Bunda duduk di kursi ruang makan sementara aku mengambil piring dari dapur. Ketika aku kembali, perempuan itu sudah berdiri di depan kulkas. Matanya menyusuri kertas jadwal yang penuh tanda silang dan brosur Korea yang terselip di sebelahnya.
"Apa ini, Nak?" Dia menunjuk deretan silang kecil itu dengan ujung jari. "Kamu menghitung-hitung suamimu?"
"Mas Rafa yang menulis jadwalnya, Bunda. Aku hanya mencatat."
Bunda menghela napas panjang, lalu kembali duduk. Dia membuka rantang susun tiga itu satu per satu. Rendang, sambal goreng kentang, dan perkedel. Wanginya memenuhi ruangan, wangi masakan yang dulu selalu membuatku merasa diterima di keluarga mereka.
"Makan dulu," katanya. "Kamu kurus sekali."
Aku menyendok sedikit nasi dan sepotong rendang demi menghormatinya. Bunda memperhatikanku makan, lalu meletakkan tangannya di atas tanganku.
"Rafa cerita kamu sudah mau mencoba. Bunda bersyukur, Nak. Bunda tahu kamu perempuan yang paham agama." Suaranya lembut, nyaris seperti membujuk anak kecil. "Tapi jangan dihitung-hitung begitu. Laila sedang hamil tua. Wajar kalau Rafa lebih sering ke sana. Kamu yang lebih tua, kamu yang harus lebih ikhlas."
Aku meletakkan sendok. "Aku sedang berusaha, Bunda."
"Laila itu berjasa untuk keluarga kita." Bunda tersenyum, matanya berbinar ketika menyebut nama itu. "Sebentar lagi Bunda gendong cucu. Kamu tahu berapa lama Bunda menunggu? Enam tahun, Najwa. Setiap arisan, setiap pengajian, orang selalu bertanya kapan Rafa punya anak. Bunda sampai malu menjawabnya."
Kata-kata itu meluncur dengan ringan, tetapi jatuh di dadaku seperti batu. Enam tahun aku menjadi bahan pertanyaan di arisan-arisan yang tak pernah kuhadiri. Enam tahun mertuaku menanggung malu atas rahimku, dan aku baru tahu sekarang.
"Nanti kamu juga boleh ikut mengasuh," lanjut Bunda dengan nada riang, seolah-olah sedang menawarkan hadiah. "Laila sudah bilang tidak keberatan. Anak itu bisa memanggilmu Mama juga."
Aku tersenyum tipis. Kalimat yang sama pernah dilontarkan Rafa di ruang tamu ini, pada hari Laila datang memperkenalkan diri. Rupanya di keluarga ini, memberiku kesempatan mengasuh anak dari perempuan lain dianggap sebagai bentuk kemurahan hati.
"Bunda yang meminta Mas Rafa menikah lagi?"
Senyum Bunda memudar sedikit. "Bunda hanya ingin cucu. Salahkah seorang ibu menginginkan keturunan dari anak satu-satunya?"
"Kenapa Bunda tidak bicara padaku? Kenapa tante-tante di arisan lebih dulu tahu daripada aku?"
"Kamu sedang sakit waktu itu. Bunda tidak mau kamu tambah drop."
"Dan Mas Rafa menikah waktu aku sakit." Suaraku bergetar. "Waktu aku terbaring di rumah sakit, Bunda."
Wajah Bunda memerah. Dia menarik tangannya dari atas tanganku dan duduk tegak. Bros mutiara di dadanya berkilat tertimpa cahaya lampu.
"Memang harus cepat! Kalau tidak cepat dinikahkan, aib!" Suaranya meninggi, hilang sudah kelembutan tadi. "Laila sudah hamil dua bulan waktu itu. Mau ditaruh di mana muka keluarga kita kalau perutnya membesar tanpa suami? Kamu pikir Bunda senang mengurus semua itu diam-diam?"
Ruang makan mendadak sunyi. Bunda menutup mulutnya dengan telapak tangan. Matanya membelalak, seolah-olah baru menyadari kata-kata yang sudah telanjur keluar tak bisa ditarik kembali.
Aku menatapnya tanpa berkedip. Hamil dua bulan. Sebelum akad.
"Kapan akadnya, Bunda?" tanyaku pelan. Terlalu pelan, sampai aku sendiri hampir tak mendengarnya.
"Najwa, Bunda salah bicara ...."
"Kapan?"
Bunda memalingkan wajah. "Agustus."
Agustus. Aku memejamkan mata dan ingatan itu datang tanpa diminta. Kamar rawat inap kelas satu di lantai tiga. Selang infus di punggung tanganku, perutku yang tak bisa menerima apa pun selain air. Suatu sore Rafa pamit dengan alasan mengurus keberangkatan rombongan umrah. Dia mencium keningku, berpesan kepada perawat agar sering-sering mengecek kondisiku, lalu pergi. Dia kembali keesokan siangnya membawa bubur ayam dan wajah yang terlihat sangat bahagia. Aku mengira dia bahagia karena dokter bilang aku boleh pulang lusa. Aku bahkan berterima kasih karena dia mau repot-repot membelikan bubur.
Mungkin malam itu dia mengucapkan ijab kabul untuk perempuan lain. Mungkin pagi harinya dia sarapan bersama istri barunya sebelum membelikan bubur untuk istri lamanya.
"Aku tak mau berzina, karena itu aku menikahinya."
Kalimat Rafa di malam ulang tahun pernikahan kami kembali terngiang, kali ini dengan bunyi yang sama sekali berbeda. Dia tidak menikahi Laila supaya tidak berzina. Dia menikahinya karena sudah terlambat untuk itu. Dalih yang dia pakai untuk menundukkanku, dalih yang dia ucapkan dengan wajah alim di meja makan kami, ternyata hanya selembar kain yang dipakai untuk menutupi aib.
Dan aku, perempuan bodoh ini, belum genap tiga minggu lalu meminta maaf kepadanya atas ketidaksempurnaanku.
"Najwa." Bunda meraih tanganku lagi, kali ini dengan jari-jari yang gemetar. "Jangan bilang Rafa Bunda yang cerita. Jangan bilang ayahmu. Itu sudah lewat. Yang penting sekarang mereka sudah halal, anaknya nanti sah."
Aku menarik tanganku perlahan. Aku tidak sanggup marah. Seluruh tenagaku seperti tersedot ke lantai, meninggalkan tubuh yang kosong dan dingin.
"Bunda pulang saja," ucapku lirih. "Aku mohon."
Bunda menatapku lama. Bibirnya bergerak hendak mengatakan sesuatu, tetapi tak ada suara yang keluar. Akhirnya dia berdiri, merapikan gamisnya, dan berjalan cepat ke pintu. Aku mendengar dia memanggil sopirnya dengan suara serak. Rantang susun tiga itu ditinggalkannya di meja makan, masih terbuka, masih mengepulkan sisa uap.
*
Langit di luar berubah jingga, lalu kelabu, lalu gelap. Azan Magrib berkumandang dari masjid di ujung jalan, dan aku masih duduk di kursi yang sama. Rendang di piringku sudah dingin.
Aku menghitung dengan jari seperti anak sekolah dasar yang baru belajar berhitung. Agustus, dua bulan. Bulan-bulan sebelumnya, ketika aku masih sehat, ketika Rafa mulai sering pulang larut dan aku berhusnuzan dia lelah bekerja. Ketika dia membawakan mukena putih bersulam melati sebagai oleh-oleh dari toko rekanan.
Aku berdiri dengan lutut gemetar dan berwudu. Ketika membuka lemari, tanganku sudah meraih mukena putih bersulam melati yang terlipat paling atas, kebiasaan berbulan-bulan. Aku tertegun. Kain itu tiba-tiba terasa asing di tanganku, seolah-olah masih menyimpan aroma toko tempatnya berasal. Aku melipatnya kembali, memasukkannya ke dalam kantong plastik, lalu mengambil mukena lama pemberian Ayah yang warnanya sudah kusam. Aku salat Magrib dengan air mata yang membasahi sajadah. Setelah salam aku tidak berdoa apa-apa. Aku hanya duduk dan membiarkan Tuhan membaca sendiri isi hatiku, sebab aku tak sanggup menyusunnya menjadi kata-kata.
Pukul delapan malam cahaya lampu mobil menyapu jendela ruang tamu. Aku mengenali bunyi mesinnya. Hari ini Sabtu, malam milik Laila menurut kertas di bawah magnet kulkas itu. Untuk pertama kalinya Rafa pulang di malam milik istri mudanya, dan aku tahu dia datang bukan untukku.
Bunda pasti sudah meneleponnya.