan punggung.
"Aku pernah bertanya."
Agus mengangguk.
"Iya."
"Kamu bilang aku terlalu curiga."
"Iya."
"Dan sekarang aku harus mendengar bahwa kecurigaanku benar."
Agus tidak menemukan kalimat yang dapat memperbaiki urutan kejadian tersebut.
"Aku minta maaf."
Irene tertawa tanpa senyum.
"Kamu tahu bagian paling memalukan?"
Agus diam.
"Aku sempat merasa bersalah karena tidak cukup percaya."
Kalimat itu membuatnya menunduk.
Ia ingat percakapan yang dimaksud.
Betapa mudahnya ia mengubah pertanyaan Irene menjadi persoalan kepercayaan, lalu membiarkan perempuan itu meminta maaf karena telah membuat suasana tidak nyaman.
Sekarang ingatan tersebut terasa buruk dengan cara yang tidak bisa ditutupi.
"Aku tidak berhak membuatmu merasa begitu," katanya.
"Tapi kamu melakukannya."
"Iya."
Irene mengambil air dan meminumnya sedikit.
Tangannya tidak gemetar.
Entah mengapa, Agus justru berharap ada sesuatu yang dapat dilakukannya selain duduk menerima kenyataan bahwa dirinya telah menyakiti orang.
***
"Kamu masih bersama Tasya?"
"Sudah berakhir. Kami bicara kemarin."
"Dia tahu tentang aku?"
"Ya."
"Dan kamu baru memberitahuku setelah itu?"
Agus mengangguk.
Irene menatapnya cukup lama.
"Aku tidak mau menjadi orang yang menunggu kamu selesai memilih."
"Aku tidak meminta itu."
"Bagus."
Perempuan itu menarik tas lebih dekat.
"Hubungan kita selesai."
Agus menerima kalimat tersebut tanpa mencoba menggenggam tangannya.
Tanpa mengingatkan tentang hari-hari menyenangkan.
Tanpa mengatakan bahwa dirinya sebenarnya orang baik yang kebetulan membuat kesalahan.
Irene tidak memerlukan pembelaan mengenai dirinya.
Ia memerlukan jawaban yang selama ini ditahan.
"Kalau ada barangku yang tertinggal, kabari lewat pesan," katanya. "Nanti aku atur pengambilannya."
"Baik."
"Jangan datang ke tempat kerjaku."
"Aku tidak akan."
Irene mengangguk sekali.
Percakapan belum berlangsung lama, tetapi wajahnya tampak lelah ketika ia berdiri.
***
Agus membiarkan Irene pergi lebih dahulu.
Ia tetap duduk beberapa menit sebelum meminta tagihan.
Di meja lain, dua orang tertawa sambil melihat sesuatu di ponsel. Pelayan berjalan membawa piring. Musik terdengar pelan dari sudut ruangan.
Dunia tidak berhenti karena dirinya baru kehilangan dua hubungan.
Dunia juga tidak memberinya penghargaan karena akhirnya mengatakan sesuatu yang seharusnya sudah disampaikan sejak awal.
Di kendaraan, Agus membuka daftar percakapan.
Ia tidak mencari perempuan lain untuk mengusir rasa sepi.
Tidak pula membuka nomor Karina.
Nama itu tidak memiliki kewajiban menunggu di ujung dari kekacauan yang dibuatnya sendiri.
Agus mengirim kabar singkat kepada Bagas bahwa urusannya selesai dan dirinya akan mampir sebentar sebelum pulang.
Setelah itu, ponsel disimpan.
Untuk malam ini, ia akan datang ke tempat yang memang telah mengatakan bahwa kehadirannya diperlukan.
***
Bagas sedang makan ketika Agus tiba.
Pengasuh menemani Ica yang sudah mulai mengantuk. Agus memberi salam pelan, kemudian duduk di samping kakaknya.
"Sudah bicara?" tanya Bagas.
"Sudah."
Bagas mengangguk.
Tidak bertanya apakah Irene menangis.
Tidak meminta cerita yang tidak perlu diketahui.
Agus mengusap wajah.
"Aku baru sadar berapa banyak hal yang kubuat seolah kesalahan mereka."
Bagas berhenti mengunyah.
"Kalau sudah sadar, jangan lakukan lagi."
"Aku tahu."
"Mengetahui dan berhenti itu dua pekerjaan."
Agus menatap kakaknya.
Bagas kembali makan.
Kalimat tersebut disampaikan tanpa nada menggurui. Mungkin karena ia terlalu lelah untuk membuat pidato.
Namun, Agus menyimpannya lebih lama daripada nasihat panjang.
Beberapa saat kemudian, Bagas menyodorkan kotak makanan lain.
"Belum makan, kan?"
Agus menggeleng.
"Makan."
Ia menerima kotak itu.
Malam tersebut tidak memberinya pengampunan.
Tetapi masih ada seseorang yang memastikan dirinya tidak pulang dengan perut kosong.
***
Di rumah, Karina baru selesai membalas papa ketika bi Murni masuk membawa pakaian yang telah dilipat.
"Non, besok berangkat jam berapa?"
"Seperti biasa, Bi."
"Bibi siapkan sarapan."
Karina mengangguk.
Bi Murni memperhatikan wajahnya.
"Sudah tidak kesal sama papa?"
"Masih ada sedikit."
"Sedikit boleh. Asal tetap bicara."
Karina tersenyum tipis.
"Bibi pernah kesal bertahun-tahun?"
Bi Murni mendengus.
"Non lupa bekas suami bibi?"
Karina langsung tertawa.
Perempuan itu meletakkan pakaian, lalu menepuk ujung tempat tidur.
"Tapi orang berbeda-beda, Non. Ada yang minta maaf lalu mengulangi. Ada yang pelan-pelan berubah. Jangan buru-buru memutuskan hanya dari mulutnya."
Setelah bi Murni keluar, Karina memandangi pesan papa sekali lagi.
Kemudian ia teringat jawaban singkat Agus.
Saya akan menghormatinya.
Karina mematikan layar.
Ia tidak perlu memutuskan semuanya malam ini.
Waktu akan memberi lebih banyak hal untuk dilihat.