Kamar lamaku di rumah Ayah masih sama seperti ketika aku meninggalkannya enam tahun lalu. Ranjang besi bercat krem, lemari kayu jati yang pintunya berderit, dan rak kecil berisi kitab-kitab dari pondok yang punggungnya sudah memudar. Seprainya wangi sabun cuci. Ayah pasti rajin menggantinya, meski tak ada yang tidur di sini.
Aku tidak bisa tidur sampai menjelang Subuh. Begitu azan berkumandang, aku mendengar pintu depan terbuka dan langkah Ayah menjauh menuju masjid. Aku salat di kamar, lalu keluar ke dapur dan mendapati ceret berisi air panas di atas kompor yang sudah dimatikan. Ayah rupanya memasaknya sebelum berangkat.
Rumah Ayah tidak besar. Terasnya sempit, pagarnya dirambati bunga telang yang dirawat Ayah sendiri. Di ruang tengah ada lemari pajang berisi piring-piring tua milik Ibu, dan di rak paling atas berdiri foto Ibu dalam bingkai kayu. Ibu tersenyum dengan kerudung biru muda, wajahnya teduh seperti wajah Ayah. Aku berdiri lama di depan foto itu.
Ibu, aku pulang.
Ayah kembali dari masjid ketika langit mulai terang. Dia masuk ke dapur tanpa banyak bicara, lalu membuka lemari kaca dan mengeluarkan gelas bermotif bunga mawar kecil. Gelas teh milik Ibu. Sejak Ibu tiada, gelas itu hanya keluar di hari-hari tertentu. Ayah menuangkan teh manis ke dalamnya dan meletakkannya di depanku.
"Minum dulu, Nak."
Kami duduk berhadapan di meja makan kayu yang permukaannya penuh goresan. Goresan yang paling panjang adalah bekas pisau dapurku ketika aku belajar memotong bawang di usia sepuluh tahun. Ayah tidak pernah mau mengamplasnya.
"Ceritakan pada Ayah," katanya. "Semuanya. Dari awal."
Maka aku bercerita. Tentang amplop berlogo rumah sakit di laci dasbor mobil, tentang dokter Wulan yang masih menyimpan catatan lama, tentang pemeriksaan lanjutan yang tak pernah dijalani karena Bunda berkata percuma. Tentang Riana yang mendengar kabar pernikahan Rafa di dapur arisan tiga bulan sebelum aku. Tentang jadwal di bawah magnet kulkas dan tanda-tanda silang yang terus bertambah. Lalu tentang rantang Bunda dan kalimat yang meluncur dari mulutnya kemarin sore.
"Laila sudah hamil dua bulan waktu Mas Rafa menikahinya, Ayah. Akadnya bulan Agustus, waktu aku dirawat di rumah sakit."
Tangan Ayah yang memegang sendok kecil berhenti bergerak. Wajahnya tidak berubah, tetapi aku melihat jakunnya naik turun.
"Di ruang tamu rumahku, Mas Rafa bilang pada Ayah fisikku lemah dan dia ingin punya anak." Suaraku mulai bergetar. "Padahal dua tahun pertama dia yang meminta kami menunda. Padahal dia sudah tahu tentang rahimku dan menyembunyikannya. Padahal dia menikahi Laila bukan supaya tidak berzina, Ayah. Dia menikahinya karena sudah terlambat."
Ayah meletakkan sendok kecil itu di atas lepek dengan sangat hati-hati, seolah-olah takut bunyinya memecahkan sesuatu.
"Ayah yang memilih dia," ucapnya lirih.
"Ayah ...."
"Dari sekian banyak yang datang melamarmu dulu, Ayah memilih Rafa. Karena hafalannya bagus, karena pondoknya terkenal, karena keluarganya terpandang dan suaranya merdu saat menjadi imam." Ayah menatap foto Ibu di ruang tengah. "Ayah lupa menanyakan hal yang paling penting."
"Apa itu, Yah?"
"Apakah dia jujur ketika tidak ada yang melihat."
Air mata Ayah jatuh. Aku belum pernah melihatnya menangis selain di pemakaman Ibu. Lelaki yang setiap Jumat berdiri di mimbar menenangkan ratusan jemaah itu kini menangis tanpa suara di depan putrinya, di meja makan penuh goresan, di bawah lampu dapur yang redup.
"Ada satu lagi, Ayah," kataku setelah tangisnya reda. "Aku masih memegang janjiku malam itu. Malam sebelum akad, di teras. Aku berjanji tidak akan pulang ke rumah ini membawa kata cerai."
Ayah memejamkan mata.
"Aku takut, Ayah. Aku takut orang-orang menimbang Ayah dari kegagalanku. Putri ustad tidak sanggup bersabar, begitu nanti kata mereka. Karena itu aku bertahan. Karena itu setiap Ayah menelepon, aku bilang aku baik-baik saja." Aku menunduk. "Aku membohongi Ayah dua minggu ini."
Hening lama. Di luar, ayam tetangga berkokok bersahutan dan suara sapu lidi menggesek halaman entah di rumah siapa.
"Ayah juga harus jujur padamu, Nak." Ayah menghela napas panjang. "Hari itu, waktu kamu menangis di ruang tamu dan bilang ingin bercerai, sebagian diri Ayah memikirkan apa kata jemaah. Apa kata pengurus masjid. Ayah menyuruhmu berpikir dengan kepala dingin, padahal sebagian kepala Ayah sendiri sedang sibuk menjaga nama." Suaranya serak. "Ayah malu mengakuinya. Tapi kekhawatiran Ayah pada nama baik tidak boleh membuatmu diam, apalagi membuatmu terus terluka."
Dia mengulurkan tangan melintasi meja dan menggenggam kedua tanganku.
"Janji itu kamu ucapkan untuk sebuah pernikahan yang dijaga dua orang. Rafa sudah melepaskan bagiannya sejak lama, jauh sebelum kamu tahu. Janji dua orang tidak boleh dipikul satu orang." Ayah meremas tanganku pelan. "Ayah lepaskan janjimu, Nak. Kamu tidak berutang apa-apa pada Ayah."
Sesuatu yang selama ini mengganjal di dadaku seperti runtuh. Aku menangis sekeras-kerasnya, tangis yang tak sempat kutumpahkan di rumah itu karena takut terdengar tetangga. Ayah berdiri, memutari meja, dan memeluk kepalaku di dadanya. Baju kokonya masih berbau masjid, wangi karpet dan minyak kesturi.
"Apa pun keputusanmu, Ayah di belakangmu," bisiknya. "Di belakang, bukan di depan. Kamu yang berjalan. Ayah yang menjaga punggungmu."
"Aku mau berpisah, Ayah," kataku di sela isak. "Aku sudah mencoba. Aku tidak sanggup."
Ayah mengangguk di atas kepalaku. "Salat istikharah dulu. Kalau hatimu tetap, Ayah temani sampai selesai."
Sebelum berangkat mengisi kajian pagi, Ayah meletakkan sebuah kunci kecil berantai benang merah di atas meja makan. Kunci pagar cadangan.
"Ini rumahmu," katanya. "Tidak perlu minta izin untuk pulang."
*
Siang itu aku mengirim pesan kepada Riana. "Rin, aku di rumah Ayah sejak semalam."
Balasannya datang kurang dari semenit kemudian. "Aku ke sana sekarang, bawa kue lumpur?"
"Nanti saja. Aku cuma minta satu hal. Jangan sampai keluarga Mas Rafa tahu dari kamu."
"Mulutku terkunci," tulisnya. "Kali ini terkunci karena kamu yang minta, bukan karena aku takut."
Aku membaca kalimat itu lama, lalu tersenyum untuk pertama kalinya hari itu.
Malam harinya aku bangun di sepertiga malam terakhir dan salat istikharah di kamar lamaku. Aku memohon petunjuk dengan kalimat yang sederhana, dan ketika pagi datang hatiku tetap di tempat yang sama. Hening, tenang, dan anehnya tidak lagi sesakit dulu.
Senin pagi, ketika aku sedang menyiram bunga telang di pagar, sebuah mobil yang sangat kukenal berhenti di depan rumah Ayah. Rafa turun membawa sesuatu di tangannya.