Reina lebih dahulu memalingkan wajah ke arah Karina.
"Tadi ada pasien darurat?"
"Rambo. Kambing pak Andre. Sudah pulang."
"Oh."
Jawaban itu terlalu pendek untuk ukuran percakapan dua orang yang biasa membicarakan pasien. Karina melirik kakaknya. Ditya sedang memperhatikan papan jadwal seolah susunan huruf di sana merupakan penemuan baru.
Astaga. Dua orang dewasa bisa berubah seperti anak sekolah yang ketahuan bertukar surat.
"Mas mau ambil alih sebagian jadwal selama di Jakarta," kata Karina akhirnya.
Reina mengangguk.
"Boleh. Nanti kita cocokkan."
"Aku juga tadi lihat persediaan obat," ujar Ditya.
Kali ini suaranya kembali seperti biasa, meskipun belum sepenuhnya santai.
Mereka membicarakan beberapa hal yang memang perlu disampaikan. Jadwal dokter, pasien rawat inap, dan perubahan ruangan yang dilakukan selama Ditya pergi.
Karina memperhatikan dari samping.
Ternyata pekerjaan merupakan penyelamat yang cukup ampuh. Selama menyebut obat dan jadwal, keduanya dapat saling menatap tanpa terlihat ingin mencari pintu keluar.
"Berapa lama di sini?" tanya Reina.
"Masih menunggu kabar papa."
"Setelah itu ke Amerika?"
"Iya."
Reina mengangguk lagi.
Karina mulai merasa seperti sedang menonton pertandingan mengangguk tingkat nasional.
Untung telepon dari depan mengabarkan makanan sudah datang.
"Aku ambil dulu!"
Ia pergi terlalu cepat untuk disebut tidak sengaja.
***
Ditya menyusul beberapa menit kemudian.
Karina sudah membuka bungkus makanannya di tempat istirahat pegawai. Ia memandang kakaknya sambil mengunyah.
"Kenapa lihat begitu?"
"Nggak apa-apa."
"Kalau tidak apa-apa, matanya jangan seperti kucing melihat ikan."
Karina menelan makanannya.
"Mas masih canggung sama mbak Reina?"
Ditya mengambil sendok, kemudian duduk.
"Kamu mau makan atau wawancara?"
"Bisa dua-duanya."
"Tidak baik bicara sambil makan."
"Tadi mas juga bicara."
Ditya mendesah.
Ia memandang adiknya, lalu menjawab lebih tenang.
"Kami lama tidak bertemu. Wajar canggung sedikit."
"Mas tahu mbak Reina sudah tunangan, kan?"
"Tahu."
"Terus—"
"Karina."
Gadis itu menutup mulut.
Ditya tidak terlihat marah, tetapi nadanya membuat Karina memahami bahwa ada bagian yang belum ingin dibicarakannya.
Ia mengangguk kecil dan kembali makan.
Beberapa saat kemudian, kakaknya mendorong potongan lauk ke tepi bungkusnya.
"Tadi katanya lapar sekali."
Karina menatap lauk itu, lalu tersenyum.
"Terima kasih."
Ditya mengacak rambutnya.
Hubungan orang dewasa memang rumit. Karina memutuskan makan dahulu. Memikirkan masalah percintaan kakak dengan perut kosong jelas tidak termasuk tugas dokter hewan.
***
Di tempat lain, Agus baru melihat beberapa panggilan yang terlewat ketika Tasya sedang sibuk memeriksa foto makanannya.
Ada nomor pengasuh Ica.
Ada pesan dari Bagas.
Dan satu panggilan dari Jo.
Wajah Agus berubah.
Tasya mengangkat kepala ketika ia berdiri.
"Kamu mau ke mana?"
"Telepon sebentar."
"Kita belum selesai makan."
"Ada urusan Ica."
Tasya membuka mulut, tetapi Agus sudah menjauh ke tempat yang lebih tenang.
Ia menelepon Jo lebih dahulu.
Begitu tersambung, suara temannya langsung terdengar.
"Akhirnya."
"Ica kenapa?"
"Sudah selesai kontrol. Aku perlu bicara dengan kamu dan Bagas tentang persiapan alat yang ditunggu."
Agus mengembuskan napas.
Bukan keadaan darurat mendadak. Namun, kelegaan itu disusul rasa bersalah ketika ia kembali melihat panggilan pengasuh Ica.
"Maaf, tadi aku tidak melihat telepon."
"Kamu diminta menemani hari ini?"
Agus diam.
Jo menghela napas dari seberang.
"Kalau tidak bisa, bilang dari awal supaya keluargamu bisa mengatur."
Kalimat itu terdengar sangat mirip suara Bagas.
Agus mengusap wajah.
"Iya. Aku akan hubungi mas."
Jo menjelaskan bahwa pembahasan perlu dilakukan bersama orang tua Ica setelah informasi kedatangan dan pemeriksaan alat dipastikan. Tidak ada janji bahwa semua akan langsung selesai begitu alat tiba.
Kondisi Ica tetap harus dinilai.
Agus mendengarkan dan mencatat waktu yang dapat disediakan untuk pertemuan.
Kali ini ia benar-benar membuka kalender.
***
Setelah menelepon Bagas dan menerima teguran yang jauh lebih pelan daripada yang ditakutkannya, Agus kembali ke meja.
Tasya sedang mengetuk layar ponsel dengan wajah bosan.
"Lama."
"Maaf."
"Jadi setelah ini kamu pulang?"
"Aku perlu ke rumah."
Tasya menatapnya.
"Tadi kamu bilang kita masih bisa jalan."
Agus menahan napas.
Ia memang mengatakannya.
Dan sekarang ia kembali berada dalam keadaan yang sering dibuatnya sendiri: menyetujui sesuatu sebelum memeriksa tanggung jawab lain.
"Aku antar kamu dulu, lalu pulang."
Tasya tampak kecewa. Namun, setelah mendengar bahwa urusannya berkaitan dengan kesehatan Ica, ia tidak melanjutkan rengekan.
Agus menyelesaikan makan secukupnya dan mengatur kepulangan.
Sepanjang perjalanan, ia berusaha mendengarkan Tasya tanpa kembali melupakan pesan di ponsel.
Ternyata memperbaiki satu kelalaian tidak otomatis menghapus kelalaian lain.
***
Di rumah, Agus menemukan Andre duduk dekat tempat Rambo beristirahat.
Kambing itu tampak lebih tenang, sementara Bunga berada agak jauh bersama pegawai yang mengawasinya agar tidak mengajak bermain.
Agus langsung mendekat.
"Rambo kenapa?"
Andre menoleh.
"Baru bertanya?"
Agus memejamkan mata sebentar.
Belum juga duduk, sudah terasa seperti masuk ruang ujian.
"Ayah belum bilang."
"Kamu juga tidak ada."
Bagas yang muncul dari arah kamar Ica segera menjelaskan bahwa Rambo terjatuh dan telah diperiksa.
Agus mengerutkan kening.
"Ke dokter hewan yang dulu?"
"Iya. Dokter Karina."
Nama itu membuat kepalanya langsung terangkat.
Andre mengelus kepala Rambo.
"Anaknya baik. Kakaknya juga dokter, baru pulang."
"Kakaknya?"
Bagas mengangguk.
"Dokter Ditya. Kami bertemu di klinik."
Agus terdiam.
Perempuan di bandara.
Laki-laki yang merangkul pundaknya.
Ciuman di pipi.
Jadi itu kakaknya?
Selama beberapa detik, Agus merasa pikirannya tersandung sesuatu.
Ia telah begitu yakin melihat seorang kekasih. Ternyata tidak.
Namun, bukannya berhenti memeriksa kesimpulan sendiri, kepalanya segera mencari bagian lain yang dianggap masih benar.
Kakak bukan berarti perempuan itu tidak dekat dengan ayahnya.
Ah, tetap mencurigakan!
***
Sebelum pembicaraan berlanjut, Ica memanggil dari pintu kamar. Agus segera menghampiri dan berjongkok di depannya.
"Om tadi dicariin," kata anak itu.
Agus mengangguk dengan wajah menyesal. "Maaf, ya."
Ica tidak memberi ceramah panjang. Dia hanya meminta pamannya melihat gambar hamster yang dibuatnya setelah pulang kontrol.
Agus mengikuti, lalu duduk mendengarkan penjelasan mengenai telinga, ekor, dan alasan salah satu hamster digambar lebih besar.
Untuk beberapa menit, ponselnya tetap berada di saku.
***
Bagas menyerahkan catatan perawatan Rambo kepada pegawai yang akan membantu.
Agus sempat melihat nama klinik pada bagian atas.
Tempat itu berbeda dari pet shop yang pernah didatanginya bersama Ica.
"Dia praktik di dua tempat?"
"Sepertinya begitu," jawab Bagas.
Andre langsung menambahkan bahwa nak Karina sangat rajin dan tetap mau menolong orang tua di tengah kesibukan.
Agus menatap ayahnya.
Nada itu.
Senyum itu.
Kenapa kalau menyebut Karina, bapaknya mendadak seperti sedang membacakan daftar penerima penghargaan?
Agus memandang catatan klinik sekali lagi.
Di kepalanya mulai terbentuk keinginan untuk melihat sendiri bagaimana dokter hewan itu menjalani hari.
Bukan hanya menerima cerita ayah.
Bukan hanya melihatnya kebetulan di jalan.
Ia ingin menemukan sesuatu yang dapat menjelaskan perubahan Andre.
Sayangnya, Agus masih belum menyadari bahwa pertanyaan paling penting justru harus dimulai dari dirinya sendiri: mengapa ia begitu ingin menemukan kesalahan perempuan yang belum benar-benar dikenalnya?