Mereka datang Sabtu sore, selepas Asar. Aku melihat mereka dari celah gorden kamar lamaku. Bastian turun dari mobil lebih dulu dan membukakan pintu untuk seorang lelaki tua berjanggut putih yang berjalan dengan tongkat. Hari itu Bastian mengenakan kemeja batik berlengan panjang yang dikancingkan sampai pergelangan, sehingga tato elangnya tersembunyi. Rambutnya disisir rapi. Di tangannya ada sebuah kotak kue yang dibungkus kain.
Riana sudah datang sejak siang. Dia membantuku memilih kerudung, lalu mengganti pilihannya tiga kali, lalu menyerah dan mengatakan semuanya cocok. Kini dia duduk di sebelahku di ruang tengah, di balik tirai kain batik yang dipasang Ayah pagi tadi sebagai pembatas dengan ruang tamu. Dari balik tirai itu aku bisa mendengar semuanya tanpa terlihat.
"Assalamualaikum, Ustad."
"Waalaikumussalam. Silakan masuk."
Suara kursi rotan bergeser. Suara cangkir diletakkan di atas lepek. Aku menggenggam tangan Riana erat-erat. Telapaknya sama basahnya dengan telapakku.
Lelaki tua itu bicara lebih dulu. Suaranya serak dan logatnya kental, logat orang pelabuhan yang sudah puluhan tahun berteriak di antara deru mesin.
"Saya Salim, Ustad. Orang-orang di Perak memanggil saya Haji Salim. Bas ini sudah seperti anak saya sendiri." Dia terkekeh pelan. "Sebelas tahun lalu dia datang ke gudang saya. Kurus, bertato, matanya merah, minta kerja apa saja asal tidak disuruh mencuri lagi. Saya kasih dia mengangkat karung. Sekarang truknya lebih banyak daripada punya saya."
Ayah tertawa kecil. Aku mendengar Haji Salim berdeham.
"Kedatangan kami untuk bersilaturahmi, Ustad. Dan kalau Ustad berkenan, menyampaikan niat baik anak ini. Tapi Bas minta bicara sendiri lebih dulu. Katanya ada yang harus Ustad dengar dari mulutnya."
Hening sejenak. Lalu suara berat yang sangat kukenal itu terdengar, lebih pelan daripada biasanya.
"Ustad, sebelum saya menyampaikan maksud saya, saya ingin Ustad tahu siapa saya. Supaya kalau ada yang Ustad dengar tentang saya dari orang lain, Ustad sudah mendengarnya dari saya lebih dulu."
Riana menoleh kepadaku dengan mata membulat. Aku menahan napas.
Bastian menceritakan semuanya. Terminal, emperan toko, sisa makanan warung. Masa remajanya sebagai penagih uang keamanan yang ditakuti sopir angkot dan pedagang kaki lima. Tato elang yang dibuatnya di usia enam belas. Lalu sebuah malam di usia sembilan belas, perkelahian yang membuat seorang lelaki masuk rumah sakit dan membuatnya ditahan polisi selama enam bulan.
"Saya keluar dari tahanan seminggu setelah Mak Ijah meninggal, Ustad. Nenek yang memberi saya makan setiap pagi. Saya tidak sempat menyolatkannya, tidak sempat minta maaf." Suaranya sedikit bergetar. "Sejak itu saya bersumpah tangan ini tidak akan memukul lagi. Saya ke Perak, Haji Salim menampung saya. Umur dua puluh saya baru belajar membaca huruf hijaiah, Ustad, bersama anak-anak TPA. Saya duduk di belakang mereka dan ditertawakan."
Tidak ada yang bersuara di ruang tamu. Aku mendengar Ayah meletakkan cangkirnya pelan-pelan.
"Usaha saya sekarang ekspedisi, Ustad. Truk-truk pengangkut barang dari pelabuhan, dan gudang di Perak. Semuanya bisa Ustad periksa, dari pajaknya sampai utangnya. Saya tidak menyembunyikan apa pun."
Hening panjang. Lalu suara Ayah terdengar, pelan, nyaris seperti bicara pada dirinya sendiri.
"Kau ...." Ayah berhenti. "Sepuluh tahun lalu saya mengisi kajian Subuh di masjid dekat pelabuhan. Setiap Kamis. Ada seorang pemuda yang selalu duduk di saf paling belakang, memakai baju lengan panjang padahal udara panas sekali. Suatu pagi, setelah semua jemaah pulang, pemuda itu menghampiri saya dan bertanya sesuatu."
Aku mendengar Bastian menarik napas tajam.
"Dia bertanya apakah tobat tangan yang pernah memukul orang masih diterima Allah," lanjut Ayah dengan suara bergetar. "Kau orangnya?"
"Saya, Ustad." Suara Bastian pecah. "Ustad menjawab, selama matahari belum terbit dari barat, pintu tobat masih terbuka. Ustad bilang tangan yang dulu memukul bisa menjadi tangan yang memberi makan. Kalimat itu yang membuat saya bertahan sampai sekarang."
Di balik tirai, Riana menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.
"Saya tidak pernah tahu nama pemuda itu," kata Ayah. "Tapi saya sering mendoakannya."
"Doa Ustad sampai," jawab Bastian lirih.
Haji Salim berdeham lagi, kali ini lebih keras, mungkin untuk menyembunyikan suaranya yang ikut serak. Ayah bertanya kepada Bastian mengapa dia ingin menikahi putrinya. Lama Bastian tidak menjawab.
"Karena saya melihat dia menghargai karya anak-anak lebih daripada menghargai dirinya sendiri, Ustad," katanya akhirnya. "Lalu saya melihat dia belajar menghargai dirinya. Saya ingin menjadi orang yang menjaga dia tetap seperti itu."
Aku berdiri sebelum Riana sempat menahanku. Aku menyibak tirai batik itu dan melangkah ke ruang tamu. Ketiga lelaki itu menoleh bersamaan. Bastian langsung menunduk.
"Ayah, boleh aku bicara?"
Ayah menatapku sejenak, lalu mengangguk dan menggeser duduknya, memberiku tempat di sampingnya. Aku duduk dan merapikan ujung rokku dengan tangan gemetar.
"Bastian," ucapku. Suaraku bergetar, tetapi aku memaksa diriku menatapnya. "Sebelum kau bicara lebih jauh, kau harus tahu sesuatu tentang aku. Dari mulutku sendiri."
Dia mengangkat wajah. Mata cokelat terangnya tidak lagi setajam ketika pertama kali kami bertemu di halaman rumah biru.
"Rahimku terluka sejak tahun pertama pernikahanku yang lalu. Ada perlengketan di dalamnya. Dokter bilang peluangku untuk hamil kecil. Ada tindakan yang bisa dicoba, tapi aku belum memutuskan apakah akan mencobanya." Aku menelan ludah. "Mungkin aku tidak akan pernah bisa memberimu anak."
Ruang tamu sunyi. Aku mendengar detak jam dinding dan bunyi motor lewat di jalan depan.
"Aku tidak datang untuk rahimmu, Najwa," jawab Bastian pelan dan jelas. "Aku datang untukmu. Kalau Allah memberi kita anak, alhamdulillah. Kalau tidak, rumah biru sudah penuh anak-anak yang memanggilmu Bu Ketua. Itu sudah lebih dari cukup untukku."
"Itu bukan syarat?"
"Tidak ada syarat apa pun." Dia menggeleng. "Kalau kamu memutuskan mencoba tindakan itu, aku akan menemanimu. Kalau kamu memutuskan tidak, aku juga akan menemanimu. Itu tubuhmu. Keputusannya milikmu."
Kalimat itu nyaris sama dengan kalimat Dokter Wulan, tetapi mendengarnya dari mulut seorang lelaki yang ingin menjadi suamiku membuat sesuatu di dadaku luruh pelan-pelan.
"Beri aku waktu," kataku. "Aku ingin salat istikharah."
"Selama yang kamu butuhkan," jawab Bastian.
Haji Salim tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang tinggal beberapa. "Ustad, anak ini semalam tidak bisa tidur. Kalau soal truk, semua nomor polisinya dia hafal di luar kepala. Tapi soal melamar, dari tadi pagi dia sudah tiga kali ganti kemeja."
Ayah tertawa, Riana tertawa di balik tirai, dan aku melihat telinga Bastian memerah sampai ke ujungnya. Untuk pertama kalinya sejak kami bertemu, lelaki yang pernah ditakuti seluruh terminal itu terlihat salah tingkah.