Malam pertama setelah lamaran itu aku tidak salat istikharah. Aku terlalu takut jawabannya datang sebelum aku siap mendengarnya. Aku hanya duduk di tepi ranjang besi kamar lamaku, menatap kalender dinding yang penuh tanda centang, dan bertanya kepada diriku sendiri dengan jujur.
Apakah aku kesepian?
Aku mencoba mendengarkan rumah Ayah. Dari ruang tengah terdengar radio tua yang memutar siaran kajian malam, suara penceramah yang sesekali diselingi tawa Ayah ketika ada lelucon yang menurutnya lucu. Di dapur, dua piring yang tadi kami pakai makan malam sudah kering di rak. Besok pagi Riana akan datang membawa kertas-kertas pola untuk anak-anak. Lusa aku harus menyerahkan gambar kerja toko Bu Lies yang belum selesai. Hari-hariku penuh. Rumah ini tidak sepi.
Lalu apakah aku hanya berterima kasih? Bastian membela namaku, menanggung nasi kotak anak-anak, menjaga jarak ketika aku memintanya. Mungkin aku hanya merasa berutang.
Aku memejamkan mata dan membayangkan wajahnya sore itu, telinganya yang memerah, suaranya yang pecah ketika bercerita tentang Mak Ijah. Yang kurasakan bukan utang. Aku tidak tahu bagaimana menamainya, tetapi aku tahu itu bukan utang.
Malam kedua aku salat istikharah. Juga malam ketiga, keempat, dan seterusnya.
Di sela malam-malam itu, ketakutan lain datang mengetuk. Bagaimana kalau aku salah lagi? Enam tahun lalu aku juga yakin. Enam tahun lalu aku juga melihat lelaki yang baik, berilmu, dan lembut tutur katanya. Aku menimbang ketakutan itu lama sekali. Lalu aku teringat sore di ruang tamu, ketika Bastian menceritakan hal-hal paling buruk tentang dirinya sebelum menyampaikan niatnya. Rafa dulu datang membawa hafalan dan nama besar pondoknya. Bastian datang membawa luka-lukanya sendiri dan meletakkannya di atas meja, supaya kami bisa melihatnya lebih dulu.
*
Pada malam keenam, Ayah mengajakku bicara di meja makan setelah salat Isya. Dia menuangkan teh ke dalam gelas bermotif mawar kecil milik Ibu, lalu duduk di seberangku seperti malam ketika aku pertama kali pulang.
"Ayah mau bilang satu hal, lalu Ayah diam," katanya. "Keputusannya tetap milikmu."
Aku mengangguk.
"Jangan menikah karena sepi, Nak. Jangan menikah karena merasa harus menggantikan yang hilang. Jangan juga karena Ayah sudah tua dan kamu takut sendirian kalau Ayah tiada." Dia tersenyum tipis. "Tua Ayah bukan jadwal nikahmu."
Aku tertawa kecil meski mataku basah.
"Dulu Ayah yang memilihkan," lanjutnya, suaranya merendah. "Ayah memilih dengan mata Ayah sendiri, dan mata Ayah ternyata keliru. Kali ini Ayah hanya ingin mendengar. Kalau kamu bilang ya, Ayah akan jadi walimu dengan bahagia. Kalau kamu bilang tidak, Ayah akan tetap di sini, menuangkan teh untukmu di gelas ibumu."
Aku meraih tangan Ayah di atas meja. Kulitnya keriput dan hangat, tangan yang dulu mengepang rambutku dan menungguiku di depan pondok setiap libur semester.
"Ayah, aku tidak sepi," kataku. "Ayah sudah memastikan aku tidak pernah sepi."
Ayah meremas tanganku, lalu benar-benar diam seperti janjinya. Dia hanya menyesap tehnya pelan-pelan, dan sesekali melirikku dengan mata yang berbinar.
*
Esok paginya Riana datang dengan kertas-kertas pola seperti biasa. Kami duduk di teras sambil memotong kertas untuk anak-anak. Lama dia tidak bicara, sampai akhirnya dia meletakkan guntingnya.
"Najwa, aku mau tanya sesuatu, tapi kamu jangan marah."
"Tanya saja."
"Kamu sudah benar-benar memaafkan aku?" Riana menatap kertas di pangkuannya. "Soal pesan yang kuhapus itu. Kadang aku mikir, kalau dulu aku berani bilang, mungkin kamu tidak perlu sesakit itu."
Aku menghentikan guntingku. Riana, sahabatku sejak pondok, yang berbagi selimut tipis denganku di malam-malam dingin Jawa Timur. Riana yang bekerja tanpa bercanda selama berhari-hari di ruang pameran karena merasa bersalah. Riana yang bersaksi di pengadilan dengan suara bergetar.
"Aku sudah memaafkanmu sejak kue lumpur itu, Rin," kataku. "Aku cuma belum sanggup bilang."
Riana menatapku lama, lalu bibirnya mulai bergetar. Dia memelukku begitu erat sampai kertas-kertas pola berhamburan dari pangkuan kami.
"Jadi kalau kamu bilang ya sama Pak Bastian," isaknya di bahuku, "aku boleh jadi pendamping pengantinmu?"
"Siapa lagi?"
Riana tertawa sambil menangis, lalu menangis sambil tertawa, persis tokoh sinetron yang dia tonton setiap malam. Aku ikut tertawa. Kertas-kertas pola itu kami punguti bersama dengan mata yang sama-sama sembap.
*
Subuh hari ketujuh, setelah salam terakhir salat istikharah, aku duduk lama di atas sajadah. Hatiku tenang, setenang permukaan kolam di pagi hari. Aku tidak mendengar suara apa pun dan tidak melihat tanda apa pun. Aku hanya tahu, dengan cara yang tak bisa kujelaskan, bahwa jawabanku sudah ada sejak lama dan baru sekarang berani kuakui.
Aku keluar kamar. Ayah baru pulang dari masjid dan sedang melepas sandalnya di teras.
"Ayah," kataku. "Aku mau."
Ayah menatapku lama, lalu mengucap hamdalah dengan suara bergetar dan memelukku di ambang pintu.
Sore harinya Bastian datang bersama Haji Salim. Kali ini aku duduk di samping Ayah di ruang tamu, tanpa tirai, dengan Riana di sebelahku. Ketika Ayah menyampaikan jawabanku, Bastian menunduk lama. Bahunya naik turun. Haji Salim menepuk punggungnya keras-keras sambil tertawa.
"Soal mahar," kata Haji Salim setelah suasana tenang, "Bas sudah menyiapkan. Rumah di daerah timur kota, logam mulia, apa pun yang Nak Najwa minta."
Aku menggeleng pelan. "Aku tidak butuh rumah atau emas, Bastian. Aku pernah tinggal di rumah yang bagus dengan suami yang pandai memberi hadiah. Ternyata yang paling kubutuhkan tidak bisa dibeli."
Bastian menatapku, menunggu.
"Aku minta seperangkat alat salat," lanjutku. "Dan hafalan surah Ar-Rahman. Kau sendiri yang membacanya di hari akad."
Ruang tamu hening. Ayah menoleh kepadaku dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Dia tahu kenapa aku memilih surah itu. Di dalamnya ada satu ayat yang diulang berkali-kali, pertanyaan yang selalu membuat dadaku bergetar sejak kecil. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Setelah bertahun-tahun hidup di dalam dusta, aku ingin rumah tanggaku yang baru dimulai dengan pertanyaan itu.
Bastian terdiam lama. Lalu dia tersenyum, senyum yang sedikit gugup.
"Aku baru bisa membaca Alquran waktu umur dua puluh, Najwa. Surah itu panjang." Dia menarik napas dalam. "Beri aku waktu sebulan. Aku akan menghafalnya."
"Sebulan," ulangku.
"Kalau begitu akadnya bulan depan," kata Ayah sambil menyeka sudut matanya. "Di masjid kita."
Malam itu, ketika aku sedang menuang air hangat untuk Ayah, ponsel Ayah berdenting di atas meja makan. Ayah membacanya, tersenyum, lalu menyodorkannya kepadaku tanpa berkata apa-apa. Pesan dari nomor yang baru dia simpan sore tadi.
"Assalamualaikum, Ustad. Saya mulai malam ini. Ayat pertama sampai keempat sudah. Masih tujuh puluh empat lagi. Mohon doanya."
Aku membaca pesan itu dua kali, lalu mengembalikan ponsel kepada Ayah dengan wajah panas. Ayah terkekeh dan membalasnya dengan satu doa panjang, mengetik huruf demi huruf dengan jari telunjuknya yang lambat.