Toko suvenir di lantai dua itu kecil, tetapi rapi dan terang. Pemiliknya, Bu Lies, perempuan berambut pendek yang ramah, menerima dua kardus kerajinan anak-anak dengan mata berbinar. Dia mengeluarkan dompet-dompet kemasan kopi satu per satu dan menatanya di rak dekat kasir.
"Yang begini dicari turis," katanya. "Apalagi ada cerita di baliknya."
Riana menuliskan daftar barang di buku catatan, sementara aku menempelkan kartu kecil bertuliskan nama pembuatnya di setiap karya. Dimas, Sari, Bagas. Nama-nama itu kutulis dengan huruf paling rapi yang bisa kubuat. Setengah jam kemudian urusan kami selesai, dan kami turun lewat eskalator dengan kardus kosong yang dilipat di bawah ketiak.
Lantai satu ramai oleh pengunjung akhir pekan. Aku sengaja tidak menoleh ke arah ruang sewa tempat pameran dulu digelar. Pintu kacanya kini tertutup, dan di dalamnya sedang dipasang dekorasi pameran lain.
"Wah, Mbak Najwa."
Suara itu menghentikan langkahku di ujung eskalator. Lembut, dibuat-buat, persis seperti pertama kali aku mendengarnya di ruang tamu rumahku.
Laila berdiri beberapa langkah di depanku. Perutnya sudah sangat besar, ditopang gamis lebar berwarna salem. Di kiri kanannya berdiri dua perempuan sebayanya dengan gamis bermotif serupa, masing-masing menenteng kantong belanja berisi perlengkapan bayi.
"Sudah berani keluar rumah?" Laila tersenyum. "Ketemu preman bertatonya di sini lagi, Mbak?"
Riana mencengkeram lenganku. Aku merasakan darahku naik ke kepala, tetapi aku tetap berdiri tegak.
"Aku mengantar kerajinan anak-anak rumah singgah," jawabku tenang.
"Oh, rumah singgah." Salah satu teman Laila tertawa kecil. "Alasannya selalu anak-anak, ya. Padahal ninggalin suami demi laki-laki lain."
"Tega sekali," timpal yang lain, cukup keras untuk membuat beberapa pengunjung menoleh. "Mas Rafa itu baik, lho. Sudah sabar bertahun-tahun sama istri yang tidak bisa kasih anak."
Kerumunan kecil mulai terbentuk. Seorang ibu menarik anaknya menjauh, sepasang remaja berhenti sambil berbisik. Aku melihat seseorang mengangkat ponsel, lalu menurunkannya lagi.
Aku menatap Laila lurus-lurus. Ada sesuatu yang aneh dalam diriku hari itu. Biasanya, di saat seperti ini, lidahku sudah melontarkan kata-kata tajam yang akan kusesali kemudian. Namun, kali ini hatiku justru terasa dingin dan jernih, seperti air sumur di pagi hari.
"Foto itu kamu yang mengambil, Laila."
Senyum Laila memudar sedikit. "Foto apa?"
"Foto aku dan Bastian di ruang sewa itu." Aku menunjuk pintu kaca yang tertutup. "Diambil dari dekat pintu masuk, tempat kamu dan Mas Rafa berdiri malam itu. Hanya kalian berdua yang ada di sana."
"Mbak menuduhku?" Suara Laila meninggi. Tangannya mengusap perutnya, seolah-olah perut itu perisai. "Mana buktinya? Semua orang juga sudah lihat foto itu di grup."
"Kamu mau bukti?"
Aku mengeluarkan ponsel dari tas selempang. Jariku tidak gemetar ketika membuka percakapan lama itu, percakapan dari nomor tak dikenal yang tidak pernah kuhapus. Foto pertama, Rafa tertidur berselimut. Foto kedua, Rafa tersenyum memilih baju bayi. Di bawahnya, pesan-pesan yang pernah membuat dadaku retak seribu.
Aku membacakan pesan pertama dengan suara jelas. "Kamu lihat, kan, Mbak, suami kita lebih bahagia bersamaku. Tenang saja, kamu tidak perlu cemas, aku akan merawatnya dengan baik."
Wajah Laila memucat. Kedua temannya saling melirik.
"Pesan ini datang tiga hari setelah kamu datang ke rumahku memperkenalkan diri," lanjutku. "Siapa lagi yang bisa memotret Mas Rafa sedang tidur, selain istri yang serumah dengannya?"
"Itu bukan nomorku!" seru Laila. "Nomorku yang dikasih Mas Rafa ke Mbak, kan? Lihat saja, beda!"
"Laila."
Suara itu datang dari belakang kerumunan. Rafa berdiri di sana, terengah-engah, kunci mobil masih di tangannya. Rupanya Laila sudah menelepon minta dijemput. Matanya berpindah dari wajah Laila ke wajahku, lalu ke ponsel di tanganku.
"Ada apa ini?"
Aku tidak menjawab. Aku hanya mengulurkan ponselku kepadanya, membiarkan layar itu menjawab sendiri.
Rafa menatap layar itu lama. Aku melihat rahangnya mengeras ketika dia mengenali foto dirinya yang sedang tertidur. Lalu matanya bergeser ke deretan angka di bagian atas percakapan, dan wajahnya berubah.
"Ini nomor toko," ucapnya pelan. Dia menoleh kepada Laila. "Ini nomor tokomu. Biro memesan perlengkapan jamaah lewat nomor ini setiap bulan."
Kerumunan di sekitar kami mendadak hening. Salah satu teman Laila mundur selangkah, kantong belanjanya berdesir.
"Lho, Laila, kamu bilang Mbaknya yang mulai duluan," gumamnya.
"Mas ...." Bibir Laila bergetar. Air matanya mulai jatuh. "Aku cuma .... Aku takut Mas balik ke dia."
"Ada apa ini, Bu?" Seorang satpam berseragam menembus kerumunan. Lelaki itu memandang kami satu per satu dengan wajah waspada. Lalu pandangannya berhenti di belakangku, dan sikapnya langsung berubah. Dia menegakkan punggung dan mengangguk hormat.
"Selamat siang, Pak Bastian."
Aku menoleh. Bastian berdiri beberapa langkah di belakangku, di ujung eskalator yang baru saja kami turuni. Mungkin dia datang untuk melihat kiriman di toko Bu Lies. Mungkin juga Pak Darto yang memberitahunya jadwal kami. Dia tidak mendekat. Dia hanya berdiri di sana dengan kedua tangan di saku celana, dan entah bagaimana kehadirannya membuat semua orang di lingkaran itu menahan napas.
Bastian tidak menatap Laila. Dia menatap Rafa.
"Dulu Anda menuduhnya di lantai ini," katanya pelan dengan suara beratnya. "Hari ini istri Anda yang lain menuduhnya lagi, di tempat yang sama, di depan orang banyak."
Rafa tidak menjawab. Wajahnya merah padam.
"Saya tidak akan mengurus ini dengan cara saya yang dulu," lanjut Bastian. Kalimat itu diucapkan begitu datar sehingga justru terdengar menakutkan. "Tapi Anda tahu bagaimana caranya membersihkan nama Najwa. Saya harap Anda melakukannya."
Dia menoleh kepada satpam itu. "Tidak ada apa-apa, Pak. Sudah selesai."
Satpam itu mengangguk dan mulai membubarkan kerumunan dengan sopan. Orang-orang beranjak satu per satu, sebagian masih menoleh ke belakang.
Laila terisak dan memegangi perutnya. Tubuhnya sedikit limbung. Tanpa berpikir aku melangkah maju.
"Laila, duduk dulu," kataku sambil menunjuk bangku di dekat eskalator. "Jangan sampai kandunganmu kenapa-kenapa."
Laila menatapku dengan mata basah, seakan-akan tak percaya aku masih memikirkan bayinya. Rafa merangkul bahunya dan membawanya duduk. Kedua temannya sudah menghilang entah ke mana. Sebelum pergi, Rafa menatapku sekali lagi. Bibirnya bergerak tanpa suara, membentuk kata maaf.
Ketika aku menoleh ke eskalator, Bastian sudah tidak ada. Sepanjang kejadian tadi dia tidak pernah berdiri lebih dekat dari tiga langkah dariku.
Riana menarikku duduk di bangku lain dan memelukku erat. Tubuhku baru mulai gemetar sekarang, setelah semuanya selesai.
"Kamu tadi keren banget," bisik Riana di bahuku, setengah menangis setengah tertawa. "Kayak tokoh utama sinetron yang akhirnya menang."
Aku tertawa, dan tawaku pecah menjadi isak. Aku tidak merasa menang. Aku hanya merasa, untuk pertama kalinya sejak kue tart itu jatuh di lantai, kebenaran berdiri di pihakku dan bisa dilihat semua orang.