Karina membaca balasan itu sampai tiga kali.
Biasanya papa hanya menanyakan kabar, mengingatkan makan, lalu mengirim foto hewan yang menurut mama jauh lebih sering difoto daripada istrinya sendiri.
Malam ini berbeda.
Papa tidak menyuruhnya melupakan kejadian lama.
Tidak pula mengatakan bahwa semuanya sudah selesai karena Karina akhirnya menjadi dokter hewan.
Ia segera mengetik balasan.
Kapan Papa bisa bicara?
Sambil menunggu, Karina turun mengambil air. Ditya masih duduk di ruang tengah dengan laptop di pangkuan dan sebungkus makanan ringan di sampingnya.
Mata Karina langsung menyipit.
"Itu apa?"
Ditya mengikuti arah pandang adiknya.
"Makanan."
"Aku tahu bukan batu. Itu kuku macan?"
Tangan Ditya berhenti di dalam bungkus.
Karina mendekat.
"Katanya masih di kargo!"
"Sudah diambil."
"Kapan?"
"Tadi."
"Kenapa tidak bilang?"
"Mas sedang memeriksa kualitas."
Karina merebut bungkus tersebut.
Ditya mengangkat kedua tangan, tetapi tertawa ketika adiknya duduk sambil mengunyah dengan wajah kesal.
Setidaknya ada satu urusan keluarga yang dapat diselesaikan tanpa menunggu bertahun-tahun.
***
Pemberitahuan masuk ketika Karina sedang mengambil potongan kedua.
Papa memiliki waktu sebentar sebelum kembali bekerja. Jika Karina belum mengantuk, mereka bisa berbicara melalui panggilan video.
Ditya melihat perubahan wajahnya.
"Papa?"
Karina mengangguk.
"Mau mas tinggal?"
"Tidak usah. Tapi jangan ikut menjawab."
Ditya menutup laptop.
Karina menerima panggilan dari tablet. Beberapa detik kemudian, wajah papa muncul dengan pencahayaan terlalu terang dan sudut kamera yang memperlihatkan sebagian besar dahinya.
"Papa, kameranya turunkan sedikit."
Gambar bergerak.
Sekarang hanya dagu.
Ditya menutup mulut.
"Naik sedikit, Pa."
Akhirnya seluruh wajah terlihat.
"Begini?"
"Iya."
Profesor yang dapat menjelaskan perilaku hewan selama berjam-jam itu ternyata tetap membutuhkan pengarahan untuk meletakkan tablet.
Karina biasanya akan tertawa lebih lama.
Namun, malam itu ada sesuatu di tenggorokannya yang membuat senyum sulit bertahan.
***
Papa lebih dahulu menanyakan laporan yang disebut Jo.
Karina menjelaskan bahwa dokter itu masih akan mencari judulnya. Ia tidak tahu apakah penelitian tersebut berkaitan langsung dengan alat yang dipakai Ica.
Papa mengangguk.
"Kalau sudah ada, kirim. Papa tidak mau menebak."
"Papa memang pernah ikut penelitian seperti itu?"
"Pernah. Beberapa pekerjaan dilakukan bersama orang dari bidang lain. Tetapi jangan mengira semua alat jantung berasal dari satu penelitian."
Karina mengangguk.
"Aku mengerti."
Papa memperhatikan wajahnya.
"Tapi bukan itu yang paling ingin kamu tanyakan."
Karina meremas ujung bungkus makanan ringan, lalu meletakkannya.
"Kenapa dulu Papa melarang aku?"
Ditya menurunkan pandangan.
Tidak ada suara televisi. Bi Murni yang datang membawa air berhenti sebentar, kemudian meletakkan gelas tanpa menyela.
Di layar, papa melepas kacamatanya.
"Karena Papa takut."
Karina mengernyit.
"Takut aku tidak mampu?"
"Bukan."
"Takut aku gagal?"
"Papa takut kamu sedang menyerahkan keputusan besar kepada orang yang belum tentu memikirkan masa depanmu."
***
Karina menghela napas.
"Kita kembali ke orang itu lagi."
"Dengarkan Papa sampai selesai."
"Aku selalu mendengarkan waktu itu, Pa. Aku yang tidak selesai bicara."
Papa terdiam.
Ditya melirik adiknya, tetapi tetap tidak ikut campur.
Karina sendiri terkejut karena kalimat tersebut akhirnya keluar tanpa teriakan.
Dahulu, ia selalu menangis sebelum dapat menjelaskan apa pun. Setelah menangis, semua orang menganggap dirinya terlalu emosional untuk diajak berpikir.
Lalu keputusan dibuat.
Seolah air mata otomatis menghapus kemampuan seseorang memiliki keinginan.
Papa meletakkan kacamatanya di meja.
"Kamu benar."
Karina menatap layar.
"Papa?"
"Waktu itu Papa lebih banyak marah daripada mendengarkan."
Pengakuan tersebut tidak serta-merta menghilangkan kekesalannya.
Tetapi cukup untuk membuatnya berhenti menyiapkan bantahan berikutnya.
Papa melanjutkan dengan suara lebih pelan.
"Setiap Papa bertanya kampus mana yang kamu inginkan, kamu menyebut tempat yang dia sarankan. Ketika ditanya alasannya, kamu bilang supaya lebih mudah bertemu. Papa melihat kamu semakin sering menunggu pendapatnya sebelum menjawab pertanyaan tentang dirimu sendiri."
Karina menunduk.
Bagian itu memang pernah terjadi.
Ia tidak bangga mengingatnya.
***
"Tapi aku juga tertarik pada pekerjaannya," katanya. "Aku ingin belajar. Bukan cuma ingin bertemu dia."
"Papa seharusnya memberi kamu kesempatan membuktikan itu."
"Kenapa tidak?"
Papa mengusap wajah.
"Karena Papa merasa sudah tahu akhir ceritanya."
Karina terdiam.
Kalimat itu terdengar terlalu akrab.
Beberapa hari sebelumnya, laki-laki lain datang membawa kesimpulan yang dianggapnya pasti benar.
Papa tidak melakukan hal yang sama seperti Agus.
Namun, Karina mengenali rasa kecil yang muncul ketika orang lain menganggap penjelasannya tidak lagi diperlukan.
"Papa tidak membenci kedokteran manusia," lanjut papa. "Papa bekerja bersama banyak dokter. Yang Papa tidak percayai waktu itu adalah cara hubungan kalian memengaruhi keputusanmu."
"Jadi Papa memilihkan seluruh jalan hidupku?"
"Papa pikir Papa sedang melindungi."
Karina memandang layar dengan mata mulai panas.
"Aku tahu Papa sayang. Tapi waktu itu rasanya seperti dihukum karena menyukai orang yang salah."
Ditya menggeser kotak tisu mendekat.
Tidak berkata apa-apa.
Untuk sekali ini, kakaknya benar-benar pandai menggunakan tangan tanpa mengacak rambutnya.
***
Papa menunggu sampai Karina mengusap matanya.
"Papa minta maaf karena membuatmu merasa seperti itu."
Karina menarik napas pendek.
Ia pernah membayangkan percakapan ini berkali-kali.
Dalam bayangannya, ia akan menyampaikan seluruh keberhasilan dengan suara tegas. Papa akan terkejut. Lalu dirinya merasa menang.
Kenyataannya, ia duduk memakai kaus rumah, memegang tisu, dengan remah makanan menempel di ujung celana.
Tidak terasa seperti kemenangan.
Lebih mirip menemukan pintu yang selama ini dikira terkunci.
"Aku tidak menyesal menjadi dokter hewan," katanya.
"Papa tahu."
"Aku mencintai pekerjaanku."
"Papa melihat itu."
"Tapi aku ingin Papa tahu bahwa aku pernah terluka."
Wajah papa berubah.
"Iya, Nak. Sekarang Papa mendengar."
Karina menutup mata sebentar.
Ia tidak membutuhkan papa mengatakan bahwa masa lalunya indah.
Ia hanya ingin bagian yang menyakitkan diakui pernah ada.
***
Dari luar layar terdengar suara mama menanyakan siapa yang diajak bicara.
Papa menggeser tablet.
Wajah mama muncul dengan ekspresi khawatir ketika melihat mata Karina.
"Lho, kenapa menangis?"
"Papa sedang dimarahi," jawab papa.
Karina langsung menggeleng.
"Aku tidak memarahi!"
Ditya akhirnya tertawa.
Mama memandang suaminya.
"Bagus. Sesekali dengarkan anak."
"Ma, jangan langsung memihak."
"Mama sudah lama menunggu Papa berhenti menganggap semua percakapan seperti rapat yang keputusan akhirnya harus punya Papa."
Karina tertawa sambil mengusap hidung.
Papa menghela napas panjang.
Kini lawannya bertambah satu.
Namun, ia tidak menutup panggilan.
Mereka berbicara beberapa menit lagi. Mama menanyakan pekerjaan dan siaran televisi. Ditya diminta memastikan jadwal keberangkatannya sebelum orang tua mereka mengatur perjalanan berikutnya.
Karina mendengarkan tanpa merasa perlu kembali menyerang.
Percakapan malam itu belum menjawab setiap luka.
Tetapi setidaknya tidak berakhir dengan salah satu pihak pergi sambil membanting pintu.
***
Setelah panggilan selesai, Karina tetap memandangi layar gelap.
Ditya menyodorkan gelas.
"Minum."
Karina mengambilnya.
"Mas sudah tahu Papa akan bilang begitu?"
"Tidak."
"Benar?"
"Mas tahu Papa khawatir. Mas tidak tahu beliau akan mengaku caranya salah."
Karina mengangguk perlahan.
Ditya kembali mengambil bungkus makanan.
Tangannya langsung ditepis.
"Itu punyaku."
"Mas yang bawa dari Kalimantan."
"Mas sudah mengambil biaya pemeriksaan kualitas."
Ditya mendecakkan lidah, tetapi menyerah.
Karina menyandarkan kepala ke sofa.
Anehnya, ia masih sedih.
Namun, kesedihan itu tidak lagi terasa sendirian.
Beberapa saat kemudian, ia mengambil ponsel dan membuka percakapan dengan Jo.
Ia menulis ucapan terima kasih singkat karena dokter itu bersedia mencari laporan.
Lalu jarinya berhenti di atas percakapan lain.
Permintaan maaf Agus masih berada di sana.
Karina membacanya sekali lagi.
Ia belum ingin membalas.
Malam ini, satu percakapan sulit sudah cukup.