Rumah Bastian di timur kota ternyata hampir kosong. Bangunannya dua lantai, berhalaman luas dengan pohon mangga tua di sudut pagar, tetapi isinya hanya sebuah kasur, sebuah meja makan kayu dengan empat kursi, rak buku yang separuh terisi kitab-kitab dasar untuk pemula, dan deretan kardus yang belum pernah dibongkar. Lantainya bersih, dindingnya putih polos, dan suara langkah kami bergema di ruang tamu yang lapang.
"Lima tahun aku tinggal di sini," kata Bastian sambil menggaruk tengkuknya dengan canggung. "Aku tidak tahu harus diisi apa. Selama ini aku lebih sering tidur di kantor gudang."
Malam pertama kami salat Isya berjamaah di ruang tengah yang kosong itu, beralaskan sajadah dari mas kawinku. Sebelum takbir, Bastian menoleh kepadaku dengan wajah ragu.
"Bacaanku masih banyak salahnya, Najwa. Kamu yakin mau aku yang jadi imam?"
"Abang sudah menghafal Ar-Rahman dalam sebulan," jawabku. Kata itu lolos begitu saja dari mulutku, dan aku melihatnya tertegun. "Aku yakin."
Dia menatapku lama. "Abang?"
Wajahku memanas. "Anak-anak memanggilmu Bang Bas. Aku tidak mau memakai panggilan yang pernah kupakai untuk orang lain. Jadi Abang saja. Tanpa Bas-nya." Aku menunduk. "Yang itu punyaku sendiri."
Bastian tertawa pelan, tawa yang hangat dan sedikit serak, lalu berbalik menghadap kiblat. Suaranya bergetar ketika mengucapkan takbir, dan aku tersenyum di belakangnya.
Setelah salam kami duduk di lantai karena tidak ada sofa. Lampu ruang tengah memantulkan bayangan kami di dinding putih. Lama kami hanya diam. Lalu aku menceritakan sesuatu yang belum pernah kuucapkan kepada siapa pun, bahkan kepada Ayah.
"Sepanjang pernikahanku yang dulu, aku selalu menjadi orang terakhir yang tahu," kataku. "Orang terakhir yang tahu suamiku menikah lagi. Orang terakhir yang tahu tentang rahimku sendiri. Orang terakhir yang tahu bahwa sahabatku menyimpan rahasia itu. Semua orang tahu lebih dulu daripada aku."
Bastian tidak menyela. Dia hanya mendengarkan, seperti dia mendengarkan anak-anak menjelaskan karya mereka di pameran.
*
Pagi harinya aku terbangun oleh aroma kacang tanah yang digoreng. Di meja makan kayu itu sudah terhidang dua bungkus nasi pecel dengan rempeyek dan peyek teri. Bastian duduk di depannya dengan kaus oblong dan rambut yang masih basah.
"Aku beli di dekat terminal," katanya. "Penjualnya dulu berjualan sederet dengan Mak Ijah. Sambalnya hampir sama."
Aku duduk dan membuka bungkusan itu. Rasanya pedas, manis, dan sedikit asin. Aku membayangkan seorang bocah kurus yang setiap pagi menerima bungkusan serupa dari tangan seorang nenek, dan mataku memanas.
Setelah kami selesai makan, Bastian berdiri dan mengambil tiga map tebal dari dalam salah satu kardus. Dia meletakkannya di atas meja di depanku satu per satu, seperti orang yang menyerahkan barang bukti.
"Ini perusahaan," katanya sambil menyentuh map pertama. "Ekspedisi Mak Ijah. Truknya tiga puluh dua, gudangnya dua di Perak. Ini laporan keuangannya, ini pajaknya. Dua belas truk masih dicicil ke bank. Satu truk tahun lalu kecelakaan di jalan tol, sopirnya selamat, dan ganti ruginya masih kubayar ke pemilik barang."
Aku membuka map itu dengan tangan gemetar. Di kop setiap suratnya tercetak nama seorang nenek penjual nasi pecel. Angka-angka di dalamnya membuatku menahan napas. Pak Kardi tidak berlebihan ketika menyebut usahanya miliaran.
"Ini sumbangan." Bastian menyentuh map kedua. "Rumah biru, dua rumah singgah lain di dekat pelabuhan yang belum pernah kamu lihat, beasiswa anak-anak sopir. Semua tercatat."
Lalu dia menyentuh map ketiga. Map itu lebih tipis, lebih lusuh, dan sudutnya sudah melengkung.
"Ini aku," ucapnya pelan. "Surat dari kepolisian waktu aku ditahan dulu. Nama orang yang kupukul malam itu. Namanya Pak Darmin. Sekarang dia punya warung kopi di dekat stasiun. Modalnya dariku, tapi dia tidak tahu. Setiap Lebaran aku datang ke warungnya dan minta maaf. Sudah sepuluh kali Lebaran, dan dia selalu memaafkan, tapi aku tetap datang."
Aku menatap map lusuh itu, lalu menatap suamiku. Matanya cokelat terang, tenang, dan tidak menyembunyikan apa pun.
"Semalam kamu bilang selalu jadi orang terakhir yang tahu," katanya. "Mulai hari ini, kamu orang pertama yang tahu. Tentang apa pun. Tentang usahaku, utangku, masa laluku, ketakutanku. Kalau ada kabar buruk, kamu yang pertama mendengarnya dariku. Kalau ada kabar baik juga."
Aku tidak sanggup berkata apa-apa. Aku hanya menangis di depan tiga map itu, sementara Bastian menggeser kursinya ke sampingku dan membiarkan aku bersandar di bahunya. Tangan kirinya, tangan yang bertato elang, mengusap punggungku pelan-pelan, persis seperti cara Ayah menenangkanku ketika aku kecil.
*
Siangnya Bastian mengajakku berkeliling rumah yang kosong itu. Dia membuka setiap pintu, menunjukkan setiap ruangan, lalu berhenti di tengah ruang tamu yang paling luas.
"Aku tidak mau membelikanmu rumah yang sudah jadi," katanya. "Rumah ini belum punya bentuk. Aku menunggu ratunya."
"Ratu?" Aku tertawa kecil, malu.
"Ratu yang menentukan bentuk istananya sendiri. Bukan raja yang menentukan untuknya." Dia tersenyum. "Kamu peraih nilai tertinggi di angkatanmu, kata Riana. Rancanglah rumah kita, Najwa. Setiap ruangannya, setiap jendelanya. Aku hanya minta satu pojok untuk rak buku yang lebih besar, supaya kitab-kitab pemulaku punya teman."
Aku berdiri di tengah ruangan itu dan merasakan sesuatu mengembang di dadaku. Di pernikahanku yang dulu, aku hidup di rumah yang dipilih orang lain, dengan jadwal yang ditulis orang lain, di bawah keputusan yang diambil orang lain. Di rumah ini, setiap ruang akan menunggu persetujuanku sebelum diberi isi.
"Ada satu lagi," lanjut Bastian. Dia mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan sebuah foto. Sebidang tanah kosong berpagar seng, dengan pohon jambu di sudutnya. Aku mengenali pohon jambu itu. "Tanah di sebelah rumah biru. Kubeli bulan lalu dari ahli waris yang sama. Rumah biru sudah terlalu kecil untuk anak-anak sekarang."
"Abang mau membangun rumah singgah baru?"
"Aku mau kamu yang merancangnya." Dia menatapku sungguh-sungguh. "Dengan lorong seperti gang, seperti di pameran itu. Supaya anak-anak tahu jalan pulang."
Aku menatap foto tanah kosong itu lama sekali. Lalu aku mengambil buku sketsa dari dalam tasku, duduk bersila di lantai ruang tamu yang kosong, dan mulai menggambar. Bastian duduk di sampingku, memperhatikan setiap garis yang kubuat tanpa banyak bicara.
Sore itu, di rumah yang belum punya bentuk, untuk pertama kalinya aku merasa benar-benar diratukan. Suamiku memberiku sesuatu yang lebih berharga daripada emas mana pun: sebatang pensil, kertas kosong, dan kebebasan untuk menggambar hidupku sendiri.