Bagas membaca pesan dari Jo sambil berdiri di dekat jendela.
Alat yang ditunggu sudah tiba.
Kalimat pertama membuat bahunya turun sedikit.
Kalimat berikutnya membuat ia membaca lebih lambat.
Tim masih menyelesaikan pemeriksaan kesiapan dan pembahasan sebelum keluarga menerima jadwal tindakan yang pasti.
Bagas mengangguk sendiri.
Ia memahami penjelasan itu.
Namun, setelah sekian lama menunggu, bagian dirinya yang lelah tetap ingin langsung diberi hari dan jam.
Di belakangnya, Ica sedang memilih warna untuk gambar baru.
"Papa."
Bagas berbalik.
"Iya, Sayang?"
"Kalau Awan digambar putih, nanti tidak kelihatan."
Ia mendekat.
Kertas yang digunakan memang putih.
Bagas memandang kotak pensil, lalu menunjuk warna biru muda.
"Langitnya bisa diberi warna."
Ica mempertimbangkan usulan itu dengan sangat serius.
Kemudian mengangguk.
Bagas duduk di sampingnya.
Ada persoalan yang dapat diselesaikan dengan satu pensil warna.
Ia berharap tubuh putrinya juga semudah itu.
***
Agus datang ketika Jo mengajak keluarga membicarakan perkembangan tersebut.
Ia membawa catatan, bukan sekadar ponsel yang terus menyala.
Bagas mengajukan pertanyaan lebih dahulu.
Jo menjelaskan urutan yang masih harus diselesaikan dengan bahasa yang dapat diikuti. Kedatangan alat merupakan kemajuan, tetapi keputusan tindakan tetap bergantung pada kesiapan keseluruhan dan penilaian keadaan Ica.
"Jadi kami belum perlu memberi tahu Ica tanggal tertentu?" tanya Bagas.
"Belum. Kita bicarakan setelah jadwal benar-benar dapat ditetapkan."
Bagas mengangguk.
Agus menuliskan sesuatu.
Jo memperhatikannya.
"Ada yang ingin kamu tanyakan?"
Agus memandang catatan.
"Bagian mana yang perlu kami siapkan sekarang supaya tidak terlambat ketika waktunya sudah ditentukan?"
Pertanyaan tersebut membuat Bagas menoleh.
Biasanya Agus bertanya kapan semuanya selesai.
Hari itu ia menanyakan apa yang bisa dikerjakan.
Jo menjawab satu per satu.
Tidak ada janji bahwa semua akan mudah.
Tetapi setelah percakapan berakhir, Bagas memegang daftar yang lebih jelas daripada sekadar menunggu kabar.
***
Di luar ruangan, Bagas berhenti sebentar.
Agus ikut berhenti.
"Mas capek?"
Bagas tertawa pendek.
"Kelihatan?"
"Sedikit."
"Berarti masih lumayan."
Agus tidak ikut tertawa.
Ia memperhatikan wajah kakaknya yang tampak lebih tua ketika tidak sedang berusaha menghibur Ica.
Selama ini ia sering melihat Bagas sebagai orang yang selalu dapat mengurus sesuatu.
Pengacara.
Pemilik rumah.
Ayah yang mengetahui letak setiap kebutuhan putrinya.
Agus jarang memikirkan siapa yang membantu ketika orang seperti itu kehabisan tenaga.
"Aku bisa menemani Ica sebentar," katanya. "Mas makan dulu."
Bagas menatapnya.
"Kamu tidak ada pasien?"
"Jadwalku baru nanti. Aku sudah memastikan."
"Ponselmu?"
"Nyala. Kalau ada perubahan, aku bilang."
Bagas tampak hendak menolak karena kebiasaan.
Lalu ia mengangguk.
"Setengah jam."
"Kalau perlu lebih lama, kabari."
Bagas menyerahkan barang yang perlu dibawa, menjelaskan beberapa hal singkat, lalu pergi.
Agus kembali ke ruangan.
Ica langsung menyodorkan buku hewan.
"Om, baca yang ini."
***
Di rumah, Andre sedang berbicara dengan Mommy melalui panggilan video.
Perbedaan waktu membuat mereka harus menyesuaikan kesempatan, tetapi hari itu keduanya dapat berbicara agak lama.
Mommy menanyakan perkembangan Ica.
Andre menyampaikan kabar kedatangan alat, kemudian mengulang bahwa tanggal belum ditetapkan.
Ia sengaja tidak menambahkan kepastian yang tidak dimilikinya.
Mommy mengangguk.
"Bagas bagaimana?"
"Masih menemani."
"Agus?"
"Ikut membantu."
Alis istrinya terangkat sedikit.
Andre langsung mendengus.
"Jangan begitu. Anak kita bisa juga berguna."
Mommy tertawa.
"Itu pujian atau keluhan?"
"Keduanya."
Mereka terdiam beberapa saat setelah tawa mereda.
Kemudian Mommy menanyakan pengeluaran rumah dan keadaan usaha Andre.
Laki-laki itu hampir menjawab seperti biasa.
Baik.
Aman.
Tidak perlu khawatir.
Namun, ia teringat betapa marahnya dirinya ketika Agus menganggap semua urusan keluarga akan selesai tanpa penjelasan.
Akhirnya Andre mengambil catatan yang disimpan di dekat meja.
***
Ia menjelaskan keadaan sebenarnya.
Utang bank sudah diselesaikan. Usahanya masih berjalan, tetapi pengeluaran perlu diatur. Bagas juga sedang memulihkan keadaan kantor sambil menghadapi kebutuhan Ica.
Mommy mendengarkan tanpa langsung menawarkan menanggung semuanya.
Mereka membicarakan bagian yang dapat dilakukan masing-masing.
Tidak ada yang menjadi pahlawan tunggal.
Tidak ada pula yang diminta berhenti khawatir hanya karena berada jauh.
Setelah percakapan selesai, Andre merasa lelah, tetapi tidak sekesal biasanya.
Bunga datang membawa mainannya dan meletakkannya di dekat kaki.
Andre memandangnya.
"Kamu enak. Kalau perlu sesuatu, tinggal bawa barangnya."
Bunga menunggu.
Andre mengambil mainan itu, lalu mengingat Rambo yang masih perlu dijaga agar tidak ikut bermain terlalu aktif.
Ia memanggil pegawai dan meminta memastikan keduanya tidak dibiarkan berlarian bersama.
Setelah itu, ia kembali duduk.
Hari ini ia sedang berusaha mengikuti catatan dokter.
Walaupun Rambo mungkin akan menganggap ayahnya tidak lagi menyenangkan.
***
Sore harinya, Karina menerima pesan dari Jo.
Dokter itu telah menemukan rujukan yang dimaksud.
Nama papa tercantum dalam bagian pekerjaan penelitian pada hewan yang dilakukan bertahun-tahun sebelumnya. Jo menyampaikan judul serta bagian yang dapat diakses, disertai penjelasan bahwa itu bukan laporan tentang perawatan Ica.
Karina membacanya setelah menyelesaikan pasien.
Ia tidak mengenali semua istilah dalam sekali lihat, tetapi cukup memahami mengapa nama papa muncul di sana.
Tidak ada rahasia mengejutkan yang langsung melompat dari halaman.
Hanya pekerjaan panjang, beberapa nama, dan bagian penelitian yang dahulu tidak pernah ditanyakannya dengan sungguh-sungguh.
Karina meneruskan informasi itu kepada papa.
Balasan tidak langsung datang.
Ia tidak lagi menganggap keterlambatan sebagai tanda bahwa pertanyaannya dihindari.
Papa bisa saja sedang bekerja.
Orang tidak selalu berada di depan layar hanya karena dirinya baru menemukan sesuatu yang ingin dibicarakan.
***
Ketika Karina pulang, Ditya sedang memeriksa jadwal keberangkatan.
Ia mendongak ketika adiknya masuk.
"Jo sudah mengirim?"
"Sudah."
"Bagaimana?"
"Memang ada nama Papa. Tapi bukan laporan alat Ica."
Ditya mengangguk.
Karina duduk di dekatnya.
"Aku baru sadar aku lebih hafal pekerjaan orang lain daripada pekerjaan Papa sendiri."
"Kamu hafal makanan kesukaan Papa."
"Itu tidak membantu membaca laporan."
"Tapi membantu kalau ingin membujuk."
Karina melempar bantal kecil.
Ditya menangkapnya sambil tertawa.
Setelah itu, mereka membicarakan keberangkatan kakaknya dengan lebih serius. Belum semua urusan klinik selesai, dan Ditya tidak ingin pergi sebelum pembagian pekerjaan kembali jelas.
Karina mendengarkan.
Ia ingin kakaknya tetap di rumah lebih lama.
Namun, ia juga tahu betapa menjengkelkannya ketika keinginan seseorang dianggap dapat ditunda demi kenyamanan keluarga tanpa dibicarakan.
"Kalau jadwalnya sudah pasti, bilang," katanya.
Ditya memandangnya.
"Supaya kamu bisa menangis di bandara?"
"Supaya aku bisa menyembunyikan makanan sebelum mas menghabiskan."
***
Malam itu, Bagas mengirim pesan singkat kepada Andre.
Ica sudah beristirahat.
Pembicaraan dengan tim berjalan baik, dan beberapa persiapan sedang diselesaikan.
Agus masih berada di rumah sakit setelah pekerjaannya usai, membantu bergantian sebelum pulang.
Andre membaca pesan tersebut dua kali.
Ia kemudian mengetik balasan kepada Agus.
Terima kasih sudah menemani kakakmu.
Tidak ada sindiran.
Tidak ada nama Karina.
Agus menerima pesan itu ketika sedang membereskan kotak pensil Ica.
Ia berhenti cukup lama sampai Bagas bertanya ada apa.
"Ayah."
"Kenapa?"
Agus menunjukkan layar.
Bagas membaca, lalu tersenyum tipis.
"Balas."
Agus mengetik singkat bahwa dirinya akan segera pulang.
Setelah itu, ia menyimpan ponsel.
Ada sesuatu yang hangat di dadanya, tetapi ia tidak ingin mengubahnya menjadi alasan merasa sudah menebus seluruh kesalahan.
Hari ini berjalan lebih baik.
Besok tetap harus dijalani.
***
Sebelum meninggalkan rumah sakit, Agus menerima balasan Irene.
Perempuan itu bersedia bertemu setelah pekerjaannya selesai pada hari berikutnya.
Agus membaca pesan tersebut tanpa mencari alasan membatalkan.
Di ruangan lain, Bagas kembali memeriksa selimut Ica.
Anak itu membuka mata sebentar.
"Papa."
"Iya?"
"Kalau nanti sudah boleh pulang, bukunya dibawa, ya."
"Tentu."
"Sama gambar Awan."
"Semuanya dibawa."
Ica mengangguk, lalu memejamkan mata lagi.
Bagas duduk di kursi.
Belum ada tanggal tindakan yang dapat dilingkari di kalender.
Belum ada kepastian yang dapat membuatnya tidur tanpa terbangun.
Namun, malam itu ia tidak lagi memegang seluruh penantian seorang diri.
Di luar, Agus berhenti untuk mengirim satu pesan kepada kakaknya.
Kalau Mas butuh aku malam ini, telepon. Aku akan angkat.
Bagas membaca pesan itu.
Kemudian, untuk pertama kalinya setelah beberapa malam yang panjang, ia membiarkan kepalanya bersandar.