Rafa menepati kata-katanya keesokan harinya. Senin siang dia pulang membawa sekeranjang buah, apel merah, jeruk, dan anggur hijau yang dibungkus plastik bening berpita. Dia meletakkannya di meja makan dengan wajah lelah dan senyum yang dipaksakan.
"Ganti semalam," katanya. "Maaf, Sayang."
Aku menatap keranjang itu, lalu menatapnya. Lingkaran hitam menggantung di bawah matanya. Kemeja batik cokelat kemarin sudah berganti kemeja putih yang tidak kukenali, mungkin dari lemari di rumah putih itu.
"Malam tidak bisa diganti dengan jeruk, Mas," ucapku pelan.
Rafa terdiam. Aku mengambil sebutir jeruk, mengupasnya, lalu menyodorkan separuh kepadanya. Dia menerimanya dengan raut lega, seolah-olah separuh jeruk itu adalah maaf. Padahal aku hanya tidak ingin buah itu membusuk sia-sia.
Malam itu, setelah Rafa tertidur, aku berdiri lama di depan kulkas. Kertas jadwal masih terselip di bawah magnet, tulisannya rapi dan yakin. Aku mengambil pensil dari laci dapur dan membubuhkan tanda silang kecil di samping kata Minggu. Aku tidak tahu kenapa melakukannya. Mungkin karena aku perlu bukti bahwa yang kurasakan bukan khayalan.
*
Dua minggu berikutnya tanda silang itu bertambah.
Kamis malam Rafa mengirim pesan pukul delapan. "Laila pusing sejak sore, aku antar periksa dulu. Nanti aku pulang." Dia pulang lewat tengah malam dan berangkat lagi sebelum Subuh karena ponselnya berdering. Senin minggu berikutnya dia datang, tetapi ponselnya tak berhenti bergetar di atas meja makan, dan setiap getarnya membuat dia melirik layar seperti orang yang dikejar utang. Selasanya dia tidak pulang sama sekali. Alasannya Laila terjatuh di kamar mandi, meski ketika aku bertanya keesokan harinya, Rafa mengaku Laila hanya terpeleset dan tidak apa-apa.
Aku tidak pernah menelepon Laila. Nomornya tersimpan di ponselku, dan jadwal itu sudah dia terima. Namun, setiap malam yang seharusnya milikku selalu ada saja yang lebih mendesak di rumah bercat putih itu. Mungkin perempuan hamil memang lebih sering membutuhkan suaminya. Mungkin aku yang terlalu menghitung. Aku mencoba berprasangka baik, sungguh, tetapi pensil di laci dapur terus memanggilku setiap malam.
Kebiasaanku pun berubah pelan-pelan. Minggu pertama aku masih memasak untuk dua orang, lalu memindahkan sisanya ke wadah plastik keesokan paginya. Minggu kedua aku hanya memasak secukupnya. Aku makan dengan satu piring, satu gelas, satu sendok. Ternyata mencuci piring sendirian jauh lebih cepat, dan entah mengapa kenyataan itu justru membuat dadaku sesak.
Hari-hariku kuisi di rumah biru. Anak-anak masih membicarakan pameran. Dimas memamerkan buku tabungannya kepada siapa pun yang mau melihat. Sari mulai menganyam keranjang kedua, lebih kecil, katanya untuk Bu Ketua. Bastian hanya muncul di grup panitia, mengirim foto buku-buku tabungan anak-anak yang dijajarkan di atas meja dengan satu kalimat: "Terima kasih semuanya, ini hasil kerja kalian." Aku membacanya berkali-kali, lalu menegur diriku sendiri karena membacanya berkali-kali.
Riana mulai bercanda lagi, sedikit demi sedikit. Dia menyebut lorong bambu kami "jalan tol menuju surga anak-anak" dan tertawa sendiri sebelum aku sempat menanggapi. Aku belum bisa tertawa sekeras dulu bersamanya, tetapi aku tidak lagi menghindar ketika dia duduk di sebelahku.
Ayah meneleponku dua kali dalam dua minggu itu. Setiap kali dia bertanya bagaimana keadaanku, aku menjawab baik. Ketika dia bertanya apakah Rafa sudah lebih sering di rumah, aku menjawab sudah. Aku berbohong kepada lelaki yang mengajariku bahwa dusta sekecil apa pun akan beranak pinak. Aku melakukannya demi menjaga janjiku padanya, dan kebohongan itu terasa seperti batu yang kutelan setiap malam.
*
Kamis minggu kedua Rafa pulang lebih awal dengan wajah berseri-seri. Dia memelukku di ruang tamu, mengangkat tubuhku sedikit seperti dulu, lalu tertawa.
"Tendernya menang, Najwa! Biro kita yang memberangkatkan rombongan umrah karyawan perusahaan itu tahun depan."
"Alhamdulillah," ucapku tulus. Aku tahu berbulan-bulan dia mengerjakan berkas tender itu sampai larut malam. Setidaknya kupikir begitu.
Rafa mengeluarkan beberapa lembar brosur mengilap dari tas jinjing hitamnya. Gambar pohon-pohon sakura merah muda, istana kuno beratap melengkung, dan jalanan bersalju yang berkilauan di bawah lampu.
"Aku sudah janji, kan? Kita ke Korea. Musim semi, waktu bunganya mekar."
"Kapan?"
Senyum Rafa sedikit goyah. "Nanti. Setelah Laila melahirkan dan keadaannya stabil. Mungkin April atau Mei."
Aku membolak-balik brosur itu. Di setiap lembarnya tercetak paket perjalanan, harga, dan fasilitas hotel. Tidak ada satu pun tanggal yang dilingkari. Aku tersenyum kecil, lalu berjalan ke dapur dan menyelipkan brosur itu di bawah magnet kulkas, bersebelahan dengan kertas jadwal yang penuh tanda silang.
Rafa mengikutiku ke dapur. Matanya jatuh pada kertas itu, pada deretan silang kecil di samping nama-nama hari. Wajahnya berubah.
"Kamu menghitung?"
"Aku mencatat, Mas. Seperti katamu, supaya adil."
Dia membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ponselnya bergetar di saku celana. Kali ini dia tidak melirik layarnya, dan aku tahu itu usahanya yang paling keras malam itu. Aku menghargainya. Aku benar-benar menghargainya, tetapi rasa hormat tidak sama dengan sanggup.
Malam itu dia tidur memelukku, dan aku berbaring dengan mata terbuka. Dua minggu sudah aku mencoba. Selama itu aku menyesuaikan diri dengan setiap kabar mendadak dan setiap malam yang dibatalkan. Dua minggu pula aku menunggu dengan sabar, sementara kesabaranku diam-diam dipakai sebagai alas untuk orang lain melangkah. Aku bertanya pada diriku sendiri berapa lama lagi sanggup bertahan, dan aku belum menemukan jawabannya.
*
Sabtu sore, ketika aku sedang menyiram tanaman di teras, sebuah mobil hitam berhenti di depan pagar. Sopir turun lebih dulu untuk membukakan pintu belakang. Seorang perempuan berusia enam puluhan keluar dengan gamis ungu tua dan kerudung lebar yang disematkan bros mutiara besar. Tangannya menenteng rantang susun tiga.
Bunda.
Sudah berbulan-bulan dia tidak berkunjung. Terakhir kali dia datang ketika aku baru pulang dari rumah sakit, membawakan sup ayam dan mengelus kepalaku sambil berkata aku harus banyak istirahat. Waktu itu aku terharu. Kini aku tahu, di hari-hari yang sama dia sudah bercerita kepada tante-tante di dapur arisan bahwa menantunya yang lain sedang mengandung cucunya.
"Assalamualaikum, Nak." Bunda tersenyum lebar sambil menyerahkan rantang itu kepadaku. "Bunda masak rendang kesukaanmu."
"Waalaikumussalam, Bunda." Aku mencium tangannya seperti biasa. Kulitnya wangi minyak zaitun, wangi yang dulu selalu kuanggap wangi seorang ibu.
Hari ini Sabtu. Malam ini Rafa di rumah Laila. Bunda pasti tahu itu, dan dia tetap datang ke sini sendirian, membawa rendang. Aku menyilakannya masuk dengan dada berdebar, sebab entah mengapa aku yakin yang dia bawa sore ini bukan hanya rendang.