Rafa pulang selepas Isya membawa bungkusan kertas cokelat yang masih mengepul. Aroma gula aren dan pisang yang terbakar langsung memenuhi ruang tamu. Pisang bakar dari gerobak di dekat alun-alun, camilan yang dulu selalu kami buru di malam Minggu.
"Masih hangat," katanya sambil meletakkan bungkusan itu di meja makan. Senyumnya ragu-ragu, seperti anak yang membawa rapor dan tak yakin nilainya cukup.
Aku mengambil dua piring kecil, lalu membagi pisang itu menjadi dua bagian. Dulu kami tak pernah memakai piring. Kami makan langsung dari kertas pembungkus di dalam mobil yang diparkir di tepi jalan, tertawa ketika lelehan gula menetes ke baju. Malam ini kami duduk berhadapan di meja makan, masing-masing dengan piringnya sendiri.
Rasa pisang bakar itu masih sama. Yang berubah hanya kami.
"Bagaimana tadi di rumah sakit?" Rafa bertanya pelan. "Kenapa tidak menungguku?"
"Mas sedang mengantar Laila." Aku meletakkan garpu. "Dokter Wulan masih ingat kita, Mas. Dia masih menyimpan catatannya."
Wajah Rafa memucat. Tangannya yang hendak meraih gelas berhenti di udara.
"Satu setengah tahun lalu dia menyarankan pemeriksaan lanjutan. Dia bilang obat saja tidak cukup. Mas bilang akan memikirkannya, lalu kita tidak pernah kembali." Aku menatap matanya lurus-lurus. "Kenapa, Mas?"
Rafa menunduk lama. Jam dinding berdetak keras di antara kami. Aku menunggu, sebab kali ini tidak ada radio yang bisa dia naikkan volumenya.
"Aku cerita ke Bunda," jawabnya akhirnya. "Bunda bilang percuma. Katanya uang hanya terbuang untuk sesuatu yang sudah rusak. Lebih baik ...." Dia berhenti, menelan kalimat yang tak sanggup dia selesaikan.
"Lebih baik apa?"
"Lebih baik aku memikirkan jalan lain."
Aku memejamkan mata. Jalan lain itu kini bernama Laila, dan perutnya sudah membesar.
"Waktu itu kamu sudah sering ke tokonya?"
Rafa tidak menjawab. Diamnya lebih nyaring daripada pengakuan mana pun.
Tiba-tiba aku teringat mukena putih bersulam bunga melati yang dia bawakan sekitar waktu itu. Katanya oleh-oleh dari toko rekanan biro, sisa contoh barang untuk jamaah. Aku memakainya untuk tarawih, memujinya di depan teman-teman pengajian, bahkan pernah mendoakan pemilik tokonya agar usahanya lancar. Mukena itu masih terlipat di lemari kami.
"Mukena putih itu dari tokonya, Mas?"
Rafa memejamkan mata. Kepalanya mengangguk nyaris tak terlihat. Aku tertawa pelan, tawa yang membuat dadaku sendiri ngilu.
"Jadi saat dokter bilang masih ada yang bisa diperiksa, Mas memilih toko Laila."
"Bukan begitu, Najwa. Aku bingung, aku takut, aku ...."
"Mas takut, lalu aku yang tidak boleh tahu." Suaraku bergetar, tetapi aku tidak menangis. Air mataku seolah-olah sudah habis di musala rumah sakit tadi pagi. "Pemeriksaan ulangku pertengahan Januari. Aku yang akan memutuskan apa pun hasilnya."
Rafa mengangguk cepat. "Aku antar. Aku yang bayar semuanya."
"Nanti kita lihat."
*
Malam itu aku tak bisa tidur. Rafa terlelap di sebelahku dengan napas teratur, sementara aku menatap langit-langit kamar dan teringat malam sebelum akad nikah kami enam tahun lalu.
Ayah mengajakku duduk di teras rumah. Lampu jalan berkedip-kedip, dan dari dalam rumah terdengar bibi-bibi sibuk menyiapkan kue untuk tamu esok hari. Ayah memegang tanganku lama sekali sebelum bicara.
"Nak, Ayah memilih Rafa karena Ayah yakin dia bisa menjagamu. Tapi rumah tangga itu tidak selalu mudah. Ada hari-hari ketika kamu ingin pulang."
Waktu itu aku tersenyum dan menjawab dengan keyakinan seorang gadis yang belum pernah terluka. "Insyaallah aku tidak akan pulang ke rumah ini membawa kata cerai, Ayah. Apa pun yang terjadi, aku akan menyelesaikannya dengan kepala dingin."
Ayah tidak membalas. Dia hanya mengusap kepalaku, dan aku melihat matanya berkaca-kaca. Kupikir dia terharu. Mungkin sebenarnya dia takut. Sejak Ibu tiada, Ayah membesarkanku seorang diri. Dia yang mengepang rambutku sebelum aku belajar memakai kerudung, dia yang menungguiku di depan pondok setiap libur semester. Malam itu dia akan menyerahkanku kepada lelaki lain, dan aku menghibur kecemasannya dengan sebuah janji.
Beberapa minggu sebelumnya, Rafa duduk di teras yang sama bersama keluarganya. Lewat Ayah aku mengajukan satu syarat sebelum menerima pinangannya, dan dari balik tirai ruang tamu aku mendengar dia menyanggupinya. "Saya berjanji, Ustad. Najwa satu-satunya." Aku belum pernah melihat wajahnya waktu itu, tetapi suaranya begitu tegas sampai aku malu sendiri karena pernah ragu.
Janji Rafa sudah dia patahkan sendiri. Janjiku masih utuh di tanganku, dan entah kenapa justru itu yang paling berat. Kalau aku pulang membawa kata cerai, orang-orang tidak akan bertanya apa yang dilakukan Rafa. Mereka akan bertanya kenapa putri Ustad Amir tidak sanggup bersabar. Mereka akan menimbang Ayah dari kegagalanku.
Aku menoleh ke wajah Rafa yang tertidur. Tuhan, apakah bertahan ini kesabaran, atau hanya ketakutan yang kuberi nama kesabaran?
*
Pagi harinya, Rafa sudah duduk di meja makan dengan selembar kertas yang dia sobek dari agenda kerjanya. Tulisannya rapi seperti biasa, tulisan lelaki yang terbiasa mengisi formulir jamaah umrah.
"Aku sudah memikirkannya semalaman," katanya sambil menyodorkan kertas itu. "Supaya adil. Supaya kamu tahu kapan aku di sini."
Senin, Selasa, Kamis: rumah Najwa. Rabu, Jumat, Sabtu: rumah Laila. Minggu: bergantian.
Aku membaca tulisan itu berulang-ulang. Enam tahun pernikahanku kini muat dalam tiga baris di selembar kertas agenda. Seminggu tujuh malam, dibagi dua seperti kue yang dipotong.
"Minggu ini giliranmu," lanjut Rafa. "Aku datang ke pameranmu. Aku janji."
"Laila tahu jadwal ini?"
"Nanti aku beri tahu."
"Tuliskan juga untuknya, Mas. Biar dia tahu malam mana dia boleh meneleponmu dan malam mana tidak." Aku menyentuh ujung kertas itu. "Selama ini aku yang selalu tidak tahu. Sekarang biar semua orang tahu hal yang sama."
"Aku mau mencoba, Mas," kataku pelan. Kalimat itu keluar lebih tenang daripada yang kubayangkan. "Demi janjiku pada Ayah. Tapi dengan satu syarat."
"Apa pun."
"Tidak ada rahasia lagi. Tentang Laila, tentang tubuhku, tentang apa pun. Kalau aku mendengar sesuatu dari orang lain lebih dulu, aku tidak akan bertanya kenapa. Aku akan langsung tahu jawabannya."
Rafa meraih tanganku dan menciumnya. "Aku janji."
Satu janji lagi, pikirku. Aku tersenyum tipis, lalu berdiri dan menyelipkan kertas jadwal itu di bawah magnet kulkas. Rafa menatapku heran.
"Biar aku ingat malam mana aku boleh menunggu," jawabku.
Dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi ponselnya berdering di atas meja. Aku tak perlu melihat layarnya untuk tahu siapa yang menelepon. Hari ini Jumat. Malam nanti milik Laila.