Karina memandang Jo beberapa detik.
"Penelitian alat jantung?"
Jo mengangguk, lalu segera memperjelas.
"Bahan penelitian lama yang pernah saya baca. Saya perlu melihat kembali rinciannya sebelum mengatakan lebih jauh."
"Yang dipakai Ica?"
"Saya belum mengatakan itu."
Karina menutup mulut.
Benar juga.
Ia baru mendengar satu nama dan sudah melompat ke kesimpulan yang terlalu jauh. Kebiasaan yang baru saja membuatnya marah kepada Agus.
Jo tampaknya memahami perubahan wajahnya.
"Pengembangan alat bisa melibatkan banyak bidang. Nama dokter hewan dalam penelitian tahap awal tidak berarti beliau menangani pasien manusia atau menentukan penggunaannya pada seorang anak."
Karina mengangguk pelan.
Ia memahami perbedaan tersebut.
Tetapi mengetahui papanya mungkin memiliki hubungan pekerjaan dengan bidang yang dulu ingin dipelajarinya tetap membuat dada terasa aneh.
Selama ini papa tidak banyak membicarakan pekerjaan secara rinci di rumah. Ada cerita hewan, tempat penelitian, dan orang-orang yang ditemui, tetapi tidak semua laporan dibawa ke meja makan.
Karina sendiri juga sering terlambat membaca surel keluarga.
Mungkin ada bagian yang sebenarnya pernah disampaikan dan tidak diperhatikannya.
***
"Kalau Dokter menemukan judul laporannya, boleh saya tahu?" tanyanya.
"Yang memang dapat dibagikan, tentu."
"Saya ingin bertanya kepada papa dengan jelas."
Jo mengangguk.
Ia tidak menjanjikan akan mengirim dokumen pasien Ica. Karina juga tidak memintanya.
Pembicaraan tersebut menyangkut penelitian yang disebut Jo, bukan hak untuk membuka seluruh urusan kesehatan anak yang baru dijenguknya.
Mereka bertukar kontak kerja untuk keperluan itu.
Ketika Jo membetulkan posisi ponsel, cincin di jarinya kembali terlihat.
Karina teringat cerita ibu Riko mengenai tunangan yang telah meninggal.
Ia hampir bertanya, lalu mengurungkan niat.
Orang baik tidak otomatis menjadi buku yang boleh dibuka pada setiap halaman.
"Terima kasih, Dokter."
"Sama-sama. Hati-hati pulang."
Karina mengangguk dan menuju lift.
Di dalam, ia memandangi pantulannya pada pintu yang mengilap.
Dunia dokter hewan dan dokter manusia ternyata tidak memiliki pagar setinggi yang dulu dibayangkannya.
Mengapa justru papa yang paling keras melarangnya berpindah ke sisi lain?
***
Agus menemui Jo setelah Karina pergi.
Ia tidak langsung menanyakan isi percakapan mereka, tetapi matanya sempat mengikuti arah lift.
Jo memperhatikan.
"Ada masalah?"
Agus mengusap tengkuk.
"Aku membuat kesalahan."
"Yang mana?"
Agus menatapnya.
Jo mengangkat kedua tangan.
"Maaf. Pertanyaannya terdengar buruk."
"Memang buruk."
Namun, beberapa detik kemudian Agus mulai bercerita.
Ia menjelaskan dugaan mengenai Andre, foto yang diambil, dan kedatangannya ke pet shop. Semakin banyak kalimat keluar, semakin sulit dirinya mempertahankan alasan bahwa semua itu dilakukan demi keluarga.
Jo mendengarkan dengan wajah yang perlahan kehilangan senyum.
"Kamu benar-benar mengatakan soal uang?"
Agus mengangguk.
"Gus."
"Aku tahu."
"Sepertinya waktu melakukannya kamu tidak tahu."
Agus menunduk.
Tidak ada pembelaan yang dapat ditambahkan tanpa kembali menyalahkan orang lain.
***
Jo bersandar pada dinding di tempat yang tidak menghalangi orang lewat.
"Dia datang untuk menemani Ica. Jangan gunakan itu untuk mendekatinya kalau dia belum mau bicara."
"Aku sudah bilang tidak akan memaksa."
"Bagus. Jalani."
Agus mengangguk.
Ia kemudian meminta penjelasan mengenai bagian persiapan Ica yang menjadi tanggung jawab keluarga. Pembicaraan kembali kepada jadwal dan kebutuhan yang jelas.
Ketika selesai, Jo hendak pergi, tetapi Agus memanggil sekali lagi.
"Kamu tadi terlihat mengenali nama papanya."
Jo menatapnya.
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya mendengar sedikit."
Jo mengangkat alis.
Agus langsung mengembuskan napas.
"Baik. Itu bukan urusanku."
"Kalau ada hal tentang Ica yang perlu diketahui keluarga, akan dibicarakan dengan jelas."
Agus mengangguk.
Kali ini ia tidak mencoba mencari jawaban melalui orang lain setelah diberi batas.
Ia kembali ke ruangan Ica.
Keponakannya sedang memandangi buku hewan yang dibawa Karina. Agus duduk di dekatnya dan membiarkan anak itu memilih halaman yang ingin diceritakan.
Ada pekerjaan sederhana yang dapat dilakukannya sekarang.
Mendengarkan.
***
Ditya menjemput Karina setelah urusan di klinik selesai.
Begitu masuk ke mobil, Karina langsung diam.
Kakaknya melirik.
"Dokter plastik membuat masalah lagi?"
"Tidak."
"Kalau begitu kenapa wajahmu begitu?"
Karina memandang jalan di depan.
Ia menceritakan pertemuan dengan Jo dan nama papa yang disebut dalam bahan penelitian.
Ditya tidak langsung terlihat terkejut.
Reaksi itu membuat Karina menoleh.
"Mas tahu?"
"Papa pernah ikut pekerjaan yang berhubungan dengan pengembangan alat dan pengujian pada hewan. Itu bukan satu-satunya pekerjaan beliau."
"Kenapa aku tidak tahu?"
"Kamu yakin tidak pernah menerima ceritanya?"
Karina terdiam.
Surel.
Tentu saja mas akan membawa pembicaraan ke sana.
Tetapi kali ini kekesalannya tidak hanya berasal dari kebiasaan tidak membaca.
"Papa dulu marah waktu aku ingin jadi dokter manusia."
Ditya memegang setir lebih erat.
"Aku ingat."
"Kalau papa bisa bekerja sama dengan bidang itu, kenapa aku tidak boleh mempelajarinya?"
Pertanyaan tersebut membuat suasana mobil berubah.
Ditya tidak menjawab dengan gurauan.
***
"Mas tidak bisa menjelaskan seluruh alasan papa untuk beliau," katanya akhirnya.
"Tapi mas tahu sesuatu?"
"Aku tahu waktu itu kamu sedang mengambil keputusan sambil memikirkan seseorang."
Karina memalingkan wajah.
Nama orang itu tidak diucapkan.
Namun, rasa malu yang lama tetap muncul seolah baru kemarin.
"Aku juga punya keinginan sendiri, Mas."
"Aku tahu."
"Kadang semua orang bicara seolah aku tidak punya pikiran selain mengikuti orang yang kusuka."
Ditya mengangguk perlahan.
"Kalau begitu tanyakan langsung. Kali ini sampai selesai."
Karina menatap kakaknya.
Tidak ada candaan mengenai hidung, penampilan, atau calon pasangan.
Ditya benar-benar mendengarkan.
Gadis itu menyandarkan kepala dan menarik napas.
"Aku akan menulis ke papa."
"Bagus."
"Mas jangan menjawab duluan untuk papa."
Ditya tersenyum tipis.
"Baik, Bu Dokter."
***
Di rumah, bi Murni langsung menyambut dengan pertanyaan apakah Ica menyukai buku yang dibawa.
Karina menjawab sambil melepas sepatu.
"Suka, Bi."
"Anaknya manis, ya?"
"Iya."
"Pamannya saja yang perlu diperbaiki."
Ditya tertawa dari belakang.
Karina ikut tersenyum, tetapi pikirannya masih berada pada percakapan di mobil.
Setelah makan dan membersihkan diri, ia membuka surel keluarga.
Beberapa pesan lama akhirnya dibaca lebih teliti.
Ada foto tempat kerja.
Cerita perjalanan.
Keluhan mama mengenai makanan.
Dan lampiran yang dahulu dilewatinya karena menganggap akan dibaca nanti.
Karina tidak langsung menemukan jawaban yang dicari.
Ia lalu menulis pesan baru.
Ia menceritakan pertemuan dengan Jo, nama keluarga yang dikenali, dan keinginannya memahami pekerjaan papa dengan lebih baik.
Setelah itu, ia menambahkan pertanyaan yang selama bertahun-tahun selalu berhenti di tengah.
Mengapa dulu papa begitu marah ketika dirinya ingin belajar kedokteran manusia?
***
Karina membaca ulang pesannya sebelum mengirim.
Tidak ada tuduhan.
Tidak ada kalimat bahwa hidupnya sebagai dokter hewan merupakan kesalahan.
Ia mencintai pekerjaannya sekarang.
Namun, ia tetap ingin memahami bagian masa lalu yang membuatnya merasa keinginannya tidak pernah didengar sampai selesai.
Pesan dikirim.
Ia meletakkan tablet dan berusaha membaca buku, tetapi pikirannya terus kembali ke layar.
Beberapa waktu kemudian, pemberitahuan masuk.
Balasan papa.
Karina duduk lebih tegak.
Isinya tidak panjang. Papa meminta judul laporan yang dimaksud jika sudah diperoleh, kemudian menuliskan satu kalimat yang membuat Karina menahan napas.
"Ada hal yang dulu Papa sampaikan dengan marah, padahal seharusnya Papa jelaskan baik-baik. Kita perlu membicarakan alasan Papa menolak rencanamu waktu itu."
Karina membaca kalimat tersebut sekali lagi.
Untuk pertama kalinya, papa tidak menyuruhnya berhenti bertanya.