"Mas, jalannya pelan sedikit. Karina lapar, bukan sedang dikejar harimau."
Ditya mengurangi langkah, tetapi tangannya masih memegang pergelangan adiknya. "Kalau dikejar harimau, mas tidak akan menyeret kamu."
"Tega!"
"Mas dorong ke depan supaya larinya lebih cepat."
Karina mencubit pinggang kakaknya. Ditya terkekeh sambil menyingkir, lalu keduanya tiba di lantai satu dengan wajah yang membuat Restu menggeleng kecil. Baru sehari bertemu pemilik klinik, dia sudah mulai memahami dari mana dokter Karina memperoleh kebiasaan menjawab orang seenaknya.
"Rambonya masih diperiksa, Dok," lapor Restu.
Ditya mengangguk. "Owner menunggu di mana?"
Restu menunjuk ruang tunggu.
Andre sedang duduk dengan kedua tangan di atas lutut. Bagas berada di sampingnya sambil membaca ponsel, tetapi kepalanya terangkat setiap ada orang keluar dari arah ruang pemeriksaan.
Karina mendekat lebih dahulu.
"Pak Andre, ini kakak saya, dokter Ditya."
Andre langsung berdiri.
"Ah! Kakaknya nak Karina?"
Ditya menerima uluran tangannya. "Iya, Pak."
"Syukurlah. Tolong adiknya saya diperiksa baik-baik."
Ditya melirik Karina.
Karina melotot sebagai peringatan.
Yang dimaksud bukan dirinya!
"Rambo, Mas," bisiknya.
"Oh, iya. Pasiennya."
Bagas menunduk untuk menyembunyikan senyum. Ayahnya memang memiliki kemampuan menjadikan silsilah keluarga rumit hanya dengan seekor kambing.
"Ini anak saya, Bagas," lanjut Andre.
Ditya menyalami Bagas, kemudian mempersilakan mereka duduk kembali. Ia menanyakan kejadian ketika Rambo terjatuh dan mendengarkan jawaban Bagas tanpa langsung menyimpulkan sesuatu.
Andre beberapa kali menyela.
Rambo tadi masih sehat.
Rambo makannya teratur.
Rambo tidak pernah macam-macam.
Karina mengangguk sabar.
Rambo yang diceritakan terdengar seperti anak teladan penerima beasiswa.
"Pak, kami lihat hasil pemeriksaannya dulu, ya," ujar Ditya. "Setelah itu baru dijelaskan perawatannya."
Andre mengangguk, meskipun matanya masih mencari-cari pintu tempat Rambo dibawa.
***
Karina menarik kakaknya ke dekat meja penerimaan.
"Telepon mang Jajan."
Ditya menatapnya. "Mas belum lupa."
"Kalau belum lupa, kenapa belum telepon?"
"Karena baru selesai menyalami keluarga pasien."
"Mas bisa menyelamatkan kambing dan adiknya sendiri sekaligus."
Ditya mengeluarkan ponsel sambil tertawa.
Ia memesan makanan untuk keduanya, lalu menanyakan kepada beberapa pegawai apakah ingin menitip. Dalam waktu kurang dari dua menit, pesanan berubah menjadi lebih panjang.
Karina memandang kakaknya dengan puas.
"Katanya uang habis?"
"Ini namanya membangun hubungan kerja."
"Tadi sama adik sendiri hitung-hitungan."
"Kamu sudah punya hubungan darah. Tidak perlu dibangun lagi."
Karina menginjak ujung sepatunya pelan sebelum pergi mengambil air.
Bagas kebetulan mendengar bagian terakhir dan tertawa kecil.
"Adik saya juga suka begitu," katanya ketika Karina melewati ruang tunggu.
"Suka menjahili?"
"Suka membuat orang ingin menarik napas panjang."
Andre langsung menyahut, "Kalau yang satu itu, napas panjang saja tidak cukup."
Karina menahan senyum.
Ia belum tahu apakah aman menanyakan anak Andre yang mana. Mengingat pengalaman dengan si dokter plastik, lebih baik dirinya tidak membuka pembicaraan yang bisa merusak selera makan.
***
Selama menunggu, Bagas menerima telepon dari pengasuh Ica.
Ia berdiri dan menjauh sedikit agar tidak mengganggu orang lain.
"Sudah selesai diperiksa?"
Karina yang hendak masuk ke ruang pemeriksaan mendengar nama Ica disebut. Langkahnya melambat, tetapi ia tidak berhenti untuk menguping.
Bagas mendengarkan penjelasan dari seberang, lalu mengangguk.
"Iya. Tunggu di tempat yang sudah disepakati. Nanti kabari kalau sudah berangkat pulang."
Setelah panggilan berakhir, Karina baru bertanya.
"Ica baik-baik saja, Pak?"
Bagas menoleh.
"Dokter kenal Ica?"
"Kenal. Matahari pasien saya."
Wajah Bagas melunak.
"Oh. Jadi dokter yang membelikan hamster putih itu."
Karina mengangguk.
"Ica cerita terus di rumah," kata Bagas. "Terima kasih, ya."
"Tidak apa-apa. Ica sayang sekali sama hewannya."
Andre langsung menegakkan punggung.
Kesempatan bagus!
"Nak Karina juga sayang anak kecil," katanya dengan nada yang mendadak penuh semangat.
Bagas menatap ayahnya.
Karina tersenyum kaku.
Kenapa percakapan tentang hamster selalu memiliki jalur rahasia menuju pernikahan?
Untung Restu muncul dan memanggilnya sebelum Andre melanjutkan promosi.
***
Setelah hasil tersedia, Karina dan Ditya memeriksanya bersama.
Tidak tampak patah tulang pada bagian yang diperiksa. Temuan itu sesuai dengan dugaan cedera jaringan di sekitar kedua kaki depan, tetapi kondisi Rambo tetap perlu dipantau melalui pemeriksaan dan perkembangan geraknya.
Ditya menanyakan sekali lagi kepada Karina bagian yang paling membuat Rambo bereaksi kesakitan.
Karina menunjukkan catatannya.
Mereka tidak memperpanjang pemeriksaan hanya karena Andre sangat khawatir. Namun, penjelasan perawatan dibuat cukup jelas agar keluarga tidak mencoba-coba sendiri di rumah.
Ketika Andre dan Bagas dipanggil masuk, Rambo langsung bersuara.
"Rambooo, anak Ayah!"
Andre mendekat dengan wajah hampir menangis lagi.
Ditya mundur setengah langkah.
Bagas menangkap ekspresinya dan berbisik, "Kami sudah biasa, Dok."
"Saya sedang menyesuaikan diri," balas Ditya pelan.
Karina hampir tertawa, tetapi segera menjelaskan hasil pemeriksaan kepada Andre.
Laki-laki itu mendengarkan dengan serius, lalu mengajukan pertanyaan yang sama menggunakan tiga susunan kalimat berbeda.
Berarti tidak patah?
Tidak harus ditinggal lama?
Masih bisa pulang?
Karina menjawab satu per satu.
"Untuk sekarang, batasi dulu gerakan dan permainannya. Jangan dipaksa berjalan kalau kesakitan. Soal menyentuh atau menggerakkan bagian yang sakit, ikuti panduan kami, ya, Pak. Jangan dipijat keras."
Andre mengangguk cepat.
Bagas meminta penjelasan tertulis agar orang rumah memberikan perawatan yang sama.
Permintaan itu membuat Karina lega. Setidaknya ada satu orang yang tidak sedang sibuk menyeka hidung sambil memanggil kambingnya anak bungsu.
***
Rambo dibantu kembali ke tempat yang nyaman sebelum dipindahkan ke mobil.
Andre ingin menggendong sendiri, tetapi Bagas segera mencegah.
"Pinggang Ayah nanti sakit."
"Ini anak Ayah."
"Yang mengangkat juga anak Ayah."
Ditya menunduk sambil pura-pura memeriksa catatan.
Karina harus menggigit bagian dalam pipi supaya tidak tertawa.
Setelah semua siap, Bagas menyelesaikan pembayaran dan menerima petunjuk pemantauan. Andre berdiri dekat pintu, masih menoleh kepada Rambo setiap beberapa detik.
"Terima kasih, nak Karina. Terima kasih, dokter Ditya."
"Sama-sama, Pak."
Andre kemudian menatap Bagas, lalu Karina.
"Bagas ini kalau ada yang sakit memang telaten."
"Ayah," tegur Bagas pelan.
Karina berpura-pura memeriksa kertas.
Ditya justru menatap mereka bergantian dengan alis terangkat.
Menarik juga.
Baru pulang ke Jakarta, adiknya sudah hendak dimasukkan ke pembicaraan keluarga orang lain.
***
Setelah mobil mereka pergi, Karina mengembuskan napas.
Ditya menyenggol bahunya.
"Penggemar baru?"
"Pemilik pasien."
"Yang punya kambing atau yang mengurus pembayaran?"
"Mas!"
Ditya tertawa dan mengangkat kedua tangan.
Sebelum Karina sempat membalas lebih jauh, pintu klinik kembali terbuka.
Seorang perempuan masuk sambil membawa tas dan menyapa pegawai di depan.
"Maaf, tadi agak lama."
Karina langsung menoleh.
"Mbak Reina."
Ditya berhenti tertawa.
Reina juga berhenti ketika melihat laki-laki yang berdiri di samping Karina.
Beberapa detik tidak ada yang bergerak.
Lalu Reina tersenyum, sedikit lebih hati-hati daripada ketika menyapa pegawai tadi.
"Kamu sudah pulang, Dit."
Ditya memasukkan tangan ke saku.
"Iya. Baru sampai."
Karina memandang keduanya, lalu mendadak merasa makanan dari mang Jajan sebaiknya segera datang.
Perut kosong tidak cocok dipakai menghadapi suasana seperti ini.