Len datang lebih pagi dengan map plastik di tangan.
Karina memandang map itu, kemudian wajah pemiliknya yang tampak seperti hendak mengikuti sidang.
"Semua sudah dibawa?"
Len mengangguk.
"Sudah saya periksa tiga kali."
"Dua kali lagi nanti kertasnya bisa bosan."
Len tertawa kecil.
Ditya telah setuju membantu menutup sebagian pekerjaan selama Len pergi menanyakan program belajarnya. Reina juga mengetahui pengaturan tersebut sehingga tidak ada pasien yang tiba-tiba ditinggalkan tanpa penanganan.
Karina menyodorkan selembar catatan.
"Ini pertanyaan yang kemarin belum kamu tulis."
Len menerimanya.
"Terima kasih, Dok."
"Jangan langsung menyetujui jadwal sebelum kamu benar-benar tahu waktunya. Nanti kita sesuaikan pekerjaan."
Len mengangguk lagi.
Setelah ia pergi, Ditya muncul membawa segelas minuman.
"Kamu lebih tegang daripada yang berangkat."
"Dia sudah lama ingin melakukannya."
"Mas tahu."
"Jangan sampai pekerjaannya membuat dia terus menunda."
Ditya memandang adiknya, lalu tersenyum.
"Akan kita atur."
***
Menjelang siang, Lilis dan Nana datang untuk membicarakan pengambilan gambar berikutnya.
Karina telah menyampaikan kemungkinan kegiatan di shelter kepada mereka. Bu Mawar bersedia bertemu dan membahas pengaturan sebelum menentukan waktu.
Nana membuka catatan.
"Penonton tertarik melihat pekerjaan di luar klinik. Tapi kami perlu memilih kegiatan yang bisa diikuti dengan jelas."
"Pekerjaan sehari-hari banyak," jawab Karina.
"Misalnya?"
"Menyiapkan pakan. Membersihkan. Memeriksa hewan yang perlu perhatian. Menata barang bantuan."
Lilis mengangguk sambil menulis.
Nana tampak berpikir.
"Kalau ada satu kisah hewan yang bisa menjadi penghubung, biasanya lebih mudah diikuti."
Karina tidak langsung menolak.
Ia tahu cerita dapat membuat orang peduli.
Namun, ia teringat Rin yang masih mudah takut ketika didekati orang baru.
"Kita bisa membicarakan kisahnya tanpa membuat hewannya mengulang keadaan yang menakutkan."
"Tentu," kata Lilis.
"Saya ingin itu jelas dari awal."
Nana menutup pena sebentar.
"Baik. Kita lihat tempatnya dulu. Tidak perlu memutuskan dari sini."
***
Kunjungan awal dilakukan pada sore yang telah disepakati.
Karina datang setelah menyerahkan pekerjaan kepada Ditya dan Reina. Len menyusul bersama mereka setelah urusannya selesai.
Map plastiknya sekarang berisi beberapa lembar tambahan.
Karina belum sempat bertanya banyak karena Bu Mawar sudah menunggu di depan.
Tidak ada kamera besar yang langsung diarahkan kepada hewan.
Lilis dan Nana membawa catatan, melihat letak ruang, serta menanyakan kegiatan yang biasanya berlangsung pada jam berbeda.
Lou mendekat dengan tenang.
Nana berjongkok, tetapi menunggu arahan sebelum mengulurkan tangan.
Bu Mawar tersenyum.
"Yang ini biasanya senang menyapa."
Lou mencium tangan Nana, lalu beralih kepada Len.
Len mengangkat kedua telapak.
"Saya belum membawa makanan."
Anjing tua itu tetap mengikutinya.
Karina tertawa.
"Sepertinya dia tidak percaya."
"Saya juga mulai curiga wajah saya memang seperti tempat penyimpanan pakan."
Lilis tertawa sambil mencatat sesuatu.
Untuk beberapa menit, pembicaraan berlangsung ringan.
Lalu mereka melihat pekerjaan yang selama ini jarang dipikirkan ketika orang membayangkan shelter.
***
Ada wadah yang harus dicuci.
Persediaan yang perlu diperiksa.
Kain kotor yang tidak mungkin berubah bersih hanya karena seseorang datang membawa rasa iba.
Bu Mawar menjelaskan pembagian pekerjaan tanpa berusaha membuat tempat itu terlihat sempurna.
Nana memperhatikan seorang pegawai yang mengangkat ember.
"Bagian ini bisa diambil gambarnya."
Pegawai tersebut tampak terkejut.
"Saya, Mbak?"
"Iya, kalau bersedia."
"Saya tidak bisa bicara bagus."
"Tidak harus berpidato."
Len langsung menoleh.
"Kalau disuruh berpidato sambil mengangkat ember, saya juga menolak."
Tawa kembali terdengar.
Namun, Karina melihat Bu Mawar mengusap kening ketika pembicaraan beralih kepada bantuan dan biaya bulanan.
Perempuan itu pernah menghadapi tuduhan yang membuat orang menjauh.
Bahkan pertanyaan biasa kini kadang membuatnya bersiap membela diri.
Karina duduk di sampingnya.
"Kita jelaskan sesuai catatan yang memang biasa Ibu buat."
Bu Mawar mengangguk.
"Tidak perlu dibuat lebih indah, ya."
"Tidak perlu."
***
Ketika melewati bagian tempat Rin berada, Karina meminta mereka berhenti agak jauh.
Anjing kecil itu sudah memperhatikan kehadiran orang baru.
Nana tidak mendesak maju.
"Dari sini saja?"
"Untuk kunjungan pertama, iya."
Lilis menurunkan suaranya.
"Kalau nanti dia tetap tidak nyaman, kita tidak perlu mengambil gambarnya."
Bu Mawar terlihat lega.
Karina mengangguk.
Mereka berbicara mengenai pemulihan yang sering tidak terlihat menarik di layar.
Menunggu.
Mengulang rutinitas.
Menerima bahwa kemajuan hari ini mungkin hanya berupa seekor hewan yang bersedia makan tanpa terus melihat pintu.
Nana menulis cukup lama.
"Berarti ceritanya justru tentang prosesnya."
"Iya," jawab Karina. "Orang sering ingin melihat perubahan besar. Padahal yang mengurus harus tetap datang pada hari ketika tidak ada perubahan yang bisa dipamerkan."
Kalimat itu membuat Len berhenti merapikan tas.
Ia memandang map plastiknya yang diselipkan di antara barang.
Entah mengapa, ia merasa sedang mendengar nasihat untuk dirinya juga.
***
Setelah pembicaraan selesai, Lilis dan Nana berpamitan dengan rencana yang masih perlu disesuaikan.
Belum ada janji siaran akan mendatangkan bantuan besar.
Bu Mawar juga tidak diminta menyiapkan tangisan atau kejadian dramatis.
Mereka hanya menyepakati kegiatan yang dapat direkam dan bagian yang sebaiknya tetap berjalan tanpa gangguan.
Karina duduk sebentar sebelum pulang.
Len akhirnya mengeluarkan map.
"Dok, tadi saya sudah bicara dengan petugasnya."
"Bagaimana?"
Len menunjukkan informasi yang diperoleh.
Ada beberapa hal yang masih harus dilengkapi. Jadwal juga perlu diperiksa lagi sebelum dirinya menentukan pilihan.
Namun, ia kini mengetahui langkah berikutnya.
Karina membaca dengan teliti.
"Kita lihat bersama Ditya nanti malam."
Len mengangguk.
"Saya sempat ingin pulang waktu sampai."
"Kenapa?"
"Yang lain kelihatan lebih tahu harus bertanya apa."
"Lalu kamu jadi pulang?"
"Tidak."
Karina tersenyum.
"Nah. Itu bagian pentingnya."
***
Dalam perjalanan kembali, ponsel Karina menerima pesan dari Agus.
Ia tidak langsung membukanya karena sedang mengemudi. Setelah berhenti di rumah, barulah layar diperiksa.
Pesannya singkat.
Agus memberi tahu bahwa ia telah menghapus foto yang diambil di depan rumah Arka. Ia juga menyatakan tidak akan mengulangi tindakan memperhatikan kegiatan Karina seperti sebelumnya.
Tidak ada pertanyaan di akhir.
Tidak ada permintaan bertemu.
Karina membacanya dua kali.
Ditya turun dari teras ketika melihat adiknya belum keluar.
"Kenapa?"
Karina menunjukkan pesan tersebut.
Ditya membaca, lalu mengembalikan ponsel.
"Kamu mau menjawab?"
"Mungkin."
"Jawab kalau memang ada yang ingin kamu katakan."
Karina mengangguk.
Kakaknya tidak menambahkan nasihat mengenai menjadi perempuan baik atau memaafkan orang agar cepat selesai.
Ia hanya mengambil sebagian barang dari mobil dan membawanya masuk.
Karina menunggu sampai pikirannya cukup tenang.
Kemudian ia mengetik.
***
"Saya menerima permintaan maaf Anda. Saya masih keberatan dengan apa yang terjadi dan belum nyaman berbicara di luar keperluan yang jelas. Tolong hormati itu."
Ia membaca ulang.
Kalimat tersebut terasa sesuai.
Menerima permintaan maaf tidak membuat kejadian di pet shop menghilang.
Tetapi ia tidak lagi ingin membiarkan pesan itu menggantung tanpa mengatakan keinginannya sendiri.
Karina mengirim.
Balasan datang beberapa saat kemudian.
"Terima kasih sudah menjawab. Saya akan menghormatinya."
Karina tidak melanjutkan percakapan.
Ia menyimpan ponsel dan masuk ke rumah.
Bi Murni sudah menunggu dengan wajah curiga.
"Kenapa dari tadi di mobil?"
"Membalas pesan, Bi."
"Dari siapa?"
"Orang."
"Kalau dari kambing, bibi juga heran."
Karina tertawa.
Di ruang makan, Len sedang membuka map di depan Ditya.
Malam itu, ada pekerjaan lain yang menunggu.
Pekerjaan yang tidak akan masuk televisi, tetapi mungkin mengubah hidup seseorang lebih lama daripada satu episode.