Agus menatap kertas yang diletakkan Karina.
Nama Rambo tercantum di sana, bersama biaya pemeriksaan dan tindakan yang telah dilakukan. Tidak ada angka aneh yang bisa dipakainya untuk melanjutkan tuduhan.
"Itu bukan yang saya maksud."
"Kalau begitu bicara yang jelas." Karina menarik kembali catatan tersebut. "Saya tidak punya waktu menebak isi kepala Anda."
Len berdiri di samping meja dengan wajah tegang. Ririn yang sebelumnya merapikan barang ikut berhenti ketika mendengar nada bicara mereka.
Agus melihat keduanya, lalu menurunkan suara.
"Anda sering bertemu ayah saya."
"Sudah saya jawab."
"Dan sering mengantarnya pulang."
"Karena beliau membutuhkan tumpangan."
"Semua orang bisa mengatakan begitu."
Karina memandangnya beberapa detik.
Ia baru selesai bekerja. Perutnya belum diisi makanan malam yang layak. Rambutnya baru saja dikomentari bi Murni melalui foto televisi. Sekarang seorang dokter manusia datang menambah daftar makhluk yang sulit diajak bicara.
Sayangnya, yang ini tidak bisa dimasukkan ke kandang sementara menunggu tenang.
"Dokter Rangga," katanya perlahan, "kalau Anda punya pertanyaan mengenai perilaku ayah sendiri, tanyakan kepada beliau."
"Jangan mengalihkan."
"Saya sedang menunjukkan orang yang tahu jawabannya."
Agus mengencangkan rahang.
Karina benar, tetapi ia tidak ingin mengakuinya setelah datang sejauh ini.
***
Ia mengeluarkan ponsel.
Foto di depan rumah Arka dibuka dan diletakkan di antara mereka. Karina melihat dirinya bersama Andre dan Len berjalan menuju mobil.
Ia mengangkat wajah.
"Anda yang mengambil ini?"
Agus mengangguk.
"Jadi tidak kebetulan kalau saya tahu."
Len maju setengah langkah.
"Saya ada di situ, Dok."
Agus menatapnya.
"Saya menemani dokter Karina memeriksa Vemo. Pak Andre bertemu kami waktu mau pulang."
"Pasien saya anjing," tambah Karina. "Pemiliknya mengadakan acara. Kami pulang setelah diperiksa dan diminta makan."
Len menunjuk foto.
"Saya sampai kekenyangan."
Ririn menoleh kepadanya dengan bingung.
Len langsung menurunkan tangan.
Bukan bagian yang penting!
Karina tetap memandang Agus.
"Anda melihat tiga orang, lalu memilih cerita yang paling Anda sukai?"
"Saya khawatir kepada keluarga saya."
"Khawatir tidak membuat dugaan Anda jadi kenyataan."
Agus mengambil ponselnya kembali. Ia tidak mendapatkan reaksi malu atau takut seperti yang dibayangkan. Karina justru terlihat semakin marah.
Hal itu membuatnya kehilangan kalimat.
***
Len mendadak teringat mobil besar di seberang klinik.
"Dok, waktu itu Anda juga di depan klinik utama?"
Agus menoleh terlalu cepat.
Karina segera memandangnya.
"Yang kamu bilang menunggu lama itu, Len?"
Len mengangguk.
"Saya tidak melihat orangnya jelas. Tapi mobilnya seperti yang di luar sekarang."
Agus menyelipkan ponsel ke saku.
"Saya hanya ingin melihat."
"Melihat apa?" tanya Karina.
"Kegiatan Anda."
Keheningan jatuh.
Ririn yang sejak tadi memilih diam akhirnya menatap dokter pujaannya dengan ekspresi tidak nyaman.
Karina meletakkan kedua tangan di meja agar tidak melakukan sesuatu yang akan disesalinya.
Ia bisa menghadapi pemilik pasien yang cerewet.
Bisa berdebat dengan orang yang menganggap hewan hanya barang.
Tetapi diikuti karena tuduhan semacam ini?
"Apa Anda sadar bagaimana kedengarannya?"
Agus tidak menjawab.
"Anda datang ke tempat kerja saya, mengambil foto tanpa bertanya, lalu menuduh saya mendekati ayah Anda untuk sesuatu yang tidak pernah saya lakukan."
"Saya belum mengatakan—"
"Anda tidak perlu memakai kalimat lengkap untuk membuat maksudnya jelas."
***
Ponsel Karina bergetar.
Nama bi Murni muncul di layar.
Ia mengangkat panggilan tanpa menjauh.
"Sebentar lagi pulang, Bi."
"Non masih di pet shop? Mas Ditya tanya mau dijemput atau tidak. Tadi motor katanya dipakai, kan?"
"Iya. Tolong mas Ditya tunggu sebentar. Saya masih menyelesaikan urusan."
Bi Murni menangkap nada suaranya.
"Ada apa?"
"Nanti Karina cerita."
Karina menutup panggilan dan menatap Agus lagi.
"Kalau ada keluhan soal pasien, sampaikan melalui tempat praktik. Kalau urusan pribadi Anda, saya tidak bersedia melanjutkan pembicaraan dengan tuduhan seperti ini."
Agus mengusap wajah.
Ia mulai menyadari bahwa dirinya telah melewati sesuatu, tetapi gengsinya masih mencari tempat berdiri.
"Kenapa tidak menjelaskan dari awal saja?"
Karina tertawa pendek.
"Anda tidak datang untuk bertanya. Anda datang sudah membawa jawaban sendiri."
Len mengangguk tanpa sadar.
Agus melihatnya dan merasa semakin tersudut.
***
Ririn akhirnya berbicara.
"Dokter Rangga, tadi dokter Karina masih menyelesaikan pekerjaan. Mungkin pembicaraannya cukup dulu."
Agus menatap perempuan yang dahulu begitu senang bertemu dirinya.
Kini bahkan Ririn tidak membantu.
Karina menunjuk pintu.
"Silakan pulang."
"Saya hanya—"
"Sudah cukup."
Nada itu membuat Agus berhenti.
Tidak ada teriakan yang memanggil seluruh orang di luar. Tidak ada air yang dilemparkan ke wajahnya seperti adegan film.
Namun, pintu yang ditunjuk Karina terasa lebih memalukan daripada itu.
Agus meraih kunci mobil.
Ia ingin mengatakan sesuatu yang membuat kepergiannya tidak tampak seperti kalah. Tetapi ketika memandang foto yang masih tersimpan di ponsel, ia tidak menemukan kalimat yang terdengar masuk akal.
Akhirnya ia keluar.
Len tetap berdiri di dekat pintu sampai kendaraan tersebut pergi.
Baru setelah itu Karina melepaskan napas.
"Ya ampun."
Ririn menatapnya.
"Dok, saya tidak menyangka dia bisa begitu."
Karina memandang pintu dengan kesal.
"Saya juga tidak menyangka ijazah bisa hidup terpisah begitu jauh dari akal sehat."
Len menutup mulut.
Ia tahu dokternya sedang marah.
Tetap saja, kalimat itu hampir membuatnya tertawa.
***
Beberapa menit kemudian, Ditya tiba.
Karina belum sempat menelepon lagi, tetapi kakaknya sudah lebih dahulu berangkat setelah mendengar nada bi Murni.
"Ada apa?"
Ia memandang Karina, lalu Len dan Ririn.
"Tadi ada orang datang membuat masalah," jawab Karina.
"Pemilik pasien?"
Karina menggeleng.
"Dokter Rangga."
Ditya mengangkat alis.
"Yang mulutnya kamu keluhkan itu?"
"Iya."
Len menjelaskan bagian yang disaksikannya, termasuk foto dan pertanyaan mengenai uang dari Andre. Ditya mendengarkan sampai selesai.
Senyumnya menghilang.
"Dia menuduh kamu apa?"
Karina menyandarkan pinggang pada meja.
"Mas bisa menyimpulkan sendiri."
Ditya memandang pintu.
Karina langsung berdiri lebih tegak.
"Jangan dicari sekarang."
"Mas belum bilang mau mencari."
"Wajah mas sudah."
Ditya menatapnya, lalu mengembuskan napas keras.
Untuk sekali ini, Karina tidak ingin menukar satu laki-laki keras kepala dengan laki-laki keras kepala lain yang sedang membelanya.
"Aku mau pulang dulu," katanya.
Ditya mengangguk.
"Ya. Kita pulang."
***
Di perjalanan menuju rumahnya sendiri, Agus tidak menyalakan musik.
Ucapan Karina terus kembali.
Anda datang sudah membawa jawaban sendiri.
Ia ingin membantah, tetapi ingat bagaimana dirinya mengira Ditya adalah kekasih Karina hanya dari pelukan di bandara.
Dugaan itu salah.
Foto bersama Andre pun memperlihatkan Len berada di samping mereka.
Agus menggenggam setir lebih erat.
Untuk pertama kalinya, ia mulai takut bukan karena ayahnya mungkin berselingkuh.
Ia takut karena dirinya mungkin telah memperlakukan orang yang tidak bersalah dengan sangat buruk.
Dan kali ini, kata lupa tidak dapat dipakai untuk menjelaskan apa pun.