Pagi itu aku tetap mengirim pesan kepada Rafa sebelum berangkat. Serumit apa pun keadaan kami, dia masih suamiku, dan aku masih ingin menjadi istri yang pamit sebelum keluar rumah.
"Mas, aku ke rumah sakit menemui dr. Wulan. Aku pergi sendiri."
Balasannya datang ketika taksi sudah melaju di jalan raya. "Aku sedang mengantar Laila kontrol. Nanti sore aku pulang, kita bicara." Lalu ponselku berdering tiga kali berturut-turut. Aku membiarkannya sampai berhenti sendiri. Pagi ini dua istri Rafa sama-sama menuju dokter kandungan, hanya saja yang satu digandeng, yang lain datang sendirian. Aku tertawa kecil menyadari kelucuan itu, lalu mengusap sudut mata sebelum sopir taksi melirik dari kaca spion.
Rumah sakit itu tidak banyak berubah. Lorong poli kandungan masih bercat krem dengan deretan kursi besi yang dingin. Di sekelilingku duduk perempuan-perempuan berperut besar, sebagian bersandar di bahu suami masing-masing. Seorang lelaki muda mengipasi istrinya dengan map plastik. Aku memeluk tas selempang di pangkuan dan menghitung ubin, persis seperti satu setengah tahun lalu.
Perempuan di seberangku mungkin seusia Laila. Perutnya sebesar perut wanita itu, dan suaminya berkali-kali bertanya apakah dia haus. Tanpa bisa kucegah, benakku membayangkan ruang tunggu lain di sudut kota ini. Apakah Rafa juga sedang mengipasi Laila dengan map plastik? Apakah dia juga bertanya apakah istrinya haus? Aku cepat-cepat beristigfar dan mengalihkan pandangan ke papan nomor antrean.
"Ibu Najwa."
Dokter Wulan ternyata masih mengenakan kacamata berbingkai cokelat yang sama. Rambutnya kini lebih banyak beruban. Dia mempersilakanku duduk, lalu menatap kursi kosong di sebelahku.
"Suami tidak ikut, Bu?"
"Saya ingin mendengar sendiri, Dok."
Dia mengangguk pelan seolah-olah mengerti lebih banyak daripada yang kuucapkan. Jarinya bergerak di papan ketik, lalu matanya menyusuri layar komputer cukup lama. Aku mengeluarkan amplop yang lecek itu dan meletakkannya di meja. Dokter Wulan meliriknya, lalu menghela napas.
"Catatan saya masih ada," katanya. "Sesudah tindakan kuret di tahun pertama pernikahan Ibu, dinding rahim Ibu terluka dan terbentuk jaringan parut. Jaringan itu membuat bagian dalam rahim saling melekat. Waktu itu perlengketannya saya nilai cukup berat."
Aku mengangguk. Kalimat itu sudah kudengar dari mulut Rafa kemarin, tetapi mendengarnya dari dokter terasa berbeda. Lebih dingin, sekaligus lebih jujur.
"Saya mandul, Dok?"
Dokter Wulan melepas kacamatanya. "Saya tidak mau menjawab dengan satu kata itu, Bu. Keadaan seperti ini membuat kehamilan sulit terjadi. Peluangnya kecil. Tapi saya belum bisa bicara angka sebelum melihat keadaan Ibu sekarang, karena catatan ini sudah satu setengah tahun."
"Kenapa dulu saya tidak diperiksa lagi?"
Dokter itu terdiam sejenak, seakan-akan menimbang sesuatu. "Waktu itu saya menyarankan pemeriksaan lanjutan untuk melihat seberapa luas perlengketannya dan tindakan apa yang mungkin dicoba. Obat yang saya resepkan hanya membantu, bukan jalan keluar satu-satunya. Saya jelaskan itu kepada suami Ibu di ruangan ini." Dia mengetuk meja pelan. "Suami Ibu bilang akan memikirkannya dulu. Setelah enam bulan obat habis, Ibu tidak pernah kembali."
Napasku tertahan. Rafa tahu. Satu setengah tahun lalu dia duduk di kursi yang sama dengan yang kududuki sekarang dan mendengar ada pemeriksaan yang bisa dilakukan. Lalu dia pulang dan memilih diam.
"Saya pernah membuang obatnya, Dok," ucapku lirih, seperti anak kecil mengaku memecahkan gelas. "Saya bosan. Saya tidak tahu itu obat apa."
"Berhenti minum obat itu tidak membuat rahim Ibu seperti ini, Bu. Lukanya sudah ada sejak tindakan pertama." Suara Dokter Wulan melembut. "Jangan pikul yang bukan salah Ibu."
Kalimat terakhir itu menggantung di udara lebih lama daripada kalimat-kalimat lainnya. Selama dua hari ini aku menuduh diriku sendiri. Aku bahkan meminta maaf kepada Rafa atas ketidaksempurnaanku, padahal yang kusesali ternyata bukan dosaku.
Dokter Wulan menjelaskan pemeriksaan ulang yang ingin dia lakukan. Badanku harus benar-benar pulih dari tifus lebih dulu, dan waktunya perlu disesuaikan dengan siklus haidku. Dia membuka kalender di layar.
"Bagaimana kalau pertengahan Januari?"
"Pertengahan Januari," ulangku sambil mencatatnya di ponsel. Setelah pameran, setelah Desember, setelah entah apa lagi yang akan terjadi pada rumah tanggaku.
"Ibu boleh datang dengan siapa pun, atau sendiri," kata Dokter Wulan ketika aku berdiri. "Ini tubuh Ibu. Ibu yang berhak tahu lebih dulu."
Di depan kasir, seorang petugas membaca data di layarnya. "Pakai jaminan kantor suami seperti biasa, Bu?"
"Tidak, Mbak. Saya bayar sendiri."
Aku membayar biaya konsultasi dengan uang dari dompet merah hatiku. Selama ini Rafa yang selalu mengurus semuanya, dan aku menganggap itu bentuk cintanya. Kini aku tahu sebagian dari yang dia urus adalah rahasia.
*
Musala rumah sakit berada di ujung lorong, kecil dan berbau pewangi karpet. Aku salat Duha di sana, lalu duduk bersandar ke dinding dengan mukena yang masih terpasang.
Ingatanku kembali ke mobil Rafa satu setengah tahun lalu. Aku memegang plastik obat di pangkuan dan bertanya, "Mas, sebenarnya ini obat apa?" Rafa tersenyum tanpa menoleh. "Nanti kujelaskan kalau kamu sudah lebih kuat." Lalu tangannya menaikkan volume radio yang sedang memutar lagu lawas, dan aku ikut bersenandung, lupa pada pertanyaanku sendiri.
Rupanya nanti itu tidak pernah datang. Lagu-lagu lawas terus diputar di mobil kami, sementara pertanyaanku tenggelam di bawahnya.
Air mataku jatuh tanpa suara. Bukan karena rahimku, sebab tentang itu aku sudah menangis semalaman. Aku menangis karena selama ini aku dicintai seperti anak kecil yang tak boleh tahu, bukan seperti istri yang berhak memutuskan.
Seorang ibu tua yang baru selesai salat menyodorkan sebungkus tisu tanpa bertanya apa-apa. Aku menerimanya dengan senyum malu. Dia menepuk bahuku dua kali, lalu pergi menenteng rantang makanan, mungkin untuk anaknya yang dirawat di lantai atas. Kebaikan kecil dari orang asing itu justru membuat tangisku semakin deras.
Ponselku bergetar. Bukan Rafa. Nomor yang kusimpan di mal dua malam lalu dengan nama Bastian.
"Riana bilang kamu kurang sehat hari ini. Tidak perlu dipaksakan. Pameran bisa menunggu sehari, kesehatanmu yang lebih penting."
Pesan itu pendek dan sopan, tak berbeda dengan pesan seorang ketua panitia kepada anggotanya. Aku membacanya, lalu menegur hatiku yang sempat menghangat. Najwa, kamu masih istri orang.
"Terima kasih. Besok saya datang." Kuketik balasan sesingkat mungkin.
Aku melipat mukena, memasukkan amplop ke dalam tas, dan berjalan keluar menembus panas siang. Nanti sore Rafa berjanji pulang ke rumah kami. Ada satu pertanyaan yang sudah satu setengah tahun menunggu jawabannya, dan kali ini aku tidak akan membiarkan radio mana pun menenggelamkannya.