Lampu studio terasa lebih panas daripada yang dibayangkan Agus.
Ia sudah terbiasa menghadapi orang dan kamera, tetapi siaran langsung tetap membuatnya harus memperhatikan waktu, arah pandangan, serta pertanyaan yang tidak semuanya datang sesuai perkiraan.
Gilang berdiri di tempat yang dapat dilihat sebelum acara dimulai.
"Siap, Dok?"
Agus mengangguk.
"Siap."
Beberapa menit kemudian, senyum profesionalnya muncul.
Dokter Rangga menyapa penonton dengan suara yang tenang dan penampilan rapi.
Tidak ada orang yang melihat layar akan mengetahui bahwa beberapa jam sebelumnya laki-laki itu masih berdiri di dapur rumah sambil diminta Andre menghitung ulang kotak makanan.
"Kalau salah hitung, orangnya tidak bisa makan penampilan kamu," begitu kata ayahnya.
Agus hampir tersenyum mengingatnya, lalu segera kembali memperhatikan pembawa acara yang mengajukan pertanyaan.
Malam ini ia harus bekerja dengan benar.
Urusan lain dapat menunggu.
Setidaknya, itulah yang dikatakannya kepada diri sendiri.
***
Di rumah, Ica duduk bersama Bagas setelah makan malam.
Andre masih menjalani kegiatan pembagian makanan bersama pegawai yang mendampingi. Sebelum berangkat, ia sudah berpesan agar kedua acara direkam kalau memungkinkan.
Bagas menatap dua pilihan tayangan dan menggeleng kecil.
Keluarganya bahkan dapat membuat urusan menonton televisi terasa seperti pembagian tugas kantor.
Ica melihat wajah Karina ketika bagian pengenalan ditayangkan.
"Itu bu dokter!"
Bagas tersenyum.
"Iya."
"Bu dokter yang kasih teman Matahari."
"Iya, Papa tahu."
Karina di layar menjelaskan bahwa memperhatikan hewan bukan hanya soal memberi nama dan membeli perlengkapan. Pemilik juga perlu mengenali perubahan kebiasaan dan mencari pertolongan ketika ada yang tidak biasa.
Ica mendengarkan dengan serius.
Lalu ia menoleh.
"Rambo juga begitu, kan, Pa?"
Bagas mengangguk.
"Kakek cepat tahu ada yang tidak beres."
Ica tampak puas.
Beberapa saat kemudian, Bagas memeriksa tayangan Agus melalui pengaturan lain yang sudah disiapkan, tanpa mengubah waktu istirahat putrinya menjadi perlombaan menonton dua acara sampai larut.
Ia ingin mendukung adiknya.
Ia juga ingin Ica tetap mengikuti kebiasaan yang telah diatur untuknya.
Keduanya seharusnya tidak perlu saling mengalahkan.
***
Di pet shop, Karina sedang menyelesaikan pemeriksaan terakhir ketika Len mengintip tayangan singkat dari ponsel pada waktu jeda.
"Dok, saya masuk!"
Karina menoleh.
"Masuk mana?"
"Televisi."
"Oh."
"Dokter kok cuma oh?"
Karina tersenyum lelah.
"Selamat. Sekarang tolong bantu saya merapikan catatan ini."
Len mendesah dramatis.
Ririn yang kebetulan berada dekat meja langsung tertawa.
"Sudah terkenal tetap disuruh kerja."
"Memangnya kamera membayar makanan pasien?" balas Karina.
Mereka kembali bekerja.
Setelah pemeriksaan selesai dan pemilik hewan menerima penjelasan yang diperlukan, Karina baru duduk sebentar untuk melihat pesan dari Lilis dan Nana.
Ada ucapan terima kasih.
Ada beberapa tanggapan awal.
Ada pula catatan mengenai bagian yang akan dibicarakan untuk pengambilan gambar berikutnya.
Karina membaca dengan serius, lalu tersenyum ketika melihat pesan dari bi Murni.
Bibinya mengirim foto layar televisi yang agak miring.
Di bawahnya tertulis bahwa rambut Karina seharusnya dirapikan lebih baik.
Karina menutup mata.
Dari sekian banyak hal yang dapat dikomentari, bibi tetap memilih rambut!
***
Siaran Agus selesai dengan cukup lancar.
Gilang mengucapkan terima kasih dan membicarakan beberapa penyesuaian untuk acara berikutnya. Agus mendengarkan, menyimpan catatan, lalu memeriksa ponsel setelah seluruh urusan yang perlu diselesaikan malam itu berakhir.
Ada pesan dari Bagas.
Acara ditonton.
Ica sempat melihat.
Andre masih dalam kegiatan dan akan menyusul menonton rekaman.
Agus membaca pesan tersebut dua kali.
Seharusnya ia merasa senang.
Namun, ketika melihat pesan berikutnya mengenai tayangan Karina yang juga disukai Ica, dadanya kembali terasa tidak nyaman.
Perempuan itu lagi.
Ia tahu pikirannya terdengar kekanak-kanakan.
Tetap saja, nama yang sama terus muncul pada tempat yang dianggapnya milik keluarga sendiri.
Agus duduk di mobil setelah berpamitan.
Jalan menuju rumah dapat ditempuh melalui beberapa pilihan. Ia memilih arah yang melewati pet shop tempat pertama kali bertemu Karina.
Katanya hanya ingin lewat.
Padahal ketika melihat lampu masih menyala, ia langsung mengurangi kecepatan.
***
Len sedang membawa barang ke bagian dalam ketika Karina melihat seseorang berdiri dekat pintu.
Ia mengenali laki-laki itu sebelum orangnya bicara.
Sepatu.
Pakaian rapi.
Wajah yang terlalu yakin bahwa semua orang harus senang melihatnya.
Dokter plastik.
Karina menegakkan punggung.
"Ada pasien yang perlu diperiksa?"
Agus masuk beberapa langkah.
"Tidak."
"Kalau begitu ada keperluan apa?"
Nada Karina tetap sopan, tetapi wajahnya tidak berusaha menyembunyikan rasa waspada.
Agus melihat ruang praktik, lalu meja tempat beberapa catatan masih terbuka. Ia tidak menemukan sesuatu yang dapat membenarkan kemarahannya.
Karena memang ia datang membawa dugaan.
Bukan bukti.
"Saya ingin bicara."
"Tentang?"
Agus menatapnya.
"Tentang ayah saya."
Karina mengerutkan kening.
"Rambo ada keluhan lagi?"
"Ini bukan tentang kambing."
Karina menahan napas.
Kalau bukan tentang kambing, kenapa laki-laki itu datang ke tempat praktik dokter hewan dengan wajah seperti hendak memeriksa pajak?
***
Len muncul dari bagian dalam dan langsung mengenali Agus.
Ia berhenti dekat meja, cukup jauh untuk tidak memotong pembicaraan, tetapi tidak pergi.
Agus melihatnya sekilas.
"Saya ingin bicara berdua."
Karina mengangkat alis.
"Saya sedang bekerja. Len asisten saya."
"Sebentar saja."
"Silakan bicara."
Jawaban itu tidak memberinya ruang untuk mengatur keadaan sesuka hati.
Agus mulai kesal.
Padahal ia sendiri tidak tahu kalimat pembuka yang pantas untuk tuduhan di kepalanya.
"Ayah saya belakangan sering menyebut Anda."
Karina menunggu.
"Iya?"
"Anda juga sering mengantarnya pulang."
"Kalau kebetulan bertemu dan saya bisa membantu."
"Kebetulan terus?"
Karina memandangnya lebih tajam.
Len meletakkan barang yang dipegang dengan perlahan.
Suasana mulai berubah.
***
Agus mengusap rahang.
Ia seharusnya berhenti dan bertanya dengan lebih jelas.
Namun, rasa malu karena tidak memiliki dasar justru membuatnya ingin berbicara lebih keras.
"Ayah saya orangnya mudah percaya kalau ada orang bersikap baik."
Karina menyilangkan tangan.
"Anda ingin mengatakan apa, Dokter?"
"Pasti Anda tahu beliau punya keluarga."
Karina terdiam.
Lalu matanya melebar sedikit.
Untuk beberapa detik, ia benar-benar berharap dirinya salah mendengar arah pembicaraan tersebut.
Len menatap Agus dengan wajah tidak percaya.
Agus tetap melanjutkan, terdorong oleh kesimpulan yang telah berhari-hari dipeliharanya sendiri.
"Saya hanya ingin tahu sebenarnya Anda mengharapkan apa."
Karina menarik napas panjang.
Sangat panjang.
Ini bukan pemilik pasien yang bingung.
Bukan pula orang yang bertanya mengenai perawatan.
Laki-laki itu sedang berdiri di tempat kerjanya dan menuduhkan sesuatu yang bahkan terlalu konyol untuk langsung dijawab.
"Ayah Anda tahu Anda datang ke sini?"
Agus tidak menjawab.
Karina mengangguk perlahan.
Tentu saja tidak.
Sebelum ia sempat bicara lagi, Agus mengucapkan pertanyaan yang membuat Len langsung melangkah mendekat.
"Berapa yang sudah Ayah saya berikan kepada Anda?"
Karina menatapnya tanpa berkedip.
Lalu ia mengambil catatan pembayaran pasien dari meja, menutup berkas lain yang tidak berkaitan, dan meletakkan lembar yang sesuai di hadapannya.
"Biaya pemeriksaan Rambo dibayar sesuai tagihan. Kalau yang Anda tanyakan harga sopan santun, sepertinya Anda datang ke tempat yang salah."