Riana mengabarkannya pada suatu pagi di akhir Februari, ketika kami sedang menempelkan gambar-gambar anak-anak di dinding ruang belajar rumah biru. Dia menunggu sampai Sari dan Dimas berlari ke gazebo, lalu mendekat dan berbicara dengan suara pelan.
"Bayi Laila sudah lahir semalam," katanya hati-hati. "Laki-laki. Kata Tante, tiga kilo lebih sedikit. Namanya Rayyan."
Aku masih memegang selotip di tangan. Gambar Bagas yang belum selesai kutempel melorot pelan dari dinding, dan aku tidak segera menangkapnya.
"Sehat?" tanyaku.
"Sehat. Ibunya juga."
"Alhamdulillah."
Kata itu keluar begitu saja dari mulutku, dan aku terkejut menyadari bahwa aku mengucapkannya dengan tulus. Namun, di detik berikutnya mataku memanas. Riana buru-buru menarikku ke balik pintu supaya anak-anak tidak melihat.
Aku tidak tahu persis apa yang kutangisi. Bukan Rafa, sebab tentang dia aku sudah selesai menangis di tangga pengadilan. Mungkin aku menangisi bayi yang dulu harus dikuret di tahun pertama pernikahanku, bayi yang bahkan belum sempat kuberi nama. Mungkin juga aku menangisi diriku sendiri yang pernah begitu ingin menjadi ibu bagi anak lelaki itu, sampai merasa harus membayarnya dengan berbagi suami.
Riana memelukku dan menepuk-nepuk punggungku tanpa berkata apa-apa. Dari gazebo terdengar suara Sari menghitung anyaman dengan lantang, satu, dua, tiga, sampai dua puluh, lalu mengulang dari awal karena salah hitung.
Setelah tangisku reda, aku mengeluarkan ponsel dan mengetik pesan untuk Rafa. Jariku tidak ragu kali ini.
"Selamat atas kelahiran putramu, Mas. Semoga Rayyan sehat dan tumbuh menjadi anak saleh."
Balasan datang tak lama kemudian. "Terima kasih, Najwa. Terima kasih banyak."
Hanya itu. Aku menyimpan ponsel dan kembali ke dinding, memungut gambar Bagas yang terjatuh, lalu menempelkannya lagi dengan dua potong selotip supaya tidak lepas.
Malam itu, selepas salat Isya, aku mendoakan bayi itu dengan namanya. Semoga kau tumbuh dikelilingi orang-orang yang jujur, Rayyan. Semoga kau tak pernah menjadi orang terakhir yang tahu tentang hidupmu sendiri.
*
Awal Maret, Bunda datang ke rumah Ayah.
Aku sedang menjemur pakaian di halaman samping ketika mobil hitam itu berhenti di depan pagar. Sopirnya turun dan menurunkan dua koper besar dari bagasi, lalu sebuah tabung karton panjang. Bunda turun setelahnya. Gamisnya cokelat polos, kerudungnya sederhana, dan dadanya tidak lagi dihiasi bros mutiara. Wajahnya terlihat jauh lebih tua dibandingkan sore ketika dia membawa rantang ke rumahku.
"Assalamualaikum, Nak," sapanya pelan dari balik pagar.
"Waalaikumussalam, Bunda."
Aku membukakan gembok. Bunda tidak langsung masuk. Dia menunjuk koper-koper itu dengan tangan yang gemetar.
"Barang-barangmu yang tertinggal. Baju-bajumu, buku-buku, peralatan menggambarmu. Rafa minta Bunda yang mengantarkan." Dia menyodorkan tabung karton itu kepadaku. "Yang ini Bunda temukan di lemari paling atas."
Aku membuka tutup tabung itu. Di dalamnya tergulung ijazah sarjana desain interiorku, lengkap dengan transkrip nilai yang dulu membuat Ayah menangis bangga di hari wisuda. Selama enam tahun ijazah itu tersimpan di lemari rumah kami, terlupakan di antara kardus-kardus bekas. Bertahun-tahun aku tak pernah sekali pun membukanya.
Ayah keluar dari ruang tengah dan menyambut Bunda dengan sopan. Dia menyilakannya duduk di teras, lalu masuk lagi ke dalam rumah. Aku tahu Ayah sengaja membiarkan kami bicara berdua.
Bunda duduk di kursi rotan dan menatap bunga telang di pagar cukup lama sebelum bicara.
"Bunda sudah menggendong cucu Bunda," katanya. "Sekali. Waktu di rumah sakit."
Aku menunggu.
"Sejak pulang ke rumah putih itu, Laila tidak suka Bunda datang. Ibunya pindah ke sana mengurus bayi. Setiap Bunda mau menggendong Rayyan, selalu ada alasan. Bayinya baru tidur, bayinya baru menyusu, Bunda batuk." Suara Bunda bergetar. "Kemarin Laila bilang semua ini salah Bunda. Tokonya sepi karena Bunda, namanya jelek karena Bunda bercerita ke mana-mana. Katanya Bunda yang membuka aib keluarga."
Aku terdiam. Sore itu Bunda sendiri yang mengucapkan kalimat tentang aib di meja makanku, dengan wajah merah dan bros mutiara berkilat. Rupanya kalimat yang sama kini dilemparkan balik kepadanya.
"Bunda yang menyuruh Rafa menikah lagi, Najwa." Bunda menatapku dengan mata basah. "Bunda yang bilang percuma memeriksakan rahimmu. Bunda yang menyuruh semua orang diam, padahal Bunda sendiri yang bercerita di arisan. Bunda kehilangan menantu yang setiap Lebaran menciumi tangan Bunda paling lama, demi seorang cucu yang sekarang pun tidak boleh Bunda peluk."
Dia menangis. Perempuan yang dulu kuanggap seperti ibuku sendiri itu menangis di teras rumah ayahku, di kursi rotan yang sama tempat anaknya pernah berjanji.
Aku berlutut di depannya dan menggenggam kedua tangannya. Kulitnya masih wangi minyak zaitun. Wangi yang dulu selalu kuanggap wangi seorang ibu.
"Aku memaafkan Bunda," ucapku. "Sungguh."
Bunda menangis lebih keras. "Kalau begitu, apa kamu mau kembali? Rafa masih .... Kalian bisa menikah lagi dengan akad baru, kata ustad di pengajian Bunda boleh."
Aku menggeleng pelan. "Tidak, Bunda. Memaafkan tidak sama dengan kembali."
Bunda menatapku lama, lalu mengangguk. Dia mengusap pipiku seperti dulu ketika aku baru pulang dari rumah sakit.
"Kamu perempuan yang baik, Najwa. Bunda saja yang terlambat menyadarinya."
*
Setelah mobil hitam itu pergi, Ayah keluar ke teras dan berdiri di sampingku. Dia tidak bertanya apa yang kami bicarakan. Dia hanya mengusap kepalaku sekali dan berkata pelan, "Ibumu pasti bangga padamu hari ini."
Sore itu aku membongkar kedua koper. Di antara tumpukan tunik dan rokku terselip kantong plastik berisi mukena putih bersulam melati. Bunda pasti mengira mukena itu milikku dan tidak tahu ceritanya. Aku menatapnya lama, lalu melipatnya rapi dan menitipkannya kepada Pak Darto keesokan harinya untuk musala kecil di dekat rumah biru. Biar dipakai siapa saja yang membutuhkan. Kain itu tidak bersalah atas apa pun.
Malamnya aku membawa tabung karton ke kamar lamaku. Aku membentangkan ijazah itu di atas ranjang dan menindih keempat sudutnya dengan buku-buku kitab dari pondok. Namaku tertulis di sana dengan huruf cetak tebal, bersanding dengan gelar yang kuraih dengan nilai tertinggi di angkatanku.
Selama ini aku mengira harga diriku terletak di rahim yang tak bisa memberi anak, atau di pernikahan yang harus kupertahankan demi nama Ayah. Ternyata sebagian dari diriku yang paling berharga tergulung diam-diam di lemari paling atas, menunggu untuk dibuka.
Aku mengambil ponsel dan membuka kalender. Pemeriksaan ulang yang dijadwalkan Dokter Wulan pertengahan Januari dulu kutunda sampai Maret, sebab minggu-minggu itu tubuhku sibuk menahan fitnah dan persidangan. Jadwal baruku tinggal sepekan lagi.
Kali ini aku akan datang bukan sebagai istri yang takut mengecewakan suaminya. Aku akan datang sebagai Najwa, perempuan yang ingin tahu tentang tubuhnya sendiri, apa pun hasilnya.