Ayah mengantarku ke rumah sakit dengan sedan hitamnya. Dia menunggu di lobi sambil membaca mushaf kecil yang selalu dia bawa di saku baju koko, sementara aku naik sendiri ke lantai poli kandungan. Lorong itu masih bercat krem, kursi-kursinya masih dingin, dan perempuan-perempuan berperut besar masih duduk bersandar di bahu suami masing-masing. Bedanya, kali ini aku tidak menghitung ubin.
Dokter Wulan menyambutku dengan senyum yang lebih hangat daripada tiga bulan lalu. Pemeriksaannya tidak lama. Setelah aku kembali duduk di depan mejanya, dia melepas kacamata berbingkai cokelatnya dan meletakkannya di atas berkas.
"Perlengketannya masih ada, Bu Najwa," katanya pelan. "Tidak seberat yang saya khawatirkan, tapi masih ada."
Aku mengangguk. Kalimat itu sudah kusiapkan berhari-hari, jadi ketika akhirnya terdengar, dadaku hanya terasa sedikit nyeri, seperti luka lama yang tersentuh.
"Ada tindakan yang bisa dicoba untuk membuka perlengketan itu," lanjut Dokter Wulan. "Saya tidak akan menjanjikan apa-apa. Peluang hamil sesudahnya tetap kecil. Tapi kecil itu bukan nol."
"Apa yang Dokter sarankan?"
"Saya hanya bisa menjelaskan pilihannya, Bu. Keputusannya milik Ibu." Dia tersenyum tipis. "Banyak perempuan yang duduk di kursi itu memutuskan untuk suaminya, untuk mertuanya, untuk orang-orang di arisan. Saya ingin Ibu memutuskan untuk diri Ibu sendiri."
Aku menatap jendela di belakangnya. Langit Surabaya siang itu biru bersih, tanpa awan hujan yang biasanya menggantung di bulan Maret.
"Saya akan memikirkannya, Dok," jawabku. "Untuk saya sendiri."
Dokter Wulan memberiku selembar kertas berisi penjelasan dan perkiraan biaya. Aku melipatnya dan memasukkannya ke dalam map plastik biru. Di lobi, Ayah menutup mushafnya begitu melihatku keluar dari lift.
"Bagaimana, Nak?"
Aku menceritakan semuanya di dalam mobil, kalimat demi kalimat, tanpa menyembunyikan apa pun. Ayah mendengarkan sambil menyetir pelan. Ketika aku selesai, dia hanya bertanya satu hal.
"Kamu ingin mencobanya?"
"Belum tahu, Yah. Tapi kalau aku mencobanya, aku ingin membayarnya dengan uangku sendiri." Aku menatap tabung karton yang kini selalu kubawa di jok belakang, berisi ijazah dan beberapa sketsa. "Aku ingin bekerja lagi."
Ayah tersenyum, dan itu jawaban yang cukup.
*
Siang itu juga aku minta diturunkan di jalan besar dekat gang rumah biru. Riana sudah menunggu di mulut gang dengan dua kantong plastik berisi buku tulis baru untuk anak-anak.
Di belokan gang, gerobak mie ayam yang dulu menjadi tempat persembunyianku sedang berjualan. Asap tipis mengepul dari dandang, dan seorang lelaki tua berkaus oblong putih sedang meracik mangkuk-mangkuk dengan cekatan. Anak-anak rumah biru biasa memanggilnya Pak Kardi.
"Pak, dua puluh bungkus," kata Riana. "Buat anak-anak."
Pak Kardi mengangguk, lalu menatapku lama sambil menyipitkan mata. Senyumnya merekah, memperlihatkan dua gigi depan yang dilapisi emas.
"Ini Mbak yang dulu sembunyi di belakang gerobak saya, to?"
Wajahku langsung memanas. Riana terbahak sampai harus berpegangan pada tiang listrik.
"Bapak tahu dari mana?" tanyaku malu.
"Bas yang cerita. Katanya ada perempuan yang lari terbirit-birit karena mengira dia penjahat, lalu ngumpet di sini." Pak Kardi tertawa sambil menuangkan kuah. "Tapi ya wajar, Mbak. Dulu orang sekampung juga takut sama dia."
Aku tertegun. "Takut?"
Pak Kardi berhenti meracik. Dia menyeka tangannya dengan lap yang tersampir di bahu, lalu duduk di bangku kayu di samping gerobaknya. Pandangannya menerawang ke arah rumah biru di ujung gang.
"Bas itu anak terminal, Mbak. Umur sembilan, sepuluh tahun sudah tidur di emperan toko dekat terminal. Bapaknya entah ke mana, ibunya meninggal. Makannya dari sisa warung." Suara Pak Kardi merendah. "Besarnya jadi preman. Menagih uang keamanan dari sopir angkot, dari pedagang kaki lima. Kalau ada yang tidak bayar, ya tahu sendiri. Tangannya ringan. Tato di lengannya itu dari zaman itu."
Aku teringat elang di tangan kiri Bastian, matanya yang tajam, dan rasa takut yang membuatku berlari di gang ini.
"Yang bisa menjinakkan dia cuma Mak Ijah," lanjut Pak Kardi. "Janda tua penjual nasi pecel di dekat terminal. Setiap pagi Bas dikasih makan gratis. Kalau Bas habis berkelahi, Mak Ijah yang mengobati sambil memarahinya habis-habisan. Bas cuma diam. Satu-satunya orang di dunia yang bisa memarahi Bas tanpa dipukul, ya Mak Ijah."
"Mak Ijah tinggal di mana, Pak?"
Pak Kardi menunjuk ujung gang dengan dagunya. "Di situ. Rumah itu."
Napasku tertahan. Riana yang sudah berhenti tertawa ikut menoleh.
"Dulu catnya kusam, temboknya retak-retak. Mak Ijah sering bilang ingin mengecat rumahnya biru, seperti langit kalau sedang baik. Tapi uangnya tidak pernah cukup." Pak Kardi menghela napas. "Mak Ijah meninggal waktu Bas sedang tidak ada. Bas tidak sempat datang ke pemakamannya. Sejak itu dia berubah, Mbak. Pergi dari terminal, jadi kuli di pelabuhan Perak. Ada juragan gudang di sana, Haji Salim, yang mau menampungnya. Bas belajar menyetir truk, belajar membaca surat jalan, belajar mengaji juga, katanya waktu umurnya sudah dua puluh."
"Lalu?"
"Lalu satu truk jadi dua, dua jadi sepuluh." Pak Kardi tersenyum bangga, seolah-olah sedang menceritakan anaknya sendiri. "Sekarang truknya puluhan, gudangnya di Perak besar sekali. Orang bilang usahanya sudah miliaran. Tapi sesekali dia masih mampir ke sini, makan mie ayam saya, duduk di bangku ini."
"Rumah Mak Ijah?"
"Lama kosong sesudah Mak Ijah meninggal. Ahli warisnya di luar kota, tidak ada yang mau mengurus. Lima tahun lalu Bas membelinya. Direnovasi, dicat biru, lalu dijadikan tempat anak-anak jalanan belajar." Pak Kardi kembali berdiri dan meracik mie yang tertunda. "Anak-anak itu dia anggap dirinya yang dulu, Mbak. Bedanya, mereka punya rumah biru."
*
Aku berjalan ke ujung gang dengan kantong mie ayam di tangan dan mata yang memanas. Rumah biru berdiri di sana seperti biasa, dengan halaman berumput dan gazebo di sampingnya, tempat anak-anak sedang menunggu jam makan siang. Catnya biru muda, warna langit ketika cuaca sedang baik.
Selama bertahun-tahun aku datang ke rumah ini tanpa pernah bertanya mengapa warnanya biru. Di ruang belajar tergantung sebuah foto perempuan tua berkebaya lusuh yang tersenyum tanpa gigi. Kupikir foto itu ditinggalkan pemilik lama. Siang itu aku berdiri lama di depannya.
"Assalamualaikum, Mak Ijah," bisikku.
Dari gazebo terdengar Dimas berteriak memanggil teman-temannya karena mie ayam sudah datang. Aku tersenyum dan menyeka air mata sebelum ada anak yang melihat.