Tasya datang dengan pakaian yang membuat beberapa orang menoleh.
Agus berdiri untuk menyambutnya, kemudian menarikkan kursi.
Gerakan yang sudah biasa dilakukan.
Senyum yang juga mudah dipasang.
Tetapi malam itu, setelah pelayan pergi membawa pesanan, Agus merasa seolah semua kebiasaan tersebut tidak cukup untuk menutupi sesuatu yang sejak tadi menunggu di meja.
Tasya meletakkan tas di kursi kosong.
"Akhirnya bisa ketemu tanpa kamu buru-buru."
"Aku sudah mengatur waktunya."
"Bagus."
Perempuan itu tersenyum, lalu mulai bercerita mengenai tempat yang ingin dikunjunginya sebelum pulang. Ada teman yang mengundang ke acara, rencana belanja, dan kemungkinan bepergian beberapa hari.
Agus mendengarkan sampai Tasya menanyakan apakah dirinya bisa ikut.
"Aku belum bisa menjanjikan perjalanan."
Senyum Tasya menipis.
"Ica lagi?"
"Persiapannya memang sedang berjalan."
"Kamu punya kakak. Ada pengasuh juga."
Agus meletakkan gelas.
"Betul. Tapi bukan berarti aku tidak perlu ikut bertanggung jawab."
Tasya menatapnya dengan heran.
Jawaban itu rupanya tidak sesuai dengan Agus yang dikenalnya.
***
"Aku tidak bilang kamu tidak boleh membantu keluarga," katanya.
"Aku tahu."
"Tapi sejak aku datang, kamu selalu terlambat atau mengubah rencana."
Agus mengangguk.
"Soal itu aku minta maaf."
Tasya bersandar.
"Aku tidak butuh kamu terus meminta maaf. Aku ingin tahu sebenarnya aku ada di bagian mana dari hidupmu."
Pertanyaan tersebut membuat Agus terdiam.
Selama ini ia dapat menjawab dengan pujian.
Mengalihkan pembicaraan ke hadiah.
Atau menggenggam tangan sambil mengatakan bahwa Tasya terlalu banyak berpikir.
Malam ini, ia mendengar betapa mudahnya semua jawaban itu dipakai untuk menghindar.
Tasya menunggu.
Agus menarik napas.
"Aku tidak pernah memberi kejelasan yang pantas."
"Apa maksudnya?"
"Aku menikmati hubungan ini, tapi aku membiarkan kamu mengira aku sudah menawarkan sesuatu yang lebih serius daripada yang sebenarnya siap kuberikan."
Wajah Tasya berubah.
"Kamu sedang bilang mau putus?"
"Aku sedang bilang aku tidak jujur soal kesiapanku."
"Itu kalimat panjang untuk hal yang sama."
Agus tidak membantah.
***
Makanan datang pada saat yang sangat buruk.
Pelayan meletakkan piring dengan senyum profesional, tidak mengetahui bahwa kedua orang di hadapannya baru saja kehilangan selera makan.
Tasya menunggu sampai mereka ditinggalkan.
"Ada perempuan lain?"
Agus memandangnya.
Pertanyaan itu sederhana.
Jawabannya tidak menyenangkan.
"Aku juga masih berhubungan dengan Irene."
Tasya tidak bergerak.
Beberapa detik kemudian, ia tertawa pendek.
"Bintang sinetron itu?"
Agus mengangguk.
"Kamu bilang cuma kenalan."
"Aku salah mengatakan begitu."
"Jadi selama ini aku yang bodoh?"
"Tidak. Aku yang tidak jujur."
Tasya mengangkat tangan ketika Agus hendak menambahkan sesuatu.
"Jangan membuat pengakuanmu terdengar seperti hadiah untukku."
Agus langsung menutup mulut.
Perempuan itu mengambil gelas, tetapi tidak jadi minum.
Ia meletakkannya kembali dengan hati-hati.
Justru kehati-hatian tersebut membuat Agus lebih tidak nyaman daripada kalau Tasya membantingnya.
Ia baru menyadari betapa banyak kemarahan yang selama ini dianggap dapat dibayar dengan permintaan maaf dan sesuatu yang mahal.
***
"Aku tidak pernah meminta kamu menikah besok," kata Tasya. "Tapi aku berhak tahu kalau laki-laki yang menyambutku di bandara juga memperlakukan perempuan lain seperti pacarnya."
"Iya."
"Jangan cuma iya."
Agus menatap meja sebentar.
"Aku tidak punya pembelaan."
Tasya menggeleng.
"Kamu punya banyak. Biasanya kamu pandai sekali memilih."
Agus menerima kalimat itu.
Ia ingat berapa kali menggunakan pekerjaan sebagai alasan, bahkan pada hari ketika dirinya sedang menghabiskan waktu dengan orang lain.
Tidak semua kesibukannya palsu.
Tetapi keberadaan kesibukan yang nyata telah memberinya tempat nyaman untuk menyembunyikan yang lain.
Tasya menarik napas panjang.
"Aku tidak mau melanjutkan ini."
Agus mengangguk pelan.
"Baik."
"Dan jangan kirim hadiah ke hotel."
"Aku tidak akan."
"Jangan menelepon besok seolah kita hanya bertengkar kecil."
Agus menatapnya.
"Aku mengerti."
Tasya mengambil tas.
Ia tidak menghabiskan makanan.
Agus berdiri, tetapi perempuan itu menolak ketika ditawarkan diantar.
"Aku bisa pulang sendiri."
***
Agus tetap berada di restoran setelah Tasya pergi.
Piring di depannya hampir tidak tersentuh.
Ia tidak merasa lega.
Kalau sebelumnya ia membayangkan kejujuran akan membuat dada lebih ringan, ternyata tidak selalu begitu.
Kadang kejujuran hanya membuat kerusakan yang telah dilakukan terlihat lebih jelas.
Ia membayar pesanan, lalu berjalan ke kendaraan.
Di dalam mobil, ia membuka percakapan dengan Irene.
Ada pesan mengenai pekerjaan dan pertanyaan kapan mereka bertemu.
Agus mengetik bahwa dirinya perlu berbicara dengan jujur mengenai hubungan mereka.
Ia menawarkan waktu yang tidak mengganggu pekerjaan Irene.
Pesan dikirim.
Tidak ada kalimat manis di belakangnya.
Tidak ada panggilan sayang untuk melunakkan sesuatu yang sebenarnya membutuhkan keberanian.
Agus menyalakan mesin setelah beberapa menit.
Malam itu jalan pulang terasa lebih panjang.
***
Bagas masih terjaga ketika Agus tiba.
Kakaknya sedang memeriksa beberapa berkas di ruang keluarga. Kacamata turun sedikit di hidung, sementara secangkir minuman sudah dingin di meja.
"Belum tidur, Mas?"
"Sebentar lagi."
Agus duduk.
Bagas meliriknya.
"Wajahmu seperti habis ditagih."
"Kurang lebih."
"Utang uang?"
Agus menggeleng.
"Kejujuran."
Bagas melepas kacamata.
Ia menunggu tanpa tertawa.
Agus menceritakan percakapan dengan Tasya secara singkat. Tidak seluruh detail perlu dipindahkan, tetapi ia tidak menyembunyikan bagian mengenai Irene.
Bagas mendengarkan sampai selesai.
"Lalu kamu mengharapkan apa dari mas?"
"Tidak tahu."
"Kalau berharap dibilang hebat karena akhirnya mengaku, mas tidak bisa."
"Aku juga tidak merasa hebat."
Bagas mengangguk.
"Bagus. Berarti kamu masih paham."
Agus menyandarkan kepala.
Kakaknya memang tidak pernah menyediakan bantal untuk ego yang jatuh.
Bantal di sofa pun sedang dipakai menyangga pinggang sendiri.
***
"Ini ada hubungannya dengan dokter Karina?" tanya Bagas.
Agus menoleh cepat.
"Tidak seperti yang Mas pikir."
"Mas belum menyebut pikir apa."
Agus mengusap wajah.
"Aku tidak sedang memutuskan hubungan supaya bisa mendekati dia."
"Pastikan itu benar."
"Iya."
Bagas memandang adiknya cukup lama.
"Karena kalau kamu hanya berganti perempuan sambil membawa kebiasaan yang sama, semua ini tidak mengubah apa-apa."
Agus diam.
Ia tidak menyukai kalimat tersebut.
Tetapi tidak menemukan alasan untuk menyebutnya salah.
Bagas kembali mengenakan kacamata.
"Jangan bawa nama Karina ke urusanmu dengan mereka. Dia tidak perlu menanggung akibat keputusan yang tidak dia buat."
"Aku tidak menyebut dia."
"Terus begitu."
Agus mengangguk.
Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa memperbaiki hidup sendiri ternyata memerlukan lebih banyak pekerjaan daripada membuat orang lain menganggap hidupnya menarik.
***
Di rumah lain, Karina sedang membantu Len memahami informasi mengenai pendaftaran Paket C.
Len datang membawa catatan yang dibuatnya sendiri. Ada pertanyaan mengenai jadwal, dokumen, dan kemungkinan menyesuaikan waktu belajar dengan pekerjaan.
Karina membaca satu per satu.
"Kamu sudah menghubungi tempatnya?"
"Sudah, Dok. Besok disuruh datang untuk menanyakan jadwal yang cocok."
"Bagus."
Len menggaruk tengkuk.
"Saya takut tidak sanggup mengikuti."
Ditya yang sedang mengambil air berhenti.
"Kalau belum mulai, belum tahu."
"Saya sudah lama tidak sekolah."
"Makanya mulai belajar lagi. Bukan menunggu mendadak ingat semuanya."
Karina menoleh.
"Mas bisa bicara lebih halus?"
"Itu sudah halus."
Len justru tertawa.
Ia tampak lebih tenang setelah mereka membantu menyusun pertanyaan yang perlu dibawa.
Tidak ada janji bahwa semuanya akan mudah.
Tetapi untuk pertama kalinya, rencana tersebut memiliki hari dan tempat.
Bukan hanya kalimat yang diulang setiap kali orang bertanya mengapa dirinya tidak melanjutkan pendidikan.
***
Ketika Len pamit, ponsel Karina berbunyi.
Pesan dari Bagas.
Ia mengirim ucapan terima kasih karena buku hewan masih menemani Ica. Ada foto gambar baru yang dibuat anak itu, tanpa memperlihatkan keadaan perawatan.
Di kertas, dua hamster berada di bawah matahari yang sangat besar.
Karina tersenyum.
Ia membalas dengan pujian untuk gambar tersebut.
Tidak ada nama Agus dalam percakapan.
Karina juga tidak menanyakannya.
Malamnya berjalan cukup penuh dengan pekerjaan, keluarga, dan seorang anak yang menamai hamster sesuai langit.
Di tempat lain, Agus sedang belajar bahwa dirinya tidak harus hadir di setiap cerita.