Senin pertama bulan Januari, aku dan Ayah duduk di ruang tunggu Pengadilan Agama sejak pukul delapan pagi. Bangku-bangku panjang sudah penuh. Ada perempuan muda yang menggendong bayi sambil terkantuk-kantuk, ada lelaki tua yang terus membolak-balik map, ada sepasang suami istri yang duduk berjauhan dan sama-sama menatap lantai. Aku memeluk map plastik biru di pangkuan, persis seperti dulu memeluk tas selempang di lorong rumah sakit.
Bu Hasanah sudah menjelaskan semuanya kepada Ayah sepekan sebelumnya, jadi kami tidak perlu bolak-balik. Petugas di meja pendaftaran memeriksa berkasku dengan teliti, mengajukan beberapa pertanyaan, lalu menyerahkan selembar tanda terima bernomor perkara. Sidang pertama dijadwalkan akhir Januari.
"Sudah, Bu," kata petugas itu dengan suara datar yang mungkin sudah dia pakai ribuan kali. "Nanti suaminya dipanggil juga."
Begitu saja. Enam tahun pernikahan, dan langkah pertama untuk melepaskannya hanya membutuhkan setengah hari dan selembar kertas tipis. Aku keluar dari gedung itu dengan kaki gemetar. Ayah berjalan di sampingku, tidak di depan, dan tangannya sesekali menyentuh siku tanganku ketika kami menuruni tangga.
"Kamu sudah melakukannya, Nak," katanya di dalam mobil. "Bagian paling berat sudah lewat."
Aku mengangguk. Aku ingin percaya Ayah benar.
*
Kabar memang bergerak lebih cepat daripada kaki. Seminggu setelah aku pulang ke rumah Ayah, Riana bercerita bahwa ibu-ibu di arisan keluarga sudah ramai membicarakan Rafa. Dua ibu dari pengajian Ayah yang melihat Rafa meninggalkan pameran sambil berlari rupanya ikut bercerita ke sana kemari. Kabar tentang pernikahan siri Rafa yang selama ini hanya dibisikkan di dapur arisan kini merembes ke majelis-majelis taklim.
"Toko Laila sepi, kata Tante," lapor Riana di teras rumah Ayah sambil mengunyah kerupuk. "Ibu-ibu pengajian yang biasa belanja gamis di sana pindah ke toko lain."
Aku tidak senang mendengarnya. Aku juga tidak sedih. Aku hanya merasa lelah, seakan-akan semua orang sedang menonton sinetron tentang hidupku, padahal aku sendiri belum selesai menangisi episode pertamanya.
Tiga hari setelah pendaftaran gugatan itu, Riana datang lagi ke rumah Ayah selepas Isya. Kali ini dia tidak membawa kue lumpur. Wajahnya merah padam, dan ponselnya digenggam begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih.
"Kamu sudah lihat?" Suaranya bergetar menahan marah.
Dia menyodorkan ponselnya. Sebuah grup WhatsApp ibu-ibu pengajian yang beranggotakan ratusan orang. Di layar terpampang foto yang langsung membuat tubuhku membeku.
Aku dan Bastian, di ruang sewa lantai satu pusat perbelanjaan itu. Aku sedang mengarahkan kamera ponselku ke ponsel yang dia ulurkan, wajahku sedikit tersipu karena malu. Bastian tersenyum, lengan kemejanya tergulung sehingga tato kepala elang di tangan kirinya terlihat jelas. Dari sudut pengambilannya, foto itu tampak seperti dua orang yang berdiri sangat dekat dan saling berbagi rahasia.
Di bawahnya tertulis kalimat yang membuat napasku tercekat.
"Pantas minggat dari rumah suami. Putri ustad ternyata main sama preman bertato. Kasihan suaminya, sudah sabar bertahun-tahun."
Pesan itu ditandai sudah diteruskan berkali-kali. Di bawahnya berderet balasan. Ada yang mengirim emoji istigfar, ada yang menulis "Astaghfirullah, padahal ayahnya ustad", ada pula yang bertanya siapa lelaki bertato itu. Satu dua orang membela, tetapi suara mereka tenggelam di antara puluhan balasan lain.
"Aku sudah tulis di grup kalau aku yang bersamamu malam itu," kata Riana. "Aku jelaskan itu urusan pameran anak-anak rumah singgah. Pesanku dihapus admin. Katanya jangan memperpanjang masalah."
Aku menatap foto itu lama sekali. Aku ingat malam itu dengan sangat jelas. Riana pamit ke toilet, Bastian bertanya tentang isi dompetku, lalu mengulurkan ponselnya. Aku ingat posisi kami. Aku juga ingat dari arah mana teguran keras Rafa datang. Foto ini diambil dari sudut yang sama, dari dekat pintu masuk, tempat Rafa dan Laila berdiri malam itu.
Hanya ada dua orang di sudut itu. Dan hanya satu di antara mereka yang punya alasan untuk menyimpan foto ini sampai sekarang.
"Rin," ucapku pelan, "dari mana pesan ini pertama kali dikirim?"
"Tidak ada yang tahu. Semua bilang dapat dari grup lain." Riana menggigit bibir. "Najwa, kamu tahu ini dari siapa, kan?"
Aku tidak menjawab. Aku tahu, tetapi tahu tidak sama dengan bisa membuktikan.
*
Akibatnya datang beruntun. Jumat pagi Pak Darto mengirim kabar di grup panitia. Majelis taklim Bu Hajah Maryam yang setiap Jumat mengirimkan nasi kotak untuk anak-anak rumah biru menghentikan kiriman mereka untuk sementara.
"Sampai jelas kabarnya," begitu bunyi pesan Bu Hajah Maryam yang diteruskan Pak Darto.
Aku membaca pesan itu dan dadaku seperti diremas. Fitnah itu mengenai aku, tetapi yang kehilangan makan siang adalah anak-anak. Dimas, Sari, Bagas, dan puluhan anak lain yang tak tahu apa-apa tentang pernikahan siri, gugatan cerai, atau foto di grup pengajian.
Satu jam kemudian sebuah pesan lain muncul di grup yang sama, dari Bastian. Pendek, tanpa penjelasan apa pun.
"Nasi kotak Jumat mulai minggu ini saya yang tanggung. Pak Darto, tolong pesan di tempat biasa."
Hanya itu isi pesannya. Dia membereskan akibat fitnah itu diam-diam, lewat grup panitia, persis seperti permintaanku dulu di ruang pameran. Aku menatap layar ponselku dan merasakan mataku memanas, entah karena malu, entah karena terharu.
Subuh berikutnya aku ikut Ayah ke masjid. Di saf perempuan aku merasakan tatapan-tatapan yang menempel di punggungku. Selesai salat, ketika aku melipat mukena, terdengar bisikan dari barisan belakang.
"Itu anaknya. Yang di foto."
"Masa, sih? Kelihatannya alim."
"Yang alim-alim justru ...."
Aku tidak menoleh. Aku melipat mukena lama pemberian Ayah dengan tangan yang gemetar, memasukkannya ke dalam tas, dan berjalan keluar dengan kepala tegak. Di luar, Ayah sedang mengobrol dengan pengurus masjid. Beberapa jemaah lelaki yang biasanya mencium tangannya kini hanya mengangguk sambil lalu.
Ayah melihat wajahku dan langsung tahu.
"Mereka bicara, Yah," kataku di perjalanan pulang. "Tentang aku. Tentang Ayah juga, pasti."
"Biarkan." Ayah berjalan pelan di sampingku, kedua tangannya bertaut di belakang punggung. "Fitnah itu seperti asap, Nak. Semakin dikipas, semakin menyebar. Kita tidak akan membalasnya di grup, tidak juga dengan amarah. Yang benar akan menemukan jalannya sendiri."
"Tapi nama Ayah ...."
"Sudah Ayah bilang, nama Ayah bukan tanggunganmu." Dia berhenti dan menatapku. "Kamu tetap jalani hidupmu seperti biasa. Ke rumah biru, ke mana pun kamu perlu pergi. Orang yang tidak bersalah tidak perlu bersembunyi."
Malam itu, di grup panitia, Pak Darto mengingatkan bahwa toko suvenir di lantai dua pusat perbelanjaan itu, yang dihubungkan Bastian sesudah pameran, menunggu kiriman kerajinan anak-anak hari Sabtu pekan depan. Siapa yang bisa mengantar?
Jariku ragu-ragu di atas layar. Mal itu. Lantai yang sama, tempat foto itu diambil. Lalu aku teringat kalimat Ayah.
"Saya yang antar," ketikku.