Dua hari setelah kejadian di mal, Rafa datang lagi ke rumah Ayah dengan tangan hampa. Selama ini dia selalu datang menenteng sesuatu, seakan-akan setiap kesalahan bisa ditebus dengan bungkusan. Pagi itu kedua tangannya tergantung kosong di sisi tubuhnya, dan entah mengapa justru tangan kosong itu yang membuatku membuka gembok.
Ayah keluar ke teras dan menatap menantunya sejenak. "Masuklah, Rafa. Hari ini kau datang tanpa membawa apa-apa. Itu tandanya kau datang untuk bicara."
Rafa duduk di kursi rotan di teras, kursi yang sama tempat dia dulu berjanji di depan Ayah. Aku duduk di kursi seberangnya, Ayah di kursi ketiga. Di antara kami ada meja kecil dengan tiga gelas teh yang tak seorang pun menyentuhnya.
"Laila sudah mengaku," Rafa memulai tanpa basa-basi. Suaranya parau, seperti orang yang berhari-hari kurang tidur. "Foto itu dia ambil malam itu, di mal. Dia menyimpannya. Waktu tokonya mulai sepi dan orang-orang membicarakan pernikahan kami, dia mengirim foto itu ke grup pengajian lewat nomor toko. Teman-temannya yang meneruskan ke grup lain."
Aku mendengarkan tanpa memotong. Rasanya aneh mendengar pengakuan yang sudah kuketahui jawabannya.
"Pesan dan foto waktu itu juga dari dia. Dari ponselnya, waktu aku tertidur." Rafa menunduk. "Aku tidak tahu, Najwa. Sumpah, aku tidak tahu dia mengirim semua itu kepadamu."
"Aku percaya, Mas," jawabku. Dan aku memang percaya. Rafa punya banyak kesalahan, tetapi aku tahu dia tidak akan tega mengirimkan foto dirinya sendiri yang sedang tidur kepada istri yang sedang terluka.
Rafa mengangkat wajah. Matanya merah. "Aku tidak akan melawan gugatanmu. Aku akan datang ke mediasi karena itu kewajibanku, tapi aku tidak akan memaksamu lagi. Aku sudah cukup memaksa."
Kalimat itu membuat dadaku terasa ganjil, seperti sebuah pintu yang selama ini kudorong sekuat tenaga tiba-tiba terbuka sendiri, dan aku hampir terjatuh karenanya.
Rafa menoleh kepada Ayah. "Ayah, izinkan saya bicara di depan jemaah sesudah salat Jumat nanti. Nama Najwa rusak karena keluarga saya. Saya yang harus memperbaikinya, di tempat orang-orang mendengar fitnah itu."
Ayah menatapnya lama. "Itu bukan izin yang perlu kau minta dariku, Rafa," katanya pelan. "Itu kewajibanmu."
*
Hari Jumat aku menunggu di rumah. Aku mencuci piring yang sudah bersih, menyapu teras yang tidak kotor, dan menyiram bunga telang dua kali. Riana datang menjelang Zuhur dan duduk menemaniku di ruang tengah, pura-pura menonton televisi yang suaranya dikecilkan sampai nyaris tak terdengar.
Ayah pulang sekitar pukul satu. Dia melepas kopiah, duduk di kursi kesayangannya, dan menerima segelas air putih dariku. Dia meminumnya pelan-pelan sebelum bicara.
"Rafa berdiri sesudah salam," kata Ayah. "Dia meminta waktu sebentar kepada jemaah. Suaranya gemetar di awal, lalu semakin tenang."
Aku duduk di lantai di dekat kaki Ayah, seperti waktu kecil dulu ketika mendengarkan dongeng sebelum tidur.
"Dia mengaku menikah siri diam-diam ketika istrinya sedang dirawat di rumah sakit. Dia mengaku menyembunyikannya berbulan-bulan. Dia bilang foto yang beredar di grup diambil dan disebarkan dari keluarganya sendiri, dan tuduhan di bawahnya fitnah." Ayah meletakkan gelas di meja. "Dia bilang kamu pulang ke rumah ayahmu karena kesalahannya, bukan karena lelaki mana pun. Lelaki di foto itu donatur rumah singgah yang sudah empat tahun membiayai anak-anak jalanan. Dia meminta jemaah berhenti menyebarkan foto itu, dan meminta maaf kepada mereka yang sudah ikut tertipu."
"Dia ...." Suaraku tersangkut. "Dia menyebut tentang kesehatanku, Yah?"
"Tidak sepatah kata pun." Ayah mengusap kepalaku. "Dia hanya bilang, kesalahan ini sepenuhnya miliknya."
Aku memejamkan mata. Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, aku merasakan sesuatu yang mirip hormat kepada lelaki yang masih tercatat sebagai suamiku. Rasa itu jauh dari cinta, apalagi keinginan untuk kembali. Ia hanya pengakuan diam-diam bahwa di dasar hatinya masih ada lelaki yang dulu kukagumi, lelaki yang berani berdiri di depan banyak orang dan mengakui kesalahannya.
"Jemaah bagaimana, Om?" tanya Riana yang sejak tadi menahan napas.
"Ada yang menangis. Ada yang langsung pulang. Pak Haji Rohim, pengurus masjid yang beberapa pekan ini hanya mengangguk sambil lalu, menyalami Ayah lama sekali." Ayah tersenyum tipis. "Asapnya sudah mulai hilang, Nak. Seperti kata Ayah."
*
Sabtu sore sebuah mobil berhenti di depan rumah. Bu Hajah Maryam turun dengan gamis hijau tua dan membawa sekeranjang buah. Perempuan sepuh itu berdiri di depan pagar dengan wajah yang tampak lebih tua daripada biasanya.
"Ustad, Nak Najwa," ucapnya begitu aku membuka pintu pagar. Matanya berkaca-kaca. "Saya minta maaf. Saya ikut termakan kabar. Saya malah menghentikan nasi kotak anak-anak tanpa bertanya lebih dulu. Padahal mereka yang paling tidak tahu apa-apa."
Aku menyalami tangannya dan menciumnya. "Tidak apa-apa, Bu Hajah. Yang penting sekarang sudah jelas."
"Mulai Jumat depan nasi kotak jalan lagi," katanya sambil menggenggam tanganku erat. "Ditambah, kalau Nak Najwa mengizinkan."
Malam harinya Pak Darto mengabarkan kembalinya kiriman Bu Hajah Maryam di grup panitia. Pesan-pesan bersyukur bermunculan. Tak lama kemudian satu pesan masuk dari Bastian.
"Alhamdulillah. Kalau begitu, nasi kotak dari saya pindah ke hari Selasa."
Riana membaca pesan itu dari ponselku dan terbahak. "Ya Allah, orang ini. Ujung-ujungnya anak-anak makan enak dua kali seminggu."
Satu pesan lagi masuk ke ponselku, kali ini bukan dari grup. Dari kontak yang kusimpan dengan nama Laila.
"Mbak, aku minta maaf soal foto itu. Dan soal pesan-pesan dulu."
Aku menatap kalimat itu lama. Kali ini pesan itu datang dari nomor pribadinya, bukan dari nomor toko. Aku tidak tahu apakah dia benar-benar menyesal atau hanya terpaksa karena Rafa marah besar. Aku tidak perlu tahu.
"Jaga kandunganmu baik-baik," balasku singkat.
Riana menatapku dengan mata menyipit, lalu meletakkan tangannya di keningku seperti memeriksa demam. "Ukhti, kamu ini manusia atau malaikat yang nyasar ke Surabaya?"
"Manusia yang capek," jawabku.
Riana memasang wajah pura-pura serius, lalu menirukan gaya pemeran ibu tiri di sinetron kesukaannya, lengkap dengan mata melotot dan tangan berkacak pinggang. Aku tertawa. Tawa itu keluar begitu saja dari perutku, lepas dan keras, sampai Ayah melongok dari ruang tengah dengan heran. Riana ikut tertawa sampai terbatuk-batuk.
Itu tawa pertama kami yang benar-benar lepas sejak botol teh itu jatuh di lantai ruang pameran. Di tengah tawa itu, tanpa berkata apa-apa, aku menggenggam tangan Riana. Dia membalas genggamanku erat, dan kami berdua tahu apa artinya.