Pukul sepuluh tepat pintu kaca ruang pameran dibuka. Aku berdiri di sudut paling belakang, di balik panel bambu, sementara pengunjung pertama mulai menyusuri lorong yang berkelok. Seorang ibu menggandeng anaknya sambil menunjuk foto-foto di dinding. Sepasang mahasiswa berhenti lama di depan peta gang buatan Bagas. Aku menahan napas setiap kali ada yang keluar dari ujung lorong dan mendapati ruangan terang yang penuh karya, lalu bergumam kagum.
Bastian membuka acara dengan pengeras suara kecil. Dia tidak berpidato panjang. Dia hanya berterima kasih kepada anak-anak, kepada Pak Darto dan para pengelola, lalu kepada pihak pusat perbelanjaan yang memberi tempat.
"Dan untuk penata ruang yang membuat kalian berjalan lewat gang kami lebih dulu sebelum melihat karya anak-anak," katanya sambil mengarahkan tangan ke sudutku. "Najwa."
Tepuk tangan bergemuruh. Wajahku memanas. Aku hanya menangkupkan tangan di depan dada dan cepat-cepat mundur ke balik panel, sementara Bastian menyerahkan pengeras suara kepada Bagas. Bocah itu menjelaskan petanya dengan suara gemetar, lalu semakin lantang ketika orang-orang tertawa mendengar ceritanya tentang gerobak mie ayam di belokan.
"Kamu dengar, kan?" bisik Riana yang tiba-tiba sudah berdiri di sebelahku. "Penata ruang. Bukan istri siapa-siapa. Bukan putri siapa-siapa."
Aku mendengarnya. Kalimat itu entah mengapa membuat mataku perih.
Pukul setengah sebelas Rafa datang. Dia mengenakan kemeja batik cokelat yang kusetrika untuknya bulan lalu dan membawa buket mawar merah besar yang membuat beberapa pengunjung menoleh. Dua ibu dari pengajian Ayah yang kebetulan datang langsung berbisik-bisik sambil tersenyum ke arah kami.
"Untuk istriku yang hebat," ucap Rafa, cukup keras untuk didengar orang-orang di sekitar kami. Dia menyerahkan buket itu, lalu memandang berkeliling dengan wajah bangga.
"Terima kasih sudah datang, Mas." Aku menerima bunga itu dengan senyum yang kuusahakan tulus. Dia menepati janjinya. Hari ini Minggu, hari ini giliranku, dan dia ada di sini.
Rafa melihat Bastian di dekat rak anyaman. Rahangnya mengeras sejenak sebelum dia melangkah menghampiri dan mengulurkan tangan.
"Terima kasih sudah membantu istri saya."
Bastian menjabat tangan itu dengan tenang. "Istri Anda yang membantu kami."
Aku melihat Rafa tersenyum kaku. Dia belum sempat membalas ketika ponselnya berdering. Dia melirik layar, lalu menjauh ke dekat pintu kaca. Aku memperhatikan punggungnya dari kejauhan. Bahunya menegang, tangannya mengusap tengkuk berkali-kali. Ketika dia kembali, wajahnya pucat.
"Laila bilang perutnya kencang-kencang sejak pagi. Dia takut." Rafa menatapku dengan sorot memohon. "Aku harus ke sana, Najwa."
"Hari ini giliranku, Mas," ucapku pelan. Bukan untuk menahannya, hanya untuk mengingatkan bahwa kertas di bawah magnet kulkas itu dia sendiri yang menulisnya.
"Ini darurat. Kalau terjadi apa-apa sama bayinya ...." Dia tidak menyelesaikan kalimatnya. Dia mengusap lenganku sekilas, lalu berbalik dan setengah berlari menuju eskalator.
Aku berdiri di tengah ruangan dengan buket mawar merah di pelukan. Dua ibu dari pengajian Ayah berhenti berbisik. Beberapa pengunjung pura-pura sibuk membaca kartu harga. Aku merasakan tatapan mereka menempel di punggungku seperti duri-duri kecil. Mawar itu tiba-tiba terasa sangat berat.
*
"Bu Ketua."
Seseorang menarik ujung tunikku. Dimas berdiri di sana dengan tangan terulur. Di telapaknya ada sebuah dompet kecil dari kemasan kopi rentengan yang dilipat rapi, berwarna merah dan emas.
"Buat Bu Ketua. Gratis," katanya. "Yang lima belas ribu sudah laku dua."
Aku berjongkok supaya mataku sejajar dengan matanya. "Terima kasih, Dimas. Ini bagus sekali."
"Bu Ketua harus keliling," sahut Sari yang entah sejak kapan sudah menggandeng tangan kiriku. Bagas mengambil buket mawar dari pelukanku dan menyerahkannya kepada Riana tanpa bertanya. "Kan Bu Ketua yang bikin jalannya. Masa Bu Ketua belum lewat?"
Mereka menggiringku ke mulut lorong bambu. Sari menjelaskan setiap foto seolah-olah aku belum pernah melihatnya. Dimas menunjuk foto dirinya yang sedang melipat kemasan kopi dengan lidah terjulur. Bagas berjalan paling depan seperti pemandu wisata. Aku tertawa, dan air mataku jatuh di saat yang sama. Tidak ada yang bertanya kenapa. Anak-anak yang terbiasa hidup di jalan rupanya tahu kapan orang dewasa butuh digandeng, bukan ditanya.
Siang harinya Pak Darto datang membawa kursi lipat dan sebotol air mineral. "Kata Pak Bastian, Bu Ketua kelihatan pucat. Disuruh duduk dulu," katanya sambil menaruh kursi itu di dekat meja tamu. Aku menoleh ke arah Bastian yang sedang melayani pembeli di rak anyaman. Dia tidak sedang melihat ke arahku. Dia menyampaikan perhatiannya lewat orang lain, persis seperti permintaanku hari Jumat.
Pameran ditutup pukul lima sore. Hampir separuh karya anak-anak terjual. Bastian mengumumkan bahwa seluruh hasil penjualan akan dimasukkan ke tabungan masing-masing anak, bukan ke kas rumah singgah. Sorak anak-anak memenuhi ruangan. Sari melompat-lompat memeluk keranjang anyamannya yang sudah dibeli seorang ibu dan dititipkan untuk diambil nanti.
Ketika ruangan mulai dibereskan, Riana menyodorkan buket mawar yang sejak siang dia simpan di dalam ember air di balik panel. "Bunganya, Najwa."
Aku menatap mawar-mawar itu. Kelopaknya masih segar, merahnya masih menyala. Lalu aku menoleh kepada petugas kebersihan yang sedang menyapu lorong bambu, perempuan paruh baya yang hari Jumat juga kebagian teh jahe.
"Bu, ini untuk Ibu," kataku sambil menyerahkan buket itu.
Perempuan itu terbelalak, lalu tertawa malu dan memeluk bunga itu seperti memeluk bayi. Riana menatapku tanpa berkata apa-apa. Dompet kecil buatan Dimas sudah tersimpan di dalam tasku, bersebelahan dengan dompet merah hati. Itu yang ingin kubawa pulang.
*
Rumah gelap ketika aku tiba. Pukul sebelas malam pesan Rafa masuk.
"Maaf, Sayang. Kata dokter cuma kontraksi palsu. Laila masih takut sendirian, aku temani malam ini. Besok aku ganti."
Aku membaca dua kata terakhir itu berulang-ulang. Besok aku ganti. Seakan-akan malam adalah uang receh yang bisa ditukar di warung sebelah.
Tak lama kemudian status baru muncul dari kontak Laila. Foto dua tangan yang saling menggenggam di atas seprai putih rumah sakit, dan jam tangan kulit cokelat itu lagi.
"Alhamdulillah cuma kontraksi palsu. Makasih, suami siaga, sudah nemenin sampai malam."
Aku mematikan ponsel dan menaruhnya terbalik di atas meja rias. Aku mengeluarkan dompet buatan Dimas dari tas dan menggenggamnya sampai tertidur. Hadiah paling jujur yang kuterima sepanjang Desember ini justru datang dari bocah sepuluh tahun yang giginya ompong.