Ica membawa gambar hamsternya ketika datang ke rumah sakit untuk persiapan yang telah dijadwalkan.
Bagas memastikan barang yang diperlukan sudah dibawa. Pengasuhnya membantu menata keperluan pribadi, sementara Agus datang setelah mengatur pekerjaannya.
Kali ini tidak ada panggilan yang dibiarkan tanpa kabar.
Jo menjelaskan bahwa tim akan memeriksa kembali keadaan Ica dan kesiapan alat sebelum menentukan pelaksanaan tindakan. Bagas mendengarkan dengan serius, sesekali mengulang bagian yang ingin dipastikannya.
Ica menunggu sampai percakapan selesai.
Lalu ia mengangkat gambar.
"Om dokter, yang putih sudah punya nama."
Jo menoleh.
"Siapa?"
"Awan."
Agus mendekat.
"Matahari dan Awan?"
Ica mengangguk puas.
"Biar sama-sama di langit."
Bagas tersenyum, lalu mengusap rambut putrinya.
"Bagus."
Ica memandang gambar itu lagi.
"Bu dokter hewan belum tahu."
Agus langsung diam.
Nama yang beberapa hari terakhir terus membuatnya merasa tidak nyaman kini disebut dengan sangat riang oleh keponakannya.
Ica tidak mengetahui pertengkaran tersebut.
Dan tentu saja, anak itu tidak perlu menanggungnya.
***
Bagas menghubungi Karina melalui jalur yang biasa digunakan untuk urusan hewan, lalu memperkenalkan diri dengan jelas.
Ia tidak meminta Karina datang saat itu juga.
Ia hanya menyampaikan bahwa Ica ingin mengabarkan nama hamster dan menanyakan apakah ada waktu untuk menerima pesan singkat darinya.
Karina menjawab setelah menyelesaikan pasien.
"Silakan, Pak."
Tidak lama kemudian, sebuah pesan suara masuk.
Ica berbicara pelan pada awalnya, lalu semakin bersemangat ketika menjelaskan alasan memilih nama Awan.
Karina tersenyum sambil mendengarkan.
Di dekatnya, Len ikut penasaran.
"Namanya siapa, Dok?"
"Awan."
Len mengangguk.
"Cocok sama Matahari."
Karina membalas melalui Bagas dengan pesan singkat untuk Ica. Ia juga menanyakan kabar anak itu.
Setelah mengetahui bahwa Ica sedang menjalani persiapan perawatan lanjutan, Karina terdiam beberapa saat.
Ia ingat wajah kecil yang pernah berdiri di depan meja pemeriksaannya, khawatir karena hamster tidak mau keluar.
Anak itu begitu sibuk memikirkan hewan, padahal tubuhnya sendiri memerlukan perhatian besar.
***
Karina menawarkan kunjungan singkat setelah pekerjaannya selesai, jika keadaan Ica dan pengaturan tempat memungkinkan.
Bagas memastikan lebih dahulu sebelum menyetujuinya.
Ditya mengetahui rencana itu ketika Karina menyiapkan tas.
"Agus ada di sana?"
Karina menoleh.
"Belum tahu. Tapi aku menjenguk Ica."
"Mas tahu."
"Jangan memasang wajah begitu. Nanti dikira mau menagih utang."
Ditya bersandar pada meja.
"Mas hanya tidak ingin kamu kembali dibuat tidak nyaman."
"Aku akan bilang kalau ada masalah."
Karina tidak ingin kemarahannya kepada Agus berubah menjadi alasan menghindari seorang anak yang tidak bersalah.
Namun, ia juga tidak akan menggunakan Ica sebagai jalan untuk berpura-pura semuanya sudah baik.
Ia mengabari Bagas bahwa kunjungannya singkat.
Bukan kegiatan televisi.
Tidak ada kamera.
Tidak ada hewan yang dibawa ke ruang perawatan.
Hanya dirinya dan buku kecil bergambar hewan yang sempat dibelinya di perjalanan.
***
Ica tersenyum lebar ketika Karina datang.
"Bu dokteeer!"
Karina mendekat setelah memastikan boleh.
"Halo, pemilik Awan."
Ica tertawa.
"Sudah dengar pesannya?"
"Sudah. Nama yang bagus."
Anak itu menunjukkan gambar yang dibawanya. Karina mendengarkan penjelasan mengenai warna bulu, rumah kecil, dan kebiasaan kedua hamster yang diamatinya.
Ketika Ica mulai terlalu cepat berbicara, Bagas mengingatkan agar pelan.
Karina mengikuti irama itu.
Ia tidak membuat anak tersebut merasa harus terus menghibur tamu.
Buku bergambar diletakkan di tempat yang mudah dilihat, lalu mereka membuka beberapa halaman bersama.
"Ini kambing juga?" tanya Ica.
"Iya."
"Tapi beda sama Rambo."
"Jenis kambing ada banyak."
Ica mengangguk serius.
"Kalau Rambo paling manja."
Bagas tertawa.
Karina ikut tersenyum.
Tentang hal itu, ia tidak akan membantah.
***
Agus tiba beberapa menit kemudian.
Langkahnya berhenti ketika melihat Karina duduk di dekat Ica.
Bagas lebih dahulu memandangnya.
Tidak perlu teguran panjang. Tatapan kakaknya sudah cukup menjelaskan bahwa kunjungan ini bukan kesempatan untuk memaksa percakapan pribadi.
Agus mengangguk kecil.
"Selamat sore."
Karina menoleh.
"Sore."
Hanya itu.
Tidak ada senyum hangat.
Agus menerimanya meskipun dadanya terasa tidak nyaman.
Ica langsung memanggilnya untuk melihat gambar yang sedang dibahas.
"Om, bu dokter bilang kambing ada banyak jenis."
"Betul."
"Om tahu?"
"Sedikit."
Karina meliriknya sebentar.
Setidaknya hari ini laki-laki itu tidak mengaku memahami semua hal.
Agus duduk di tempat yang tidak menghalangi. Ia membiarkan Karina dan Ica melanjutkan percakapan tanpa mencoba mengambil pusat perhatian.
Bagas memperhatikan dengan lega.
Untuk beberapa menit, ruangan itu hanya berisi seorang anak yang ingin membicarakan hewan.
***
Jo datang untuk menyampaikan sesuatu kepada Bagas.
Ia mengenali Karina dari pertemuan di rumah sakit bersama bi Murni.
"Dokter Karina?"
Karina berdiri.
"Dokter Jo. Selamat sore."
"Menjenguk Ica?"
"Iya. Pemilik pasien saya."
Jo tersenyum dan memandang gambar hamster.
"Saya mulai paham hubungan kalian."
Ia menyelesaikan keperluannya dengan Bagas setelah memastikan waktu bicara tepat. Karina tidak berdiri mendengarkan rincian yang bukan urusannya. Ia kembali menemani Ica melihat buku sampai anak itu mulai tampak lelah.
"Kita lanjut lain kali, ya," katanya.
Ica memegang tepi buku.
"Ini boleh di sini?"
"Boleh. Bukunya untuk Ica."
Anak itu mengucapkan terima kasih.
Karina mengusap rambutnya setelah meminta izin, lalu berpamitan.
Ia tidak menjanjikan akan datang setiap hari.
Ia hanya mengatakan akan mengirim kabar kalau ada kesempatan berkunjung lagi.
Janji kecil yang dapat dijaga lebih baik daripada janji besar yang dibuat karena tidak tega.
***
Bagas mengantar sampai dekat pintu.
"Terima kasih sudah datang."
"Sama-sama, Pak. Semoga persiapannya berjalan baik."
Bagas mengangguk.
Agus berdiri beberapa langkah di belakang. Ia tampak ragu sebelum berbicara.
"Dokter Karina."
Gadis itu menoleh.
"Saya sudah mengirim pesan."
"Sudah saya baca."
Agus menunggu.
Karina membetulkan letak tas.
"Saya belum ingin membahasnya. Hari ini saya datang untuk Ica."
Ia mengangguk.
"Baik."
Jawaban itu membuat Karina sedikit terkejut.
Tidak ada tuntutan.
Tidak ada kalimat bahwa dirinya seharusnya memahami niat baik.
Agus benar-benar berhenti.
Karina berpamitan sekali lagi dan berjalan menuju lorong.
***
Jo menyusul ketika melihatnya berhenti untuk memastikan arah keluar.
"Lift di sebelah sana."
Karina tertawa kecil.
"Saya selalu merasa rumah sakit ini punya lorong tambahan setiap datang."
Jo tersenyum.
Mereka berjalan searah beberapa langkah.
"Ngomong-ngomong, nama lengkap Anda Karina Putri Rodzi Tsoejipto?"
Karina menoleh dengan heran.
"Iya. Dokter tahu dari mana?"
"Saya sempat mendengar Bagas menyebut nama Anda ketika mengatur kunjungan. Tsoejipto itu—"
"Papa saya."
Jo menghentikan langkah.
"Profesor yang bekerja di penelitian hewan?"
Karina mengangguk.
Ekspresi Jo berubah menjadi lebih tertarik.
"Saya pernah membaca nama beliau dalam bahan penelitian yang berkaitan dengan pengembangan alat penunjang jantung."
Karina terdiam.
Untuk pertama kalinya sejak masuk rumah sakit sore itu, bukan Agus yang membuat langkahnya terasa berat.