Pengambilan gambar pertama dimulai dengan Len yang salah berdiri.
Ia sudah merapikan rambut, membersihkan sepatunya, dan memastikan kemeja tidak terbalik. Namun, ketika kamera disiapkan, tubuhnya justru menutup papan nama klinik.
"Len, sedikit ke samping," kata Lilis.
Len bergeser.
"Sebelah satunya."
Ia bergeser lagi.
Karina menutup mulut dengan punggung tangan.
"Dokter jangan tertawa. Saya jadi tambah gugup."
"Saya tidak tertawa."
"Bahu dokter bergerak."
Ditya yang melihat dari meja penerimaan langsung menyahut, "Itu latihan pernapasan."
Karina menatap kakaknya tajam.
Nana tertawa, lalu mengingatkan bahwa mereka belum mulai merekam bagian yang diperlukan. Len boleh menenangkan diri lebih dahulu.
Setelah beberapa menit, kegiatan berjalan lebih lancar.
Karina menjelaskan pekerjaannya dengan bahasa sederhana. Ketika pertanyaan beralih kepada alasan menjadi dokter hewan, ia sempat berhenti.
Bayangan percakapan lama dengan papanya melintas.
Keinginannya dulu berbeda.
Namun, ia tidak ingin menjawab dengan cerita yang belum siap dibukanya kepada orang-orang yang baru ditemui.
"Saya ingin pasien yang tidak bisa bicara tetap mendapat pertolongan," katanya.
Jawaban itu benar.
Meskipun bukan seluruh ceritanya.
***
Kegiatan berikutnya melibatkan pasien yang pemiliknya telah menyetujui pengambilan gambar.
Seekor kucing datang untuk pemeriksaan yang sudah dijadwalkan. Begitu melihat beberapa orang baru, ia justru memilih bersembunyi di dalam wadah bawaannya.
Pemiliknya tampak malu.
"Biasanya di rumah berani, Dok."
"Di rumah dia kenal lingkungannya," jawab Karina. "Di sini banyak wajah baru."
Nana meminta orang yang tidak diperlukan menjauh. Kamera juga tidak ditempatkan terlalu dekat.
Karina menunggu sambil berbicara pelan.
Len yang tadi gugup mulai kembali menjadi dirinya sendiri ketika membantu menyiapkan kebutuhan pemeriksaan.
Ditya mengamati dari jauh.
Ia menyukai cara adiknya tidak mengubah sikap hanya karena ada kamera. Karina tetap memperhatikan pasien lebih dahulu, bahkan ketika hal itu membuat pengambilan gambar berjalan lebih lambat.
Reina berdiri di sampingnya.
"Dia memang begitu."
Ditya menoleh.
"Siapa?"
"Adikmu. Kamu melihatnya seperti baru menyadari dia bisa bekerja."
Ditya tersenyum kecil.
"Dua tahun ternyata lama."
Reina tidak langsung menjawab.
Lalu ia mengangguk.
"Iya. Banyak yang berubah."
Keduanya kembali memandang Karina.
***
Menjelang siang, Agus melewati jalan di depan klinik tersebut.
Ia telah mengatur sebagian urusan pribadinya setelah pekerjaan yang dijadwalkan selesai. Tidak ada pasien yang sengaja ditinggalkan di ruang tunggu untuk mengikuti dokter hewan.
Namun, alasan yang dipakainya kepada diri sendiri tetap terdengar lebih mulia daripada kenyataan.
Ia hanya ingin memastikan.
Memastikan apa?
Agus belum memiliki jawaban yang cukup jelas.
Mobilnya berhenti di tempat yang diperbolehkan agak jauh dari pintu klinik. Ia memandang bangunan dua ruko yang digabung dan papan nama di depannya.
Cukup besar.
Berarti perempuan itu tidak sedang kesulitan mencari tempat praktik.
Atau justru semua orang memang selalu ingin lebih banyak uang?
Agus mengerutkan kening.
Pikiran itu muncul terlalu cepat, tetapi ia tidak menegurnya.
Beberapa menit kemudian, Ditya keluar sebentar untuk menerima sesuatu dari pengantar barang.
Agus langsung mengenali wajahnya.
Kakak.
Bukan kekasih.
Ia mengingat kembali betapa yakin dirinya di bandara dan merasa kesal karena telah membuat kesimpulan salah.
Namun, rasa malu itu segera dialihkan menjadi kekesalan baru.
Kenapa keluarga perempuan tersebut harus begitu akrab di tempat umum sampai membuat orang salah paham?
Sungguh alasan yang tidak masuk akal.
Sayangnya, Agus belum cukup jujur untuk mengakuinya.
***
Karina keluar tidak lama kemudian bersama Len dan salah satu anggota tim.
Mereka berbicara mengenai pengambilan gambar berikutnya, lalu Karina menoleh ketika seseorang menyapanya dari arah trotoar.
Seorang pemilik pasien menyerahkan benda kecil yang dibungkus plastik.
Karina tertawa dan menggeleng, tetapi orang itu tetap memintanya menerima.
Dari kejauhan, Agus memperhatikan.
Bingkisan?
Uang?
Ia tidak mendengar percakapan mereka.
Kalau cukup dekat, ia akan mengetahui bahwa isinya hanyalah kue buatan pemilik kucing yang pernah dirawat.
Namun, jarak yang dipilihnya untuk bersembunyi juga membuatnya kehilangan bagian paling penting: penjelasan.
Agus meraih ponsel, lalu berhenti ketika sebuah kendaraan melintas dan menutup pandangan.
Ketika jalan kembali terlihat, Karina sudah masuk.
Ia mendecak.
Waktu terbuang, tidak mendapat apa-apa.
***
Di dalam klinik, Len meletakkan kue di meja istirahat.
"Dokter tadi lihat mobil besar di seberang?"
Karina membuka tutup botol air.
"Yang mana?"
"Seperti mobil mahal. Dari tadi tidak jalan."
"Orang menunggu mungkin."
Len mengangguk.
Ia tidak memikirkannya lebih jauh, tetapi sempat melihat kendaraan itu pergi setelah mereka kembali masuk.
Karina menerima telepon dari Andre beberapa saat kemudian.
Laki-laki itu memberi kabar mengenai Rambo yang masih beristirahat dan meminta penjelasan atas satu bagian catatan perawatan.
Karina menjawab sesuai yang ditanyakan, lalu mengingatkan agar perkembangan yang mengkhawatirkan dilaporkan dan pemeriksaan lanjutan dilakukan sesuai kebutuhan.
Setelah urusan kambing selesai, Andre kembali berubah ceria.
"Nak Karina akan masuk televisi, ya?"
Karina menoleh kepada Lilis.
"Iya, Pak. Masih proses."
"Ica pasti senang."
Karina tersenyum.
"Salam untuk Ica."
Andre kemudian bertanya kapan tayangnya. Karina menyebut jadwal yang diberikan tim, sambil menjelaskan bahwa isi tayangan mengikuti bahan yang sudah selesai disiapkan.
Jumat malam.
Pukul delapan.
Di seberang, Andre mendadak tertawa.
Karina mengerutkan kening.
Apa ada yang lucu dari jam delapan?
***
Agus tiba di rumah ketika ayahnya sedang mencari remote televisi.
Ia langsung curiga melihat wajah Andre yang terlalu gembira.
"Ayah mau menonton apa?"
"Acara hewan."
Agus teringat iklan yang dilihatnya di mobil.
"Yang dokter Karina itu?"
Andre menoleh dengan mata berbinar.
"Kamu tahu?"
Agus menyesali pertanyaannya sendiri.
"Tidak sengaja lihat iklan."
"Bagus. Dokternya pintar dan tidak sok sibuk."
Agus menarik napas panjang.
Sudah lagi.
Bahkan remote televisi bisa menjadi jalan menuju ceramah tentang dirinya.
"Jumat jam delapan juga acara Agus."
Andre meletakkan remote.
"Memang Ayah bilang tidak tahu?"
"Terus Ayah mau menonton yang mana?"
"Televisi di rumah ini lebih dari satu."
Agus terdiam.
Jawaban itu sangat masuk akal.
Tetapi tetap membuatnya kesal.
***
Menjelang Jumat, kedua program menyelesaikan persiapan masing-masing.
Karina tetap menjalani jadwal pemeriksaan. Bagian yang belum dapat direkam tidak dipaksakan. Lilis dan Nana mengirim penjelasan mengenai bahan yang akan digunakan, sementara Len menanyakan kemungkinan memperoleh salinan agar dapat menonton setelah bekerja.
Agus menjalani pengarahan untuk siaran langsung.
Ia juga membantu menyiapkan kebutuhan kegiatan ayahnya sebelum berangkat, sesuai janji yang telah dibuat.
Andre tidak langsung berhenti menyindir.
Namun, ketika kotak-kotak makanan sudah tersusun dan keperluan keberangkatan tidak lagi perlu dicari mendadak, ia tidak dapat mengatakan Agus sama sekali tidak membantu.
Agus seharusnya merasa lega.
Sayangnya, di sela persiapan, pikirannya masih kembali kepada dokter hewan yang dilihatnya dari balik mobil.
Perempuan itu belum terbukti melakukan kesalahan.
Tetapi Agus semakin ingin memaksanya memberikan jawaban atas tuduhan yang bahkan belum pernah didengarnya.