Rafa berdiri di ambang pintu ruang makan dengan napas terengah, seakan-akan dia berlari dari mobil sampai ke sini. Matanya jatuh pada rantang yang masih terbuka di atas meja, lalu pada wajahku.
"Bunda telepon," katanya. "Dia menangis. Dia bilang kamu mengusirnya."
"Aku memintanya pulang, Mas. Dengan baik-baik."
Rafa menarik kursi di depanku, tetapi tidak jadi duduk. Tangannya mencengkeram sandaran kursi itu. "Apa yang Bunda katakan padamu?"
Aku menatapnya lama. Lelaki ini pernah kukagumi lebih dari siapa pun setelah Ayah. Suaranya ketika mengimami salat Magrib di rumah ini dulu membuatku yakin aku menikah dengan orang yang tepat. Aku masih bisa melihat sisa-sisa lelaki itu di wajahnya, di alisnya yang tebal, di garis rahangnya yang tegas, tetapi aku tidak lagi bisa menemukannya di matanya.
"Mas ingat kalimatmu di malam ulang tahun pernikahan kita?" tanyaku pelan. "Aku tak mau berzina, karena itu aku menikahinya."
Rafa mematung.
"Mas mengucapkannya dengan wajah alim di meja makan kita. Kalimat itu yang membuatku berpikir setidaknya suamiku masih takut pada Tuhan, meski dia tidak takut menyakitiku." Suaraku tetap datar, tetapi tanganku di atas meja gemetar hebat. "Laila sudah hamil dua bulan waktu kalian menikah, Mas."
Wajah Rafa memucat seketika. Dia melepaskan sandaran kursi dan mundur selangkah, seolah-olah kata-kataku adalah api yang menyambar.
"Najwa, aku ...."
"Malam itu Mas pamit dari rumah sakit untuk mengurus rombongan umrah. Besok siangnya Mas pulang membawa bubur ayam." Aku menelan ludah. "Malam itu, Mas?"
Rafa tidak menjawab. Dia jatuh terduduk di kursi, menutup wajah dengan kedua tangan, dan bahunya mulai berguncang. Untuk kedua kalinya dalam hidupku, aku melihat suamiku menangis.
"Aku khilaf," suaranya pecah di balik telapak tangan. "Aku sering ke tokonya. Aku tahu itu salah, Najwa, aku tahu. Waktu Laila bilang dia hamil, aku takut setengah mati. Bunda bilang harus cepat, sebelum ada yang tahu. Akadnya di rumah saudara Laila, hanya ada wali, saksi, dan Bunda."
"Waktu aku dirawat."
"Waktu kamu dirawat." Dia mengangkat wajah yang basah. "Aku tidak bisa menunggu. Perutnya ...."
"Lalu kenapa Mas bilang menikahinya supaya tidak berzina?"
Rafa membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Tidak ada jawaban yang bisa dia berikan, dan kami berdua tahu itu. Dalih itu bukan kebenaran. Dalih itu dia pakai karena dia tahu aku akan menerima alasan agama lebih mudah daripada pengakuan bahwa suamiku sudah lama tergelincir.
Aku berdiri. Kakiku masih lemas, tetapi aku tidak ingin duduk lebih lama lagi di hadapannya.
"Aku sudah mencoba, Mas," ucapku. "Aku mencoba demi janjiku pada Ayah. Demi nama Ayah. Demi enam tahun kita. Aku menghitung malam-malam yang kau batalkan supaya aku tidak gila, dan aku tetap mencoba. Tapi aku tidak sanggup hidup di atas dusta yang ditambal dengan dusta lain."
"Kita bisa memperbaikinya, Najwa. Aku mohon."
"Mas sudah berjanji tidak ada rahasia lagi. Belum sebulan, dan aku mendengarnya dari mulut Bunda."
Aku berjalan ke kamar. Rafa mengikutiku sampai ke ambang pintu, tetapi tidak masuk. Dia berdiri di sana dengan wajah kosong, memperhatikanku menurunkan koper kecil dari atas lemari.
Aku mengemas dengan tangan yang anehnya tidak gemetar lagi. Beberapa potong tunik dan rok. Buku sketsaku. Buku nikah milikku dari laci meja rias. Amplop berlogo rumah sakit yang masih tersimpan di tas selempang. Dompet buatan Dimas. Mukena lama pemberian Ayah. Kantong plastik berisi mukena putih bersulam melati kutinggalkan di atas tempat tidur.
Di dinding di atas meja rias tergantung foto pernikahan kami. Aku mengenakan kebaya putih, Rafa berbeskap, dan kami berdua tersenyum kaku karena baru beberapa jam saling mengenal. Dulu aku sering menatap foto itu sambil tertawa, mengingat betapa canggungnya kami waktu itu. Malam ini aku hanya menatapnya sebentar, lalu membiarkannya tetap di sana. Foto itu milik rumah ini, bukan milikku lagi.
"Kamu mau ke mana?" tanya Rafa dengan suara yang nyaris tak terdengar. "Aku tidak akan menceraikanmu, Najwa. Sampai kapan pun."
"Aku tidak memintanya malam ini, Mas," jawabku tanpa menoleh. "Malam ini aku hanya ingin pulang."
Rafa terdiam di ambang pintu. Aku mengeluarkan ponsel dan menekan nomor yang selalu menjadi tempatku pulang sejak kecil.
"Assalamualaikum, Nak." Suara Ayah terdengar serak, mungkin baru selesai mengisi pengajian selepas Isya.
"Waalaikumussalam, Ayah." Aku menarik napas panjang. "Ayah, boleh aku pulang malam ini?"
Hening sejenak di seberang. Aku tahu Ayah mengingat malam itu, malam di teras ketika aku berjanji tidak akan pulang membawa kata cerai. Aku menunggu dia bertanya kenapa. Dia tidak bertanya.
"Ayah jemput sekarang."
*
Gerimis turun ketika sedan hitam Ayah berhenti di depan pagar. Aku sudah menunggu di teras dengan koper di sampingku. Sebelum keluar rumah tadi, aku melepaskan kertas jadwal dan brosur Korea dari bawah magnet kulkas lalu meletakkannya di atas meja makan, di sebelah rantang Bunda. Biar Rafa tahu keduanya sudah kukembalikan.
Ayah turun dari mobil mengenakan sarung dan baju koko putih, kopiahnya sedikit miring. Rambutnya yang beruban basah oleh gerimis. Dia berjalan pelan melewati pagar dan menatapku dari ujung kaki sampai ujung kepala, seolah-olah memastikan tidak ada bagian tubuhku yang terluka.
"Ayah." Rafa keluar dari pintu di belakangku. Tangannya meraih pergelangan tanganku, tidak keras, tetapi cukup erat untuk menahanku. "Ayah, saya mohon. Biar kami bicara dulu. Najwa sedang emosi."
Ayah menatap tangan Rafa yang melingkari pergelanganku. Wajahnya tetap teduh, tetapi suaranya tidak.
"Lepaskan tangan anak saya, Rafa."
Kalimat itu diucapkan pelan, tanpa amarah, tetapi Rafa melepaskan tanganku seolah-olah tersengat listrik. Ayah mengambil koper dari sampingku dan membawanya ke mobil sendiri, meski aku tahu punggungnya sering nyeri. Aku mengikutinya tanpa menoleh.
Dari balik kaca mobil yang berembun aku melihat Rafa berdiri di teras, di bawah lampu yang dulu selalu lupa kunyalakan. Gerimis mulai membasahi kemejanya. Dia tidak berlari mengejar. Mungkin dia sudah tahu, sejak malam di rumah sakit itu, bahwa suatu hari aku akan pergi.
Ayah menyalakan mesin. Selama perjalanan dia tidak bicara sepatah kata pun. Tangannya hanya sesekali menepuk punggung tanganku di atas pangkuan, dua kali, seperti dulu ketika aku menangis ketakutan karena mimpi buruk.
Malam itu aku pulang ke rumah Ayah. Aku pulang, persis seperti yang dulu kujanjikan tidak akan pernah kulakukan.