Rafa berhenti di luar pagar. Dia tidak menekan bel, tidak juga memanggil namaku. Dia hanya berdiri di sana dengan kemeja kerja yang belum dimasukkan ke celana, rambut belum tersisir, dan sebuah termos kecil di tangan kanannya.
Aku mengenali termos itu bahkan dari jarak sejauh ini. Warnanya hijau tosca, tutupnya penyok di satu sisi karena pernah jatuh dari meja di samping ranjang rumah sakit. Ketika aku terserang tifus, setiap pagi Rafa mengisinya dengan kuah sop hangat dan menyuapiku sesendok demi sesendok, karena perutku menolak makanan lain. Aku ingat bagaimana dia meniup kuah itu sebelum menyodorkannya ke mulutku. Aku ingat bagaimana aku menangis karena merasa menjadi istri paling beruntung di dunia.
Sekarang aku tahu, di bulan yang sama dia juga mengucapkan ijab kabul untuk perempuan lain.
"Aku buatkan sop," katanya ketika aku mendekat ke pagar. Suaranya serak. "Kamu pasti belum sarapan."
Aku tidak membuka gembok. Kami berdiri berhadapan dengan jeruji besi bercat hijau di antara kami. Bunga telang yang merambati pagar bergoyang pelan ditiup angin pagi.
"Terima kasih, Mas. Tapi aku sudah sarapan."
"Najwa, pulanglah. Aku akan memperbaiki semuanya. Aku akan bicara dengan Bunda, aku akan bicara dengan Laila. Aku akan ...."
"Mas mau menceraikan Laila?"
Rafa tersentak. "Dia sedang hamil tua, Najwa. Anakku. Aku tidak bisa."
"Aku tahu." Aku menggenggam salah satu jeruji. Besinya dingin dan sedikit basah oleh embun. "Aku tidak memintamu menceraikannya. Aku tidak akan pernah meminta itu. Anak itu butuh ayahnya, dan dia tidak bersalah atas apa pun."
"Lalu apa yang kamu mau?"
Aku menarik napas panjang. Semalaman aku menyusun kalimat ini, tetapi ternyata yang keluar jauh lebih sederhana.
"Aku mau Mas melepaskanku."
Pintu rumah di belakangku terbuka. Ayah keluar dengan sarung dan kaus oblong, kacamata baca masih bertengger di hidungnya. Sepertinya dia sedang membaca Alquran di ruang tengah ketika mendengar suara kami. Dia berjalan pelan dan berdiri di sampingku, tidak di depanku.
"Assalamualaikum, Ayah." Rafa menunduk dalam-dalam.
"Waalaikumussalam." Ayah menatap menantunya cukup lama. "Kau ingat teras rumah ini, Rafa? Enam tahun lalu kau duduk di sana, di kursi rotan itu, dan berjanji Najwa satu-satunya."
"Saya ingat, Ayah."
"Kau juga duduk di ruang tamu rumah kalian beberapa minggu lalu dan bilang fisik putriku lemah." Suara Ayah tetap pelan, tetapi setiap katanya jatuh seperti batu ke dasar sumur. "Kau bilang pada putriku kau menikah lagi supaya tidak berzina. Kau mengutip agama di depan ayah mertuamu sendiri untuk menutupi sesuatu yang kau tahu salah."
Wajah Rafa memerah sampai ke telinga. Dia tidak membantah satu kata pun.
"Saya salah, Ayah. Saya mohon ampun. Tapi saya mencintai Najwa. Saya tidak akan menjatuhkan talak." Dia mengangkat wajah dan menatapku dengan mata basah. "Sampai kapan pun, Najwa. Aku tidak akan melepasmu."
Kalimat itu dulu akan membuatku luluh. Seorang suami yang menolak melepaskan istrinya, bukankah itu bukti cinta? Namun, pagi ini aku hanya merasakan lelah yang sangat dalam, seperti orang yang sudah berjalan terlalu jauh dan baru sadar jalannya berputar.
"Kalau begitu aku yang akan mengajukan gugatan ke Pengadilan Agama," ucapku. "Mas tidak perlu rela."
Rafa terbelalak. Dia menatap Ayah, seakan-akan berharap mertuanya akan menegurku.
"Itu hak Najwa, Rafa," kata Ayah tenang. "Agama memberinya jalan, negara pun memberinya pintu. Kau bisa datang ke persidangan dan menyampaikan apa pun yang ingin kau sampaikan. Tapi tidak di sini, tidak di pagar rumahku setiap pagi."
Rafa diam sangat lama. Seorang tukang sayur bermotor lewat di belakangnya, membunyikan klakson dua kali, lalu menjauh. Seekor kucing melompat dari atap rumah tetangga.
"Ambil ini, setidaknya." Rafa mengulurkan termos itu melewati celah jeruji. "Kamu ingat, kan? Waktu kamu sakit dulu ...."
"Aku ingat, Mas." Aku menerima termos itu, merasakan hangat yang merambat dari dindingnya ke telapak tanganku. Hangat yang sama seperti dulu. "Aku tidak akan pernah lupa. Mas merawatku dengan baik waktu itu, dan aku berterima kasih."
Aku memegang termos itu sebentar, lalu mengembalikannya melalui celah yang sama.
"Tapi kenangan baik tidak bisa menghapus yang lain, Mas. Ia hanya menjadi saksi bahwa kita pernah baik." Suaraku bergetar. "Bawa pulang. Sop ini lebih dibutuhkan Laila. Perempuan hamil tua butuh makan yang hangat."
Rafa menatap termos di tangannya seolah-olah benda itu berubah menjadi sesuatu yang tak dia kenali. Bahunya turun. Dia mengangguk pelan, lalu berbalik dan berjalan ke mobilnya dengan langkah yang terseret. Sebelum masuk, dia menoleh sekali lagi.
"Aku akan datang ke persidangan," katanya. "Aku akan meminta hakim mendamaikan kita."
"Silakan, Mas."
Mobil itu menjauh. Aku masih berdiri di depan pagar dengan tangan yang menggenggam jeruji, sampai Ayah menyentuh bahuku.
"Kamu baik-baik saja, Nak?"
"Belum, Ayah." Aku melepaskan jeruji itu. Telapak tanganku meninggalkan jejak embun di besinya. "Tapi nanti."
*
Siangnya Ayah mengeluarkan sebuah map plastik biru dari laci lemarinya. Map itu dulu dipakainya untuk menyimpan berkas-berkas pengajian. Dia mengosongkannya dan menyerahkannya kepadaku.
"Kumpulkan semua di sini," katanya. "Buku nikahmu, kartu identitas, kartu keluarga. Surat dari rumah sakit itu juga, simpan rapi. Bukan untuk dibawa ke persidangan, tapi supaya kamu tahu semuanya ada di tanganmu sendiri."
Aku memasukkan berkas-berkas itu satu per satu. Buku nikah dengan foto kami berdua yang tersenyum canggung. Fotokopi kartu identitas. Amplop berlogo rumah sakit yang sudah lecek, kini terlindung di balik plastik biru.
"Sebentar lagi libur akhir tahun," lanjut Ayah sambil membaca kalender di dinding. "Awal Januari kita ke sana. Ayah temani. Bu Hasanah, jemaah pengajian Ahad pagi, dulu bertugas di pos bantuan hukum pengadilan. Nanti Ayah tanyakan padanya apa saja yang perlu disiapkan, supaya kita tidak bolak-balik."
"Ayah tidak malu?"
Ayah melepas kacamatanya dan menatapku lama. "Yang seharusnya malu bukan kita, Nak."
Malam itu aku duduk di kamar lamaku dan membuka buku sketsa yang kubawa dari rumah. Halaman terakhir yang kugambar adalah rancangan lorong bambu untuk pameran. Aku membalik ke halaman kosong dan mulai menggambar tanpa tujuan apa pun. Garis-garis lurus, lengkung jendela, sebuah pintu yang terbuka ke arah taman. Aku tidak tahu rumah siapa yang sedang kugambar. Yang kutahu, untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, tanganku tidak gemetar memegang pensil.