Pagi berikutnya, Agus tiba lebih awal untuk pertemuan dengan Jo.
Bagas datang bersama Ica dan pengasuhnya. Anak kecil itu membawa tas kesayangan, lalu langsung tersenyum ketika melihat pamannya sudah menunggu.
"Om tidak lupa!"
Agus merasakan kalimat tersebut mengenai harga dirinya dengan sangat tepat.
Bahkan anak lima tahun sudah menjadikan kehadirannya kejutan.
"Tidak," jawabnya sambil merapikan rambut Ica.
Bagas menepuk bahunya tanpa komentar. Sikap itu justru membuat Agus lebih malu daripada kalau kakaknya langsung mengejek.
Mereka menunggu sampai Jo dapat menemui.
Ica duduk sambil menunjukkan gambar hamster kepada pengasuhnya. Agus memperhatikan benda-benda yang dibawa dan teringat peringatan temannya mengenai alat yang sementara digunakan di tubuh Ica.
Ia tidak ingin kembali menganggap semuanya sudah diurus orang lain.
Ketika Jo datang, Agus membuka catatan.
Jo mengangkat alis.
"Wah. Hari bersejarah."
"Kalau mengejek, nanti saja."
"Aku baru mau memuji."
Bagas tertawa kecil.
Setidaknya pagi itu dimulai tanpa pertengkaran.
***
Jo menjelaskan perkembangan persiapan alat yang ditunggu.
Kabar kedatangannya perlu dipastikan, kemudian tim yang menangani akan memeriksa kebutuhan dan keadaan Ica sebelum menetapkan langkah berikutnya. Bagas diberi kesempatan menanyakan hal yang belum dipahami, termasuk perkiraan urusan biaya yang masih harus dikonfirmasi.
Agus mendengarkan tanpa memotong untuk menunjukkan bahwa dirinya juga dokter.
Bidang kerja mereka berbeda.
Dan Ica bukan tempat untuk mempertahankan gengsi.
"Jadi setelah alat tiba, belum tentu langsung dilakukan hari itu?" tanya Bagas.
Jo mengangguk.
"Kita tetap perlu memastikan seluruh persiapannya."
Bagas memandang putrinya yang sedang duduk tidak jauh.
Ica sudah terlalu sering menunggu sesuatu yang diharapkan membuat hidupnya lebih mudah.
"Yang penting jangan menjanjikan kepada Ica sebelum waktunya jelas," tambah Jo.
Agus menuliskan kalimat tersebut.
Ia juga meminta agar petunjuk perawatan dan batas yang perlu diperhatikan di rumah dijelaskan dengan jelas kepada keluarga serta pengasuh, sesuai alat dan kondisi Ica.
Jo menyetujuinya.
Penjelasan tidak boleh berhenti sebagai pesan singkat dari satu orang kepada orang lain yang kemudian diingat setengah-setengah.
***
Setelah pembicaraan selesai, Ica mendekati Jo.
"Om dokter, nanti Ica bisa sekolah?"
Bagas menunduk.
Agus juga diam.
Jo berjongkok agar sejajar dengan anak itu.
"Kita lihat keadaan Ica satu-satu dulu, ya. Ica boleh cerita sekolah seperti apa yang Ica inginkan."
Ica langsung berbicara tentang teman, tas, dan tempat bermain.
Jo mendengarkan dengan sabar.
Agus melihat bagaimana temannya tidak langsung mengatakan pasti hanya supaya Ica tersenyum.
Anak itu tetap dapat berharap tanpa diberi janji yang belum tentu bisa ditepati.
Ketika Ica memperhatikan cincin di tangan Jo, ia menunjuk sebentar.
"Cincinnya masih dipakai."
Jo tersenyum.
"Iya."
Agus melihat perubahan kecil pada wajah temannya. Hanya sesaat, tetapi cukup untuk mengingatkan bahwa Jo pun memiliki bagian hidup yang tidak banyak diceritakan.
Ia tidak bertanya di depan Ica.
Ada waktu untuk bercanda, ada waktu untuk tidak mencampuri.
Agus sebenarnya tahu perbedaannya. Hanya saja, akhir-akhir ini ia terlalu sering memilih melupakannya.
***
Di klinik hewan, Karina sedang membaca catatan pengambilan gambar yang dibawa Lilis dan Nana.
Len duduk di sampingnya dengan wajah sangat serius.
Terlalu serius.
"Len, kamu tidak sedang ujian negara," bisik Karina.
"Saya takut nanti salah bicara di depan kamera, Dok."
"Kalau salah, kita ulang bagian yang bisa diulang."
Lilis mengangguk sambil tersenyum.
Mereka membicarakan kegiatan yang dapat direkam tanpa mengganggu pemeriksaan. Pemilik hewan perlu memahami dan menyetujui pengambilan gambar. Jika pasien tidak nyaman atau membutuhkan penanganan segera, pekerjaan medis didahulukan.
Karina membaca bagian itu sekali lagi.
"Kalau saya meminta kamera berhenti, benar-benar berhenti, ya."
"Tentu, Dok," jawab Nana. "Kita tidak mencari gambar sampai pasiennya terganggu."
Ditya yang sedang lewat berhenti di dekat pintu.
"Saya boleh ikut memastikan adik saya tidak berubah jadi artis yang lupa makan?"
Karina mendongak.
"Mas justru paling sering membuat aku telat makan."
"Itu fitnah keluarga."
Len menunduk sambil tertawa.
Lilis dan Nana saling memandang dengan senyum yang semakin lebar. Mereka mulai memahami bahwa kehidupan di klinik ini tidak akan kekurangan percakapan menarik.
***
Reina bergabung setelah menyelesaikan pemeriksaan pasien.
Ia dan Ditya membicarakan jadwal agar kegiatan klinik tetap berjalan ketika Karina bersama tim pengambilan gambar.
Percakapan keduanya lebih lancar daripada kemarin.
Karina memperhatikan tanpa ikut mengusik.
Ada hal yang ingin ditanyakannya mengenai masa lalu mereka, tetapi ia juga tahu klinik bukan tempat yang tepat untuk memaksa jawaban.
"Besok pagi kita mulai bagian pengenalan dan kegiatan yang sudah disetujui," kata Lilis.
Karina mengangguk.
Len tiba-tiba mengangkat tangan.
"Kalau pakaian saya begini boleh?"
Semua orang menoleh.
Len langsung menurunkan tangan dengan malu.
Karina memandang kemejanya yang bersih dan sederhana.
"Boleh. Kita bekerja, bukan ikut pemilihan model."
Ditya menyentuh dagunya.
"Kalau membutuhkan model, saya tersedia."
"Mas, ada pasien menunggu," sahut Reina.
Ditya langsung menunjuk pintu.
"Nah. Belum terkenal sudah dilarang."
Tawa kecil terdengar di ruangan.
Namun, setelah Ditya pergi, Karina sempat melihat senyum Reina berubah lebih tenang, seolah ada kenangan yang baru lewat dan tidak ingin ditahan terlalu lama.
***
Sore itu, Agus menghubungi Gilang mengenai jadwal programnya.
Ia tidak meminta seluruh acara dipindahkan begitu saja. Setelah membaca kontrak dan kebutuhan kegiatan lebih teliti, ia menjelaskan bahwa dirinya memiliki tanggung jawab keluarga yang perlu diatur.
Gilang mendengarkan, tetapi jadwal siaran langsung yang sudah disusun tidak dapat dianggap kosong hanya karena dokter yang menjadi pengisi baru teringat urusan lain.
Agus mengerti.
Untuk pertama kalinya, ia tidak memikirkan hubungan ayahnya dengan pemilik stasiun sebagai jalan keluar.
Ia meminta rincian waktu persiapan, kedatangan, dan kemungkinan penyesuaian yang memang dapat dibicarakan.
Setelah telepon selesai, ia menatap kalender.
Jumat malam tetap padat.
Berarti ia harus berbicara kepada Andre dengan rencana yang nyata, bukan sekadar mengucapkan maaf lalu berharap bapaknya berhenti marah.
Agus menyusun beberapa pilihan bantuan sebelum berangkat ke rumah.
***
Andre mendengarkan dengan wajah yang sulit dibaca.
Agus menawarkan membantu persiapan makanan sebelum berangkat, mengatur barang yang akan dibawa, dan memastikan pegawai yang mendampingi tidak menunggu keputusan mendadak.
"Terus kamu tetap tidak ikut membagikan?" tanya Andre.
Agus menarik napas.
"Untuk jadwal siaran ini, Agus tidak bisa ikut semuanya."
Andre mendecak.
"Tapi Agus tidak mau bilang bisa lalu menghilang lagi."
Kalimat itu membuat Bagas yang duduk tidak jauh mengangkat wajah.
Andre terdiam sesaat.
Ia masih kecewa. Agus dapat melihatnya.
Namun, kali ini anak keduanya tidak bersembunyi di balik kata lupa.
"Kerjakan yang kamu bilang," jawab Andre akhirnya.
Agus mengangguk.
Tidak ada perdamaian besar malam itu.
Tetapi untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, ia pulang ke kamar dengan janji yang sudah ditulis dan bagian pekerjaan yang benar-benar dapat dilakukannya.