Bi Murni meletakkan gelas sirup di depan Karina dengan tenaga sedikit lebih besar daripada biasanya.
"Minum dulu, Non."
Karina mengambilnya tanpa membantah.
Ditya duduk di seberang, masih mengenakan pakaian yang dipakai menjemput. Len ikut masuk setelah membantu memastikan urusan di pet shop selesai. Malam sudah terlalu larut untuk memperpanjang perjalanan, dan kamar yang biasa dipakainya menginap tersedia.
Bi Murni memandang mereka bergantian.
"Jadi dokter ganteng itu mengira non dekat-dekat sama pak Andre untuk minta uang?"
Karina mengangguk dengan wajah masam.
"Katanya menjaga keluarga."
"Memang bapaknya anak kecil yang bisa diajak pergi pakai permen?"
Len tersedak tawa.
Ditya menunduk.
Karina menutup wajah dengan satu tangan. Ia masih kesal, tetapi membayangkan Andre dibujuk memakai permen benar-benar terlalu konyol.
Bi Murni melipat tangan.
"Bibi memang suka dokter ganteng. Tapi kalau kelakuannya begitu, percuma. Ganteng tidak bisa dipakai menanak nasi."
"Bi, perumpamaannya kenapa nasi?" tanya Ditya.
"Karena kalian bertiga belum makan."
Tidak ada yang dapat membantah.
***
Setelah makanan tersedia, Ditya kembali bertanya mengenai kejadian tadi.
Karina menjelaskan tanpa mengurangi bagian yang memalukan. Ia juga menyebut bahwa Agus mengambil foto ketika dirinya pulang bersama Andre dan Len.
Ditya meletakkan sendok.
"Dia mengikuti kalian?"
"Katanya ingin melihat."
"Itu jawaban orang yang tahu kelakuannya buruk."
Karina mengangguk.
"Aku sudah menyuruhnya pergi."
"Kalau datang lagi?"
"Aku tidak akan menemuinya sendiri."
Len langsung menyahut bahwa dirinya akan membantu memastikan.
Ditya menatap adiknya cukup lama.
"Mas tidak suka kamu harus menghadapi orang seperti itu."
"Aku juga tidak suka, Mas."
"Papa perlu tahu."
Karina berhenti makan.
Reaksi kecil itu tidak luput dari perhatian kakaknya.
"Jangan sekarang," katanya.
"Kenapa?"
"Aku ingin masalah ini ditangani dulu. Kalau papa dengar aku diganggu dokter manusia lagi, pembicaraannya bisa ke mana-mana."
Ditya terdiam.
Bi Murni juga tidak langsung menyela.
Ada bagian masa lalu yang tidak disebutkan, tetapi ketiganya tahu alasan Karina berhenti mengunyah.
Ditya akhirnya mengangguk.
"Mas tidak akan menyampaikan tanpa membicarakannya dulu. Tapi kalau orang itu mengulangi, jangan kamu sembunyikan."
Karina mengangguk.
"Iya."
***
Agus pulang setelah Andre kembali dari kegiatan Jumat malam.
Ayahnya sedang duduk sambil melepas sandal ketika ia masuk.
"Sudah selesai siaran?"
Agus mengangguk.
"Sudah, Yah."
"Bagas bilang lancar."
"Iya."
Andre memandang putranya lebih teliti.
Biasanya Agus punya cerita mengenai orang terkenal yang ditemui atau pujian yang diterima. Malam itu jawabannya pendek-pendek.
"Kamu sakit?"
"Tidak."
Agus hampir mengatakan sesuatu.
Namun, ketika melihat ayahnya tampak lelah, ia mundur dengan alasan hendak berganti pakaian.
Di kamar, ia duduk di tepi ranjang dan membuka foto yang diambil di rumah Arka.
Karina tidak memeluk Andre.
Tidak ada gerakan yang menunjukkan sesuatu selain tiga orang berjalan menuju mobil.
Ia memperbesar, lalu memperkecil gambar.
Tetap sama.
Yang berubah hanya cerita yang selama ini ditempelkan di kepalanya.
***
Keesokan paginya, Andre menelepon Karina untuk menanyakan pengaturan pemeriksaan lanjutan Rambo.
Gadis itu menjawab dengan sopan, tetapi tidak sehangat biasanya.
Andre segera menyadari.
"Nak Karina sedang sibuk?"
"Sedang menyiapkan jadwal, Pak."
"Kalau Rambo perlu diperiksa lagi, saya bisa langsung telepon ke nomor ini?"
"Untuk mengatur kunjungan, sebaiknya melalui klinik dulu, Pak. Nanti staf membantu menyesuaikan."
Andre mengangguk meskipun tidak terlihat.
"Baik. Ada apa, Nak?"
Karina terdiam sesaat.
Ia tidak ingin menumpahkan kemarahan kepada orang yang tidak datang menuduhnya. Namun, ia juga tidak ingin berpura-pura keadaan tetap nyaman.
"Semalam putra Bapak datang ke pet shop."
"Bagas?"
"Dokter Rangga."
Andre menegakkan punggung.
Karina menyampaikan inti percakapan, tanpa menambahkan hinaan yang sebenarnya masih menumpuk di kepalanya.
Setelah ia selesai, tidak terdengar jawaban selama beberapa detik.
"Nak Karina," suara Andre akhirnya muncul, "saya minta maaf."
"Terima kasih, Pak. Saya tetap akan membantu kebutuhan pasien sesuai jadwal. Tapi saya tidak bersedia menerima tuduhan pribadi seperti itu."
Andre mengangguk lagi.
"Iya. Saya mengerti."
Kali ini tidak ada tawaran perjodohan.
Tidak ada gurauan mengenai menantu.
Ia menutup telepon dengan wajah merah.
***
Bagas baru selesai menyapa Ica ketika Andre memanggilnya.
Beberapa menit kemudian, Agus diminta turun.
Ia melihat ayah dan kakaknya duduk bersebelahan, lalu langsung memahami bahwa sesuatu telah sampai lebih dahulu.
Andre tidak memukul meja.
Justru ketenangannya membuat Agus lebih waswas.
"Kamu ke tempat dokter Karina semalam?"
"Iya."
"Menanyakan uang yang Ayah berikan?"
Agus menunduk.
"Iya."
Andre menarik napas panjang.
"Kamu mengira Ayah melakukan apa?"
Bagas menatap adiknya.
Agus mengusap wajah.
"Aku lihat Ayah sering diantar. Lalu Ayah berubah setiap menyebut dia."
"Berubah bagaimana?"
"Senang. Selalu dipuji."
Andre membuka mulut, lalu menutupnya kembali.
Bagas menghela napas.
"Jadi karena Ayah senang dibantu, kamu menuduh dokternya?"
Agus tidak mampu menjawab.
***
Andre akhirnya berdiri.
"Ayah punya istri, Gus. Mommy kamu. Perempuan yang ikut bekerja, mengurus kalian, dan sekarang jauh dari rumah."
"Agus tahu."
"Kalau tahu, kenapa tidak bicara sama Ayah sebelum mengganggu orang lain?"
"Setiap Agus bertanya, Ayah marah."
Kalimat itu keluar lebih cepat daripada yang direncanakannya.
Andre terdiam.
Bagas melihat keduanya, lalu berbicara dengan hati-hati.
"Ayah memang sering tidak mau menjelaskan karena masih kesal. Tapi itu tidak membuat tindakan Agus kepada dokter Karina benar."
Agus mengangguk kecil.
Andre kembali duduk.
Untuk pertama kalinya, ia harus melihat bahwa keinginannya memberi pelajaran kepada putra kedua telah ikut menyediakan ruang bagi prasangka.
Tetapi prasangka itu tetap pilihan Agus.
"Ayah tidak berselingkuh," katanya tegas.
"Iya."
"Dokter Karina menolong Ayah. Dan kalau Ayah pernah berpikir menjadikannya keluarga, Ayah memikirkan calon untuk Bagas."
Agus langsung mengangkat kepala.
"Mas?"
Bagas menutup mata.
"Ayah, bagian itu tidak perlu diumumkan seperti daftar lowongan."
Dalam keadaan lain, Agus mungkin tertawa.
Pagi itu ia justru merasa lebih bodoh.
***
Andre meminta Agus memperbaiki akibat perbuatannya tanpa menyeret Karina ke pertengkaran keluarga.
"Jangan datang mendadak lagi. Tanyakan dulu apakah dia mau menerima permintaan maafmu."
Agus mengangguk.
Ia tidak menyangka akan dinasihati tentang meminta izin oleh bapaknya yang biasanya suka memutuskan sendiri.
Namun, kali ini ia tidak mencari celah untuk menyindir.
Bagas menatap adiknya.
"Kamu sudah salah dua kali kalau memaksa dia mendengarkan hanya supaya kamu lega."
Agus memandang lantai.
Untuk beberapa saat, tidak ada suara di ruang keluarga.
Lalu dari dekat taman terdengar Rambo bersuara pendek.
Andre langsung menoleh.
Agus hampir bergerak lebih dahulu, tetapi ayahnya mengangkat tangan.
"Pegawai sedang menyiapkan makanannya."
Laki-laki itu duduk kembali.
Bahkan Andre sedang berusaha tidak bereaksi berlebihan.
Agus menarik napas.
Sepertinya pagi itu, orang yang paling perlu belajar memang dirinya.