Bulan April datang membawa kemarau pertama. Rumput di halaman rumah biru mulai menguning di ujung-ujungnya, dan anak-anak lebih suka belajar di gazebo daripada di dalam ruangan yang pengap. Pak Darto mengusulkan lomba menggambar untuk mengisi akhir pekan. Temanya dipilih anak-anak sendiri lewat pemungutan suara dengan batu kerikil di dalam kaleng bekas susu: Yang Paling Aku Sayangi.
Aku mengurus semuanya bersama Riana. Kertas gambar, krayon, meja-meja pendek dari papan bekas, dan hadiah-hadiah kecil yang kubungkus dengan kertas koran bekas berpita rafia. Di grup panitia, Bastian menulis bahwa dia akan menanggung semua hadiah dan menjadi salah satu juri, kalau anak-anak tidak keberatan dinilai oleh orang yang tidak pandai menggambar.
Minggu pagi halaman rumah biru riuh seperti pasar. Tiga puluhan anak duduk bersila di atas tikar, lidah terjulur, tangan belepotan krayon. Bastian datang dengan kaus lengan pendek berwarna gelap, dan tato kepala elang di lengan kirinya terlihat jelas. Paruhnya melengkung tajam, matanya menatap lurus ke depan.
Dia duduk di tikar paling ujung, di antara anak-anak, cukup jauh dari teras tempat aku dan Riana mengatur meja juri. Sejak aku kembali ke rumah Ayah, dia tak pernah sekali pun berada di dekatku tanpa ada orang lain di antara kami. Setiap urusan disampaikannya lewat grup atau lewat Pak Darto. Kadang aku bertanya-tanya apakah dia melakukannya karena menghormatiku, atau karena dia memang tidak ingin terlalu dekat. Lalu aku menegur diriku sendiri karena memikirkannya.
Menjelang siang, Bagas mengangkat gambarnya tinggi-tinggi. Seekor burung besar berwarna cokelat terbang di atas deretan atap seng dan bus-bus yang diparkir.
"Bang Bas, ini elang kayak di tangan Abang!" serunya. "Abang dulu anggota geng, ya? Kata anak kampung sebelah, orang bertato itu pasti anggota geng."
Anak-anak lain terdiam. Beberapa melirik tangan Bastian dengan mata membulat. Riana menyikut lenganku pelan. Aku menahan napas, menunggu bagaimana lelaki itu akan menjawab.
Bastian tidak tertawa seperti dulu ketika aku menuduhnya penjahat. Dia menatap gambar Bagas lama sekali, lalu menepuk tikar di sebelahnya, menyuruh bocah itu duduk.
"Dulu Abang tinggal di terminal," katanya. Suaranya yang berat terdengar pelan, tetapi anak-anak langsung merapat. "Umur Abang lebih kecil daripada kamu, Bagas. Tidurnya di emperan toko, makannya dari sisa warung. Setiap pagi Abang lihat burung-burung terbang di atas atap terminal. Abang ingin jadi elang. Kuat, ditakuti, tidak bisa diganggu siapa pun."
"Terus, Bang?"
"Terus Abang salah paham." Bastian menatap lengan kirinya. "Abang kira jadi kuat itu artinya membuat orang takut. Jadi tangan ini dulu sering dipakai memukul. Mengambil uang orang yang tidak mau memberi. Tato ini Abang buat waktu umur enam belas, supaya orang langsung takut begitu melihat Abang."
Halaman itu senyap. Bahkan Sari, yang biasanya tidak bisa diam, menggenggam krayonnya tanpa bergerak.
"Ada seorang nenek yang setiap pagi memberi Abang makan. Namanya Mak Ijah. Dia satu-satunya orang yang tidak takut sama Abang. Setiap Abang pulang dengan muka babak belur, dia mengobati sambil memarahi Abang." Bastian tersenyum kecil, senyum yang membuat dadaku nyeri. "Rumah ini dulu rumahnya. Dia ingin sekali mengecatnya biru, tapi tidak pernah punya uang. Waktu dia meninggal, Abang tidak sempat datang. Abang sedang menanggung akibat kenakalan Abang sendiri."
"Bang Bas sedih?" tanya Dimas lirih.
"Sedih sekali. Sampai sekarang." Bastian mengusap kepala Dimas. "Sesudah itu Abang belajar bahwa elang yang sebenarnya bukan yang paling ditakuti. Elang yang sebenarnya bisa terbang tinggi dan melihat jauh. Dari atas sana dia tahu mana yang perlu dijaga."
"Kenapa tatonya tidak dihapus, Bang?" tanya Bagas.
"Supaya Abang ingat." Bastian mengangkat lengan kirinya dan memperlihatkannya kepada anak-anak. "Setiap kali melihat elang ini, Abang ingat dulu tangan ini dipakai untuk apa. Dan Abang ingat sekarang harus dipakai untuk apa."
Bagas menatap lengan itu lama, lalu menatap gambarnya sendiri. Dengan krayon hitam, dia menambahkan sesuatu di bawah sayap elangnya. Sebuah rumah kecil berwarna biru.
Aku memalingkan wajah dan berpura-pura sibuk dengan kertas penilaian. Riana mencondongkan tubuh ke telingaku.
"Ukhtiku sayang," bisiknya, "tundukkan pandanganmu."
Aku tertawa pelan meski mataku basah. Kalimat itu pernah dia ucapkan di halaman yang sama, ketika aku masih istri orang dan hatiku terlalu cepat berdebar. Bedanya, kali ini Riana mengucapkannya sambil tersenyum lebar, seperti seseorang yang tahu sesuatu yang belum berani kuakui.
*
Pemenang lomba diumumkan sore harinya. Bagas juara pertama dengan elang dan rumah birunya. Dimas juara kedua dengan gambar toko kecil bertuliskan Toko Dimas, penuh dompet warna-warni. Sari juara ketiga. Gambarnya memperlihatkan rumah biru, deretan anak-anak, dua orang dewasa yang bergandengan tangan di bawah matahari, dan seekor burung cokelat besar di langit.
"Ini siapa, Sari?" tanya Riana dengan nada jahil sambil menunjuk dua orang dewasa itu.
"Bu Ketua sama Bang Bas," jawab Sari polos. "Soalnya mereka yang paling aku sayangi."
Wajahku memanas sampai ke telinga. Di ujung tikar, Bastian tiba-tiba sangat sibuk menghitung hadiah yang tersisa. Pak Darto terbatuk-batuk menahan tawa.
*
Bulan Mei berlalu dengan cepat. Bu Lies, pemilik toko suvenir di lantai dua mal itu, memintaku merancang ulang tata letak tokonya setelah melihat foto-foto pameran. Itu pekerjaan berbayar pertamaku sejak lulus kuliah. Aku menggambar di meja makan Ayah setiap malam, dan Ayah sering duduk di seberangku sambil membaca kitab, sesekali mengintip sketsaku dan mengangguk-angguk seolah-olah dia paham.
Setiap malam aku juga membubuhkan tanda centang di kalender dinding kamar lamaku. Di awal Juni, tanda yang kesembilan puluh akhirnya terisi. Aku memandanginya lama setelah salat Subuh. Masa iddahku sudah selesai.
Siang itu Riana datang ke rumah Ayah dengan wajah yang aneh, setengah gugup setengah ingin meledak.
"Najwa," katanya sambil meremas ujung kerudungnya. "Ada yang titip pertanyaan. Bukan untukmu. Untuk Om Amir."
"Siapa?"
"Pak Bastian." Riana menelan ludah. "Dia bertanya, apakah dia boleh datang menemui ayahmu. Bersama Haji Salim, orang tua yang dulu menampungnya di Perak. Dia bilang dia tidak mau bicara apa pun padamu sebelum bicara dengan ayahmu lebih dulu."
Jantungku berdegup begitu keras sampai aku yakin Riana bisa mendengarnya. Aku tidak menjawab. Aku berjalan ke ruang tengah tempat Ayah sedang membaca, dan Riana menyampaikan pertanyaan itu sekali lagi dengan suara gemetar.
Ayah menutup kitabnya pelan. Dia menatapku cukup lama, seolah-olah sedang membaca sesuatu di wajahku yang tak bisa kusembunyikan.
"Suruh dia datang," katanya.