Keesokan harinya, Karina datang ke klinik dengan mata sedikit sembap.
Len memandangnya, lalu buru-buru mengalihkan perhatian ke daftar pasien.
Karina berhenti di samping meja.
"Mau bertanya apa?"
"Tidak, Dok."
"Wajahmu seperti sedang menahan pertanyaan ujian."
Len tersenyum malu.
"Dokter kurang tidur?"
"Sedikit. Bicara dengan papa."
"Oh."
"Dan mas Ditya menghabiskan sebagian oleh-olehku."
Dari ruang belakang terdengar protes.
"Sebagian kecil!"
Karina menunjuk arah suara itu.
"Pelakunya bahkan masih membela diri."
Len tertawa.
Suasana pagi segera dipenuhi pekerjaan. Ada pemilik kucing yang membawa catatan panjang mengenai kebiasaan makan, seekor anjing yang lebih tertarik pada tali sepatunya sendiri, dan telepon mengenai jadwal pemeriksaan Rambo.
Staf telah mengaturnya sejak Andre menghubungi klinik.
Karina memeriksa nama pada jadwal.
Ia menarik napas, lalu melanjutkan pekerjaannya.
Rambo tetap pasiennya.
Ia tidak akan membuat seekor kambing menanggung akibat kebodohan manusia.
***
Menjelang waktu kunjungan, kendaraan keluarga Tjokro berhenti.
Andre turun lebih dahulu. Seorang pegawai membantu memastikan Rambo dibawa dengan tenang, sementara Agus berjalan di sisi lain sambil membawa berkas pemeriksaan sebelumnya.
Karina baru melihat mereka ketika keluar dari ruang tindakan.
Langkahnya melambat.
Agus juga berhenti.
Andre segera berbicara.
"Nak Karina, Agus membantu mengantar. Saya seharusnya memberi tahu tadi."
Karina menatap berkas di tangan Agus.
Laki-laki itu tidak langsung mendekat.
"Saya bisa menunggu di luar," katanya.
Nada bicaranya datar, tanpa kesan sedang memperlihatkan pengorbanan besar.
Karina mengangguk.
"Silakan berikan berkasnya kepada staf."
Agus melakukannya.
Kemudian ia keluar.
Andre memperhatikan sampai putranya melewati pintu, lalu kembali kepada Karina.
"Saya tidak mengajaknya untuk memaksa kalian bicara."
"Baik, Pak."
"Saya sungguh—"
"Rambo bagaimana selama di rumah?"
Andre berhenti.
Karina telah memberinya jalan untuk beralih kepada urusan yang memang perlu diselesaikan.
Ia memilih mengikutinya.
***
Pemeriksaan dilakukan bersama Ditya.
Rambo belum sepenuhnya bergerak seperti biasa, tetapi Andre melaporkan bahwa kambing itu lebih nyaman saat beristirahat dan nafsu makannya tetap baik.
Karina mendengarkan sambil memeriksa.
Andre terus memperhatikan wajah kedua dokter.
"Nak Ditya, bagaimana?"
"Sebentar, Pak."
Andre menutup mulut.
Beberapa detik kemudian, ia bertanya lagi.
"Kalau dia diam begini, karena sakit atau kesal?"
Ditya melirik Karina.
Karina menahan senyum.
"Kita nilai dari pemeriksaannya dulu, Pak. Tidak semua perasaan Rambo bisa ditebak dari wajah."
Andre memandang kambingnya.
"Tapi kalau kesal sama saya, biasanya kelihatan."
Ditya berdeham.
Len segera memalingkan muka.
Sulit menjaga suasana profesional ketika seorang bapak membahas ekspresi kambing seperti sedang menghadapi anak remaja yang dilarang pergi.
Pemeriksaan selesai tanpa temuan yang mengharuskan penanganan darurat. Karina menjelaskan perkembangan yang terlihat dan alasan pengawasan serta pembatasan aktivitas masih perlu diteruskan.
Andre mendengarkan lebih tenang setelah Ditya menuliskan hal yang perlu diperhatikan.
Kertas selalu lebih dapat diandalkan daripada ingatan seorang ayah yang panik ketika Rambo mengembik.
***
Sementara itu, Agus berdiri di luar dengan botol air yang belum dibuka.
Ia bisa melihat sebagian ruang tunggu melalui kaca, tetapi sengaja memilih kursi yang menghadap halaman.
Beberapa hari lalu, ia datang ke tempat ini untuk mencari sesuatu yang dapat menguatkan prasangka.
Kini ia bahkan tidak ingin tertangkap sedang memperhatikan pintu terlalu lama.
Perbedaannya memalukan.
Ponselnya bergetar.
Tasya.
Agus membaca pesan yang menanyakan rencana makan malam. Ia belum sempat menjawab ketika panggilan masuk.
"Kamu sibuk lagi?"
"Aku sedang mengantar Ayah."
"Ke mana?"
"Klinik hewan."
Tasya diam sesaat.
"Rambo?"
"Iya."
"Dulu kamu bilang bapakmu bisa pergi sendiri."
Agus memandang tutup botol di tangannya.
"Aku memang pernah bilang begitu."
"Lalu sekarang?"
"Sekarang aku bisa membantu."
Tidak ada pertengkaran dalam jawaban itu.
Namun, Tasya terdengar tidak puas.
Ia meminta bertemu dan membicarakan rencana mereka selama dirinya berada di Jakarta.
Agus menyetujui waktu setelah pekerjaan.
Setelah panggilan berakhir, ia tidak langsung menyimpan ponsel.
Ada beberapa hal yang selama ini dibiarkan kabur karena kejelasan akan merepotkan dirinya sendiri.
Dan tampaknya semua mulai menagih jawaban bersamaan.
***
Ditya keluar ketika Andre sedang menyelesaikan administrasi.
Agus berdiri.
"Rambo bagaimana?"
"Membaik. Masih perlu dijaga."
Agus mengangguk.
"Terima kasih."
Ditya tidak langsung kembali masuk.
Ia berdiri beberapa langkah dari Agus, memandang laki-laki itu dengan wajah yang tidak mengundang gurauan.
"Saya Ditya."
"Saya tahu."
"Kakaknya Karina."
Agus mengembuskan napas pelan.
"Iya."
Ditya memasukkan tangan ke saku celana.
"Adik saya sudah bilang dia belum ingin membahas permintaan maaf Anda."
"Saya tidak akan memaksa."
"Saya dengar tadi."
Agus menunggu.
Ditya melirik halaman sebelum melanjutkan.
"Saya juga ingin memastikan Anda mengerti bahwa pekerjaan dan keramahan adik saya bukan undangan untuk menyelidiki hidupnya."
Wajah Agus memanas.
"Saya mengerti."
"Dulu sepertinya tidak."
"Iya. Dulu tidak."
Jawaban itu membuat Ditya diam sejenak.
Ia datang dengan beberapa kalimat tajam yang sudah tersusun.
Agus justru tidak menyediakan tempat untuk pertengkaran.
***
"Saya salah," kata Agus. "Saya sudah bicara dengan Ayah. Tidak ada alasan yang membenarkan tuduhan saya."
Ditya memperhatikannya.
"Bagus kalau Anda tahu."
"Saya juga tidak meminta Anda membujuk Karina."
"Memang tidak akan."
Untuk pertama kalinya, sudut bibir Agus bergerak sedikit.
Ditya tetap tidak tersenyum.
Agus segera kembali serius.
Dari dalam, terdengar Andre memanggil pegawai yang membantunya.
Ditya menoleh, kemudian mengakhiri percakapan.
"Kalau Anda membawa pasien, kami mengurus pasien. Urusan lain tunggu sampai Karina sendiri mau bicara."
"Baik."
Ditya masuk.
Agus duduk kembali dan akhirnya membuka botol air.
Ternyata duduk menunggu sambil tidak membela diri dapat membuat tenggorokan sekering selesai berbicara satu jam di televisi.
***
Karina melihat kakaknya masuk.
"Apa yang mas bilang?"
"Tentang pasien."
"Mas."
"Dikit tentang kamu."
Karina menyilangkan tangan.
Ditya mengangkat kedua telapak.
"Tidak ada yang dipukul. Tidak ada yang diancam. Mas hanya bicara."
"Kalimat terakhir biasanya diucapkan setelah membuat masalah."
"Kali ini sebelum."
Karina memandangnya cukup lama.
Ditya akhirnya menjelaskan inti percakapan.
Ia tidak melebih-lebihkan jawabannya sendiri, juga tidak mengecilkan pengakuan Agus.
Karina mendengarkan.
"Dia bilang tidak minta mas membujukku?"
"Iya."
"Oh."
Hanya itu jawabannya.
Tetapi ketika kembali ke meja, wajahnya tidak sekaku sebelumnya.
Ia masih tidak menyukai apa yang telah Agus lakukan.
Namun, setidaknya hari ini laki-laki itu tidak menambah kesalahan baru.
***
Andre berpamitan setelah semua selesai.
Ia menahan diri untuk tidak kembali membahas permintaan maaf, walaupun jelas ada sesuatu yang ingin diucapkannya.
Karina lebih dahulu menyodorkan catatan.
"Ini untuk pegawai yang membantu merawat Rambo juga, Pak."
"Baik, Nak."
"Kalau ada perubahan yang mengkhawatirkan, hubungi klinik."
Andre mengangguk.
Di luar, Agus membantu menyiapkan kepulangan tanpa masuk lagi.
Karina melihatnya sekilas ketika pintu dibuka.
Tidak ada lambaian.
Tidak ada usaha memperpanjang tatapan.
Agus menutup pintu kendaraan setelah ayahnya duduk.
Karina kembali ke ruang periksa.
Len sedang merapikan meja.
"Sudah pulang, Dok?"
"Sudah."
Len mengangguk, lalu menunjukkan jadwal berikutnya.
Pekerjaan segera mengambil perhatian mereka.
Namun, saat istirahat siang, Karina membuka percakapan di ponselnya lagi.
Ia mengetik satu kalimat.
Terima kasih sudah menghormati permintaan saya tadi.
Karina memandangnya beberapa detik.
Kemudian menghapusnya.
Ia belum ingin membuka percakapan hanya karena seseorang akhirnya melakukan hal yang memang seharusnya dilakukan.
Ponsel diletakkan.
Kali ini ia kembali makan tanpa merasa bersalah.