Desember datang lagi bersama hujan-hujan sore yang tak bisa ditebak. Pada suatu Minggu pagi di awal bulan itu, halaman di sebelah rumah biru dipenuhi kursi plastik, tenda biru muda, dan anak-anak yang tidak bisa duduk diam.
Bangunan di depan kami masih wangi cat. Dari luar ia tampak sederhana, rumah satu lantai dengan atap tinggi dan jendela-jendela lebar menghadap taman. Namun, untuk masuk ke ruang utamanya, siapa pun harus berjalan lebih dulu melewati lorong sempit yang berkelok, berdinding bata ekspos dan bambu, persis seperti gang menuju rumah biru. Di dinding lorong itu tergantung foto-foto anak-anak, dan di ujungnya, sebelum ruangan terbuka lebar dan terang, tergantung foto seorang perempuan tua berkebaya lusuh yang tersenyum tanpa gigi.
Aku merancang setiap sudutnya selama berbulan-bulan di meja makan kayu di rumah kami, di meja makan Ayah yang penuh goresan, bahkan di bangku kayu di samping gerobak Pak Kardi. Anak-anak memilih namanya sendiri dengan batu kerikil di dalam kaleng bekas susu. Nama yang menang ditulis Bagas dengan cat biru di papan kayu di atas pintu.
Rumah Pulang.
Ayah membuka acara dengan doa. Suaranya sedikit lebih serak daripada tahun lalu, tetapi masih jernih. Bu Hajah Maryam dan ibu-ibu majelis taklimnya duduk di barisan depan bersama Haji Salim yang kini memakai kursi roda. Cak Man dan Gondrong sibuk mengatur tamu dengan kemeja batik yang kali ini ukurannya pas. Pak Darto berdiri di dekat pintu dengan buku tamu, dan Riana berlarian ke sana kemari dengan papan jalan di tangan, sibuk seperti biasa.
Ketika Ayah selesai berdoa, Bastian memintaku maju untuk menggunting pita. Aku menolak, menyuruh Dimas, Sari, dan Bagas yang melakukannya. Ketiganya memegang gunting bersama-sama, menghitung sampai tiga, lalu memotong pita biru muda itu sambil berteriak sekencang-kencangnya. Tepuk tangan bergemuruh. Anak-anak berhamburan masuk ke lorong berkelok itu, tertawa, saling dorong, dan berlomba menemukan foto mereka sendiri di dinding.
Bastian berdiri di sampingku, persis seperti pesan Ayah di hari akad.
"Ratu," bisiknya.
"Berisik," balasku, dan dia tertawa.
*
Sore harinya aku pergi ke pusat perbelanjaan itu untuk mengambil pesanan di toko Bu Lies. Tokonya kini ramai, rak-raknya tertata seperti rancanganku, dan dompet-dompet kemasan kopi buatan anak-anak berjajar paling depan di dekat kasir.
Di lantai satu, ketika aku hendak menuju pintu keluar, langkahku terhenti.
Di bangku dekat eskalator, bangku yang sama tempat Laila terisak di bulan Januari lalu, duduk seorang lelaki yang sangat kukenal. Rafa sedang menyuapi seorang bayi yang duduk di kereta dorong. Bayi laki-laki itu montok, berpipi merah, dan hidungnya tinggi persis hidung ayahnya. Laila duduk di sebelah mereka, membuka bungkus biskuit. Gamisnya sederhana, wajahnya terlihat lebih lelah dan lebih tenang daripada yang kuingat.
Rafa mengangkat wajah, dan mata kami bertemu.
Ada jeda yang panjang. Lalu Rafa mengangguk pelan dengan wajah yang tenang. Laila menoleh mengikuti arah pandangnya. Dia menatapku sejenak, lalu ikut mengangguk.
Aku membalas anggukan mereka. Hanya itu. Aku melanjutkan langkah menuju pintu keluar, dan di dalam hati aku mendoakan bayi itu sekali lagi dengan namanya. Semoga kau tumbuh dengan ayah yang jujur, Rayyan. Semoga kedua orang tuamu belajar dari luka yang mereka buat.
Di luar, gerimis mulai turun. Aku berdiri di bawah kanopi dan menyadari sesuatu. Setahun lalu, di lantai yang sama, aku dituduh berselingkuh oleh suamiku sendiri. Hari ini aku melewatinya dengan langkah ringan, membawa kantong pesanan dari toko yang kurancang sendiri.
*
Malam itu rumah kami terasa hangat. Rumah di timur kota itu kini punya bentuk. Ada sofa panjang di ruang tengah, rak buku besar di satu pojok yang mulai penuh, dan jendela-jendela lebar yang kubuka setiap pagi supaya cahaya masuk. Di dinding ruang makan tergantung gambar Bagas dari lomba menggambar dulu, elang besar dengan rumah biru di bawah sayapnya.
Bulan September lalu aku menjalani tindakan yang dulu ditawarkan Dokter Wulan. Biayanya kubayar dengan uang hasil merancang toko Bu Lies dan dua kafe kecil di Surabaya. Abang menungguku di lorong rumah sakit sambil membaca mushaf kecil pemberian Ayah. Perlengketannya berkurang. Aku belum hamil, dan mungkin tidak akan pernah. Namun, pagi-pagiku tetap penuh dengan anak-anak yang memanggilku Bu Ketua, dan malam-malamku penuh dengan seorang lelaki yang setiap kali pulang selalu menceritakan harinya lebih dulu sebelum aku sempat bertanya.
Aku sedang membaca di sofa ketika bel pintu berbunyi berkali-kali, tidak sabar. Kudengar suara anak-anak berbisik keras di luar, lalu suara Riana yang menyuruh mereka diam.
Aku membuka pintu.
Bastian berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan memegang sebuah piring besar. Di atasnya ada sebuah kue tart yang miring ke satu sisi. Krimnya tidak rata, taburan cokelatnya menggumpal di beberapa tempat, dan tulisan di atasnya agak mencong. Di belakangnya berdesakan Dimas, Sari, Bagas, Riana, dan Pak Darto, semuanya dengan wajah tegang.
"Jalannya pelan-pelan, Bang Bas!" seru Sari. "Jangan sampai jatuh!"
"Iya, iya," jawab Bastian, dan aku melihat tangan kirinya, tangan bertato elang itu, gemetar sedikit menahan piring.
Dia melangkah masuk dengan sangat hati-hati, seolah-olah membawa barang paling berharga di dunia. Anak-anak mengikutinya sambil menahan napas. Riana menutup mulutnya, menahan tawa. Bastian berjalan melewati ruang tengah, menuju meja makan yang kurancang sendiri, dan meletakkan piring itu di atasnya pelan-pelan.
Kue itu berdiri di sana. Miring, tidak rata, tetapi utuh.
Anak-anak bersorak. Dimas melompat-lompat. Bagas menunjuk tulisan di atas kue dengan bangga. Aku membacanya, dan mataku langsung panas.
Kue Utuh untuk Bu Ketua.
"Kamu pernah cerita," kata Bastian pelan sambil menatapku, "malam ini dulu milik kue yang jatuh. Mulai tahun ini biar jadi milik kue yang utuh. Kami bikin sendiri sejak siang di dapur rumah biru. Gosong dua kali."
"Tiga kali," koreksi Riana.
Aku tertawa dan menangis di saat yang sama. Setahun lalu, di malam yang sama, aku memasak sepenuh hati untuk seorang lelaki yang menyimpan rahasia di setiap sudut hidupnya. Kue tart buatanku jatuh di lantai, dan aku mengira hidupku ikut hancur bersamanya. Malam ini, di rumah yang dindingnya kugambar sendiri, sebuah kue yang tidak sempurna berdiri utuh di atas meja, dibawa oleh tangan yang dulu pernah dipakai untuk memukul dan kini dipakai untuk menjaga.
Sari menarik ujung bajuku. "Bu Ketua, potong!"
Aku mengambil pisau. Bastian berdiri di sampingku, dan tangannya ikut memegang tanganku di gagang pisau itu. Kami memotong kue itu bersama-sama, potong demi potong, sampai setiap orang di ruangan itu kebagian.
Tidak ada yang jatuh malam itu.
TAMAT