Pertengahan Juli, pagi hari, halaman masjid Ayah sudah ramai sejak pukul tujuh. Aku melihatnya dari jendela mobil yang membawaku bersama Riana. Di gerbang masjid berdiri dua lelaki berbadan besar dengan kemeja batik cokelat yang serupa. Lengan baju mereka sedikit kependekan, sehingga ujung-ujung tato mengintip di pergelangan tangan. Jemaah yang datang awalnya melambatkan langkah ketika melihat mereka, tetapi kedua lelaki itu membungkuk sopan, menyalami setiap tamu, dan membantu seorang kakek melepas sandalnya di undakan.
"Itu Cak Man sama Gondrong," bisik Riana yang sudah hafal semua cerita dari Pak Darto. "Teman Pak Bastian dari terminal dulu. Sekarang Cak Man mandor di gudang, Gondrong sopir truk paling senior."
"Rambutnya pendek begitu, kenapa dipanggil Gondrong?"
"Katanya dulu sepinggang. Dipotong waktu dia mulai salat."
Aku tersenyum, dan senyum itu membantu meredakan lututku yang sejak subuh gemetar tak keruan.
Riana menuntunku masuk lewat pintu samping, ke bagian perempuan di belakang pembatas kayu berukir. Dari celah ukiran itu aku bisa melihat bagian depan masjid. Ayah duduk bersila di atas karpet hijau dengan baju koko putih dan kopiah hitam baru. Di sampingnya duduk penghulu dari KUA dengan map berisi berkas-berkas. Haji Salim dan Pak Darto duduk di kanan kiri mereka sebagai saksi.
Di depan Ayah duduk Bastian. Dia mengenakan beskap putih gading dan peci hitam. Punggungnya tegak, tetapi dari tempatku duduk aku bisa melihat jari-jarinya yang bertaut di pangkuan terus bergerak, saling meremas.
Pagi itu pernikahanku akan dicatat, disaksikan, dan diumumkan. Aku memikirkan kalimat itu berulang-ulang sejak semalam. Pernikahan kedua Rafa dulu diucapkan diam-diam di rumah saudara Laila, pada malam ketika aku terbaring sendirian di rumah sakit. Pernikahanku hari ini berlangsung di tempat yang paling terang yang bisa kubayangkan, di masjid, di depan Ayah, di depan siapa saja yang ingin melihat.
Penghulu membuka acara dengan membacakan data kedua mempelai. Lalu Ayah mengulurkan tangannya, dan Bastian menyambutnya. Masjid mendadak sunyi. Aku menggenggam tangan Riana sampai dia meringis.
"Ananda Bastian," suara Ayah jernih dan tenang, suara yang setiap Jumat menenangkan ratusan jemaah, "saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Najwa binti Amir, dengan mas kawin seperangkat alat salat dan hafalan surah Ar-Rahman, dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Najwa binti Amir dengan mas kawin tersebut, tunai."
Bastian mengucapkannya dalam satu tarikan napas, tanpa tersendat. Penghulu menoleh kepada kedua saksi.
"Sah?"
"Sah," jawab Haji Salim dan Pak Darto bersamaan.
"Sah!" sahut jemaah serentak.
Riana memelukku dari samping. Aku tidak sadar sedang menangis sampai merasakan kerudungku basah. Di depan, Ayah memejamkan mata dan bibirnya bergerak, melantunkan doa yang tak bisa kudengar.
*
Kemudian Bastian bergeser menghadap kiblat. Penghulu mempersilakan dia membayar mas kawinnya.
Dia menarik napas panjang. Lalu suara beratnya mulai melantunkan ayat pertama surah Ar-Rahman.
Suaranya bergetar sejak ayat pertama. Bacaannya jauh dari merdu, kalah jauh dibandingkan suara Rafa yang dulu membuatku jatuh cinta di malam-malam pertama pernikahan kami. Ada beberapa makhraj yang terdengar sedikit kaku, seperti lidah yang baru belajar membentuk huruf di usia dewasa. Namun, setiap ayat dia lantunkan dengan sangat hati-hati, seolah-olah setiap hurufnya adalah barang berharga yang tidak boleh terjatuh.
Ketika ayat itu datang untuk pertama kalinya, suaranya pecah. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Dia berhenti sejenak, menarik napas, lalu melanjutkan.
Ayat itu datang lagi, dan lagi, dan lagi. Setiap kali datang, aku memejamkan mata. Aku teringat kue tart yang jatuh di lantai, amplop di laci dasbor, kertas jadwal di bawah magnet kulkas, rantang Bunda, tangga pengadilan. Lalu aku teringat teh jahe dalam gelas kertas, nasi kotak hari Selasa, lelaki yang berdiri tiga langkah jauhnya di ujung eskalator. Nikmat mana lagi yang hendak kudustakan?
Di saf belakang, aku mendengar Cak Man terisak keras dan Gondrong menepuk-nepuk punggungnya. Bahkan penghulu dari KUA itu melepas kacamatanya dan menyeka mata.
Bastian menyelesaikan ayat terakhir dengan suara yang nyaris habis. Masjid hening beberapa saat sebelum terdengar gumam hamdalah dari segala penjuru.
Riana menuntunku keluar dari balik pembatas kayu. Aku berjalan pelan menuju bagian depan dan duduk di samping lelaki yang kini menjadi suamiku. Kami menandatangani buku nikah di atas meja kecil, di bawah tatapan penghulu. Lalu Bastian menyerahkan sebuah kotak berpita.
Isinya sajadah, Alquran kecil bersampul kulit, dan sebuah mukena. Warnanya biru muda, polos, tanpa sulaman apa pun. Warna langit ketika cuaca sedang baik.
Aku mengangkat wajah. Bastian sedang menatapku dengan mata basah dan senyum yang sangat canggung.
"Mak Ijah pasti suka warnanya," bisiknya.
"Aku juga suka," jawabku nyaris tak terdengar.
Ayah menghampiri kami setelah penghulu selesai. Dia meletakkan tangannya di bahu Bastian, lalu menatap kami bergantian.
"Selama ini Ayah berjalan di belakang Najwa, menjaga punggungnya," katanya pelan, hanya untuk kami berdua. "Mulai hari ini, kamu yang menjaganya, Nak. Di sampingnya. Jangan di depannya."
"Insyaallah, Ustad," jawab Bastian dengan suara serak.
"Ayah," koreksi Ayah sambil tersenyum. "Mulai hari ini panggil Ayah."
Aku mencium punggung tangan kanan suamiku untuk pertama kali, lalu menggenggam tangan kirinya yang bertato elang, tangan yang dulu dipakai memukul, dengan seluruh hormat yang kumiliki.
*
Walimah kami digelar sederhana di halaman rumah biru siang itu. Tikar-tikar dibentangkan di atas rumput, dan gerobak Pak Kardi berdiri di belokan gang dengan spanduk kecil bertuliskan Gratis Hari Ini. Bu Hajah Maryam dan ibu-ibu majelis taklimnya mengirim berkotak-kotak nasi dan kue. Anak-anak berlarian dengan baju terbaik mereka, sebagian kebesaran karena dipinjam dari kakak masing-masing.
Sari datang memeluk sebuah keranjang anyaman kecil yang dia kerjakan sejak bulan Desember. "Buat Bu Ketua," katanya bangga. "Katanya buat simpan yang paling penting."
Dimas memberiku dompet dari kemasan kopi dengan dua kantong. "Satu buat Bu Ketua, satu buat Bang Bas," jelasnya serius. "Biar tidak rebutan."
Bagas menggambar kami berdua di bawah seekor elang besar dan sebuah rumah biru.
Menjelang sore ponselku bergetar. Satu pesan dari nomor yang sudah lama tidak menghubungiku. Bunda.
"Selamat, Nak. Semoga Allah memberkahimu dan mengumpulkan kalian dalam kebaikan. Semoga dia memberimu kebahagiaan yang tidak bisa Bunda berikan."
Aku membaca pesan itu dan membalasnya dengan doa yang sama tulusnya. Lalu aku menyimpan ponsel ke dalam keranjang anyaman buatan Sari, bersama dompet buatan Dimas. Di seberang halaman, suamiku sedang duduk bersila di antara anak-anak, tertawa keras mendengar lelucon Riana. Tangan kirinya merangkul bahu Bagas.
Hari itu langit di atas rumah biru benar-benar biru.