Riana sudah duduk di lantai ruang pameran ketika aku datang Jumat pagi. Dia sedang mengukur kain goni dengan meteran jahit, dan di meja kerjaku tergeletak sekotak kue lumpur dari toko langganan kami dekat pondok dulu. Dia tidak menyebut kue itu, aku pun tidak. Kami bicara seperlunya, tentang paku tembak, tentang lampu gantung, tentang berapa meja yang masih kurang. Gadis yang biasanya tak bisa diam lima menit tanpa bercanda itu bekerja dalam hening, dan heningnya terasa lebih berisik daripada lelucon mana pun.
Aku membentangkan kertas sketsa di atas meja. Semalam, karena tak bisa tidur, aku bangun diam-diam dan menggambar ulang seluruh rancangan di meja makan. Pengunjung tidak akan masuk ke ruangan yang lapang begitu saja. Mereka akan berjalan lebih dulu melewati lorong sempit dari panel-panel bambu, berkelok seperti gang menuju rumah biru. Di dinding lorong akan digantung foto anak-anak yang sedang belajar di gazebo. Baru di ujungnya ruangan terbuka, terang, penuh karya.
"Biar orang merasakan jalan yang setiap hari ditempuh anak-anak," jelasku ketika Riana melongok ke sketsa itu.
Riana mengangguk. "Bagus," katanya pendek. Hanya itu, tetapi aku melihat matanya berbinar sebentar sebelum dia kembali menunduk pada meterannya.
Menjelang Zuhur Pak Darto, salah satu pengelola rumah singgah, datang membawa rombongan kecil anak-anak yang ingin menata karya mereka sendiri. Dimas yang berumur sepuluh tahun memeluk kardus berisi dompet dari bekas kemasan kopi rentengan. Sari, gadis kecil berkepang dua, menenteng keranjang anyaman yang lebih besar dari badannya. Bagas, yang paling tua, membawa gulungan kertas manila.
"Ini peta, Bu Ketua," kata Bagas sambil membuka gulungannya. Dia menggambar gang menuju rumah biru lengkap dengan gerobak mie ayam di belokan, pohon jambu, dan gazebo di samping rumah. "Kata Bang Bas, orang harus tahu jalan ke rumah kami."
"Bang Bas?" ulangku.
Dimas menunjuk ke arah pintu kaca. Bastian baru saja masuk sambil membawa kantong plastik besar berisi gelas-gelas kertas yang mengepulkan uap. Hari ini dia tidak memakai topi atau masker, hanya kemeja lengan panjang yang digulung sampai siku sehingga tato kepala elang di tangan kirinya terlihat jelas.
"Teh jahe," katanya kepada semua orang. "Hujan semalam bikin masuk angin."
Anak-anak berebut mengerubunginya. Bastian membagikan teh satu per satu, termasuk kepada petugas kebersihan yang kebetulan lewat. Gelas terakhir dia letakkan di ujung mejaku tanpa menatapku terlalu lama. Lalu dia berdiri di depan sketsa yang terbentang dan mengamatinya cukup lama.
"Kamu membawa gang itu ke sini," ujarnya pelan.
"Anak-anak yang membawanya. Aku cuma menggambar."
Bastian tersenyum, lalu berbalik menghampiri anak-anak yang mulai menurunkan karya mereka dari kardus. Aku menunggu sampai Riana berdiri di dekatku sebelum memanggilnya kembali.
"Bastian, boleh aku minta satu hal?"
Dia menoleh, menunggu.
"Urusan pameran kita bicarakan di grup panitia saja, ya. Jangan lewat pesan pribadi." Aku menelan ludah. "Aku masih istri orang. Di lantai ini juga aku pernah dituduh hanya karena berdiri di dekatmu."
Aku mengira dia akan tersinggung, atau setidaknya menertawakanku seperti dulu ketika aku menuduhnya penjahat. Namun, Bastian justru mengangguk dengan wajah serius.
"Grupnya sudah kubuat semalam. Pak Darto dan Riana sudah masuk." Dia diam sejenak. "Aku minta maaf soal malam itu. Harusnya aku lebih hati-hati, bukan malah meladeni suamimu."
Dia kembali ke anak-anak sebelum aku sempat menjawab. Aku menatap punggungnya yang tegap, lalu cepat-cepat menundukkan pandangan. Hatiku berbisik bahwa lelaki itu baik. Kepalaku menegur bahwa kebaikan orang lain bukan urusan seorang istri yang sedang berusaha menyelamatkan rumah tangganya.
Aku menyibukkan diri dengan kartu harga. Dimas berdiri di sampingku dan memperhatikan setiap huruf yang kutulis.
"Dompetku lima ribu saja, Bu Ketua," katanya malu-malu.
"Berapa hari kamu bikin ini?"
"Tiga hari. Melipatnya susah, kemasannya licin."
"Kalau begitu lima belas ribu." Aku menuliskan angka itu besar-besar. "Tiga hari kerjamu tidak boleh dihargai murah, Dimas. Termasuk oleh dirimu sendiri."
Bocah itu tersenyum lebar sampai gigi depannya yang ompong kelihatan. Aku ikut tersenyum, meski kalimatku sendiri terasa seperti tamparan halus. Sudah berapa lama aku menghargai diriku semurah itu? Ijazah desain interior dengan nilai tertinggi kusimpan di lemari, dan aku merasa cukup hanya dengan menjadi istri yang menunggu di rumah. Di ruangan ini, di antara bambu dan kain goni, aku seperti bertemu lagi dengan Najwa yang dulu.
*
Sore harinya, ketika anak-anak beristirahat di lantai beralaskan kardus, aku mendengar Bastian bercerita kepada mereka.
"Dulu Abang pernah tidur di emperan toko, tidak jauh dari sini. Umur Abang kira-kira sebesar Bagas."
"Bohong!" Sari membelalak. "Bang Bas, kan, orang kaya."
Bastian tertawa. "Orang kaya juga dulu pernah lapar, Sari. Yang penting waktu lapar jangan sampai mengambil punya orang."
Anak-anak terdiam mendengarnya, dan aku pun ikut terdiam di balik panel bambu. Aku teringat tato di tangannya, topi dan masker yang membuatku lari ketakutan di gang. Siapa sebenarnya lelaki ini sebelum dia menjadi donatur yang membagikan nasi kotak dan teh jahe? Pertanyaan itu kusimpan rapat-rapat. Bukan hakku untuk ingin tahu.
Menjelang Magrib, setelah semua orang pulang, aku membuka kotak kue lumpur yang seharian tak kusentuh. Aku mengambil satu dan memakannya di depan Riana.
"Masih enak," kataku.
Riana menatapku lama, lalu tersenyum kecil untuk pertama kalinya sejak botol teh itu jatuh. Dia tidak mengatakan apa-apa, dan aku pun belum bisa mengatakan lebih dari itu.
*
Sabtu pagi pesan Rafa masuk ketika aku sedang memasang lampu gantung dari anyaman bambu. "Ini nomor Laila. Jadwalnya sudah kuberikan. Simpan, ya, kalau ada perlu." Di bawahnya tertera deretan angka.
Aku menyimpan nomor itu dengan nama Laila, lalu menatapnya lama. Nomor itu berbeda dengan nomor tak dikenal yang dulu mengirimiku foto Rafa sedang tidur dan memilih baju bayi. Pesan dan foto itu masih ada di ponselku. Aku tidak pernah menghapusnya, entah karena lupa atau karena sebagian diriku ingin menyimpan bukti seberapa dalam aku pernah dilukai.
Sabtu itu kami bekerja sampai malam. Lorong bambu berdiri, foto-foto tergantung, karya anak-anak berjajar di rak bertingkat dengan kartu nama mereka masing-masing. Bastian hanya datang sebentar sore hari untuk mengecek pengeras suara, lalu pamit lebih dulu.
Di dalam taksi menuju rumah aku membuka WhatsApp. Satu status baru muncul dari kontak yang tadi pagi kusimpan. Foto dua cangkir kopi di atas meja, dan sebuah tangan lelaki yang memegang salah satunya. Di pergelangan tangan itu melingkar jam tangan kulit cokelat yang kuhadiahkan untuk ulang tahun pernikahan kami yang kelima.
"Malam Minggu bersama imamku."
Aku mematikan layar ponsel dan menyandarkan kepala ke kaca jendela. Malam ini memang milik Laila. Itu tertulis di kertas yang terselip di bawah magnet kulkas, dengan tulisan tangan Rafa sendiri. Aku sudah tahu, tetapi mengetahui ternyata tidak sama dengan melihat.
Besok giliranku, bisikku pada diri sendiri. Besok Rafa sudah berjanji datang.