Kaisar terpaksa harus menarik ucapannya yang mengatakan ingin mengganti dokter kandungan Krystall atau bahkan akan pindah ke rumah sakit lain karena wanita itu benar-benar marah dan murka. Ia tidak akan memaafkan Kai kalau sampai laki-laki itu benar-benar protes untuk mengganti dokter kandungannya atau memindahkannya ke rumah sakit lain.
Dan tentu saja ancaman itu membuat Kai takut. Ia menarik ucapannya dan membiarkan Krystall diperiksa oleh dokter pengganti laki-laki yang bernama Revan itu dan tentunya umur jauh lebih muda dari Kai.
"Cemburu kamu tuh gak beralasan dan gak jelas, tahu nggak!" Krystall melotot sempurna ke arah Kai dengan berang. Sejak tadi pagi mereka terus saja bertengkar hanya karena dokter yang semalam memeriksa Krystall.
Kai bahkan sengaja tidak masuk ke kantor pagi ini karena masalah itu. Ia tidak bisa membiarkan Krystall jauh dari pantauannya selama Dokter Revan masih menjadi dokter pengganti istrinya.
"Salah emangnya aku gak mau dan gak suka kamu diperiksa sama dokter itu!?"
"Ya jelas salah dong kak! Aku cuman pasien dan dia juga cuman dokter. Aku bahkan gak aneh-aneh dan gak ngapa-ngapain selama diperiksa sama dia!"
Kai berkacak pinggang, menarik napasnya dalam-dalam. "Tapi dia pegang-pegang perut kamu! Aku gak suka!"
"Ya tuhaaan Kakkkk!" Krystall menjerit frustasi. Ingin rasanya melempar bantal rumah sakit ini ke arah wajah sang suami. "Kalau dia gak megang perut aku cara periksanya gimana? Mana ada dokter kandungan periksa pasiennya perutnya gak dipegang!"
Kai bergerak salah tingkah. "Ya gak usah pegang-pegang juga bisa, kan? Mana bukan muhrim!"
"Hah!" Krystall membuang napasnya kasar. Ia tidak mengerti lagi dengan jalan pikiran suaminya. Kenapa laki-laki itu selalu memiliki pikiran-pikiran aneh yang hanya bisa dimengerti dengan nalarnya saja!?
Krystall sampai bingung harus berkata apa lagi. Ia menggeleng frustasi tanpa memandang wajah suaminya. "Sejak ketemu sama Leo hari itu, kamu kok jadi gini sih kak!?Pikiran kamu tuh buruk terus sama aku!"
"Gimana gak buruk, kamu pikirin aja! Kamu sama Leo itu pernah pacaran, bahkan aku lihat dengan mata kepala aku sendiri waktu kita lagi di Bali kalau kamu dicium sama dia!" kata Kai sambil berjalan menuju ranjang Krystall. "Aku cemburu, aku takut! Itu yang aku rasain, Kryss!"
Krystall berdecak kesal dengan senyum miris. "Aku yang cuman punya masa lalu begitu doang aja kamu marah! Gimana sama aku, kak? Udah berapa cewek yang tidur sama kamu? Dan aku gak boleh berpikiran buruk tentang masa lalu kamu? Yang suatu saat gak menutup kemungkinan kalau kamu akan kembali lagi ke masa lalu kamu yang bebas itu?"
Kai terhenyak, ia merasa tertohok mendengar kalimat itu. Ia bahkan sampai tidak bisa bergerak dan mematung menatap mata Krystall yang perlahan mulai menggenang.
"Krysss ..."
"Apa aku salah sewaktu-waktu kepikiran tentang masa lalu kamu terus takut kalau kebiasaan kamu yang dulu balik lagi? Salah kalau sewaktu-waktu aku takut kamu kembali lagi sama perempuan-perempuan itu!?" ujar Krystall dengan suara lirih. "Aku lagi hamil anak kamu, perut aku membesar, semua badan aku membesar, aku gak bisa dandan kayak dulu lagi selama hamil, udah gak seseksi kayak mereka karena aku sedang hamil. Aku gak bisa muasin kamu setiap saat kayak dulu lagi! Bisa aja kan, kamu balik ke kebiasaan kamu yang dulu gara-gara keterbatasan aku selama aku hamil!?"
Mata Kai melotot, rahangnya mengeras. "Kryss! Aku gak segila itu untuk ngelakuin itu di rumah tangga kita!"
"Gak ada yang gak mungkin, kak! Kamu aja bisa segila itu waktu aku baru kenal kamu untuk ngajak aku tidur bareng sama kamu dengan iming-iming aku bisa bebas dan sebuah apartemen mewah untuk aku!" Krystall mengatakan itu dengan napas memburu. Bahkan dadanya bergerak naik turun tidak beraturan
Kai sadar, ia sudah kelewatan untuk mencemburui masa lalu Krystall sementara masa lalunya pun jauh dari kata baik. Tapi Kai cemburu seperti itu pun bukan tanpa alasan, ia takut Krystall akan meninggalkannya karena masa lalunya yang suram. Dan karena Kai tipikal laki-laki yang selalu mengatakan apa yang dia suka dan apa yang tidak, itulah kenapa dia selalu blak-blakan mengatakan bahwa ia tidak menyukai Leon dan dokter Revan yang memeriksa Krystall. Hanya saja, untuk masalah perasaan, Kai sangat sulit untuk mengatakan yang sebenarnya. Ia harus mengalami kehilangan dulu baru bisa mengungkapkan perasaannya pada Krystall dulu.
"Maaf ..." Kai bergerak semakin mendekat, menangkup kedua sisi wajah sang istri dan mengelusnya lembut. Beruntung istrinya itu tidak menolak seperti tempo hari. "Maaf ... Karena udah berpikiran buruk tentang kamu, sementara aku lupa kalau masa lalu aku jauh lebih buruk dari itu!"
Krystall menarik napas dalam, mencoba tenang menghadapi kecemburuan Kai supaya tidak berdampak pada rumah tangganya yang baru saja berdamai setelah insiden bertemu dengan Leo lalu dilanjut dengan dirinya yang terpeleset di ruang tengah.
Tangannya terangkat untuk mengusap lembut punggung tangan sang suami yang berada di sisi wajahnya. "Aku sayang kamu, kak. Aku cuman mau kita saling percaya. Meskipun aku enggak menampik kalau rasa curiga itu selalu muncul, tapi aku gak mau terus-terusan dihantui oleh rasa curiga aku sendiri sementara kita baru aja nikah dan aku juga lagi hamil. Inti dari semuanya, itu karena aku gak mau kehilangan kamu, kak."
"Aku juga gak mau kehilangan kamu, Kryss. Cukup sekali aku kehilangan kamu waktu kamu dibawa ke Bandung sama Papa Cahyadi. Itupun rasanya aku kayak mau gila karena jauh dari kamu." Kai memberikan kecupan lembut di atas bibir Krystall, lalu beralih mengecup keningnya. Menahan kecupannya sedikit lebih lama, seolah menyalurkan perasaannya melalui kecupan yang ia berikan. "Jangan tinggalin aku lagi, Kryss."
Untuk sesaat, suasana menjadi hening. Dan Kai dibuat takut dengan keheningan antara dirinya dan juga Krystall.
"Ya enggak lah! Disamping karena aku sayang sama kamu, masa iya aku ninggalin om-om kaya raya?" kalimat itu terdengar sangat meledek di telinga Kaisar. Bisa-bisanya wanita itu bercanda disaat sang suami berada di mode serius seperti ini.
Sontak Kai mengambil jarak sedikit untuk menatap wajah Krystall. Wanita itu terkikik pelan dengan tawa yang menggemaskan. Ah ... Rupanya Krystall sedang mencoba mencairkan suasana.
"Apa kamu bilang? Om-om?"
Krystall mengangguk antusias. "Iya! Om-om! Kan jarak usia kita jauh, aku 22 kamu 32! Karena kamu yang om-om, aku jadi punya penyakit baru."
Kening Kai terlipat ke dalam. "Penyakit apa?"
"Penyakit takut miskin," jawab Krystall santai hingga membuat Kai tergelak di sampingnya. "Aku takut lihat uang sedikit."
Belajar dari mana Krystall hingga bisa mengatakan guyonan seperti itu? Dimana istrinya yang semasa lajang terlihat begitu polos, lugu, dan menggemaskan? Kenapa sekarang berubah menjadi wanita-wanita pada umumnya yang sudah menikah? Apa lagi apa tadi? Om-om? Kai tidak habis pikir akan dipanggil om-om oleh istrinya sendiri.
"Oh jadi sekarang setelah nikah kamu mau nguras uang dan harta aku?" balas Kai.
"Iyalah! Punya suami kaya raya dan seorang CEO itu harus dimanfaatin! Makanya kamu kerja harus rajin, jangan bolong-bolong! Istri kamu matre soalnya."
Kai mendengkus dengan tangan yang terlipat di depan dadam. "Udah dikatain om-om, terus uang dan harta aku mau dikuras habis pula. Kasihan banget sih jadi aku!"
Lalu tak lama Kai tersenyum. Senyuman yang sangat terlihat mengerikan dan mengandung makna lain. Krystall yang mengerti arti senyuman itu mendadak seketika menjadi merinding.
"Kenapa kamu senyam senyum kayak gitu?" tanya Krystall takut-takut. Perasan Krystall mendadak jadi tidak enak. Suaminya ini ... Pasti sedang memiliki keinginan lain.
"Berarti aku boleh dong minta sesuatu sama kamu? Kan aku om-omnya dan kamu yang nguras habis uang aku."
Nah! Benar kan perasaan Krystall? Senyum laki-laki itu memang memiliki maksud lain. Kai dan segala pikiran mesumnya tidak bisa dipisahkan.
"Anggap aja ini bayaran karena kamu nguras semua uang aku."
"Jangan aneh-aneh! Aku belum boleh olaharag fisik!"
"Karena itu, karena kamu belum boleh olahraga ranjang ..." Kai mendekat dengan senyum miring, membuat bulu kuduk Krystall semakin merinding. Senyum sang suami itu memang sangat Krystall kenapa maksudnya apa. Kai langsung mengecup leher Krystall lembut, naik hingga ke telinga lalu mengulum daun telinga sang istri dengan bunyi kecupan nyaring. "Bolehkan aku cium kamu sampai puas?"
****
Suami dengan segala gairahnya emang gak bisa dipisahkan ya?
Berikan cinta kalian untuk penulis ❣️