Botol teh itu menggelinding pelan di lantai, meninggalkan jejak cokelat bening yang merambat sampai ke kaki rak bambu yang seharian kami susun. Riana tidak segera memungutnya. Gadis itu menatap tumpahan teh seolah-olah di sanalah jawaban pertanyaanku tercecer, dan dia tak sanggup mengumpulkannya kembali.
"Rin." Suaraku pelan, tetapi aku tahu dia mendengar.
Riana membungkuk, meraih botol yang tinggal separuh isinya, lalu menegakkannya di atas meja pajang. Tangannya gemetar. Dia mencabut beberapa lembar tisu dari tasnya, berjongkok, dan mengelap lantai dengan gerakan yang terlalu lama untuk tumpahan sekecil itu.
"Aku tanya sekali lagi." Aku menelan ludah. "Kamu sudah tahu?"
Gerakan tangannya berhenti. Dari tempatku duduk aku hanya bisa melihat puncak kepalanya yang terbalut kerudung abu-abu. Hening merayap begitu lama sampai aku bisa mendengar musik dari toko sepatu di seberang lorong dan derit troli petugas kebersihan yang lewat di depan pintu kaca.
"Tiga bulan lalu," jawabnya akhirnya, nyaris tak terdengar. "Aku antar Papa ke arisan keluarga di rumah Tante. Bunda Mas Rafa juga datang."
Aku memejamkan mata. Tiga bulan lalu aku baru pulang dari rumah sakit. Aku masih berjalan berpegangan pada dinding, masih memuntahkan bubur yang dibuatkan Rafa dengan sabar. Rupanya saat itu kabar tentang suamiku sudah lebih dulu beredar di dapur orang lain.
"Bunda cerita sama tante-tante di dapur. Katanya Mas Rafa sudah menikah lagi, istrinya lagi hamil." Riana meremas tisu basah di tangannya. "Tante-tante malah ngucap syukur, katanya sebentar lagi Bunda gendong cucu. Aku dengar sendiri, Najwa."
"Lalu?"
"Aku tanya Bunda, kamu sudah tahu atau belum. Bunda bilang jangan dulu. Kamu masih lemah, baru keluar dari rumah sakit. Biar Mas Rafa sendiri yang menjelaskan kalau waktunya sudah tepat." Riana mendongak. Matanya basah. "Aku percaya, Najwa. Aku pikir Mas Rafa bakal bicara seminggu, dua minggu lagi. Ternyata ...."
Ternyata dia menunggu sampai kue ulang tahun pernikahan kami jatuh di lantai.
"Kenapa bukan kamu yang bilang?" Suaraku bergetar, tetapi tidak meninggi. Mungkin karena tenagaku sudah habis tercurah di dalam mobil tadi pagi.
"Aku pernah ngetik pesan buat kamu. Malam-malam, panjang sekali." Riana tertawa kecil, tawa paling getir yang pernah kudengar dari mulutnya. "Aku baca berulang-ulang sampai azan Subuh, terus aku hapus. Aku takut kamu drop lagi. Aku takut aku salah dengar. Aku takut ...." Kalimatnya patah. "Aku takut kamu benci aku karena aku yang membawa kabar itu."
"Jadi kamu memilih aku mendengarnya dari ponsel suamiku sendiri."
Riana tersentak, seakan-akan kalimatku adalah tamparan. Aku tahu lidahku sedang tajam, tetapi luka di dadaku jauh lebih tajam lagi.
"Aku tidak pernah ketemu dia, Najwa. Sumpah. Aku tidak datang ke akadnya, aku tidak tahu rumahnya. Aku cuma tahu namanya dari Bunda. Aku keceplosan di telepon karena nama itu terus berputar di kepalaku."
Aku mengalihkan pandangan ke rak bambu bertingkat di sudut ruangan, ke kain goni yang kubentangkan sebagai alas, ke kartu-kartu harga yang belum sempat kami tulisi. Seharian aku tenggelam di sini, menata cahaya dan jarak supaya karya anak-anak terlihat berharga. Rupanya selama itu pula aku duduk bersebelahan dengan orang yang menyimpan kabar paling penting dalam hidupku.
Ternyata aku selalu menjadi orang terakhir yang tahu. Orang terakhir yang tahu suamiku menikah lagi. Orang terakhir yang tahu rahimku terluka. Kini aku pun menjadi orang terakhir yang tahu bahwa sahabatku menyimpan semua itu di ponselnya, lalu menghapusnya sebelum terkirim.
Ingatanku melayang ke pondok di Jawa Timur. Malam-malam dingin kami berbagi satu selimut tipis. Riana yang membelaku ketika aku dituduh mengambil mukena santri lain, padahal mukena itu tertukar di jemuran. Gadis yang sama kini terisak di depanku, dan aku tidak tahu harus memeluknya atau pergi.
"Aku dengar, Rin," ucapku akhirnya. "Tapi jangan minta aku memaafkanmu malam ini."
Riana mengangguk berkali-kali tanpa suara. Air matanya jatuh ke punggung tangan.
Ponselku bergetar di atas meja. Nama Rafa tampil di layar, bukan panggilan, hanya pesan.
"Najwa, malam ini aku di rumah Laila. Besok pagi dia kontrol kandungan. Kunci pintu, ya. Jangan lupa minum obatmu."
Aku membaca pesan itu dua kali. Tadi pagi dia berjanji tak akan ada Laila selagi kami berdua. Janji itu ditepati, sebab malam ini memang bukan milikku. Inilah bentuk rumah tangga yang tadi pagi kusetujui untuk dicoba. Kenapa baru sekarang dadaku terasa ngilu membayangkannya?
"Iya." Hanya itu yang kuketik.
"Aku antar pulang, ya?" Riana sudah berdiri sambil memeluk tasnya.
"Aku naik taksi saja."
*
Gerimis menyambutku di depan rumah. Taksi biru itu menjauh, meninggalkan aku di depan pintu yang lampu terasnya lupa dinyalakan. Di dalam, rumah terasa lebih lebar daripada biasanya. Di meja makan, ayam goreng buatan Rafa masih tersisa dua potong di bawah tudung saji. Aku menatapnya lama, lalu menyimpannya di lemari pendingin. Sayang kalau terbuang, begitu almarhumah Ibu selalu berpesan.
Aku duduk di tepi tempat tidur dan mengeluarkan amplop berlogo rumah sakit dari dalam tas selempang. Bekas remasan Rafa masih tergores di permukaannya. Tadi pagi, sebelum aku turun dari mobil, dia meluruskan kertas itu di atas pahanya dengan telapak tangan, berulang-ulang, seolah-olah lipatan bisa dihapus begitu saja. Setelah itu dia memasukkannya kembali ke amplop dan menyerahkannya padaku tanpa sepatah kata.
Kubaca lagi isinya pelan-pelan. Namaku. Tanggal pemeriksaan, satu setengah tahun lalu. Istilah-istilah yang tak sepenuhnya kumengerti. Di bagian bawah tertera tanda tangan dan nama dokter yang memeriksaku: dr. Wulan Hapsari, Sp.OG.
Samar-samar aku ingat seorang dokter perempuan berkacamata yang memeriksaku waktu itu. Setelah pemeriksaan, dia meminta Rafa ikut ke ruangannya, sementara aku menunggu di kursi lorong sambil menghitung ubin. Rafa keluar dengan senyum lebar dan berkata, "Sudah, kita pulang." Aku percaya begitu saja.
Selama ini tubuhku dibicarakan di lorong rumah sakit, di dapur arisan, mungkin juga di rumah bercat putih itu. Semua orang punya kabar tentang rahimku, kecuali aku sendiri.
Di sudut amplop tercetak nomor telepon pendaftaran pasien. Jariku sempat ragu sebelum menekan tombol panggil. Suara perempuan menjawab dengan ramah. Dokter Wulan masih berpraktik, katanya, besok pagi pukul sembilan.
"Atas nama siapa, Bu?"
"Najwa," jawabku. "Saya datang sendiri."
Setelah panggilan berakhir, aku mengambil wudu dan menggelar sajadah. Gerimis di luar berubah menjadi hujan. Aku sujud lama, lebih lama daripada biasanya.
Tuhan, besok aku ingin mendengar tentang tubuhku dari mulut yang tidak punya kepentingan apa pun padaku. Kuatkan aku menerima apa pun yang akan kudengar ....