Ruang mediasi di Pengadilan Agama itu lebih kecil daripada yang kubayangkan. Sebuah meja bundar, empat kursi, kipas angin yang berputar malas di langit-langit, dan sebuah lukisan pemandangan sawah yang warnanya sudah memudar. Aku duduk di satu sisi, Rafa di sisi lain. Di antara kami duduk seorang hakim mediator, lelaki paruh baya berpeci hitam dengan suara yang sangat lembut.
Akhir Januari itu Surabaya diguyur hujan hampir setiap sore. Rafa datang tepat waktu dengan kemeja abu-abu yang disetrika rapi. Wajahnya lebih tirus daripada terakhir kali aku melihatnya di teras rumah Ayah. Ketika kami berpapasan di lorong, dia hanya mengangguk dan mempersilakanku masuk lebih dulu.
"Bapak dan Ibu," hakim mediator itu membuka map di depannya, "tugas saya di sini sederhana. Saya ingin tahu apakah masih ada jalan bagi kalian berdua untuk kembali."
Dia bertanya kepada Rafa lebih dulu. Aku menahan napas. Di pagar rumah Ayah, Rafa pernah bilang akan meminta hakim mendamaikan kami. Aku sudah menyiapkan diri mendengarnya membujuk, mengungkit enam tahun, mengungkit termos hijau tosca dan kuah sop di rumah sakit.
"Saya masih mencintai istri saya, Pak," kata Rafa pelan. "Tapi saya tidak akan memaksanya. Rumah tangga kami seperti ini karena saya. Saya menikah lagi diam-diam, saya menyembunyikan banyak hal darinya. Kalau dia ingin berpisah, saya tidak punya hak untuk menahannya."
Hakim mediator itu menatap Rafa cukup lama, lalu menoleh kepadaku. "Ibu?"
"Saya sudah mencoba, Pak," jawabku. Suaraku lebih tenang daripada yang kuduga. "Saya mencoba dengan sungguh-sungguh. Saya sudah salat istikharah berkali-kali. Hati saya tetap di tempat yang sama."
"Tidak ada yang ingin Ibu sampaikan kepada suami Ibu?"
Aku menoleh kepada Rafa. Dia sedang menatap tangannya sendiri yang bertaut di atas meja. Cincin pernikahan kami masih melingkar di jari manisnya.
"Terima kasih sudah tidak mempersulit, Mas," ucapku.
Rafa mengangguk tanpa mengangkat wajah.
Mediasi itu selesai dalam waktu kurang dari satu jam. Hakim mediator menuliskan sesuatu di berkasnya, lalu menjelaskan bahwa perkara kami akan dilanjutkan ke persidangan karena perdamaian tidak tercapai. Dia mengucapkan kalimat itu dengan nada menyesal, seakan-akan sudah ribuan kali dia mengucapkannya dan setiap kali tetap terasa berat.
*
Persidangan berikutnya digelar awal Februari. Ayah dan Riana duduk di kursi saksi secara bergantian. Ayah bicara pelan, tidak panjang, tentang putrinya yang pulang ke rumah pada suatu malam bergerimis. Riana bicara dengan suara bergetar, tentang kabar yang dia dengar di dapur arisan dan pesan yang dia hapus sebelum terkirim. Di akhir kesaksiannya, dia menoleh kepadaku dan tersenyum dengan mata basah.
Rafa tidak membantah satu pun. Ketika majelis hakim bertanya, dia mengakui semuanya dengan kalimat-kalimat pendek. Aku melihat pengacara muda yang dia sewa beberapa kali melirik kliennya dengan bingung, seolah-olah tidak mengerti mengapa dia dibayar untuk perkara yang tidak dilawan.
Pekan berikutnya, pada suatu siang yang terik di sela musim hujan, majelis hakim membacakan putusan. Aku duduk di bangku kayu dengan punggung tegak dan kedua tangan di pangkuan. Ayah duduk di bangku pengunjung di belakangku. Aku bisa merasakan tatapannya di punggungku seperti tangan yang menjaga.
Hakim ketua membaca dengan suara datar dan jelas. Gugatanku dikabulkan. Kemudian kalimat yang selama berminggu-minggu kubayangkan akan terdengar seperti petir, ternyata hanya terdengar seperti kalimat biasa yang dibaca dari selembar kertas.
"Menjatuhkan talak satu bain sughra Tergugat terhadap Penggugat."
Palu diketuk tiga kali.
Aku menunggu sesuatu terjadi di dadaku. Tangis, sesak, atau lega yang meledak. Yang datang justru hening yang sangat panjang, seperti ruangan yang baru saja ditinggalkan semua penghuninya. Enam tahun. Ijab kabul yang diucapkan Rafa dengan suara bergetar di masjid dekat rumah Ayah. Kue tart yang jatuh di lantai. Lorong rumah sakit. Kertas jadwal di bawah magnet kulkas. Semuanya selesai dengan tiga ketukan palu kayu.
*
Rafa menungguku di tangga depan gedung pengadilan. Langit siang itu kelabu, dan angin membawa bau tanah basah dari selokan di tepi jalan. Ayah berhenti beberapa langkah di belakangku, memberi kami ruang, tetapi tidak cukup jauh untuk membuatku merasa sendirian.
"Najwa." Rafa memanggilku dengan suara yang sangat pelan. Cincin di jari manisnya sudah tidak ada. "Aku pamit."
Aku mengangguk.
"Terima kasih untuk enam tahun yang ...." Dia berhenti, menelan ludah, dan menggeleng pelan seolah-olah kehilangan kata. "Maafkan aku. Untuk semuanya."
Aku menatap lelaki itu. Lelaki yang dulu mengimamiku salat, menyeduhkan teh hangat di hari-hari pertama haidku, meniup kuah sop sebelum menyuapiku di rumah sakit. Lelaki yang juga mengucapkan ijab kabul untuk perempuan lain ketika aku terbaring di ranjang rumah sakit itu, lalu membeli bubur ayam untukku keesokan harinya. Dua lelaki itu berdiri di tangga ini dalam satu tubuh, dan aku harus melepaskan keduanya sekaligus.
"Semoga Allah memperbaiki hidupmu, Mas," ucapku. "Jadilah ayah yang jujur untuk anakmu nanti. Ajari dia bahwa orang yang dicintai berhak tahu kebenaran."
Mata Rafa basah. Dia mengangguk berkali-kali, lalu berbalik dan menuruni tangga dengan langkah cepat, seakan-akan takut berubah pikiran kalau berdiri lebih lama. Aku menatap punggungnya sampai menghilang di antara mobil-mobil yang terparkir.
Ayah menghampiriku dan meraih tanganku. "Pulang, Nak?"
"Pulang, Ayah."
*
Empat belas hari kemudian putusan itu berkekuatan hukum tetap, sebab Rafa tidak mengajukan banding. Sejak hari itu aku menjalani masa iddah di rumah Ayah, sembilan puluh hari yang kuhitung dengan pensil di kalender dinding kamar lamaku.
Tak lama kemudian akta cerai itu sampai di tanganku. Selembar kertas berstempel, lebih tipis daripada yang kubayangkan. Aku memasukkannya ke dalam map plastik biru pemberian Ayah, bersebelahan dengan amplop berlogo rumah sakit yang sudah lecek. Dua kertas yang sama-sama mengubah hidupku. Yang satu kutemukan diam-diam di laci dasbor mobil suamiku, yang lain kuminta sendiri dengan suara lantang di depan hakim.
Aku tetap pergi ke rumah biru di siang hari bersama Riana, tetapi selalu pulang sebelum Magrib. Aku menolak setiap ajakan ke tempat ramai. Bukan karena malu, melainkan karena aku ingin melewati masa ini dengan tertib, seperti yang diajarkan Ayah sejak aku mengaji di surau dulu. Malam-malamku kuisi dengan membaca, menggambar, dan bercakap-cakap dengan Ayah di meja makan yang penuh goresan.
Suatu malam, ketika aku membubuhkan tanda di kalender, aku menyadari sesuatu. Selama berminggu-minggu di rumah kami dulu, aku memberi tanda silang di samping malam-malam yang hilang. Sekarang aku memberi tanda centang di samping hari-hari yang sudah kulalui.
Pensilnya sama. Hanya arah hidupku yang berubah.