Agus menulis pesan permintaan maaf lebih lama daripada menyiapkan jawaban untuk siaran televisi.
Kalimat pertama dihapus karena terlalu banyak menjelaskan kesibukannya.
Kalimat kedua dibaca ulang, lalu dihapus lagi karena terdengar seperti menyalahkan Andre.
Pada percobaan berikutnya, ia berhenti menulis setelah kata tetapi.
Bagas yang kebetulan lewat melihat layar dari jarak yang tidak cukup untuk membaca isinya.
"Masih menyusun?"
Agus mengangguk.
"Aku takut terdengar salah."
"Kemarin kamu berani bicara salah tanpa berpikir selama ini."
Agus memandang kakaknya dengan wajah tersiksa.
Bagas tidak tertawa.
"Mulai dari perbuatanmu. Jangan mulai dari alasan."
Setelah mengatakan itu, ia pergi menemui Ica.
Agus menatap layar lagi.
Akhirnya ia menulis bahwa dirinya telah menuduh tanpa dasar, mengambil foto dan memperhatikan kegiatan Karina tanpa izin, serta mempermalukannya di tempat kerja.
Ia meminta maaf.
Tidak meminta Karina langsung menjawab.
Pesan itu disampaikan melalui nomor kerja yang tercantum pada kartu, dengan keterangan jelas mengenai siapa pengirimnya. Setelah mengirim sekali, Agus meletakkan ponsel.
Lima menit kemudian, ia mengambilnya lagi.
Belum ada jawaban.
Tentu saja.
Dunia tidak bekerja sesuai jadwal rasa bersalahnya.
***
Karina membaca pesan tersebut setelah menyelesaikan pekerjaan sore.
Len sedang memeriksa persediaan barang yang akan dibawa ke shelter pada hari berikutnya. Ditya berada di ruang lain, sementara Reina menangani pasien.
Karina meletakkan ponsel tanpa membalas.
"Dok?" Len memanggil.
"Apa?"
"Yang ini ikut dibawa semua?"
Karina mendekat dan memeriksa barang yang ditunjukkan.
Ia tidak ingin seluruh harinya dihabiskan untuk memikirkan Agus. Pasien tidak berhenti membutuhkan pertolongan hanya karena seorang dokter manusia baru menyadari kelakuannya buruk.
Namun, setelah daftar selesai, ia tetap mengusap wajah dengan kesal.
Len melihat, lalu bertanya pelan apakah ada pesan lagi dari orang itu.
"Permintaan maaf."
"Oh."
"Saya belum mau menjawab."
Len mengangguk.
"Ya sudah, Dok."
Jawaban sederhana itu membuat Karina menoleh.
"Tidak mau menyuruh saya memaafkan?"
Len menggeleng.
"Saya masih kesal juga."
Karina tersenyum kecil.
Setidaknya dirinya tidak perlu membela perasaan sendiri di hadapan orang yang menyaksikan kejadian.
***
Hari Minggu, Karina dan Len tetap pergi ke shelter.
Ditya ikut setelah mengatakan ingin melihat keadaan tempat yang sudah lama tidak didatanginya.
Bi Murni membekali makanan dan mengingatkan mereka agar tidak pulang terlalu malam.
"Mas Ditya jangan membuat masalah."
Ditya menoleh.
"Kenapa yang diperingatkan mas?"
"Karena non biasanya marah di rumah. Mas suka marah di tempat kejadian."
Len mendadak sibuk mengangkat tas.
Karina tertawa terang-terangan.
Ditya mendesah.
Reputasi seorang laki-laki ternyata dapat pulang lebih cepat daripada pemiliknya.
***
Bu Mawar menyambut mereka dengan senyum lebar.
"Dokter Ditya! Akhirnya kelihatan lagi."
Ditya menyalaminya dan menanyakan keadaan shelter.
Lou mendekat dengan langkah yang lebih lambat daripada anjing-anjing muda. Karina langsung berjongkok, menyapa, dan membiarkan anjing tua itu mencium tangannya.
"Masih ingat saya?"
Lou menyundul pelan.
Ditya memandang adiknya.
"Sepertinya dia cuma ingat tas makanannya."
"Jangan merusak hubungan kami, Mas."
Len tertawa sambil menurunkan barang.
Mereka mulai bekerja setelah menyapa pegawai. Pasien diperiksa bergantian sesuai kebutuhan, sementara anjing yang mudah gelisah tidak dipaksa bercampur dengan keramaian.
Ketika tiba giliran Rin, Karina memberi waktu lebih lama.
Anjing kecil itu belum mendadak berubah ramah kepada semua orang. Ada kemajuan kecil, tetapi orang asing tetap membuatnya waspada.
Ditya menjaga jarak dan tidak mengulurkan tangan hanya karena merasa terbiasa menghadapi hewan.
Karina memperhatikannya dengan puas.
"Ternyata mas bisa sabar."
"Dengan pasien."
"Dengan adik?"
"Mas masih belajar."
***
Saat beristirahat, Bu Mawar menanyakan program televisi Karina.
Beberapa orang baru mulai menghubungi shelter setelah mengetahui kegiatan pemeriksaan gratis yang biasa dilakukannya, meskipun belum ada pengambilan gambar khusus di tempat tersebut.
Karina tidak langsung menjanjikan bahwa tim akan datang.
"Saya bicarakan dulu. Kalau jadi, perlu diatur supaya anak-anak tidak terganggu."
Bu Mawar mengangguk.
"Saya juga tidak mau mereka dikejar kamera."
Mereka membicarakan kegiatan yang mungkin dapat membantu orang memahami kebutuhan shelter, termasuk pekerjaan sehari-hari yang jarang terlihat.
Beras.
Pakan.
Kebersihan.
Pengobatan.
Dan pencatatan bantuan yang harus tetap jelas.
Ditya mendengarkan sambil meminum teh.
"Orang sering melihat anjingnya lucu. Yang membersihkan kandang tidak ikut dianggap lucu."
Len mengangkat tangan.
"Saya bersedia terlihat tidak lucu asal pekerjaannya dibantu."
Bu Mawar tertawa.
Karina juga ikut tertawa, dan untuk pertama kalinya sejak Jumat malam, pikirannya tidak terus kembali kepada tuduhan Agus.
***
Ponsel Ditya berbunyi ketika mereka selesai mengemas alat.
Cinta menelepon dari Kalimantan.
Ditya menjawab sambil sedikit menjauh, tetapi Karina masih dapat mendengar potongan percakapan.
"Dokter Bima bagaimana?"
Suara Cinta terdengar cukup keras dari seberang.
"Masih membuat saya ingin pensiun lebih awal."
Ditya tertawa.
Ia menanyakan keadaan anjing yang pernah mereka selamatkan dan menerima kabar bahwa perawatannya terus berjalan. Urusan laporan juga sudah disampaikan melalui pihak kamp.
Karina menunggu sampai kakaknya selesai.
"Mas di sana selalu membuat perawatnya pusing, ya?"
"Mas membantu pekerjaan."
"Rupanya pekerjaan membuat orang pusing."
Ditya mengacak rambutnya.
Karina menghindar dan mengingatkannya bahwa tangannya baru saja memegang barang. Kakaknya segera meminta maaf sambil tertawa.
Hal-hal kecil seperti itu terasa lebih mudah daripada menghadapi prasangka manusia.
***
Di rumah keluarga Tjokro, Agus menatap ponselnya lagi.
Pesan kepada Karina belum dibalas.
Ia tidak tahu apakah telah dibaca.
Ia juga tidak memiliki hak menuntut kepastian.
Andre memperhatikan dari kursi dekat taman.
"Menunggu siapa?"
Agus mengangkat wajah.
"Jawaban dokter Karina."
"Kalau dia tidak mau menjawab, terima."
"Iya, Yah."
Andre diam beberapa saat.
"Ayah juga minta maaf kepada dia. Dan Ayah tidak akan memakai namanya untuk menyindir kamu lagi."
Agus terkejut.
Ayahnya memandang Rambo yang sedang beristirahat.
"Bukan berarti kesalahan kamu hilang. Tapi Ayah tidak seharusnya membuat orang lain jadi alat untuk membuat kamu kesal."
Agus menunduk.
Untuk pertama kalinya sejak lama, percakapan mereka tidak berakhir dengan salah satu meninggikan suara.
Ia mengucapkan terima kasih pelan.
Bunga datang mendekat dan meletakkan kepala di dekat kaki Agus. Laki-laki itu sempat ragu sebelum mengusapnya.
"Jangan ajak Rambo main kasar dulu," gumamnya.
Andre melirik.
"Bunga sudah lebih menurut daripada kamu."
Agus menatap ayahnya.
Andre terdiam sesaat, lalu berdeham.
"Yang itu komentar tentang anjing. Bukan dokter Karina."
Agus akhirnya tertawa kecil.
Ayahnya memang tidak mungkin berubah menjadi orang yang sama sekali tidak menyindir dalam satu sore.
***
Menjelang malam, Jo menghubungi Bagas.
Informasi kedatangan alat yang ditunggu telah memperoleh kepastian lebih lanjut. Tim akan mengatur tahapan pemeriksaan dan persiapan yang diperlukan, lalu keluarga diminta menyediakan waktu untuk pembahasan berikutnya.
Bagas duduk setelah panggilan berakhir.
Agus yang melihat perubahan wajahnya segera mendekat.
"Mas?"
Bagas menatap adiknya.
"Ada kabar tentang alat Ica."
Keduanya saling memandang.
Kali ini, Agus tidak bertanya sambil membuka pesan lain.
Ia duduk, mengambil catatan, dan mendengarkan sampai selesai.